PEMENANG Fanfiction Writing Contest (FWC)

1186762_508833249203171_20747070_n

Ini dia 2 (dua) PEMENANG Fanfiction Writing Contest (FWC) blog HKS yang diselenggarakan selama 2 bulan lebih dengan TOTAL PESERTA 53 author.

 

SELAMAT!

KHOIRUN NISA (@KanisaHan) dengan judul naskah JUST PLEASE 

dan

NANDA FEBRI ISTIGHFARIN (@milo389) dengan judul naskah RHETT

 

Kalian berdua masing-masing berhak mendapatkan 2 buah novel baru saya, berjudul STUPID MARRIAGE dan WINTER IN MY HEART

 

Hadiah akan segera dikirimkan, dan saya akan menghubungi masing-masing pemenang melalui twitter dan sms.

 

 

BERIKUT INI ADALAH NASKAH YANG DIKIRIMKAN OLEH KEDUA PEMENANG, SEHINGGA BERHASIL MEMENANGKAN LOMBA FF KALI INI :

 

 

 

****

JUST PLEASE 

Oleh : Khoirun Nisa

 

“…yang pergi mungkin akan kembali tapi yang kembali belum tentu ingin bersama lagi.”

–Yoon Yeon-Hyo–

 

***

.: 2013 :.

The Star City Apartment, Gwang-jin, Seoul
05.56 A.M

Pria itu terduduk di sofa kecil berwarna putih, memandang kosong benda mati di atas meja. Tergeletak di sana, dalam keadaan terbuka. Pikirannya berkelana, seolah melarikan diri dan tidak mau diajak berkompromi. Setidaknya memikirkan beberapa kemungkinan yang terjadi sehingga benda mati itu muncul di hadapannya sekarang. Sebuah kertas yang tebal dan kaku. Mahal. Sangat mewah serta formal, dengan cetakan berwarna pastel di bagian pembuka.

Matanya yang semula kosong tertuju pada tulisan rapi nan elegan, membuat rahangnya sontak mengeras. Kedua tangannya sudah terkepal erat di samping tubuh, usaha terakhir agar dia tidak membanting barang-barang di sekitarnya sebagai tindakan penyaluran emosinya.

Kyuhyun tak menyangka sama sekali hal ini akan terjadi. Hal-hal yang selalu berhasil muncul dalam benaknya saat dia yang karena penjelasan salah satu hyung-nya bisa mengetahui langsung identitas gadis itu. Seorang gadis yang nyatanya bersedia bertahan dalam dunia keartisannya sejak awal. Akan tetapi, bayang-bayang itu, mimpi-mimpi itu pun hilang seketika. Terkikis dari otaknya, hingga akhirnya hanya menyisakan perih yang cepat atau lambat akan berjalan perlahan menghancurkan perasaannya.

“Gwaenchana?”

Kyuhyun tersentak dari lamunan ketika merasakan sebuah tangan meremas bahunya pelan. Dia mendongak, mendapati pria lain tengah berdiri memandanginya dengan cemas.

“Tidak. Aku tidak baik-baik saja.” bisik Kyuhyun pelan, dengan suaranya yang sedikit bergetar. Sepertinya pria itu tak ingin bersusah payah menutupi bagaimana hancurnya dia sekarang.

Sosok Lee Sungmin yang sebelum memasuki ruang tamu cukup ketakutan ketika member-member lain menyuruhnya untuk menemui pria ini–mengingat Kyuhyun akan diluar kendali saat sedang emosi, menatap dalam dongsaeng kesayangannya itu. Walaupun wajahnya tengah dibenamkan sepenuhnya pada kedua telapak tangan, dia yakin Kyuhyun tengah menangis.

“Siwon bilang, Myung-Soo tak ingin memberikan undangan ini padamu. Dia sangat menghargai perasaanmu. Tapi Yeon-Hyo… dia bersikeras untuk memberikan ini padamu.” jelas Sungmin, tersenyum samar memandangi tinta emas yang merangkai dua nama manusia yang baru saja dia sebutkan.

“Cukup untuk menjelaskan bahwa gadis itu membenciku.” sahut pria bersuara merdu ini dengan nada sindiran yang kentara. Tatapannya beralih pada tangan kanan Sungmin yang memegang kertas tadi. Sebuah undangan yang ingin sekali dia hancurkan. Undangan yang nyatanya dalam waktu lima menit–terhitung sejak awal dia menerima undangan itu sudah menjadi neraka baginya. Dan sialnya undangan itu adalah undangan peresmian hubungan antara gadis yang dicintainya dengan pria lain.

“Yeon-Hyo tak membencimu Kyuhyun~ah. Tak ada yang membencimu di sini.” Sungmin menepuk pundaknya, berusaha menghalau persepsi yang salah dari pria itu.

“LALU BAGAIMANA KAU MENGURAIKAN SEMUA INI, HYUNG?!! KELALAIAN OFFICIAL, INSIDEN ITU, KENYATAAN DARI SIWON HYUNG. SEMUANYA SUDAH SANGAT JELAS!! DAN UNDANGAN PERTUNANGAN SIALAN INI!! BAGAIMANA BISA KAU MENGATAKAN BAHWA DIA TAK MEMBENCIKU?!!” teriak Kyuhyun keras, melempar vas bunga dari keramik ke arah dinding ketika merasa emosinya sudah mencapai batas maksimal. Para member yang tadi hanya berdiri menunggu sontak menerobos masuk saat melihat pria itu hendak menghancurkan kaca besar di dinding dekat dapur.

“Kendalikan emosimu, Kyuhyun~ah! Kau ingin menghancurkan seluruh isi dorm dan membuat masalah baru saat manajer hyung datang lalu mempermasalahkan kerusakan ini? Bagaimana kau akan menjelaskannya nanti, eoh? Kau akan lebih kesulitan saat menjawabnya. Jadi jangan melakukan hal bodoh!” geram Eunhyuk sembari memegang bahu kiri Kyuhyun dan memojokkan pria itu ke dinding.

Kyuhyun menjatuhkan tubuhnya di lantai kayu dorm. Melarikan kedua tangannya ke kepala lalu menarik rambut cokelatnya kasar. Sekarang, ucapan Eunhyuk dan yang lain hanya sebatas angin lalu menurutnya. Mereka bisa saja mengeluarkan kata demi kata penghiburan seperti itu karena mereka benar-benar tak mengerti bagaimana rasanya.

Ketika seseorang yang terlanjur masuk dalam kepingan hatimu terlihat hancur dan terluka karena ulahmu sendiri. Mengalami trauma bahkan depresi. Namun, hal yang paling menyakitkan adalah ketika orang itu merasa sangat aman dan nyaman pada orang lain. Bersandar di bahu pria lain bukan bahu miliknya.

“Aku terlanjur mencintainya, hyung. Aku tak bisa melepaskannya begitu saja. Eotthokae, hyung? Eotthokae?!”

***

CJ E&M Center’s Studio, Sangam-dong, Seoul
12.45 P.M

Gadis itu tersenyum menatap aktivitas pergerakan manusia di depannya. Mengamati satu per satu manusia-manusia itu saat menggerakkan, meliukkan badan ke depan ke belakang serta ke kanan dan ke kiri. Senyuman geli sontak terdengar di telinga ketika salah satu dari tujuh manusia itu menarik perhatiannya. Melambaikan tangan ke arahnya disertai senyuman lebar yang memperlihatkan gigi putihnya.

Oh, ayolah! Pria ini tak akan bertindak seperti itu, bukan? pikirnya. Mengingat ada tiga kamera di bawah panggung yang sudah berada dalam posisi ON siap untuk merekam. Dan gadis itu sontak menggelengkan kepala tak percaya saat pria tersebut dengan beraninya mengayunkan tangan kanannya, menyuruhnya untuk mendekat.

Maka disinilah dia, mengikuti permintaannya. Menuruni beberapa anak tangga yang akan menuju ke panggung utama. Toh selama ini gadis itu selalu menuruti apa yang pria tersebut inginkan. Merasa sangat tenang dan nyaman apabila senyum tulus mulai terukir sempurna di wajah rupawan pria itu. Pria yang siang ini memilih kemeja kotak-kotak lengan pendek, perpaduan antara warna merah dan hitam sebagai atasan. Rambutnya yang hitam pekat tampak sama seperti hari-hari kemarin saat dia menemani pria tersebut melakukan rehearsal.

Sedangkan Kim Myung-Soo, sang pria–atau yang mendapat panggilan L langsung beranjak dari duduknya, secara tak tersirat menerima persetujuan dari gadis yang sudah 30 menit duduk menunggunya menyelesaikan rehearsal. Berjalan ke arah staff-nya dan mengambil handuk berwarna biru yang telah disiapkan.

“Apa yang kau bawa hari ini?” tanya Myung-Soo tersenyum sambil memperhatikan tas persegi berwarna merah di tangan kanan gadis yang sudah berdiri di hadapannya.

“Bibimbap, sup kimchi dan tteoppokki.”

Myung-Soo mengangkat alisnya, merasa ada sesuatu yang belum disebutkan. “Eumm… Milkshake strawberry-mu?” tanya pria itu lagi sedikit ragu.

“Dua cup, masing-masing dengan es krim vanilla dan cokelat di atasnya.” jawab gadis itu kemudian melambaikan tas plastik persegi lain yang dia pegang di tangan kiri.

“Aku kira kau melupakannya.” Myung-Soo terkekeh melihat wajah senang gadisnya yang merasa puas. Menggerakkan tangan kirinya lalu mengacak pelan poni berwarna cokelat gelap milik gadis itu yang menutupi dahinya.

Sementara itu tanpa mereka berdua sadari, di ujung lorong berdekatan dengan pintu masuk waiting room, sepasang mata tengah mengamati kejadian itu dengan tatapan dinginnya. Mengepalkan kedua tangannya erat saat Myung-Soo melingkarkan tangan kiri di pinggang gadis tersebut dan mengajaknya berjalan menuju arah backstage. Membuat aliran darah berwarna biru muncul di sela-sela buku jarinya.

***

.: 2008 :.

The Star City Apartment, Gwang-jin, Seoul
09.12 A.M

“Ige mwoya?” tanya Kyuhyun sembari mendongak. Memandang sosok Siwon yang mengedikkan dagunya pada sebuah tas kado di tangan.

“Dari fansmu,” jawab pria itu singkat. “Sepertinya bekal makanan lagi.” imbuhnya sembari melepas jaket kulitnya dan menyampirkan di sofa.

Kyuhyun menganggukkan kepala singkat. Kemudian bergerak menuju dapur untuk mengambil peralatan makan. Sedangkan Siwon yang sudah duduk di lantai menyunggingkan senyum lalu menyandarkan kepala di sofa.

Beberapa bulan terakhir Kyuhyun sering mendapat hadiah berupa makanan. Tak tanggung-tanggung semuanya makanan kesukaan pria itu. Minggu-minggu awal, dia sedikit ragu untuk menerimanya. Takut makanan tersebut basi atau beracun. Tapi saat Shindong dan Eunhyuk mencicipinya, mereka berdua malah menghabiskan makanannya tanpa memberi sisa. Mengatakan makanan itu baik-baik saja bahkan terbilang sangat enak.

“Makanlah yang banyak. Agar tubuhmu tak kurus seperti itu.” ejek Siwon pada Kyuhyun yang berjalan kembali ke arahnya dengan memegang sendok, garpu dan sumpit. Yang setelahnya membuat pria berlesung pipi itu dihadiahi pukulan keras di kepala.

“Yakk!!”

 

Gangnam-gu, Apgujeong-(2)dong, 521, Seoul
05.00 P.M

Leeteuk memandangi Kyuhyun yang sudah duduk manis di pojok ruang latihan dengan kotak makanan di pangkuan. Akhir-akhir ini dongsaengnya itu sering sekali membawa bekal saat latihan. Atau mungkin bekal itu yang menghampirinya? Sepertinya pilihan kedua lebih masuk akal untuk didengar.

“Mashita?” tanya Leeteuk menghampiri, meneguk sebentar minumannya sebelum duduk di samping Kyuhyun. “Tanpa perlu kau jawab, sepertinya aku tahu jawabannya. Lihatlah! Kau bahkan memakan sayurannya juga.” lanjutnya dengan suara keras. Membuat member lain yang tengah memulihkan tenaga sehabis latihan menatap Kyuhyun tak percaya.

“Ck! Padahal delapan bulan lalu kau menolak mentah-mentah makanan itu. Menjadikan aku dan Shindong hyung sebagai kelinci percobaan. Tapi lihatlah sekarang, kau seperti orang yang tidak makan berhari-hari.” sahut Eunhyuk dengan tawa mengejek. Yang juga diangguki member lain sembari tertawa bahagia. Sementara itu, Kyuhyun hanya diam. Merasa tak perlu mengelak ataupun membantah.

Namun saat tawa bahagia dan mengejek itu semakin menggema di ruang latihan, Sungmin seketika menghentikan tawanya. Berlari ke arah Kyuhyun yang tengah memegangi perut dan menutup mulutnya dengan telapak tangan. Saat Leeteuk menyadari kehadiran Sungmin, suara tawanya sontak berubah menjadi suara ketakutan. Kaget melihat busa putih keluar dari bibir Kyuhyun.

“Kyuhyun~ah!!”

“Yak, Cho Kyuhyun!! Bangunlah!!”

“Yak, jangan bercanda Kyuhyun~ah!!”

“Kyuhyun~ah!!!”

***

Mapo-gu, Seongsan-dong, 21-25, 103, Seoul
02.48 A.M

“Woo-Hyun oppa!” lengkingan suara seorang gadis menggema di lobi. Membuat langkah pria yang tengah berjalan ke arah lift terhenti seketika. Dia membalikkan badannya, setengah kaget saat mendapati calon adik iparnya tengah berlari mendekatinya.

“Yoon Yeon-Hyo? Apa yang kau lakukan di sini?!” tanyanya sedikit berteriak. Merasa tak habis pikir bagaimana bisa gadis itu mendatangi kantor agensinya, bahkan saat jarum jam hampir mengarah ke angka tiga. Jika hal ini perbuatan dongsaengnya yang chic itu, maka pria dengan tinggi 176 cm tersebut tak segan-segan akan memberikan hadiah berupa pukulan pada pria itu nanti.

“Aku ingin menitipkan ini pada Myung-Soo oppa.” jawab gadis yang memilih coat selutut berwarna abu-abu itu untuk tubuhnya. Mengeluarkan sebuah buku kecil dari saku coat dan menyerahkannya pada Woo-Hyun.

“Ige mwoya?”

“Daftar-daftar barang apa saja yang harus diambil oleh Myung-Soo oppa. Mulai dari makanan, special gift untuk para tamu serta keperluan-keperluan lain yang sudah tertulis di situ. Eommonim menyerahkannya padaku tadi.” jelas Yeon-Hyo sambil berjalan mengikuti Woo-Hyun.

Gadis itu teringat penjelasan ibu mertuanya tadi sore mengenai barang-barang itu yang harus segera diambil. Tentu saja, wanita paruh baya itu mempercayainya dan meminta Myung-Soo agar menemaninya. Tapi karena dia harus mengikuti ujian tiga mata pelajaran sekaligus di kampusnya hari ini, gadis itu terpaksa menyerahkannya pada Myung-Soo yang tidak sibuk sampai sore nanti.

“Kenapa kau tak menyerahkannya nanti saja saat L mengantarmu ke kampus? Sudah hampir subuh, Yeon-Hyo~ya. Kau tak lupa waktu bukan?” desah Woo-Hyun menatap wajah Yeon-Hyo, merasa khawatir saat melihat bibir gadis itu yang sedikit memutih.

“Tidak ada waktu, oppa. Nanti aku harus berangkat pagi-pagi sekali ke daerah Gangnam. Akan ada ujian lapangan di sana. Setelah itu aku akan berada di kampus hingga petang karena ada ujian untuk tiga mata pelajaran dan satu ujian praktek yang disiapkan rektor. Kau tahu bukan? Kesibukan mahasiswa tingkat akhir.”

Woo-Hyun mengangguk paham. Mahasiswi semester akhir seperti Yeon-Hyo pasti amat sangat direpotkan dengan beberapa ujian tulis maupun ujian praktek. Belum lagi ujian untuk terjun langsung ke lapangan. Tapi tetap saja seorang gadis tak baik pergi sendirian saat dini hari seperti ini.

“Lalu bagaimana dengan persiapan pertunangan kalian yang lain? Cincin misalnya, atau gaun dan jas yang akan kalian pakai nanti?” tanya pria itu setelah memutuskan untuk menyerah mendebat gadis yang tingginya hanya sebatas bahunya itu. Yeon-Hyo termasuk gadis yang keras kepala, sama seperti Myung-Soo.

“Aku rasa cincin sudah menjadi bagian Myung-Soo oppa. Sedangkan untuk gaun dan jas, Eommonim yang mengaturnya,” Yeon-Hyo sentak maju ke depan, mengagetkan Woo-Hyun hingga membuat pria itu selangkah mundur ke belakang. “Oppa, kebetulan kau menanyakan mengenai cincin itu. Bisakah kau memotret cincin pertunangan itu dan mengirimkan hasilnya padaku? Myung-Soo oppa tak mengajakku saat membeli cincin dan dia tak ingin menunjukkannya padaku sampai sekarang.”

Woo-Hyun meletakkan telunjuknya di dahi Yeon-Hyo dan mendorong kepala gadis itu ke belakang. “Berhentilah melakukan tindakan tiba-tiba yang membuatku takut! Lagipula kau yang calon tunangannya tak ditunjukkan, bagaimana dengan aku? Semenyenangkan apapun seorang L di belakang panggung, dia masih saja menyebalkan sama saat di depan kamera.”

Gadis itu menggembungkan pipinya, salah satu tingkah lakunya saat dia merasa kesal. “Arasseo. Menunggu beberapa minggu lagi sepertinya tak masalah. Kalau begitu aku pergi dulu, oppa. Kallke!”

“Kau membawa mobil?” ucap Woo-Hyun keras, berharap gadis yang sudah berlari ke arah pintu keluar itu mendengarnya.

“Nee! Kallke-yo…”

Yeon-Hyo mengangkat salah satu ibu jarinya ke atas kepala ketika Woo-Hyun menyuruhnya untuk berhati-hati di jalan. Dia sentak berjengit ketika merasakan angin pagi menembus coat-nya dan menusuk kulit. Dan saat tiba di pinggir jalan tempat mobilnya terparkir, Yeon-Hyo berdiri kaku. Menatap seseorang yang tengah bersandar di samping mobil Audi hitam dengan mata elang orang itu yang memandangnya tajam.

Tanpa sadar Yeon-Hyo menggerakkan bola matanya untuk menyusuri wajah tampan di hadapannya. Tindakan yang salah sebenarnya, karena setelah melihat mata pria itu yang berkantung dan sedikit bengkak, membuat jantungnya seperti dihantam oleh benda keras.

“Kyuhyun oppa…”

***

.: 2009 :.

The Star City Apartment, Gwang-jin, Seoul
07.48 P.M

Seorang pria menghentikan langkahnya beberapa meter di depan sebuah gedung. Gedung yang selalu dia datangi sebelum menuju halte bus yang akan mengantarkannya pulang. Pria itu menyipitkan mata, mendapati segerombolan orang tengah mengerubungi sosok tubuh seseorang. Cukup jelas memastikannya mengingat lampu jalan berdiri tak jauh dari mereka.

Alih-alih membantu, orang-orang itu malah menendangnya lalu pergi. Walaupun dia yakin salah satu dari mereka hendak kembali dan menolongnya. Pria itu pun berlari mendekat. Berjongkok di samping tubuh seorang wanita yang telentang.

“Omo!! Gadis ini…” kaget pria itu. Mengingat dengan jelas wajah seorang gadis yang menjadi alasannya melewati gedung apartment ini setiap hari.

“Ahgasshi, ireona!! Jebal ireonawa, ahgasshi!!”

Pria itu meletakkan kembali kepala gadis tersebut di aspal dengan perlahan. Berjalan menuju jalan raya untuk menghentikan taksi yang dapat menolongnya. Hingga taksi berwarna putih berhenti di depannya.

Dia mengacuhkan supirnya dan kembali ke tubuh gadis itu yang masih tergeletak. Merengkuhnya kembali ke dalam gendongan lalu mengangguk pelan ketika seorang pria paruh baya membantunya membukakan pintu penumpang. Memposisikan tubuh itu setengah duduk dengan tangan kiri memegang erat kepalanya yang mengeluarkan darah.

“Kita ke rumah sakit. Palli, ahjusshi!” pintanya tegas saat supir taksi tadi kembali ke bangku kemudi.

 

Los Angeles International Airport, California
08.00 A.M (California’s Time)

Yeon-Hyo mengeratkan genggaman tangannya pada pria yang berjalan bersisian dengannya. Menyandarkan kepalanya ke lengan pria itu, menghalau kesedihannya saat menyadari dia akan kesulitan bertemu pria tersebut. Pria yang pagi ini akan terbang meninggalkan Amerika untuk meraih impian terpendamnya di Korea.

Myung-Soo yang merasa sifat Yeon-Hyo berbeda setelah memasuki bandara melepaskan genggaman tangannya perlahan. Memindahkan tangan kanannya untuk merangkul pinggang Yeon-Hyo dari samping. “Waeyo?” tanyanya sambil tersenyum.

“Aku takut…”

Myung-Soo diam, memberikan gadis itu kesempatan untuk meneruskan. Sambil menunggu, pria itu mengusap pelan pundak Yeon-Hyo, cara yang selalu dia gunakan untuk menenangkan gadis ini.

“Aku takut. Saat oppa pergi nanti aku tak bisa mengendalikan diriku lagi. Selama ini aku selalu merasa nyaman di dekatmu. Bersandar padamu ketika aku merasa tertekan dan kesulitan di masa-masa awal penyembuhan kemarin. Itu membuatku terbiasa. Tapi jika kau pergi, aku tak yakin bisa menghadapi penyembuhan ini dengan lancar.” ujar Yeon-Hyo pelan, menghentikan langkahnya sebelum akhirnya membenamkan wajahnya pada tubuh Myung-Soo.

Pria itu lantas memeluk erat tubuh Yeon-Hyo yang sedikit bergetar. “Kau ingin aku tidak pergi? Aku akan melakukan apapun jika itu membuatmu nyaman.” gumamnya serius. Dia rela mengorbankan impiannya asal gadis di hadapannya ini tidak merasa ketakutan seperti sekarang.

“Tidak! Kau harus tetap pergi, oppa. Maafkan aku. Seharusnya aku tidak berkata seperti itu.”

Gadis itu mengusap airmata di kedua pipinya. Mengarahkan tangannya ke pipi Myung-Soo sembari terus menatap dalam kedua mata pria itu.

“Kau yakin?”

“Mmm… pergilah! Kau sudah menjagaku selama ini, maka sekarang giliranku untuk menjaga impianmu agar tetap terkabul. Aku pasti akan baik-baik saja.” jelas Yeon-Hyo, menggerakkan ibu jarinya lalu membelai wajah tampan itu.

Myung-Soo merengkuh gadis itu dalam pelukannya. Mengecup puncak kepalanya dengan sayang. “Tenanglah. Aku akan selalu menjagamu. Jika ada waktu luang, aku akan menghubungimu. Tapi jika kau membutuhkan bantuanku saat menjalani terapi, telepon aku. Karena akan ada banyak waktu luang untukmu di saat seperti itu.” ujar Myung-Soo dengan meyakinkan.

***

MBC Radio Star’s Studio, Seoul
08.10 P.M

Kyuhyun melenggang keluar dari studio on-air tempatnya syuting menuju deretan anak tangga tak jauh dari sana–tangga yang biasa dia gunakan saat lift terlalu lama beroperasi dan saat dia terlambat datang. Dia duduk pada anak tangga terakhir. Membenamkan wajahnya pada kedua telapak tangan sembari mendesah berat.

Setelah bertemu Yeon-Hyo–gadis yang membuatnya emosi beberapa hari lalu, kepalanya selalu berdenyut nyeri mengingat pernyataan singkat yang diucapkan gadis itu padanya. Kyuhyun melipat kedua tangan di atas paha sementara dia membenamkan wajahnya–lagi di sana.

“Apa yang kau lakukan?”

Tepukan seseorang pada pundaknya berhasil membuat kedua matanya kembali terjaga. Kyuhyun pun semakin menyembunyikan wajahnya saat suara Sungmin yang begitu familiar di telinga membuat suasana hatinya semakin kacau. Dia hanya ingin sendirian tanpa ditemani oleh siapapun, termasuk hyung kesayangannya ini.

“Dini hari tadi… kau kemana?” sahut Sungmin lagi. Pria itu memilih duduk setara dengan anak tangga yang Kyuhyun duduki. Wajah putihnya memancarkan kesedihan saat pria di sampingnya itu hanya diam. Tapi meski Kyuhyun tak menjawab pertanyaannya, Sungmin yakin absennya pria ini pukul tiga saat latihan tadi pasti ada hubungannya dengan gadis bernama Yeon-Hyo.

Kyuhyun memejamkan matanya erat. Mengingat kembali penjelasan Siwon awal tahun lalu yang masih terekam jelas dalam benaknya.

“Dia sepupuku. Sepupuku yang tinggal di California,” aku Siwon serius.

Kyuhyun menatap Siwon tak berkedip. Jemarinya begitu erat memegang gagang cangkir Cappucino yang ada di atas meja. Hampir satu jam dia habiskan dengan memandang pria di hadapannya ini bingung. Namun kalimat barusan mengenai seorang gadis bernama Yoon Yeon-Hyo tak pernah pria itu ketahui sebelumnya.

“Dia tak melakukan hal bodoh itu, Kyuhyun~ah. Dia terlalu mengagumimu, bahkan aku yakin dia menyukaimu sebagai wanita bukan sebagai idola. Aku juga sudah mencari tahu hal itu pada official kita. Mengumpulkan bukti-bukti yang ada hingga akhirnya aku mendapatkan jawabannya.

Bukti-bukti itu menjelaskan bahwa kesalahan ada pada security yang membawa barang-barang dari para fans di hari itu. Dia meninggalkan bekal makanan yang Yeon-Hyo berikan padamu. Mengikutsertakan bekal itu dua hari setelahnya, berpikir bekal itu baru diberikan di pagi harinya. Biasanya akulah yang menjadi perantara bekal itu padamu. Atau meletakkannya di depan pintu dorm lalu menunggu member lain menemukannya. Tapi pagi itu saat Yeon-Hyo seperti biasa datang ke rumahku, ada panggilan mendadak dari lokasi syuting. Aku pun menyuruh Yeon-Hyo menyerahkannya pada security. Dan dia setuju.

Dia tak pernah berani menemuimu secara langsung. Padahal aku sudah memberitahunya apabila bertemu dengan salah satu member yang lain atau manajer hyung, hanya tinggal mengatakan bahwa dia sepupuku. Tapi dia menolak. Beranggapan belum waktunya menggunakan popularitasku. Hingga akhirnya pada malam itu…” Siwon menghentikan penjelasannya, merasakan ngeri saat melihat sendiri bagaimana keadaan sepupunya itu setelah insiden pemukulan terjadi.

“Kenapa kau menyembunyikannya dariku, hyung?” dengan sendu Kyuhyun menatap Siwon tak percaya.

Siwon tersenyum tipis, cukup terkejut melihat mata Kyuhyun yang sedikit berair.

“Yeon-Hyo kritis setelah insiden itu. Mengalami gagar otak karena pukulan benda tumpul di kepalanya. Tubuhnya pun dipenuhi memar-memar dan luka goresan. Bahu kanannya retak, juga karena hantaman benda keras. Aku menyuruh perusahaan untuk mengurus kekerasan ini, memberi pembalasan yang setimpal untuk mereka. Tak peduli siapapun itu. Toh saat itu mereka tak peduli dengan sepupuku yang baru menginjakkan kakinya lagi di Korea.

Aku juga meminta Soo-Man songsaenim dan manajer hyung untuk menyembunyikan keadaan Yeon-Hyo darimu, dari member lain dan dari media. Mencabut hak cetak dan hak siar bagi siapapun yang memberitakannya. Tidak! Bukan karena aku membencimu, Kyuhyun~ah” sela Siwon cepat saat Kyuhyun hendak membuka mulut.

“Lebih karena saat itulah waktu yang tepat untukku menjaganya. Kau tahu, aku membenci diriku sendiri saat itu. Aku yang memaksanya untuk datang ke Korea, berjanji pada Imo dan Yoon ahjusshi bahwa aku akan menjaganya. Namun malam itu bukan aku yang menolongnya, membawanya ke rumah sakit untuk meminta pertolongan. Bukan aku yang menjaganya di depan ruang operasi saat dokter berusaha menyelamatkannya.”

Siwon kembali berkata, “Yeon-Hyo sadar empat hari kemudian. Aku merasa mungkin sudah saatnya kau tahu keadaan Yeon-Hyo. Tidak peduli semarah apapun kau padanya saat itu, aku rasa gadis itu membutuhkan semangat darimu untuk sembuh. Tapi kenyataan, memang tak pernah berjalan sesuai keinginan kita.”

“Apa maksudmu?” Kyuhyun mengerutkan alis bingung.

“Yeon-Hyo berteriak ketakutan. Dia seperti orang gila yang tak tahu siapa-siapa. Memukulku dengan bantal, menyuruhku untuk menjauh saat aku hendak memeluknya pertama kali. Bahkan Yeon-Hyo mendorong Imonim hingga terjatuh. Dia hanya menangis dan berteriak selama beberapa jam. Namun akhirnya ahli medis berhasil memberinya obat penenang, meskipun dengan resiko salah satu perawat mendapat gigitan di pergelangan tangan.

Hari berikutnya masih sama. Bahkan saat itu Yeon-Hyo hanya meracau tak jelas, menggumamkan kata ‘maaf’, ‘tolong’ dan ‘jangan’. Uisanim pun menyatakan Yeon-Hyo dalam keadaan depresi. Penyerangan itu membuatnya ketakutan dan trauma. Butuh waktu yang lama untuk membuatnya kembali normal. Maka sejak itu aku berpikir, kau tak harus mengerti dan tahu yang sebenarnya. Sebelum aku bisa membuktikan kebenarannya dan tentu saja sebelum Yeon-Hyo sembuh, aku akan tetap menyembunyikan keadaan Yeon-Hyo darimu.

Setelah keluar dari rumah sakit, ahjusshi dan Imo sepakat membawa Yeon-Hyo pergi dari Korea. Untuk menjalani pengobatan di Amerika. Mencoba yang terbaik agar gadis itu bisa sembuh. Termasuk dengan menyetujui permintaan seseorang yang saat itu menolongnya untuk ikut pergi bersama mereka. Dua setengah tahun pun berlalu, aku mendapat kabar Yeon-Hyo telah sembuh. Bertepatan dengan itu pula aku mendapatkan bukti-buktinya. Jadi dengan keberanian dan kepercayaan diri yang ada, aku ingin menjelaskan semuanya padamu. Tapi gadis itu menolak. Mengatakan bahwa sekarang semuanya sudah tak lagi sama. Yeon-Hyo menyuruhku untuk melupakan kejadian itu serta memintaku agar tak menjelaskan apapun padamu. Dia mengungkapkan keadaan sudah berubah dan dia tak ingin aku mengubahnya.

Tapi kau… dalam jangka waktu empat tahun sejak kejadian itu terjadi, kau masih membencinya. Membuatku kesal dan emosi. Kau tak tahu kebenarannya tapi bagaimana bisa kau menghakiminya seperti itu?! Aku ingin sekali memukulmu saat kau menyalahkan Yeon-Hyo, tapi aku ingat bahwa kau masih dongsaengku, salah satu dongsaeng kesayanganku.”

Kyuhyun menundukkan wajahnya, memandangi kedua sepatunya. Dia tak pernah membayangkan bahwa gadis yang telah dia tuduh meracuninya dengan makanan basi itu telah mengalami masa-masa sulit. Dia hanya berpikir mungkin setelah kejadian itu Yeon-Hyo melarikan diri. Makanya dia amat sangat senang ketika mendapat kabar bahwa beberapa fans memukuli seorang gadis yang diketahui Yeon-Hyo-lah gadisnya. Tapi sekarang setelah mengetahui kebenarannya, rasa bersalah melanda hatinya.

“Bagaimana keadaannya sekarang?” tanya Kyuhyun lirih masih dengan menundukkan wajah.

“Dia sudah kembali ke Korea saat Natal kemarin.” ucap Siwon mengacuhkan pertanyaan Kyuhyun.

“Mwo?” Kyuhyun mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Dia sangat kaget dengan fakta lain yang tidak diketahuinya ini. “Lalu… kenapa dia tak menemuimu, hyung?” tanya Kyuhyun kemudian.

Bila gadis itu berada di Korea seperti ucapan Siwon, seharusnya dia melihat gadis itu karena kemungkinan Siwon akan memaksa gadis itu menemuinya. Tapi sebelum Siwon memberikan jawaban, ketakutan menghantam keras pikirannya. Sebuah kenyataan bahwa gadis itu telah membencinya.

“Kau ingat ucapanku mengenai seseorang yang menolong Yeon-Hyo dengan membawanya ke rumah sakit?”

Melihat Kyuhyun mengangguk pelan, Siwon tersenyum. Senyuman yang tak bisa menembus matanya yang tengah memancarkan kesedihan. “Orang itu tak hanya menolong Yeon-Hyo untuk dibawa ke rumah sakit. Dia juga membantu kami dan ahli medis untuk menenangkan Yeon-Hyo saat gadis itu berteriak ketakutan. Aku sering melihatnya mendapat pukulan yang tak ringan dari Yeon-Hyo. Tapi orang itu dengan sabar selalu datang setiap hari menemuinya. Bahkan seperti yang aku ucapkan tadi, orang itu bersedia mengikuti Yeon-Hyo untuk berobat ke luar negeri.

Kabar yang aku dengar dari Yoon ahjusshi, beberapa bulan setelah Yeon-Hyo mulai sembuh orang itu meninggalkan Amerika. Karena ada sesuatu yang harus dia lakukan di Korea. Sejak kepergian orang itu, Yeon-Hyo berencana untuk menyusulnya. Maka di negara inilah dia sekarang.”

“Nuga?” ujar Kyuhyun getir. Entah kenapa mendengar tentang ‘orang itu’, tatapan sendu kembali menghiasi wajahnya.

“Sebelumnya aku tak pernah menyangka tentang kenyataan ini. Tapi melihat Yeon-Hyo yang bisa sembuh dan kembali normal, aku rasa wajar saja jika hal ini terjadi. Dia Kim Myung-Soo. Namjachingu Yeon-Hyo. Aku yakin kau mengetahuinya sama seperti aku yang juga mengetahuinya.”

Kyuhyun mengusap permukaan wajahnya kasar sembari mengerang. Kepalanya menengadah menatap langit-langit di atasnya.

“Myung-Soo…” Kyuhyun mendengus pelan ketika nama itu terlontar begitu saja. Masih tak percaya saat mengingat status pria itu yang berganti dengan cepat. Dari pacar Yeon-Hyo menjadi calon tunangannya.

Jika disetarakan, kedudukannya dengan Myung-Soo tak jauh berbeda. Mereka berdua berada dalam dunia hiburan yang sama. Meniti karir dari awal hingga akhirnya bisa bersinar seperti sekarang. Bahkan Kyuhyun yakin probabilitas fans-nya lebih banyak daripada pria bermarga Kim itu. Tapi kenapa harus kalimat itu yang menjadi alasan Yeon-Hyo untuk memilih pria itu.

“Aku tak membencimu, oppa. Hanya saja aku terlalu bergantung padanya sekarang. Aku tak bisa membiarkan dia terluka karena aku, seperti aku yang terluka karenamu dulu. Walaupun aku yakin itu di luar kehendakmu. Tapi aku sudah merasakan bagaimana sakitnya itu, oppa. Jadi aku tak akan membiarkan Myung-Soo oppa merasakannya juga. Dia sudah banyak berkorban untukku. Maka kali ini giliranku yang berkorban untuknya.”

“Dia sangat bodoh,” gumam Kyuhyun sedikit berbisik, masih dengan posisi menghadap langit-langit. “Dia memilih pria itu karena terlalu bergantung padanya. Tapi aku rasa tidak. Dia hanya merasa berhutang budi pada pria itu.” imbuhnya.

Sungmin meremas pelan pundak Kyuhyun mencoba memberi sedikit ketenangan padanya. “Aku tidak setuju,” ucapnya dengan memandang ke depan.

Kyuhyun sontak menoleh, menatap Sungmin tak percaya. Pria itu berniat menepis tangan Sungmin di pundaknya ketika dia mulai melanjutkan perkataannya.

“Mungkin kata-kataku sedikit kejam untukmu, tapi melihatmu yang terus mencoba menenangkan diri dengan asumsi bahwa dia akan kembali, aku rasa sudah saatnya kau memikirkan ini. Cobalah untuk melihat kenyataan, Kyuhyun~ah. Ada saat dimana kau merasa berhutang pada seseorang tapi saat itu pula kau mulai bergantung padanya. Kupikir itu yang dirasakan Yeon-Hyo saat ini,” lanjut Sungmin menatap mata Kyuhyun.

“Jadi, daripada membuat asumsi yang akan menyakitimu sendiri, kenapa kau tidak mencoba untuk merelakan semuanya? Mempercayai sepenuh hati bahwa inilah yang terbaik untuk kalian?”

***

Myeongdong, Jung-gu, Seoul
04.30 P.M

“Hyung, apa menurutmu Yeonnie noona akan sangat cantik saat mengenakan gaun ini?” Sung-Jong menunjuk mannequin wanita yang mengenakan gaun pengantin putih berwarna gading. Terpajang pada beranda salah satu Wedding Gown Shop di kawasan itu.

“Apapun yang dia kenakan, dia tetap terlihat cantik dimataku.” L menyunggingkan senyum pada maknae-nya itu. Meneruskan langkahnya kembali saat sebelum diinterupsi Sung-Jong.

“Ya, ya, ya… aku tahu.” sindir pria muda itu dengan mengerucutkan bibir. “Lalu setelah ini, toko mana yang akan kita datangi?” lanjutnya sambil menyejajarkan langkah dengan L.

Sejak Woo-Hyun memberikan daftar-daftar barang persiapan pertunangan yang dia dapat dari Yeon-Hyo, L baru bisa mengambil barang-barang itu tadi. Sebenarnya bisa saja dia melakukan itu kemarin sore. Tapi karena barang-barang yang terdaftar tidak sedikit, dia pun membutuhkan bantuan dari member lain, yang baru bisa menemaninya hari ini–itupun hanya Sung-Jong, sang maknae.

“Kita makan saja dulu. Aku tak ingin dibunuh oleh Sung-Gyu hyung karena sudah menjadikanmu budak tapi tak memberimu makan.”

“Kau berlebihan, hyung. Dan apa itu? Budak?! Ck! Kasar sekali!” kesal Sung-Jong. Pria itu memilih berjalan meninggalkan L yang masih terkekeh. Memutar bola matanya ketika mendengar kekehan itu berubah menjadi tawa bahagia. Tapi bola matanya sentak melebar, mendapati sesosok gadis tengah duduk di salah satu meja restoran. Mengaduk minumannya dengan gusar. Namun saat Sung-Jong ingin mengeluarkan suara untuk menyebut namanya, seorang pria datang menghampiri. Menduduki kursi bersandaran kayu di depannya dan menatap gadis itu secara instens.

“Kita kembali saja. Hoya hyung bisa memasakkan makanan untuk kita.”

Belum sempat Sung-Jong membantah, L lebih dulu meninggalkannya. Memasuki lift terdekat kemudian mengarahkan telunjuk kanannya menekan tombol tunggu.

Aish! L hyung pasti melihatnya juga. Eotthokae?! pikir Sung-Jong kalut.

***

O’sulloc Teahouse, Myeongdong, Seoul
04.31 P.M

Yeon-Hyo menghembuskan nafas beratnya lagi. Terhitung sejak memasuki restoran ini dia sudah berulang kali mendesah. Wajahnya cukup cemas. Bahkan kepalanya tak henti-hentinya menoleh ke arah jendela. Memastikan orang itu sudah datang atau tidak.

Saat Kyuhyun mengiriminya pesan memintanya bertemu di suatu tempat, gadis itu menolak. Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan untuk menemui pria itu. Pertama, dia amat sangat sibuk. Ujian-ujian menghampirinya tanpa henti. Tugas-tugas pun sudah menumpuk di atas meja belajarnya. Kedua, Yeon-Hyo tahu jika kemarin sore Myung-Soo tak bisa mengambil barang-barang yang daftarnya sudah dia titipkan pada Woo-Hyun. Dan Myung-Soo berjanji akan mengambil barang itu hari ini bersama Sung-Jong. Tepatnya sore ini. Bila pria itu tak sengaja melihatnya bersama Kyuhyun, dia akan salah paham. Yeon-Hyo tak ingin itu terjadi.

Dan ketiga… Yeon-Hyo takut–alasan tak masuk akal sebenarnya. Cukup dan sangat takut saat berdekatan dengan pria itu. Menatap matanya yang tajam dan seolah mengintimidasi, membuatnya tak bisa mencegah debaran di hatinya. Perasaan tersembunyi yang sudah lama dia rasakan. Tapi bukan itu yang mengganggu pikirannya. Hanya saja jika ada fans Kyuhyun yang melihatnya bersama pria itu, mereka akan berpikiran tidak-tidak. Lalu bagaimana jika kejadian empat tahun silam itu terjadi lagi? Tak ada Myung-Soo di sini, walaupun Yeon-Hyo yakin Kyuhyun akan sangat melindunginya.

Namun siapa sangka jika pada akhirnya dia memutuskan untuk bertemu Kyuhyun. Menyandarkan kepala pada kaca jendela yang menggantikan dinding di samping kanannya. Oh! Sepertinya dia salah memilih tempat. Bagaimana jika ada yang melihatnya dengan Kyuhyun? Semoga saja pria itu memakai alat penyamaran, batinnya.

Saat dia masih termenung menatap keramaian di luar, perhatian Yeon-Hyo teralihkan pada sesosok pria yang duduk di hadapannya. Kyuhyun menatap wajahnya dalam, membuat Yeon-Hyo dapat menangkap kesedihan dan perasaan terluka di kedua matanya itu.

“Bagaimana kabarmu?” ucap Kyuhyun sambil mengembangkan senyum kecut.

Gadis itu menghembuskan nafasnya lagi, tapi kini melewati hidung. Memainkan sedotan pada cup lemon tea miliknya yang permukaannya sudah berembun. “Seperti yang kau lihat, oppa. Aku baik-baik saja.” ungkapnya dengan nada gugup yang kentara.

Kyuhyun mengacuhkan jawaban Yeon-Hyo. Dia bahkan mendengar jelas kegugupan dalam suaranya. Tapi pria itu lebih memilih untuk memandangi wajahnya. Masih cantik dan terlihat segar. Tak seperti dirinya, bagaikan mayat hidup.

“Ternyata kau benar-benar serius dengan ucapanmu.” Yeon-Hyo memandang datar wajah Kyuhyun yang terlihat lelah. Dia sudah menebak inilah inti pembicaraan diantara mereka.

“Berhentilah membohongi dirimu sendiri, Yeon-Hyo~ya. Kau tak bergantung padanya. Tapi kau hanya merasa berhutang pada Myung-Soo!” ujar Kyuhyun dingin.

Yeon-Hyo mendelik sesaat pada pria tersebut. Kalimat terakhirnya seperti bom atom yang siap meledak untuk hatinya. Dia memang tak mengelak perasaan seperti itu pada kekasihnya. Pengorbanan yang dilakukan Myung-Soo selama ini pasti akan membuatnya merasa berhutang budi. Membuatnya kebingungan bagaimana caranya untuk membayar semua itu.

Tapi saat ini dia lebih mengetahui perasaannya dibandingkan Kyuhyun. Yeon-Hyo hendak membuka mulut. Namun bunyi pelan dengan nada getar di samping tubuhnya, mengurungkan niatnya.

Haruskah aku membuat pengakuan, Yeon-Hyo~ya? Sebelum melangkah ke tahap selanjutnya, aku rasa sudah saatnya aku berkata jujur padamu. Bukan rahasia penting sebenarnya. Bukan rahasia tentangku juga. Tapi… tentangmu.

Yeon-Hyo~ya, aku sungguh takut tak bisa menerima kenyataan setelah mengatakan ini. Karena kemungkinan besar aku akan kehilanganmu. Tapi daripada aku mengatakannya saat kita berdua sudah menikah. Lebih baik aku mengatakan sekarang, saat kita masih akan terikat dalam cincin pertunangan.

Perasaanmu pada Kyuhyun sunbae, aku mengetahuinya. Perasaan yang menjelaskan bahwa kau lebih dari sekedar kagum padanya. Kau tahu bukan antara kagum dan cinta hanya sedikit perbedaannya? Walaupun saat baru sembuh kau ketakutan mendengar namanya, tapi tidak dengan matamu saat menatapnya di televisi. Kebahagiaan, kesedihan, terluka. Semuanya terlihat jelas dan aku bisa merasakannya. Hanya saja aku diam. Berharap kau melupakan perasaanmu itu karena kehadiranku.

Hari ini saat melihat bagaimana Kyuhyun sunbae menatapmu, aku merasa waktuku untuk berada di sampingmu telah habis. Aku yakin dia bisa menjagamu lebih dari aku menjagamu. Aku juga percaya dia akan melindungimu kali ini dari orang-orang yang membencimu. Walaupun sesungguhnya itu melukaiku.

Tapi aku ingin kau memilihnya, Yeon-Hyo~ya. Dia sangat terluka ketika menerima undangan darimu. Siwon hyung bahkan memberitahuku bahwa dia menangis. Hei, aku belum tentu bisa menangis seperti itu! Jadi kau harus memilihnya. Jangan takut! Aku akan memberitahu Eomma mengenai hal ini. Mengatakan padanya akulah yang membatalkan pertunangan ini.

Aahh yaa! Kau pasti bertanya bagaimana aku bisa tahu? Aku tak sengaja melihatnya. Sebenarnya Sung-Jong yang melihatnya pertama kali. Tapi ketika dia berhenti mendadak di depanku, aku mengikuti pandangannya dan menemukanmu bersamanya di restoran itu.

Hah! Sepertinya pesanku terlalu panjang. Semoga kau bisa membaca ini seutuhnya. Dan aku harap kita tetap berteman, eoh?

                                    From   : Myung-Soo oppa

Thursday, 25/07/2013

Yeon-Hyo menggigit bibir bawahnya. Merasakan tubuhnya yang sedikit bergetar. Pikiran bodoh macam apa ini? Bagaimana pria itu berpikiran bodoh seperti ini dan akhirnya membuat kesimpulan sendiri? Dia beranjak dari duduknya. Kesalahpahaman ini harus diselesaikan. Dia tak akan membiarkan ketakutannya tadi menghantuinya.

“Kau mau kemana?” tanya Kyuhyun, menggenggam pergelangan tangannya erat. Untung saja mereka hanya berdua di lantai ini. Sepertinya pria itu sudah memesan semua meja di restoran.

“Aku harus pergi.” desis Yeon-Hyo. Dia menyingkirkan tangan Kyuhyun sedikit kasar. Namun saat hendak melangkah, tangan pria itu mencekalnya lagi.

“Tapi kita belum selesai bicara, Yeon-Hyo~ya. Kau kenapa?? Apa kau mendapat pesan dari calon tunanganmu itu?? Kenapa lagi sekarang?! Apa dia menyuruhmu untuk datang ke tempatnya?!” Yeon-Hyo memiringkan kepalanya. Menatap kedua mata Kyuhyun dengan nanar. Sejak menerima pesan bodoh dari Myung-Soo, dia mencoba untuk tidak menangis. Tapi kata-kata sinis Kyuhyun perihal Myung-Soo meruntuhkan pertahanannya.

“Kenapa sepertinya kau begitu membenci kekasihku, oppa? Apa karena dia yang berdiri di sampingku? Dan apa karena dia yang bisa memilikiku sekarang, bukannya dirimu?? Jika seperti itu, kemana kau setelah insiden mengerikan itu?! Kemana kau saat aku terbaring kaku dan kritis di rumah sakit, oppa?! Apa kau datang saat aku berteriak ketakutan melihat Siwon oppa dan Eomma hendak memelukku?? Apa kau melihat aku menggigit pergelangan tangan Uisanim dan salah satu perawatnya?? Tidak, oppa! Kau tidak melihatnya!! Kau juga tidak merasakannya!!”

Kyuhyun terdiam melihat wajah Yeon-Hyo yang telah dipenuhi airmata. Ada yang menusuk hatinya ketika melihat gadis ini mengucapkan itu. “Jadi sekarang kau membenciku?” ucapnya sedikit berbisik.

“Aku tak pernah berniat membencimu. Aku juga tak yakin saat itu aku bisa membencimu. Kau terlalu mendominasi ruang hatiku, oppa. Bahkan sampai sekarang!” tegasnya. Mengalihkan pandangan ke kiri sementara tangannya bergerak menghapus airmata.

“Tapi empat tahun telah berlalu, oppa. Empat tahun yang aku habiskan tanpa kehadiranmu dan bayang-bayangmu. Empat tahun yang aku habiskan bersama Myung-Soo oppa. Hanya dia! Kim Myung-Soo!! Saat aku berteriak layaknya orang gila, dia yang mendekapku serta menenangkanku. Saat aku hendak memukul orang yang mendekatiku, dia yang mengajarkanku untuk tidak bersikap seperti itu. Dan saat aku ketakutan menjalani terapi penyembuhan, dia yang menguatkanku. Meluangkan waktunya di masa trainee untuk menjawab teleponku. Aku terlalu bergantung padanya, oppa. Aku sangat bergantung padanya saat itu!!” pekik Yeon-Hyo keras.

Kyuhyun membungkan mulutnya. Dia sudah mendengar hal ini dari Siwon. Tapi mendengarnya langsung dari Yeon-Hyo, sangat cukup melukai hatinya.

“Aku mencintaimu, oppa. Sangat mencintaimu. Bermimpi kau akan menjadi milikku suatu saat nanti. Bagaimana pun caranya aku siap untuk mendapatkanmu. Tapi insiden itu menyadarkanku, oppa. Bahwa aku belum siap dengan duniamu. Aku masih ketakutan dengan duniamu. Bahkan saat bertemu Siwon oppa untuk pertama kali, aku menyuruhnya untuk datang ke rumahku dalam keadaan menyamar sepenuhnya. Padahal saat itu aku sudah sembuh total.”

“Lalu bagaimana dengan dunia Myung-Soo? Kita berada di dunia yang sama, Yeon-Hyo~ya! Dengan resiko yang sama pula!”

“Ya, aku tahu.” bisik Yeon-Hyo pelan. Dia memutar badannya untuk menghadap Kyuhyun sepenuhnya. Menundukkan kepala memandangi kakinya yang bergetar. “Tapi… itu berbeda. Aku merasa nyaman di dunianya. Aku sempat berpikir ini terjadi karena aku merasa berhutang padanya. Sama seperti yang kau ucapkan. Sehingga aku berusaha untuk menerimanya beserta dunianya. Tapi ternyata aku salah, oppa.”

“Mwo?” tanya Kyuhyun tercekat.

“Myung-Soo oppa mengirimkan pesan, mengatakan bahwa dia melihat kita bertemu dan siap untuk merelakan kita bersama. Seharusnya jika memang aku hanya berhutang padanya, aku merasa senang akan keputusan itu. Karena jujur saja aku masih menyimpan sedikit perasaan itu padamu. Tapi… aku… aku tidak bisa, oppa. Aku juga tak ingin. Aku tak ingin kehilangan dia. Aku takut hidup tanpa dia. Maafkan aku, oppa. Maafkan aku telah menyakitimu. Menghancurkan hatimu dengan cara seperti ini. Tapi aku benar-benar tak bisa, oppa. Aku tak bisa meninggalkannya.” lanjutnya kemudian membenamkan wajah pada kedua telapak tangan. Menahan isak tangisnya yang semakin terdengar.

Kyuhyun merengkuh Yeon-Hyo dalam pelukannya. Terlalu erat hingga dia yakin gadis ini pasti kesulitan bernafas. Pria itu pun dapat mencium aroma parfum white musk yang dipakai Yeon-Hyo. Gadis ini, gadis yang dicintainya menangis karena sikapnya yang tak bisa merelakan. Membuatnya merasa seperti pria egois yang menginginkan kebahagiaan tanpa mempedulikan orang lain.

Hatinya terluka melihat Yeon-Hyo meneteskan airmata. Memohon-mohon pada Kyuhyun agar bisa merelakannya dan hidup bersama pria lain. Dia tak bisa lebih tega daripada ini. Dia tahu, dia akan lebih terluka setelahnya. Tapi dengan melihat senyum bahagia Yeon-Hyo, Kyuhyun yakin dirinya akan baik-baik saja. Meskipun tanpa gadis itu di sisinya.

“Berjanjilah kau akan bahagia bersamanya.” putusnya kemudian. Melepaskan pelukannya dan memegang erat kedua bahu Yeon-Hyo.

Pandangannya sedikit kabur, terhalang oleh airmata yang ingin melesak keluar. Tapi tetap tak menghalangi penglihatannya yang terakhir kali untuk melihat kecantikan seorang gadis yang tanpa disadari mengisi hatinya yang kosong. Gadis yang hanya mengandalkan bekal makanan setiap harinya yang kemudian membuat Kyuhyun merasa terbiasa. Merasakan kehampaan apabila kehilangan semua itu.

“Berjanjilah kau akan selalu tersenyum. Tak akan pernah bersedih atau menyesali keputusanmu. Menjaga cinta kalian berdua untuk tetap bersatu sampai nanti. Jika kau bisa menjanjikan hal itu padaku, maka aku akan merelakanmu.” Kyuhyun memajukan tubuhnya. Meletakkan bibirnya tepat di kening Yeon-Hyo. Memberinya sebuah ciuman yang sarat akan kasih sayang. “Karena jika kau bahagia aku juga bahagia, Yeon-Hyo~ya.” dialognya pelan sembari tersenyum.

 

 

–THE END–

****

RHETT 

Oleh :  Nanda Febri 

Ketika malaikat Tuhan datang merengkuh dan membuat harapannya nyata, gadis itu seharusnya tahu jika sekarang hanya ada dua pilihan di depannya. Merelakan jantungnya. Atau merelakan hatinya.

 

****

“Aku rasa dia mengujimu.”

Aku mengerutkan keningku sekilas sebelum mengibaskan tanganku pelan.

“Oh, tendang saja aku. Dalam kamusnya, kata menguji ada dalam keseharianku,” kataku kesal menatap seseorang yang berada di hadapanku.

Orang itu terkekeh lalu mengeluarkan sebuah tongkat di balik jubah putihnya. Tongkat itu memiliki bentuk unik. Memanjang dengan ukiran yunani kuno yang menceritakan hukum di sini. Sialan. Melihat tongkat itu, aku juga merasa ingin memilikinya.

“Gabriel memang begitu. Kau baru saja diciptakan, dan dengan beruntungnya kau ditempatkan di sini, Rhett,” jawabnya kalem.

Aku memandang datar padanya, lalu melirik tongkatnya untuk kesekian kali.

“Oh, tutup mulut besarmu, Dillan! Aku malas mendengar ocehanmu. Kita ambil jalan tengahnya saja. Jika Gabriel memang mengujiku untuk mengambil jiwa ‘anak bawang’ itu, seharusnya dia juga memberiku senjata sepertimu,” ucapku panjang lebar mulai memasuki fase pertama peningkatan emosi.

Dillan mengedikkan bahunya sekilas, sebelum senyumannya yang mengerikan itu terkulum jelas di bibirnya.

“Hadapi saja tugasmu, Rhett. Kau hanya perlu mengambil jiwa manusia yang ditunjuk Gabriel, lalu semuanya beres. Mengenai senjata, memangnya kau menginginkan apa? Revolver? Tombak? Dengan kekuatanmu, bahkan aku yakin kau bisa membuat senjata sendiri.”

Aku melengos, memilih mengindahkan perkataan Dillan. Malaikat sialan itu selalu saja mengasah mulutnya dengan nasehat yang membuatku merasa emosi.

“Sialan. Manusia memang menyusahkan,” aku menarik napas pelan lalu memandang Dillan. “Sekarang apa yang harus kulakukan?”

“Turun ke bumi, mencari anak bawang yang kau maksud, lalu mengambil jiwanya.” Dillan memandangku remeh lalu menyedekapkan tangannya di depan dada. “Memang apa lagi?”

 

 

*****

 

Aku menggerutu sepanjang jalanan yang kulalui, menuju sebuah apartemen bobrok yang diberitahukan Dillan padaku. Ini menyebalkan. Berpura-pura menjadi manusia, berbaur, mencium aroma mereka yang seperti bangkai, lalu berjalan kesana kemari mencari manusia tolol yang ditunjuk Gabriel untuk diambil jiwanya. Kapan hidupku bisa tenang?

Aku terus saja berjalan dengan raut wajah kesal sebelum beberapa suara yang bersahutan, membuatku menengok, mencari di mana suara itu berasal.

“Ya Tuhan, apa dia benar-benar manusia? Kenapa wajahnya sangat tampan dan sama sekali tidak manusiawi?”

“Apa dia malaikat?”

Aku tersenyum sinis lalu menundukkan kepalaku dan mulai berjalan lagi. Kumpulan manusia itu memang benar-benar tolol. Aku memang bukan manusia dan aku memang malaikat. Malaikat pencabut nyawa tepatnya. Harusnya aku sadar, tidak di tempatku, tidak di sini, aku memiliki wajah tampan tak dapat dijelaskan.

Aku sedikit menghembuskan napas lega dengan tubuh manusiaku ini, ketika melihat sebuah pintu apartemen bobrok berada di depanku.

103.

Tepat seperti nomor apartemen yang Dillan berikan padaku. Aku mengeluarkan revolver milik Ian–anak buah Gabriel lainnya–yang kupinjam susah payah, dengan menggadaikan harga diriku yang tinggi. Revolver itu sangat unik dengan ukiran aneh melingkar di gagangnya. Bahkan aku yakin kaliber yang ada di dalam revolver ini memiliki ukiran kuno yang sama. Aku berusaha untuk menembaki pintu, sebelum aku teringat tentang petuah konyol Dillan tentang pencabutan jiwa tanpa menarik perhatian orang lain. Ah sialan! Tugas ini memang menyulitkanku!

“Hei! Siapa kau? Sedang apa kau berdiri di depan apartemenku?” kata seseorang yang  setengah berteriak padaku.

Aku segera mengalihkan pandanganku dan menemukan seorang gadis yang kuakui memiliki kecantikan lebih dari manusia lainnya. Ya Tuhan, ini pemandangan yang… menyenangkan.

Gadis itu memakai kaos longgar berantakan berwarna merah muda yang sudah memudar. Belum lagi tangan gadis itu dengan santainya mengenggam sebuah gelas berisi cairan… entahlah. Aku tidak tahu namanya. Yang perlu digaris bawahi, cairan itu berwarna nyaris sama dengan kaos yang dipakainya. Aku rasa gadis ini maniak dengan warna merah muda yang menggelikan itu.

“Hei! Aku bertanya siapa kau! Dan apa itu? Kau penjahat, ya? Kenapa membawa pistol menyeramkan itu?” cerocosnya panjang lebar yang membuat kepalaku pening. Ternyata gadis ini memiliki mulut yang sangat menyusahkan.

Aku memasukkan revolver Ian dengan hati-hati ke dalam pakaianku. Sebaiknya gadis ini tidak melihat revolver Ian lebih lama lagi atau dia akan semakin penasaran.

“Aku malaikat pencabut nyawa. Namaku…” Aku memutar bola mataku sebentar mengingat perkataan Dillan tentang namaku saat berwujud manusia. “Cho Kyu Hyun. Panggil aku Kyu Hyun. Dan aku akan mencabut nyawamu, Nona Manis.”

 

 

*****

 

Aku mencoba menulikan pendengaranku dengan memandangi seluruh bagian apartemen ini. Sedari tadi, telingaku merasakan panas akibat ocehan gadis bermulut besar itu. Dengan tololnya, aku mengucapkan jati diriku di hadapannya dan dia malah tertawa terbahak-bahak lalu menawariku masuk ke dalam apartemennya yang bobrok. Oh, sepertinya aku menjadi badut bodoh di sini.

“Jadi, Tuan Kyu Hyun, kau adalah malaikat pencabut nyawaku? Kalau begitu perkenalkan, namaku Yoon Yeon Hyo,” kata gadis maniak warna merah muda itu yang tiba-tiba duduk di sampingku membawa semangkuk makanan yang sama sekali tidak ingin kumakan. Uh, bentuknya sangat menjijikkan.

“Aku memang malaikat pencabut nyawa, Nona,” jawabku dingin lalu menatap wajahnya yang rupawan itu.

“Baiklah, Tuan-pencabut-nyawa-yang-tampan, kau sudah memperbaiki pandangan malaikat pencabut nyawa di mataku.”

“Memang kenapa?”

“Kupikir malaikat pencabut nyawa itu jelek dan mengerikan.”

“Dan aku?” Aku dengan cepatnya melontarkan rasa penasaranku pada gadis bodoh di hadapanku ini.

“Yah… kau tampan,” jawab gadis itu dengan wajah setengah merah merona membuatku tertawa dalam hati.

“Aku tahu aku memang rupawan.” Dan kau cantik, Nona, balasku dalam hati.

Pahatan yang dibuat Tuhan pada wajah Yeon Hyo benar-benar membuatku kaku. Hidungnya, matanya, bibirnya… terlihat sempurna, seakan-akan Tuhan menumpahkan seluruh pahatan terbaiknya pada gadis ini.

Berengsek. Mengapa sekarang aku malah memuji anak bawang yang akan segera kucabut nyawanya ini? Tapi… apa gadis bernama Yeon Hyo ini, dulunya adalah anak buah Persephone? Wajahnya cantik terkesan alami. Tapi, aku tahu jika dibalik wajahnya itu ada sifat dingin dan menyeramkan seperti neraka. Jika tidak, mana mungkin Gabriel menyuruhku mencabut jiwa gadis bermulut besar ini?

“Ya, terserah kau saja. Tapi, aku tadi memang berdoa agar nyawaku segera dicabut karena ada kuis mendadak tentang Shakespeare di kelas pertama. Rasanya otakku ingin pecah,” kata Yeon Hyo riang gembira tanpa rasa bersalah sedikitpun.

Tolol. Apa gadis ini benar-benar idiot sehingga meminta kematian hanya karena sebuah… kuis?

“Kau ingin aku menunjukkan kemampuanku agar kau percaya jika aku adalah malaikat?” tembakku langsung tepat sasaran.

Mulut Yeon Hyo langsung saja menganga mendengar perkataanku. Sepertinya cukup terkejut, mengingat dia membatalkan suapan makanan menjijikkan ke mulutnya.

“Jika kau mau, silahkan.”

“Kau akan terkejut, Nona.”

Aku menggerakkan jari telunjuk kananku ke arah televisi di depanku, lalu mengayunkannya sedikit sehingga telivisi itu melayang di udara dan ada api yang membakarnya secara tiba-tiba. Aku tersenyum puas saat mengetahui gadis di sampingku ini membuka mulutnya lebar-lebar seperti seorang idiot. Baiklah, bertepuk tanganlah untuk dirimu sendiri, Rhett. Ah tidak. Namaku sekarang adalah Cho Kyu Hyun. Jadi, bertepuk tanganlah untuk dirimu sendiri, Cho.

Setelah puas menyaksikan wajah tolol Yeon Hyo, segera saja aku mengepalkan tanganku. Dan seketika itu juga, televisi itu lenyap tak bersisa.

“Kau sudah percaya?” tanyaku sedikit mengangkat ujung bibirku, memberi efek meremehkan dan menusuk di saat yang bersamaan pada Yeon Hyo.

“Oh, kau benar-benar malaikat pencabut nyawa rupanya. Tapi, mengapa kau menghilangkan televisiku? Bagaimana aku bisa melihat drama kesayanganku nanti malam? Itu episode terakhirnya. Ah, menyebalkan!” rutuk Yeon Hyo yang membuatku terkejut. Gadis ini… benar-benar tolol, polos, atau idiot?

“Seharusnya yang kau pikirkan itu bukan masalah drama, Nona. Tapi, masalah nyawamu yang ada di tanganku,” kataku datar berusaha menakutinya.

Gadis itu memutar bola matanya ekspresif lalu meletakkan mangkuk makanannya ke atas meja di hadapannya. Dia tersenyum sekilas padaku lalu menerawang ke arah depan.

“Manusia memang seperti itu, bukan? Pada akhirnya mereka akan mati. Aku percaya jika suatu saat aku akan mati. Tapi, bukan itu seharusnya yang kutakuti. Aku hanya memikirkan, bagaimana caranya aku mati. Apa aku di jalan yang benar atau salah. Itu saja.”

Terkutuklah gadis bernama Yeon Hyo itu! Gadis itu… bagaimana bisa pikirannya sangat dalam? Tidak takut mati, tapi memikirkan bagaimana jalan yang ia ambil saat mati nanti. Ayolah, aku tahu ini akan sangat menarik. Dan untuk pertama kalinya, aku berterima kasih pada Gabriel atas pelimpahan gadis ini padaku.

“Kau… bercanda?”

Yeon Hyo menatapku heran lalu mengerutkan keningnya sesaat. “Apa terlihat seperti itu?”

Aku tersenyum puas mendengar jawabannya. “Tidak. Hei, Nona Yeon Hyo. Apakah kau mau mendengarkan sebuah penawaran yang bagus dariku?”

“Apa?”

“Keinginan terakhirmu sebelum mati?”

Yeon Hyo mengerjapkan matanya sesaat sebelum sebuah senyuman lebar terkulum di bibirnya. Tambahkan suara latar dan efek hitam di belakangnya, maka dia akan seperti anak buah Persephone sungguhan.

“Aku ingin menghabiskan waktu sehari penuh,” katanya mantap, membuatku mendengus kesal karena permintaan bodohnya. Dari sekian banyak permintaan yang logis, mengapa permintaan bodoh itu terlontar dari mulutnya?

“Denganmu,” lanjutnya selang sedetik kemudian. Aku membelalakkan mataku lalu meneguk ludah berat.

Berengsek. Bersama manusia selama sehari penuh? Oh, ternyata nerakaku baru saja dimulai.

 

*****

 

“Ayo, percepat langkahmu!”

Aku menghembuskan napas kasar saat Yeon Hyo berteriak padaku, sehingga banyak orang yang melihat kami berdua. Menjadi pusat perhatian bukan salah satu kesenanganku. Dan sekarang, gadis tengik satu ini mencoba membuat ulah denganku.

“Kau bilang kau tidak ada kelas?” desisku keras padanya.

Yeon Hyo hanya menyunggingkan senyum konyolnya.

“Memang. Tapi, aku ingin menunjukkanmu kepada semua orang di universitas,” sahutnya biasa.

Aku mencekal tangannya lalu menatap gadis itu tajam dengan warna bola mataku yang bisa kupastikan menjadi merah menyala sekarang. Aku bisa merasakan jika cekalan tanganku menguat dan Yeon Hyo mengerang kesakitan. Aku juga bisa merasakan jika suhu tubuhku mulai memanas dan berisiko membuat kulit Yeon Hyo memerah atau mungkin… melepuh? Entahlah, aku sama sekali tidak ambil pusing.

“Jangan bermain-main denganku, Nona.” Aku melepaskan cekalan tanganku sebelum gadis itu menderita patah tulang.

“Aku-aku… hanya ingin kau bersamaku dan semua orang melihatnya,” cicit Yeon Hyo seperti tikus gorong-gorong yang sekarat.

Bodoh. Wajah gadis itu kenapa bisa terlihat sangat menyedihkan seperti ini?

“Jadi kau me–“

“Hei, lihat siapa itu? Yoon Yeon Hyo si tikus idiot bersama dengan seorang pria, eh?” kata seorang pria yang berasal entah dari mana, dan dengan seenak kepalanya memotong perkataanku.

Pria itu memandang Yeon Hyo dengan tatapan angkuh dan meremehkan. Ayolah, pria itu bahkan terlihat seperti cacing menjijikkan di mataku. Dia tidak sendirian. Pria itu bersama gerombolannya, yang terlihat seperti orang tolol yang mau menyembah pria menjijikkan itu.

Aku mengalihkan pandanganku ke arah Yeon Hyo yang tiba-tiba saja terdiam. Apa yang terjadi di sini? Kenapa mata Yeon Hyo berkaca-kaca? Demi Tuhan, jangan bilang gadis itu ingin menangis?

“Yeon Hyo, apa ini yang kau maksud kekasihmu selama ini? Apa dia hanya menjadi teman kencan kilatmu? Berapa banyak uang yang kau habiskan, Sayang?” kata pria itu disertai tawa kemenangannya yang sangat kental.

Aku menahan kepalan tanganku yang kapan saja bisa meluncur bebas di wajah pria berengsek itu. Sekarang aku sadar jika pria itu menganggap Yeon Hyo wanita murahan. Memang tahu apa dia tentang Yeon Hyo? Pendosa seperti dia hanya bisa mengasah mulut besarnya saja.

“Apa… sudah puas?”

Aku menolehkan kepalaku ke arah Yeon Hyo yang kini menggigit bibir bawahnya keras-keras. Gadis itu berusaha terlihat tenang dan dingin. Aku bisa melihat tatapan matanya yang tajam dan terkesan… membunuh?

Pria itu menghentikan tawanya lalu memandang Yeon Hyo marah. Oh, rupanya ada yang tersinggung di sini. Bagus, Yeon Hyo. Lidah tajam milikmu memang berguna di saat-saat seperti ini.

“Wanita murahan sepertimu seharusnya berkaca dahulu sebelum berbicara seperti itu denganku.”

“Tidak. Seharusnya aku yang berbicara seperti itu padamu. Pria sepertimu seharusnya menggunakan otak sebelum berbicara. Aku kira otakmu sudah mati tergantikan oleh mulut besarmu itu. Aku bahkan sangsi jika kau masuk universitas dengan usahamu. Jadi, berapa banyak uang yang kau habiskan untuk menyumpal orang-orang universitas, Hyun Seok?” kata Yeon Hyo tajam.

Bravo. Pasti karena mulut besar Yeon Hyo yang membuat Gabriel mengutusku untuk mengambil jiwanya. Mulut gadis ini tajam dan menusuk. Demi Dillan yang juga bermulut besar itu, permainan ini akan semakin menarik.

Tiba-tiba saja pria yang bernama Hyun Seok itu meringsek maju, seakan ingin menghajar Yeon Hyo. Aku segera saja mengeluarkan revolver milik Ian dan menodongkannya tepat di kepala pria itu. Pria itu langsung saja membuka mulutnya lebar-lebar dan menjadi pucat.

“Tangan pendosa sepertimu sebaiknya dipotong saja. Sekali kau menyentuh Yeon Hyo, kupastikan tangan, mulut, mata, dan bagian tubuhmu yang lain akan hancur di tanganku,” kataku tajam yang membuat tubuh Hyun Seok bergetar.

Pria itu mulai ketakutan rupanya. Tapi, rasa takutnya sudah terlambat. Sekarang, hasratku untuk meremukkan sesuatu tidak bisa terelakkan lagi. Dan kurasa, aku akan mulai meremukkan pria itu.

Rettecto.”

Aku menyeringai, mantra itu sudah kuucapkan. Dan permasalahan ini akan selesai dengan mudahnya.

 

*****

 

Yeon Hyo menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya dengan tenang. Aku mendengus kesal melihat wajahnya. Aku sudah membuang waktuku percuma hanya untuk mengikuti kegiatan gadis tolol ini.

“Kau… apa yang kau lakukan dengan Hyun Seok dan gerombolannya tadi?”

Aku menatap Yeon Hyo sekilas lalu mengedikkan bahu acuh.

“Bersenang-senang? Pria itu perlu merasakan sesuatu yang setimpal dengan ucapannya,” jawabku enteng.

Mata coklat Yeon Hyo menghujam manik mataku tajam. Mata gadis itu benar-benar indah dan menyeramkan di saat yang bersamaan. Aku meneguk ludahku kecut, saat menyadari sesuatu di sini. Gadis itu bisa saja mengeluarkan pesona mematikan secara tiba-tiba. Dan pesona itu bisa saja melumpuhkan sistem kerja tubuhku.

“Bersenang-senang kau bilang? Demi Tuhan! Apa yang ada di otakmu? Membuat mereka seperti mayat hidup karena terus-menerus meraung kesakitan? Kau pikir semua orang di universitas tidak menaruh curiga? Konyolnya, orang pertama yang akan mereka salahkan adalah aku!” kata gadis itu dengan satu tarikan napas.

Aku mengernyitkan keningku heran lalu mendorong pelan kening Yeon Hyo dengan jari telunjukku.

“Mereka hanya akan merasakan sakit selama sehari penuh lalu semuanya akan baik-baik saja. Dan secara otomatis ingatan mereka tentang pertemuanku akan terhapus. Sederhana bukan?”

Yeon Hyo mengangkat tangannya tinggi-tinggi lalu memukulkannya tepat di kepalaku. Aku meringis kesakitan lalu menatap Yeon Hyo dengan tatapan membunuh. Tapi, Yeon Hyo malah membalas tatapanku tak kalah tajam.

“Jangan. Jangan lakukan hal menyedihkan seperti itu.”

Oh, sialan. Gadis ini baru saja mengucapkan kata-kata yang tidak kumengerti maknanya. Dan camkan baik-baik, jika Yeon Hyo mengucapkan kata-kata itu dengan ekspresi… terluka?

“Mereka hanya manusia biasa. Jika kau sekali saja merusak tubuh mereka, maka akan hancur tak bersisa. Kami makhluk rapuh, Tuan Kyu Hyun. Jika kau memperlakukan kami seperti baja, maka kau salah. Kami bisa saja remuk seketika.”

Gadis itu mulai lagi membuka mulutnya dengan serentetan kalimat yang terus saja membuatku ingin mencekal kepalanya, lalu memaksanya mengatakan arti perkataannya barusan.

Gadis itu menolehkan kepalanya ke arahku lalu terseyum samar padaku. Aku tidak cukup bodoh untuk menyadari jika sekarang dia sedang tersenyum getir.

“Jangan menyakiti manusia lain. Apa nyawaku saja tidak cukup?”

Aku terdiam di tempatku mendengar perkataan Yeon Hyo barusan. Gadis itu… membela kaumnya? Gadis itu membela kaumnya yang bahkan sudah menginjak-injak harga dirinya hingga level terendah. Gadis itu bahkan menawarkan nyawanya demi kaumnya yang naif dan membuatnya merana. Sebenarnya makhluk apa gadis ini?

“Kau… sebenarnya hatimu terbuat dari apa?”

Pertanyaan itu meluncur bebas dari mulutku. Aku bisa melihat jika senyum Yeon Hyo makin mengembang usai pertanyaan tolol itu terlontar dari mulutku.

“Bagaimana jika aku mengatakan jika kau yang sudah membuat hatiku seperti ini?” tanya Yeon Hyo membuatku menaikkan sebelah alisku heran. Apa dia sedang bercanda denganku?

“Tuan Kyu Hyun, jika kau bertanya tentang hatiku, maka pelajari hatimu terlebih dahulu. Kau tidak akan bisa menemukan sebuah jawabannya pada diriku jika sumbernya berasal dari dirimu sendiri.”

Yeon Hyo tiba-tiba saja memandangku lalu tertawa kecil.

Entah dari mana aku merasakan ada sebuah perasaan janggal yang menelusup ke dalam diriku. Ada rasa aneh, di mana banyak sekali partikel aneh yang menggelitik hatiku. Ada ruang yang mengalirkan jutaan perasaan hangat di mana saat gadis itu menyebut namaku dengan suaranya yang manis. Serta ada ledakan aneh yang memenuhi dadaku ketika gadis itu menampilkan tawanya yang khas. Dan aku tahu perasaan janggal ini… pertanda buruk.

Yeon Hyo tiba-tiba saja bangkit dari duduknya, seraya menepuk bagian belakang celananya yang kotor. Ia menundukkan kepalanya dan melihatku dengan pandangan riang gembira. Uh, wajah gadis itu berubah menjadi konyol sekali.

“Tuan Cho Kyu Hyun, waktu sehariku hampir habis dan aku masih ingin melewatkan hal lain lebih banyak lagi. Jadi, cepatlah bangun dan bergegas!” katanya ceria seraya mengibaskan tangannya di depan wajahku.

Keningku mengerut dan menatapnya aneh. “Gadis idiot sepertimu memang akan pergi ke mana lagi?”

Yeon Hyo setengah tersenyum kepadaku lalu memutar bola matanya sebentar. “Bagaimana jika aku bilang pergi ke nerakamu?”

 

*****

 

“Jadi… ini definisi neraka yang ada di pikiranmu?” Aku mengernyit heran lalu menatap gadis bodoh di depanku ini intens.

Aku dan Yeon Hyo sekarang berada di sebuah kafe klasik dengan interior yang sedikit banyak membuatku tertarik karena berhasil menggabungkan warna hitam, emas, dan merah secara bersamaan. Dan satu hal yang perlu digaris bawahi dari kafe ini adalah tempatnya sangat ramai dan dikerumuni oleh manusia-manusia yang tatapannya seakan-akan ingin menelanku habis-habisan. Oh Tuhan, ini pertanda buruk. Aku benci dengan manusia.

Yeon Hyo menoleh ke arahku lalu mengangkat alisnya aneh dan tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Mata besar coklat gelap itu menatapku dengan pandangan berbinar serta menganggukkan kepalanya semangat.

“Ya, kalau kau mau tahu, aku rasa ini termasuk neraka dalam kamusmu.” Yeon Hyo menjawab singkat lalu menatapku dengan cengiran konyol.

Skakmat! Seharusnya aku bisa saja menjawab perkataan Yeon Hyo dengan mudah mengingat aku adalah rajanya dalam mengasah lidah. Tapi… melihat cengiran konyol dan mata Yeon Hyo yang berbinar-binar saat melontarkan jawabannya barusan membuat sesuatu yang asing bergejolak di diriku. Seperti ada rasa senang membuncah mengetahui jika gadis itu bisa menampakkan matanya yang berbinar saat di depanku. Serta ada euforia yang tidak jelas meledak-ledak di otakku dan itu semuanya cenderung… manis.

“Jadi, Tuan Kyu Hyun bukankah ini termasuk nerakamu? Kau membenci keramaian, bukan?” suara Yeon Hyo lagi-lagi menyadarkanku dari lamunan sialan yang mulai merusak jalan pikiranku.

Aku berdeham sebentar, lalu mengedikkan bahu acuh sebelum menyadari ada hal aneh di sini. “Dari mana kau tahu aku tidak menyukai keramaian?”

“Uh… mata?” jawab Yeon Hyo polos, membulatkan matanya yang sekarang tampak seperti bola pingpong, “mata tidak pernah berbohong.”

Aku terdiam. Yeon Hyo benar-benar… bagaimana menjelaskannya? Gadis itu mulai membuat sesi mengarang bebas tentang apa yang bisa didapat dari tatapan mata. Bagaimana bisa kebohongan dapat terungkap dari tatapan mata jika sekarang aku bisa saja memanipulasi tatapanku?

“Apa mak–“

“Tahukah kau apa yang dimaksud dengan insting?” Yeon Hyo memotong perkataanku dengan cepat. Sepertinya dia tahu jika aku ingin mendebatnya.

Aku menganggukkan kepalaku malas.

“Kalau begitu percaya saja padaku bahwa instingku mengatakan jika sorot matamu tidak akan berbohong.”

“Omong kosong. Kalau begitu instingku mengatakan jika kau jatuh cinta padaku, mengingat matamu yang selalu mengambil tiap kesempatan yang ada untuk memandangku,” tandasku cepat.

Wajah Yeon Hyo tiba-tiba saja menjadi tegang dan kaku. Aku tahu jika sejak bertemu denganku, mata coklat gelap milik Yeon Hyo sering memperhatikanku dengan sendu. Mata itu menyorotku secara diam-diam dengan pandangan yang dalam, seakan-akan waktunya untuk memuaskan hasrat terpendamnya sudah tiba. Dan mata itu juga sedikit banyak membuatku merasa khawatir. Mata coklat gelap itu dengan lihainya membuatku merasakan sesuatu yang tidak wajar. Merasa jika ada ribuan benang kusut yang sudah lama disembunyikan dan kini mulai diurai perlahan-lahan.

“Memang aku boleh mencintaimu?”

Yeon Hyo terkekeh kaku lalu menatapku sendu. Aku mulai menjelajahi bola mata Yeon Hyo yang masih saja menatapku. Dan kala itu juga aku merasa terjatuh ke neraka paling dalam. Gadis itu… menginginkanku. Gadis bodoh penyuka warna merah muda ini menginginkan eksistensiku dalam hidupnya. Dan gadis itu membuatku seperti bipolar yang ingin meledak.

“Kau… jangan mencintaiku. Mencintaiku menyakitkan,” jawabku lirih lalu memajukan tubuhku sehingga tanganku kini bisa terulur dan membelai pipinya pelan. Kulit gadis ini benar-benar rapuh. Aku bisa merasakan jika suhu tubuh Yeon Hyo menghangat karena sentuhanku.

Yeon Hyo menatapku dengan pandangan setengah berharap. Sedetik kemudian, tangan mungilnya memegang erat tanganku yang sedang membelai pipinya. “Kyu… apa ketika aku mati nanti aku bisa membuat satu permintaan pada Tuhan?”

“Memang apa yang kau inginkan?” tanyaku kalem menetralkan rasa tidak wajar yang mulai menggerogoti pikiranku.

“Waktu. Aku ingin Tuhan memberikanku waktu sekali lagi untuk hidup bersamamu.”

Dan detik itu juga ada ratusan jarum yang menancap di jantungku. Gadis ini… mencintaiku hingga titik terdasar.

 

*****

 

“Waktu. Aku ingin Tuhan memberikanku waktu sekali lagi untuk hidup bersamamu.”

“Jangan…” Aku meneguk ludahku cepat saat bisa mengotrol rasa sesak di dadaku. “Jangan meminta untuk hidup bersamaku. Hidup adalah sebuah pilihan. Jangan sesekali membuat pilihan sendiri yang bisa membuatmu sakit.”

Yeon Hyo menatapku miris lalu tangan mungilnya mengendur, melepaskan genggamannya pada tanganku. “Kau… jelek sekali jika berekspresi seperti itu, Tuan Kyu Hyun.”

Mataku langsung saja membelalak ketika jawaban Yeon Hyo membuatku merasa seperti orang paling bodoh di dunia. “Hei! Kau sedang mengerjaiku?”

“Tidak,” Yeon Hyo tersenyum kalem, membuatku mati-matian menahan gejolak untuk merengkuhnya secepat mungkin, “kau bilang hidup adalah pilihan, jadi aku akan membuat plihanku sendiri. Sedih, senang, kecewa, putus asa, jatuh cinta… aku akan membuat mereka nyata dengan pilihanku sendiri. Jadi, kau tidak perlu khawatir jika aku meminta hidup denganmu. Karena Tuhan pasti tahu jika aku sedang berusaha membuat janji masa lalu seseorang padaku menjadi nyata.”

“Janji? Janjimu dengan siapa?” keningku membentuk sebuah kerutan saat gadis bodoh ini bicara panjang lebar.

“Janji mi–“

“Yeon Hyo…”

Aku dengan kecepatan di luar nalar segera mengalihkan pandanganku ke sumber suara yang telah memanggil Yeon Hyo. Dan detik itu juga, jika aku bukan seorang malaikat, mungkin aku akan mati di tempat karena aura hitam pekat itu membuatku sesak.

“Yeon Hyo… menikahlah denganku.”

Dillan. Berdiri di samping Yeon Hyo. Mengucap kata laknat kepada Yeon Hyo dengan senyum setan seraya memandangku remeh.

“Oh, dan satu lagi… senang bertemu dengamu, Tuan Kyu Hyun.”

 

*****

 

Seandainya aku bisa saja menembak kepala Dillan si mulut sialan itu, maka aku akan melakukannya dengan senang hati saat ini juga. Sekarang, aku, Dillan, dan Yeon Hyo sedang berdiri kaku di atap gedung tua yang berada di pojokan gang kumuh jauh dari keramaian. Aku tidak bisa menebak pasti, bagaimana malaikat keparat satu itu membuat suatu permainan yang melibatkanku dan Yeon Hyo.

“Yeon Hyo, ayo kita menikah.”

Dillan sekali lagi mengulangi perkataannya kepada Yeon Hyo, sehingga mata Yeon Hyo membulat sempurna. Oh, baiklah. Aku rasa Dillan memang cocok menjadi seorang badut bodoh. Dia mengajak Yeon Hyo menikah layaknya mengajak seseorang bermain petak umpet.

“Kau gila, Dil–“

“Kim Myung Soo. Kau bisa memanggilku seperti itu, Tuan Kyu Hyun.”

Aku bersumpah, jika aku bisa membuat malaikat ini remuk di tanganku maka aku akan melakukanya sekarang juga.

“Kim… kau bercanda denganku, bukan?”

Suara polos Yeon Hyo membuatku dan Dillan… bukan. Aku dan malaikat berwujud manusia bernama Myung Soo sialan ini, secara serempak menoleh menatap Yeon Hyo bingung.

“Yeon Hyo, kau mengenal mala… maksudku, manusia tengik ini?”

Aku menuntut penjelasan dari Yeon Hyo dengan pertanyaan yang dibumbui rasa khawatir dan… takut. Aku takut jika Yeon Hyo benar-benar terlibat dalam permainan si Myung Soo keparat itu.

“Ya. Myung Soo adalah sahabatku.”

Aku, Rhett, atau sekarang adalah Cho Kyu Hyun, bersumpah jika aku akan menghancurkan malaikat yang sekarang bernama Myung Soo di hadapanku ini, dengan kedua tanganku. Ini gila. Tidak waras. Tidak masuk akal dan… berengsek. Bagaimana mengungkapkannya? Dillan atau Myung Soo adalah malaikat. Dan aku tidak akan bisa mengerti bagaimana malaikat bisa berteman dengan manusia.

“Berengsek. Jelaskan padaku sekarang!”

Aku berteriak pada Myung Soo yang kini menatapku tenang sembari mengeluarkan seringaian. Tiba-tiba saja aku merasa marah dan terhina karena melihat seringaian Myung Soo. Keparat satu itu meremehkanku.

Tanpa pikir panjang, aku langsung saja menerjang Myung Soo, mencengkeram bagian lehernya, dan menyudutkan Myung Soo ke tepian pembatas atap gedung. Aku menatap Myung Soo dengan mataku yang berkilat-kilat. Malaikat ini benar-benar mencari masalah denganku.

Myung Soo sempat melihatku dengan raut wajah terkejut saat aku membuatnya terpojok di pembatas atap, tapi selang sedetik raut wajah Myung Soo kembali datar dan malah membuatku mendidih saat senyumannya mencuat kembali.

Deantt,” lirih Myung Soo yang langsung saja membuatku kaget.

Tak sampai sedetik, aku terjengkang ke belakang membuat tubuhku melayang tak terkontrol dan berakhir dengan punggungku yang sukses mendarat dan mencumbu lantai dengan kerasnya. Aku bisa melihat dari ekor mataku jika Yeon Hyo berteriak lalu dengan cepat menghampiriku.

Tangan Yeon Hyo yang mungil itu membantuku berdiri dengan lembut. Dan entah mengapa, rasanya tangan mungil itu menghantarkan listrik yang berhasil menyengat sarafku, sehingga tubuhku rasanya memanas, terbakar rasa hangat yang manis.

“Kau tidak apa-apa?”

Aku mengangguk pelan, membuat Yeon Hyo tersenyum kalem yang membuat jantungku berdetak tidak beraturan. Oh, jangan sekarang. Aku perlu menetralkan degupan jantungku.

“Menyingkir darinya.”

Suara dingin itu membuat kepalaku dan Yeon Hyo serentak menatap Myung Soo yang kini memandang kami berdua dengan tajam. Tangan Yeon Hyo bergetar ketakutan, membuatku mengusap lengannya sebentar dan menyunggingkan senyum kecil.

“Kim, apa yang kau lakukan? Kau seperti bukan Kim Myung Soo yang aku kenal,” tandas Yeon Hyo pelan, menampilkan tatapan sendunya.

Mataku menangkap reaksi tubuh Myung Soo yang kini samar-samar menegang. Mata itu… aku bisa melihat jika kedua mata Myung Soo memantulkan ketegangan dan ketakutan. Ada seberkas cahaya redup di sana, yang ditutupi sebisa mungkin dengan tingkah wajar Myung Soo. Malaikat itu… keparat. Bahkan, dalam situasi seperti ini dia masih menutupi apa yang sebenarnya terjadi.

“Justru karena aku temanmu, maka aku akan melindungimu dari Kyu Hyun si pengkhianat itu.”

Nada yang digunakan Myung Soo sangat tajam, menusuk, dan tanpa ada rasa gentar di dalamnya. Mata Myung Soo menatapku remeh lalu beralih menatap lembut ke arah Yeon Hyo yang kini mematung di sebelahku.

“Yeon Hyo, berdirilah di sebelahku. Jangan berdiri di samping seorang pengkhianat. Kemarilah, Sayang,” bujuk Myung Soo dengan senyuman kalem yang membuatku geram.

Aku melirik Yeon Hyo lalu mendapati gadis itu sedang menatap Myung Soo penuh arti. Tiba-tiba saja aku disergap rasa takut. Mata itu… apa Yeon Hyo akan menuruti Myung Soo? Tidak. Itu tidak boleh terjadi. Egois. Gadis dengan mata coklat gelap itu hanya boleh berdiri di sampingku.

“KEPARAT! SIAPA YANG KAU SEBUT PENGKHIANAT, HAH?!”

Tiba-tiba saja mulutku dengan lancarnya melontarkan makian pada Myung Soo. Aku sudah tidak peduli, jika hasratku untuk meremukkan malaikat sialan itu semakin membuncah. Lihat saja nanti. Kupastikan jika malaikat itu akan berkahir di tanganku.

Myung Soo mengangkat sebelah alisnya lalu tertawa dengan keras. Tawanya bahkan membuatku merasakan jika sesuatu yang tidak beres akan terjadi di sini. Dan sesuatu yang tidak beres itu benar-benar terjadi….

Dengan kecepatan di luar nalar, Myung Soo berlari ke arahku lalu menerjangku dengan keras. Dan tanpa sengaja, tubuh Myung Soo juga membuat tubuh Yeon Hyo terpental, membuatnya terjengkang beberapa meter.

Jantungku rasanya tertusuk melihat gadis itu. Melihat Yeon Hyo yang kini meringis kesakitan dan wajah yang berlinang air mata membuatku kalap. Gadis itu tidak boleh menangis. Gadisku… tidak boleh menangis.

“Pengkhianat itu kau. Seharusnya Gabriel tidak perlu melimpahkan gadis itu padamu.”

“Menyingkir dari tubuhku, keparat!”

“DIAM!”

Deru napas Myung Soo kini terasa di wajahku. Wajah itu kini berada dekat denganku. Tangan Myung Soo berhasil menjerat leherku sehingga aku terpojok. Tatapan matanya yang tajam itu mengulitiku.

“Kau harus mengambil jiwanya. Jiwa gadis itu.” Myung Soo mendesis, membuatku terdiam lalu memandangnya dengan tatapan menantang.

“Jika aku tidak mau?”

Myung Soo menarik ujung bibirnya sinis lalu menjauhkan tubuhnya dariku. Untuk sepersekian detik, tubuh Myung Soo sudah meluncur mendekati Yeon Hyo dan membuat gadis itu terpojok.

“Menyingkir darinya!” Sebelum aku sempat berlari, Myung Soo dengan gesitnya membuatku terdiam di tempat.

Luccio.”

Sial. Aku disegel oleh Myung Soo. Rasanya kakiku sudah menjadi batu.

Myung Soo tersenyum sinis, seperti menertawakan kebodohanku. Selang sedetik, tangan Myung Soo meraih lengan Yeon Hyo kasar, membuat gadis itu menangis tertahan.

Aku mencoba memberontak. Gadisku dibuat merintih kesakitan karena Myung Soo. Dia harus membayar mahal untuk ini.

“Aku sudah tahu jika akan seperti ini,” Myung Soo mengawali pembicaraan setelah jeda panjang, “kau tidak akan bisa menepati tugasmu untuk mengambil jiwa gadis ini, bukan? Apa yang membuatmu begitu kuat mempertahankannya, hmm? Cinta?”

Aku terdiam, menikmati detik-detik menyakitkan karena melihat Yeon Hyo yang kini sedang menangis kesakitan.

“Tuan Kyu Hyun, tidakkah kau ingat makhluk apakah kau itu? Makhluk apakah kita?” Aku masih membisu, membuat Myung Soo menatapku penuh amarah. “JAWAB AKU! MAKHLUK APAKAH KITA?”

Aku melengos, memilih tidak mendengarkan Myung Soo dan melihat pemandangan menyakitkan ketika Yeon Hyo menangis.

“Kim, apa aku memiliki kesalahan padamu?”

Aku langsung saja menolehkan kepalaku kembali, ketika suara parau itu terdengar. Yeon Hyo dengan beraninya menatap Myung Soo. Aku bisa melihat ada guratan kesedihan di wajah Yeon Hyo.

“Tidak, Sayang… kecuali jika kau adalah gadis yang dilimpahkan Gabriel kepada si busuk Kyu Hyun itu. Oh, satu lagi. Kim Myung Soo yang selama ini kau kenal itu tidak ada. Cuma ilusi. Yang ada hanya aku. Dan kalau boleh aku memperkenalkan diri, namaku Dillan, Nona.”

Myung Soo menyeringai, membuat Yeon Hyo bergetar ketakutan. Aku bisa melihat jika Yeon Hyo kini mencuri pandang ke arahku, membuat kode jika dirinya sedang ketakutan. Aku menggeleng pelan, tidak tahu bagaimana caranya menolong Yeon Hyo.

“Kyu…”

Yeon Hyo berkata dengan parau membuat jantungku serasa terkoyak. Gadisku kesakitan. Dia ketakutan. Dan dia menghadapai Myung Soo sialan itu sendirian.

“Bagaimana ini? Aku seperti sedang menonton drama. Dasar opera sabun,” sahut Myung Soo cepat, menyindirku dan Yeon Hyo. “Cho Kyu Hyun, aku bisa memberimu penawaran menarik tentang Yeon Hyo. Jika kau tidak bisa mengambil jiwa gadis ini, maka aku saja yang mengambilnya.”

Tepat setelah Myung Soo berbicara seperti itu, Yeon Hyo berteriak kesetanan, sarat dengan rasa sakit yang membuncah. Tubuh Yeon Hyo menggeliat tak beraturan, berusaha menahan sakit yang menjalarinya.

Aku melotot tak percaya. Dari jarak ini, aku bisa melihat jika Myung Soo mengukir huruf yunani kuno di pergelangan tangan kanan Yeon Hyo, sehingga tak sedikit darah Yeon Hyo yang keluar. Aku memekik tertahan saat mengenali ukiran apa yang dibuat Myung Soo itu. Ukiran kuno dengan mantra kuat yang membuat siapa saja yang terkena mantra itu akan mati dengan rasa sakit yang luar biasa.

“KYU! SAKIT! TOLONG AKU!” Yeon Hyo berteriak dengan kalap. Sedangkan Myung Soo memandangi Yeon Hyo dengan datar.

Sial. Dadaku sesak. Gadis itu merintih kesakitan. Aku harus menolongnya. Aku tidak boleh membiarkannya seperti itu. “BAIK! Aku yang akan mengambil jiwanya. Sekarang hilangkan mantramu pada Yeon Hyo, dan buka segelku!”

Aku menangis lirih. Aku akan mengambil jiwa gadis itu. Aku akan mengambil jiwa Yeon Hyo. Aku kira tugas ini akan berjalan baik dan mudah. Aku kira…

Braak!

Tiba-tiba saja aku terjatuh, ketika tanpa pemberitahuan, Myung Soo membuka segelku. Mata elang Myung Soo menatapku sinis lalu bibirnya dengan penuh keangkuhan berkata, “Baiklah, Rhett. Sekarang giliranmu.”

Aku dengan lemas mencoba berdiri dan menghampiri Yeon Hyo yang entah sejak kapan sudah tergeletak tak berdaya. Tangan gadis itu masih bercucuran darah. Bedanya, ukiran yunani kuno tadi sudah hilang, namun masih meninggalkan beberapa bekas.

“Yeon Hyo…” Aku mendekap tubuhnya, memosisikan tubuh lemahnya di atas pahaku. Aku menatap wajahnya dengan nanar. Gadisku benar-benar menyedihkan. Wajahnya penuh dengan peluh, sebagai pertanda jika dirinya sudah kelelahan menahan rasa sakit yang tadi menyerangnya. Belum lagi bibir gadis itu kini sudah pucat dan sedikit membiru.

“Kyu… kau akan mencabut nyawaku?” lirih Yeon Hyo yang membuat tubuhku bergetar. Mata Yeon Hyo memandangku lama, hingga kusadari kini matanya sudah berkaca-kaca.

“Maafkan aku. Ini lebih baik daripada kau kesakitan. Sekali lagi aku minta maaf. Maafkan aku… maaf… maaf….”

Yeon Hyo menggeleng pelan yang langsung saja menimbulkan rasa sakit di dadaku. Gadis ini… tidak akan memaafkanku.

“Tidak perlu minta maaf. Kau juga tidak bersalah di sini. Kita berdua punya serentetan masalah yang harus dihadapi, kan? Dan aku rasa penyelesaiannya sudah di depan mata. Cho Kyu Hyun aku mencintaimu.”

Rasa sesak di dadaku malah semakin menjadi-jadi. Gadis ini dengan hati besarnya merelakan dirinya sebagai tameng hidupku. Aku sekarang jijik dengan diriku sendiri. Bagaimana bisa hati dan nyaliku kalah dengan seseorang sepertinya?

Tanpa bisa ditahan lagi aku mencium kening Yeon Hyo lama lalu menitikkan air mataku. Aku… akan kehilangan gadis ini. Aku akan kehilangan eksistensinya dalam hidupku. Aku tidak dapat lagi melihat tawanya yang khas. Tidak dapat lagi melihat benda-benda dengan warna merah muda menggelikan di dirinya. Tidak dapat lagi melihat pesona yang berpendar darinya. Dan segala kenyataan itu membuatku sakit.

“Yeon Hyo….”

“Kyu… kau ingat perkataanku tadi tentang keinginanku saat mati?” Aku mengerutkan keningku dan menatapnya dalam, sedetik kemudian aku menggeleng pelan. “Aku ingin Tuhan memberikanku kesempatan kedua untuk hidup bersamamu.”

Mataku terbelalak lebar lalu menatap Yeon Hyo miris. Aku lalu menggelengkan kepalaku frustrasi. “Kau tahu itu tidak mungkin, Yeon Hyo.”

“Kau tidak akan tahu apa yang terjadi di masa depan, Kyu.”

“Yeon Hyo, aku ti–“

“Waktu terus berjalan, Cho.” Suara dingin Myung Soo membuatku menarik napas panjang lalu menatap Yeon Hyo menyesal. Gadis itu hanya membalas tatapanku dengan biasa lalu tersenyum tulus. Gadis ini….

“Lakukan, Kyu….”

Aku mengangguk pelan lalu meremas ujung kemejaku. Mulutku dengan pelannya mulai merapal mantra untuk mengambil jiwa Yeon Hyo. Yeon Hyo… selamat tinggal.

Accurzio.”

Dan sedetik kemudian, mata Yeon Hyo menutup dan gadis itu menghembuskan napas terakhir. Aku menahan napasku lalu mulai terisak pelan. Yeon Hyo sudah pergi…

Gadisku sudah tidak ada lagi.

Dengan sendirinya, Myung Soo menghampiriku lalu menjentikkan jarinya di depan tubuh Yeon Hyo. Seketika itu juga, tubuh Yeon Hyo memudar, dan perlahan menghilang. Semuanya sudah berakhir…

“Rhett, kita harus pergi.”

Myung Soo memandangku lama lalu menepuk bahuku perlahan. Mataku lalu menatapnya tajam, mencari kesalahan yang sudah diperbuatnya di dalam bola matanya yang gelap itu.

“Omong kosong. Kau berengsek, Dillan!”

“Kau tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, Rhett. Kuharap, kau bisa bersabar dan menemukan keajaibanmu sendiri. Takdir gadis itu memang seperti ini. Suatu saat nanti kau akan berterima kasih padaku. Dan asal kau tahu, di dunia ini tak ada yang mustahil, Rhett.”

Dillan mengakhiri perkataannya lalu tanpa aba-aba sayap hitamnya muncul dan dia sudah pergi. Aku memejamkan mataku lalu merasakan belaian lembut angin yang kini dengan santainya mengacak-acak rambutku. Pikiranku kembali melayang pada Yeon Hyo. Gadis itu… aku menginginkannya. Dan sedetik kemudian ada yang meremas jantungku.

Di dunia ini tak ada yang mustahil, Rhett.

Perkataan Dillan benar. Di dunia ini tak ada yang mustahil. Yang perlu kulakukan sekarang hanyalah mencari cara untuk membuat keinginanku menjadi nyata.

Dengan cekatan, aku merubah posisi dudukku menjadi tegak dan mengatupkan kedua telapak tanganku di depan dada, menyerupai orang yang sedang berdoa. Kini aku tahu apa yang bisa membuatku kembali bersama gadisku.

Membuatku kembali bersama Yeon Hyo.

Tuhan… bolehkah aku yang kotor ini meminta belas kasihan? Berikan aku kesempatan kedua untuk hidup bersama Yeon Hyo. Dan aku yakin… Kau tahu jika aku satu-satunya orang yang bisa membuatnya bahagia…

Aku tersenyum kecil lalu membuka mataku perlahan dan menengadahkan kepalaku ke langit. Detik itu juga aku tahu akan ada rahasia Tuhan yang terungkap suatu saat nanti. “Aku menunggumu, Yeon Hyo….”

 

 

FIN

 

 

*****

 

7 thoughts on “PEMENANG Fanfiction Writing Contest (FWC)

  1. Yeaay, akhirnya HKS dibuka lagi..😀 Chukae buat pemenang2 beruntung diatas.. Aku bahkan baru tau sekarang HKS ngadain GA.. *kudet* haha.. dan Congrats juga buat Yarica Unnie buat novel2 barunya.. CONGRATS UNNIE!! semoga novel2nya laris manis..😀

  2. wah eon, gak bilang2 ngadain GA kan aq bisa ikut !😦
    tp gak apa deh…
    aq ngucapin comebacknya HKS …
    Fighting utk Eon agar bisa lancar dan berjaya dalam nulis FF & Novelnya …😀

  3. Kyaaa, unnie aku bete… Padahal aku pengen banget ikut, tpi sayangnya laptop ku rusak, dan sekalinya buka blog unnie malah udh ada pengumuman pemenang lombanya T.T
    but no problem, dan selamat yah buat yg udh menang, tetep berkarya siapa tau bisa jdi penulis beneran kya icha unnie kkkk~
    buat icha unnie, selamat atas penerbitan novelnya, smoga laris manis ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s