HKS 05 – FF Lomba “Goodbye, My Angel” [OneShoot]

fdk2

Title: Goodbye, My Angel. 
Author: Susan Octavianna. K. W a.k.a CJH – Harucana
Facebook: Susan Octavianna. K.W
Twitter: @OCTSSN
Main casts: Yoon Yeon Hyo, Cho Kyuhyun
Other Cast: Kim Hwaran (OCs)
Length: Oneshoot (5996 words)
Genre: Romance, Angst.
Rating: PG 15+
Disclaimmer: Fanfiction ini asli dari seluruh rongga didalam kepala saya yang berisi sebuah organ penting. Cerita ini milik saya, dan dilarang mengcopas alur ataupun ide. Karena saya mikir keras untuk mengerjakan ini. Selamat membaca, saya tunggu komentarnya. Saya harap readers bisa merasakan feel yang ada didalam cerita ini. Terimakasih. Selamat membaca. Salam, CJH. 
“Goodbye, My Angel”

Seoul, Juni 2006

“Semuanya baris dilapangan, cepat!”

Seorang senior berbaju kemeja putih dan celana panjang hitam berteriak lewat pengeras suara yang dipegangnya. Ia berdiri disebuah balok yang lebih tinggi dari permukaan tanah. Senior itu berkacamata dan mukanya sedikit sangar. Ya, ketua OSIS.

Junior-junior yang sedang berada dikelas langsung berhamburan keluar menuju lapangan. Masih memakai baju seragam sekolah menengah pertamanya masing-masing. Dandanan mereka macam-macam. Disesuaikan dengan ketentuan grupnya masing-masing. Ada yang bergaya ala suku Roma, suku India, dan masih banyak lagi. Cuaca sedang panas hari ini. Matahari bersinar terik. Sinarnya terang benderang membakar kulit. Semua junior langsung berbaris menurut grupnya masing-masing. Mereka berkasak-kusuk satu sama lain. Ada yang mengeluh karena panas yang membakar kulit mereka. Ada yang mengeluh karena mereka lelah dan sebagainya. Ada juga yang hanya diam. Menurut pada apa saja yang dikatakan oleh seniornya.

“Baris sesuai dengan grupnya dan tertib! Jangan ribut! Ingat kalian ini calon anak kelas satu SMA! Jangan berkelakuan seperti anak kelas satu SD!” Ujar senior itu lagi masih berteriak lewat pengeras suara.

Setelah beberapa saat, para junior sudah berbaris dengan rapi dan tertib. Mereka semua memandang kedepan. Kearah senior-senior yang sekarang sudah berbaris dihadapan mereka.

“Dikelas tadi sudah dilakukan inspeksi tentang kelengkapan kalian hari ini. Dan di tangan saya, sudah ada beberapa nama yang hari ini melanggar peraturan. Kalian semua tahu, peraturan bukan untuk dilanggar. Dan barang siapa yang melanggar peraturan, maka dia harus menerima hukuman. Dan yang saya panggil harap maju kedepan, sekarang!” Kata Senior yang sama pada junior-juniornya.

Senior itu membacakan satu persatu nama siswa yang melanggar aturan hari ini. Seorang siswi celingak-celinguk memperhatikan sekitarnya. Ia melihat teman-temannya yang belum ia kenal. Ada yang tenang-tenang saja, ada yang terlihat gelisah. Mungkin ia gelisah karena merasa melanggar peraturan hari ini. Gadis yang dikuncir tiga itu kemudian menunduk. Melihat dirinya dari bawah sampai ke tangannya. Memastikan semuanya lengkap. Setelah yakin semuanya lengkap, ia kembali memandang kedepan sambil menghela napas lega.

Satu per satu murid yang namanya di panggil maju kedepan. Ada yang dengan percaya dirinya maju kedepan, ada yang sambil menunduk karena takut, ada yang berjalan dengan malas-malasan. Rata-rata siswa laki-laki. Semuanya mendapatkan interogasi dari senior-senior itu. Terdengar suara senior yang membentak-bentak juniornya. Dan sesaat kemudian, hukuman pun dimulai.

Bending kemudian setengah jongkok dibawah terik sinar matahari. Hukuman yang tidak seberapa berat tapi akan terasa berat dilakukan kalau dalam keadaan yang seperti ini. Sebenarnya semua orang yang berada disitu ada didalam posisi yang cukup adil. Murid-murid yang tidak dihukum berdiri mematung, berbaris tanpa boleh mengobrol satu sama lain ditengah terik matahari. Mata mereka semua menyipit karena pupil mata yang tidak terbiasa dengan sinar matahari yang seterang itu.

“Siapa namamu?” Tanya seorang senior setelah hukuman selesai dilaksanan namun murid-murid yang dihukum belum diperbolehkan masuk kedalam barisan.

“Cho Kyuhyun.” Jawab anak laki-laki itu singkat. Tanpa senyum. Tanpa ekspresi.

Tsk! Kenapa kau selalu melanggar peraturan? Kau tidak kapok dengan hukuman-hukuman yang kemarin? Kau ini dungu atau apa?!” Bentak senior itu.

Anak laki-laki yang bernama Kyuhyun itu hanya menarik napas panjang. Kemudian memandang senior itu masih dengan wajah yang tanpa ekspresi. “Maafkan saya, Senior.” Katanya sambil membungkuk sopan.

“Maaf?! Sudah berapa banyak kata maaf yang kau ucapkan karena kesalahanmu?”

“Maafkan saya, Senior. Sebuah ketidaksengajaan. Saya akan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi.” Kata Kyuhyun.

Senior yang nametag nya bertuliskan ‘Han Jae Hyo’ itu memutar bola matanya pertanda kalau ia kesal atas kelakuan murid yang satu itu. Ia memandang Kyuhyun dengan tatapan kau-tampan-tapi-kau-sedikit-dungu. Senior Jaehyo menghela napas panjang.

“Aku tidak tahu hasil ujian nasionalmu berapa, tapi yang pasti kau tidak dungu akan perintah ‘kan? Kau disini, mengikuti orientasi untuk dididik agar tidak menjadi anak yang dungu. Patuhi peraturan yang telah kami buat, mengerti?” Kata Senior Jaehyo sambil bercacak pinggang. Senior yang tidak kalah tampan dengan Kyuhyun itu menepuk bahu Kyuhyun pelan kemudian menyuruhnya untuk kembali ke barisan.

Setelah membungkuk hormat, Kyuhyun kembali kedalam barisan dan tersenyum sekilas pada teman-teman satu grupnya. Tanpa disadari Kyuhyun, ada sepasang mata yang terus mengawasinya sejak tadi. Sepasang mata indah yang terus mengikuti kemana sosok Kyuhyun bergerak. Sepasang mata yang menyimpan pandangan penuh keingintahuan. Sepasang mata milik gadis pintar yang berasal dari desa yang berhasil masuk ke SMA favorit di kota karena beasiswa.

*****

           “Dikelas ini ada seseorang yang jenius!” Kata senior wanita yang bernama Kang Seulmi. Tubuhnya ramping, berkacamata, dan rambutnya tergerai sampai bahu. Ekspresinya seolah seperti orang yang sombong sekarang. Dagunya terangkat memandang ke arah siswa-siswi orientasi.

Mendengar itu anak-anak dikelas lantas berkasak-kusuk. Suasana kelas menjadi riuh seketika. Persis anak kelas satu SD yang baru saja mendapatkan istilah baru dari gurunya. Menggelikkan.

“Gadis itu…manis. Bisa kubilang cukup manis. Tidak banyak bertingkah tapi kelakuannya membuat semua orang penasaran.” Ujar Senior Seulmi lagi. “Gadis itu bernama..Yoon YeonHyo.”

Semua anak langsung mengarahkan pandangannya pada gadis yang mempunyai nama itu. Yang disebutkan namanya langsung mendongkak dan memandang kearah Senior Seulmi dengan pandangan apa-yang-baru-saja-kau-katakan?

Matanya sedikit melebar dan jantungnya langsung dagdigdug tidak karuan. Takut akan segala kemungkinan yang dilakukan Senior Seulmi padanya. YeonHyo kemudian menunjuk hidungnya sendiri. “Saya?”

Senior Seulmi langsung berjalan mendekati YeonHyo dengan sedikit angkuh. “Kau..murid penerima beasiswa itu, bukan? Aku ingin tahu seberapa pintar dirimu.”

YeonHyo terdiam terpaku ditempat duduknya. Memandang kearah Senior Seulmi dengan sedikit takut-takut. “Aku..murid biasa saja. Tidak seperti apa yang dikatakan orang-orang.”

Senior Seulmi tertawa mengejek. “Memangnya orang-orang berkata apa tentang dirimu?”

YeonHyo menggeleng pelan. YeonHyo hendak menjawab pertanyaan Seniornya namun tidak jadi Senior Seulmi menatap YeonHyo lekat. Memperhatikan setiap inchi wajah YeonHyo yang mulus. “Kau tahu, arloji ku tertinggal dikamar mandi. Bisa kuminta tolong kau untuk mengambilkannya?”

YeonHyo menelan ludah dengan susah payah kemudian mengangguk pelan. “Baiklah.”

Senior Seulmi berjalan meninggalkan bangku YeonHyo dan duduk di bangku guru bersama Senior laki-laki yang sedari tadi hanya duduk dan mengecek absen. YeonHyo bangkit dari tempat duduknya kemudian membungkuk hormat pada senior sebelum meninggalkan kelas.

Ketika sudah diluar kelas, YeonHyo bernapas lega karena seakan bisa lepas dari tali yang sejak tadi mengikatnya. YeonHyo berjalan di koridor sekolah menuju ke toilet wanita. Mendengar perkataan Senior Seulmi tadi, YeonHyo merasakan ada sesuatu yang ganjil. YeonHyo mengerutkan keningnya. Berusaha menganalisis apa sebenarnya yang diinginkan senior itu.

“Kenapa Senior Seulmi berkata seperti itu padaku?” Gumam YeonHyo pada dirinya sendiri.

Ada banyak pertanyaan berseliweran dalam otaknya yang encer. Tapi cepat-cepat YeonHyo mengenyahkan pertanyaan itu dan berusaha berpikir positif. Toilet sudah semakin dekat. Sebaiknya YeonHyo mempercepat langkahnya agar ia bisa mengambil arloji itu dan kembali kekelas.

*****

            Kyuhyun baru saja keluar dari toilet pria. Ketika ia melintas melewati toilet wanita, ia mendengar suara kasak-kusuk yang heboh dari dalam toilet. Karena penasaran, Kyuhyun pun akhirnya nekat untuk mengintip lewat celah pintu yang terbuka sedikit. Suara itu terdengar seperti suara dua orang yang sedang berdiskusi. Kyuhyun heran, sebenarnya apa topik yang cocok untuk di diskusikan didalam toilet?

Kyuhyun menajamkan pendengarannya. Dan kini terdengarlah suara dua orang wanita yang sedang menyusun sebuah strategi penjebakan. Tunggu, jebakan? Jebakan untuk apa? Siapa yang akan mereka jebak? Jahat sekali! Kata Kyuhyun dalam hati.

“Tidak, Seulmi menyuruh kita meletakkan baskom berisi tepung dan telur ini di atas pintu masuk. Jadi ketika gadis itu masuk, ia akan langsung terkena tepung dan telur.” Kata senior yang satu.

“Tapi arlojinya ada didalam toilet sini. Lebih baik kita menaruhnya disini saja.” Kata yang satunya lagi.

“Tidak! Jangan. Kita bisa ketahuan kalau menaruhnya disini. Sudahlah ikuti saja aku. Aku yakin ini akan berhasil. Percayalah.”

Terdengar helaan napas pasrah dari salah satu dari mereka. Kyuhyun langsung melarikan diri begitu mendengar suara langkah kaki menuju pintu toilet. Ada seseorang yang akan jadi korban tepung toilet –begitu Kyuhyun menyebutnya –rupanya. Kyuhyun bergegas melangkah keluar toilet untuk melihat siapa yang akan menjadi korban.

Ada seorang gadis yang berjalan kearah toilet sendirian. Kyuhyun bisa menebak, gadis inilah yang akan menjadi korbannya. Kyuhyun tidak bisa diam saja. Masa orientasi peserta didik bertujuan untuk mendidik, bukan ajang balas dendam untuk senior. Kyuhyun harus menyelamatkan gadis ini.

Ketika hendak berpapasan dengan gadis itu, Kyuhyun sontak menarik tangannya ke bawah tangga untuk bersembunyi. Ditarik begitu, YeonHyo –nama gadis itu –sedikit terkejut. Matanya membelalak melihat Kyuhyun dan napasnya tersenggal-senggal. YeonHyo baru hendak bertanya, ketika Kyuhyun langsung menatapnya dan berdesis pelan.

YeonHyo akhirnya diam. YeonHyo memperhatikan Kyuhyun yang sedang celingukan ke arah koridor. YeonHyo ikut melongokkan kepalanya namun sebelum ia berhasil, Kyuhyun sudah mendesaknya untuk kembali pada posisi semula. YeonHyo terdesak menempel ke tembok sedangkan Kyuhyun berdiri didepannya. Menjulang tinggi bak tiang listrik dengan jarak yang begitu dekat. YeonHyo bisa mencium wangi parfum Kyuhyun. YeonHyo hanya berbeda tinggi beberapa senti saja dari Kyuhyun. Sehingga wajah Kyuhyun lebih tinggi sedikit dari wajahnya. YeonHyo merasakan jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Entah karena ia terlalu terkejut atau apa, namun sedari tadi YeonHyo berusaha mengatur detak jantungnya namun ternyata tidak berhasil.

Kyuhyun kemudian menoleh kearah YeonHyo dengan cepat. “Akan ada sebuah pertunjukan besar.” Bisiknya pada YeonHyo. Jarak wajah mereka hanya beberapa senti saja. Sekali sentakan Kyuhyun maju, akibatnya wajah mereka akan bersentuhan. YeonHyo menelan ludah kemudian mengangguk. Kyuhyun kembali melongok ke arah koridor dan satu detik kemudian Senior Seulmi melintas dengan langkah cepat di koridor itu. Mukanya merah padam menahan marah. Tidak terdengar apa-apa selama beberapa detik, tapi detik berikutnya terdengar suara jeritan dari dalam kamar mandi.

“Aaaaaaaaaaaa!!!” Pekikan itu melengking tinggi sekali. Bak suara penyanyi soprhan yang sedang memamerkan vokal oktafnya. Terdengar suara grasak-grusuk yang heboh. Kyuhyun tersenyum geli membayangkan apa yang akan melintas sebentar lagi. Sedangkan YeonHyo masih penasaran apa yang terjadi. Ia berusaha melongokkan kepalanya, namun tiba-tiba Kyuhyun membalikkan badannya dan YeonHyo kembali menempel ke tembok. Kyuhyun sedikit memajukan tubuhnya sehingga kini jarak mereka amat dekat. YeonHyo bisa merasakan desahan napas Kyuhyun yang teratur. Kyuhyun sedikit memiringkan kepalanya sehingga YeonHyo tidak terlihat. Ruang dibalik tangga itu tidak cukup luas untuk bersembunyi, namun dengan posisi yang seperti ini mereka tidak akan terlihat sama sekali. YeonHyo memejamkan matanya. Tidak berani melihat Kyuhyun dalam jarak sedekat ini. Jantungnya kembali naik tempo. Antara terkejut dan gugup. Kalau mereka terlihat, orang-orang akan mengira mereka sedang berciuman.

Suara senior perempuan mengumpat kepada kedua temannya yang tadi berdiam diri merencanakan sesuatu di toilet terdengar nyaring. Derap langkah mereka terdengar keluar dari toilet. Kyuhyun tersenyum dalam posisi itu. Ia melirik gadis yang ada dihadapannya sekarang. Gadis itu memejamkan matanya dengan kerutan. Kyuhyun memandang wajah gadis itu lekat. Manis. Ujarnya dalam hati. Tapi detik berikutnya ia tersadar. Sebuah sentakan halus datang pada logikanya untuk segera mengakhiri semua persembunyian ini sebelum seseorang melihat mereka.

“Semuanya sudah selesai. Ayo.” Kata Kyuhyun lembut kemudian menarik lengan YeonHyo berjalan menuju koridor. Mereka mengintip dari balik tembok koridor.

“Lihat.” Kyuhyun kemudian menunjuk kearah Senior Seulmi yang berjalan menjauh sambil sesekali menoleh ke belakang memarahi kedua temannya yang bodoh. “Kalau kau tadi masuk ke toilet, maka kau akan kembali ke kelas dengan tepung dan telur.” Kata Kyuhyun kemudian tertawa geli.

YeonHyo melihat Senior Seulmi sambil tersenyum geli. Sesekali ia terkekeh. Setelah punggung Senior Seulmi beserta kedua temannya menghilang di belokan koridor, Kyuhyun dan YeonHyo keluar dari persembunyiannya. Kyuhyun langsung tertawa terbahak-bahak mengingat wajah Seniornya sudah terlihat seperti hantu sadako disiang hari.

YeonHyo ikut tertawa kecil ketika mengingatnya. “Terimakasih.” Kata YeonHyo disela-sela tawanya. “Kalau tidak ada dirimu, aku tidak tahu rasa malu yang harus kutanggung sebesar apa nanti.”

“Itu namanya senjata makan tuan!” Ujar Kyuhyun. Ia megusap air mata di ujung matanya kemudian berhenti tertawa. Kyuhyun menarik napas panjang kemudian menjawab. “Sama-sama. Kau dari grup apa?”

“Aku dari grup Roma.”

Kyuhyun menganggukkan kepalanya. “Aku Cho Kyuhyun. Mungkin kau sudah tahu aku. Murid yang sering dihukum.” Kata Kyuhyun sambil mengulurkan tangannya.

YeonHyo menyambut uluran tangan itu hangat. “Yoo YeonHyo. Senang bertemu denganmu.” Jawab YeonHyo sambil tersenyum manis. “Sering dihukum? Tidak apa-apa.”

Kyuhyun mengangkat kedua bahunya kemudian terkekeh. “Begitulah.” Ia melepas jabat tangannya. Kemudian suasana menjadi canggung seketika. Keduanya kini sibuk dengan pikiran dan debaran jantung masing-masing yang mendadak naik tempo.

YeonHyo akhirnya berdeham untuk memecah keheningan. “Okay, Kyuhyun I think I should go now. Terimakasih atas persembunyiannya, aku berhutang padamu.” Kata YeonHyo.

Kyuhyun menatap YeonHyo sambil tersenyum. “Sama-sama, YeonHyo. Kau bisa membayar hutangmu lain kali. Kalau aku meminta, berarti kau harus bersedia memenuhinya.” Kata Kyuhyun.

YeonHyo mengangguk mantap. “Baiklah. Beritahu aku kalau kau meminta balasan itu.”

“Dengan senang hati.” Kata Kyuhyun.

“Baiklah, aku duluan. Bye.” YeonHyo mengangkat tangannya pada Kyuhyun kemudian berbalik dan berlalu pergi menuju ke kelasnya.

Kyuhyun masih terdiam ditempatnya sekarang. Memandangi punggung YeonHyo yang berjalan menjauh kemudian hilang dibelokan koridor. Kyuhyun kemudian teringat akan wajah YeonHyo yang ia pandangi dengan jarak yang begitu dekat tadi. Dan mendadak ada kepakan sayap kupu-kupu didalam perutnya. Menggelitik pelan namun mengasyikkan. Teringat akan tatapan YeonHyo barusan. Mata YeonHyo cantik. Sama seperti pemiliknya. Tangan YeonHyo lembut dan hangat. Membuat jantungnya terasa terkena sengatan listrik. Ketika mereka berdua bersentuhan, ada sebuah sengatan magis. Seakan sentuhan itu memang harus terjadi. Dan Kyuhyun menginginkannya lagi sekarang. Kyuhyun ingin bertemu dengan YeonHyo lagi. Menjabat tangannya. Melihat senyumnya dan menatap mata indahnya.

Kyuhyun tidak yakin atas kesimpulan logikanya yang sedikit melenceng sekarang ini. Karena mendadak logikanya tidak bisa berpikir jernih. Tatapan gadis manis itu mengkontaminasi pikirannya. Kini hatinya mengambil alih dirinya. Memaksa dirinya mengenyampingkan logika dan menerima keputusan yang telah dibuat hatinya. Dan hati Kyuhyun memutuskan, inilah yang disebut cinta pada pandangan pertama.

*****

            Seoul, Januari 2009

“Yoehyo!!”

Gadis berambut sebahu itu menoleh ketika namanya dipanggil dari kejauhan. Senyumnya langsung mengembang ketika mendapati sahabatnya berlari kearahnya dengan senyum lebar. YeonHyo mengangkat tangannya untuk melambai pada sahabatnya itu.

“Hai! Selamat pagi!” Sapa sahabatnya itu seraya merangkulnya lembut dan mengusap kepalanya pelan.

“Selamat pagi, Kyuhyun! Hari ini kau ceria sekali, let me guess. Something good happen?” Tebak YeonHyo sambil terus berjalan dalam rangkulan Kyuhyun.

Kyuhyun melirik YeonHyo. Senyum lebarnya masih tersungging dibibir Kyuhyun. Kyuhyun mengangkat tangannya dan mengacak rambut YeonHyo pelan. “Tidak apa-apa. Aku selalu seperti ini setiap hari, bukan? Aku selalu ceria setiap hari.”

YeonHyo tertawa kecil. Ada-ada saja kelakuan pria ini. Tidak berubah sejak kelas satu. Ujar YeonHyo dalam hati. Pertemuan YeonHyo dengan Kyuhyun saat insiden Toilet Seulmi –yang biasa mereka sebut –itu berlangsung sampai sekarang. YeonHyo dan Kyuhyun sering bertemu dan menjadi sahabat baik. Walaupun mereka berbeda kelas, namun YeonHyo dan Kyuhyun selalu berhubungan. Setiap istirahat, Kyuhyun selalu datang ke kelas YeonHyo untuk mengajaknya makan dikantin. Mereka sering menghabiskan waktu bersama-sama. Akibat kedekatan mereka itu, orang-orang mengira kalau mereka adalah sebuah pasangan kekasih.

Kyuhyun hanya tersenyum ketika orang-orang mebicarakan tentang kedekatan mereka. Dan diam-diam Kyuhyun mengaminkan didalam hatinya. Sejak pertemuan pertamanya dengan YeonHyo dalam insiden Toilet Seulmi, Kyuhyun menyukai YeonHyo. Mulai saat itu, Kyuhyun mulai mendekati YeonHyo. Dan Kyuhyun sangat bersyukur ketika YeonHyo bisa dekat dengan dirinya. Bahkan sekedat ini. Berkali-kali, Kyuhyun berusaha mengungkapkan rasa sukanya pada YeonHyo namun berkali-kali pula usahanya gagal. Namun bukan Cho Kyuhyun namanya kalau ia mudah menyerah. Baginya, segala sesuatunya bisa diusahakan. Begitu pula dengan cinta.

Setali tiga uang dengan Kyuhyun, YeonHyo juga merasakan getaran-getaran aneh ketika dekat dengan Kyuhyun. Jantungnya selalu berdetak lebih cepat dari biasanya ketika kulit mereka bersentuhan. Kyuhyun adalah orang pertama yang membuatnya seperti ini. Mendadak gugup ketika Kyuhyun menatap matanya intens. Diam-diam, selama tiga tahun ini YeonHyo menyukai Kyuhyun. Yang membuat YeonHyo menyukai sosok Kyuhyun adalah sikap lembut yang ditunjukkan Kyuhyun padanya. Kyuhyun berhasil merobohkan tembok pertahanan cintanya yang sejak dulu ia bangun.

Kedua orang ini saling menyukai namun mereka menyembunyikan perasaannya masing-masing. Masih ada rasa malu untuk mengungkapkan satu sama lain. Mereka hanya bisa saling melihat dari jauh. Saling berharap ketika sedang jauh. Namun sepertinya cinta tidak tahan dengan semua kelakuan mereka. Cinta datang dengan begitu menggebu pada Kyuhyun. Perlahan, Kyuhyun mulai menunjukkan rasa cintanya pada YeonHyo. Perlahan tapi pasti. Kyuhyun yakin ia bisa menyelesaikan sesuatu yang telah ia mulai. Demi Yoo YeonHyo. Gadis yang dicintainya.

            *****

            Kyuhyun dan YeonHyo duduk berhadapan disebuah café. Buku menu ada ditangan mereka masing-masing. YeonHyo menggerakkan jari telunjuknya untuk memilih minuman apa yang hendak ia pesan, sedangkan Kyuhyun hanya membuka-buka halaman buku menu tersebut.

Moccacino panas satu.” Kata Kyuhyun akhirnya memutuskan pesanannya dengan cepat. “Kau mau pesan apa, YeonHyo?”

YeonHyo mendongkak memandang pelayan yangberdiri disamping meja mereka. “Aku vanilla latte panas satu dan kentang goreng.”

Pelayan itu menuliskan pesanan mereka berdua dengan cepat kemudian mengulangi pesanan mereka berdua. “Moccacino panas, vanilla latte panas dengan kentang goreng. Baiklah harap tunggu beberapa menit. Terimakasih.” Kata pelayan itu kemudian membungkuk sopan dan berlalu pergi meninggalkan meja pesanan.

YeonHyo tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Kemudian ia mengalihkan pandangannya keluar jendela. Hujan rintik-rintik turun diluar sana. Melukiskan titik-titik air yang menempel pada kaca. YeonHyo menghembuskan napas panjang. Matanya menerawang jauh keluar. Memandang hujan yang tidak berhenti sejak jam 3 sore tadi.

“Kyuhyun kita sudah kelas tiga SMA. Sebentar lagi lulus.” Kata YeonHyo tanpa mengalihkan pandangannya. “Kalau kita lulus, nanti kita berpisah. Pasti hari-hariku akan sepi.”

Kyuhyun menghela napas berat kemudian mengalihkan pandangannya keluar jendela. Ikut melihat apa yang YeonHyo lihat. “Perpisahan itu pasti datang, YeonHyo.”

“Aku pernah merasakannya?”

Kyuhyun mengangguk pelan. “Dulu. Ketika aku masih SMP. Ayahku meninggalkan keluargaku ke alam baka. Alam yang tidak terjamah.”

YeonHyo mengalihkan pandangannya menatap Kyuhyun. “Sorry, I don’t—“

No problem. I’m okay. Perpisahan itu menyakitkan. Tapi aku dan ayahku belum berpisah karena aku masih mengingatnya. Kami hanya terpaut jarak yang jauh. Jarak yang tidak terhitung.”

Sesaat kemudian pesanan mereka datang. Pelayan yang tadi meletakkan pesanan mereka di meja. “Ini pesanannya. Selamat menikmati.” Ujarnya hangat.

Kyuhyun dan YeonHyo menoleh pada pelayan itu dan mengucapkan terimakasih berbarengan. Setelah membungkuk, pelayan itu berlalu dari hadapan mereka berdua. YeonHyo menyesap vanilla lattenya pelan. Menghirup asapnya. Merasakan aromanya yang selalu berhasil membuat perasaannya lebih baik. Kyuhyun masih memegang cangkirnya dalam diam. Menatap lurus kearah moccacinonya. Matanya seakan menerawang jauh. Seperti kembali ke masa lalu. Menelusuri setiap jejak yang pernah ia tempuh dan bertemu dengan titik terlemahnya waktu itu.

Kyuhyun kemudian mengangkat cangkir moccanya dan menyesapnya perlahan. Hangatnya mocca langsung menjalar ke seluruh tubuhnya. Menghangatkan ditengan udara yang dingin. Hujan terus turun tanpa henti. Langit seolahmenangis karena luka dalam yang tak kunjung sembuh. Senja mulai datang. Semburat jingga mulai tampak di ufuk barat. Matahari siap tenggelam. Meredupkan sinarnya. Menggelapkan langit.

YeonHyo dan Kyuhyun sama-sama diam. Sibuk dengan cangkirnya masing-masing. Dengan pikirannya masing-masing. Dengan perasaannya masing-masing. Hingga Kyuhyun berdeham untuk memecah keheningan.

“Ehm. YeonHyo-ya, aku ingin berbicara sesuatu.”

YeonHyo mengalihkan pandangannya pada Kyuhyun. “Bicaralah.”

“Aku mendapatkan beasiswa musik ke Juilliard University dan aku harus berangkat lusa.” Kata Kyuhyun.

Mata YeonHyo langsung melebar mendengar perkataan Kyuhyun. Mulutnya membulat. “Ju..Juilliard?”

Kyuhyun mengangguk. “New York, Amerika Serikat.”

“Dan itu..setengah lingkar planet.” Gumam YeonHyo pelan.

Kyuhyun kemudian meraih tangan YeonHyo dan menggenggamnya hangat. “Tidak pernah kusangka kita akan berpisah secepat ini.”

YeonHyo memandang kearah tangannya yang digenggam tangan Kyuhyun. Pipinya mulai panas dan air mata mulai menggenang. Sekali kedipan, mala luruhlah semua air matanya. “This is…un…predictable.”

Kyuhyun memandang YeonHyo nanar. Segurat kesedihan tampak diwajah gadis itu. Dan kemudian air mata gadis dihadapannya itu bergulir jatuh menyusuri pipinya yang halus. Bahunya beruncang dan mukannya tertunduk. Bersamaan dengan itu, matahari hilang. Tenggalam sudah sang surya di barat. Hujan tak juga reda, semakin deras, bahkan. Lampu-lampu café mulai dinyalakan. Menebarkan sinar remang-remang. Semilir harum berbagai macam kopi merasuki hidung setiap pengunjung café. Jalanan masih tetap ramai. Suara klakson kendaraan saling menyahut. Namun telinga Kyuhyun seakan senyap akan semua itu. Yang Kyuhyun bisa dengar adalah rintihan hatinya dan hati YeonHyo. Isakan tangis YeonHyo yang tiba-tiba saja terasa begitu menohok didalam hatinya. Dan tanpa di sadari YeonHyo, Kyuhyun mempererat genggamannya. Berusaha menyampaikan permintaan maaf sekaligus seluruh perasaan terhangatnya. Hatinya merintih meminta dengan sangat agar YeonHyo berhenti menangis. Tapi YeonHyo tidak mendengar. Suara isakan YeonHyo ikut tenggelam dalam suara hujan yang deras.

*****

            Jalan setapak sepi. Hanya disinari lampu taman yang dipasang di sisi jalan. Cahayanya remang-remang di kegelapan malam. Kunang-kunang terbang saling berkejaran disemak-semak. Sinar kecilnya seperti titik api yang bergerak kesana kemari.

YeonHyo dan Kyuhyun berjalan menyusuri jalan setapak dalam diam. Mata YeonHyo sedikit sembap karena tangisnya tadi. Kyuhyun hanya melirik YeonHyo berkali-kali. Sungguh, Kyuhyun benci suasana canggung yang tercipta sekarang. Kyuhyun memang menyukai semua moment yeng tercipta antara dirinya dan YeonHyo, tapi bukan suasana canggung. Kyuhyun menarik napas berkali-kali. Berusaha mengumpulkan keberaniannya kembali untuk berbicara dengan YeonHyo. Perkataannya tadi di café mungkin telah merusak mood YeonHyo habis-habisan. Menghancurkannya hingga berkeping-keping. Tapi Kyuhyun tidak tahan. Cukup sudah ia menahan perasaannya selama tiga tahun tanpa pernah di ketahui YeonHyo. Ia harus cepat melakukannya. Sebelum semuanya terlambat. Sebelum ia pergi ke Amerika.

“YeonHyo-ya aku lelah. Mau duduk sebentar?” Tanya Kyuhyun sambil menyentuh sikut YeonHyo.

YeonHyo mendongkak memandang Kyuhyun. Kemudian mengangguk lemah. YeonHyo mengikuti langkah Kyuhyun menuju bangku yang ada dipinggir jalan. YeonHyo duduk disamping Kyuhyun sambil menghela napas panjang.

“Maafkan aku, Kyuhyun-ah. Seharusnya aku tidak begini. Seharusnya aku tidak menangis. Kalau aku menangis, aku bukan sahabat yang baik. Pergilah ke Amerika, Kyuhyun.”

Kyuhyun menoleh pelan kearah YeonHyo dan memandangnya sedih. “Sahabat? Bagiku kau bukan sahabat, YeonHyo-ya.”

YeonHyo tersentak. Ia menoleh cepat ke arah Kyuhyun dengan mata yang berkaca-kaca. Seolah meminta alasan akan pernyataan barusan. Kyuhyun kemudian menyunggingkan senyumnya. Ia tersenyum tipis kemudian berucap. “Kau bukan sahabatku lagi. Kini kau telah menjadi gadis yang aku cintai.”

YeonHyo melebarkan matanya. Napasnya tercekat sekarang. Jantungnya kembali mendapatkan serangan bertubi-tubi. Kyuhyun mencintaiku?

Dengan sekali gerakan, Kyuhyun menarik YeonHyo kedalam pelukannya. Merengkuhnya erat. Berusaha menyalurkan kehangatan ditengah udara malam yang dingin. Memberikan bahunya untuk YeonHyo menangis. Kyuhyun membelai rambut YeonHyo lembut. Penuh dengan rasa cinta.

“Aku mencintaimu sudah sejak lama. Aku mencintaimu dengan segenap jiwaku. Jadi..mulai sekarang, bisakah kau lebih melihatku? Ditengah cahaya lampu yang temaram sebagai seorang laki-laki?” Bisik Kyuhyun.

YeonHyo masih terisak pelan dalam pelukan Kyuhyun. Kamudian YeonHyo mengangguk pelan. Menyetujui apa permintaan Kyuhyun. Merasakan anggukan YeonHyo, Kyuhyun tersenyum dan mempererat pelukannya. Semakin dalam, semakin erat.

YeonHyo melonggarkan pelukannya. YeonHyo menatap Kyuhyun dalam. Matanya masih berair dan pipinya basah. Namun senyuman manis terlukis di bibir mungilnya. “Aku sudah melihatmu. Aku selalu melihatmu sebagai seorang pria.” Bisik YeonHyo.

Senyum diwajah Kyuhyun makin mengembang. Peri-peri cinta didalam hatinya sukses memahat nama Yoo YeonHyo. Kyuhyun menghapus air mata YeonHyo lembut dengan ibu jarinya. Tubuhnya maju perlahan. Kyuhyun mempersempit jarak diantara mereka berdua. Perlahan Kyuhyun menyentuhkan bibirnya di bibir YeonHyo. Kyuhyun mencium YeonHyo lembut, merasakan manisnya bibir gadis itu. Kyuhyun melumatnya perlahan, kini ia merasa penuh. Rasa cintanya tumpah sudah malam ini. Peri-peri cinta utusan dewi Aprodithe sedang bersorak kegirangan didalam hatinya.

Ciuman itu berlangsung selama dua menit penuh. Kyuhyun  melepaskan bibirnya dan mendapati YeonHyo sedang menutup matanya. Kyuhyun tersenyum kecil kemudian mengecup kedua mata YeonHyo, kemudian turun ke hidungnya dan sekali lagi pada bibirnya. “You’re the only one.” Bisiknya lagi, kemudian mendaratkan kecupan hangat di puncak kepala YeonHyo.

YeonHyo membuka matanya perlahan. Gadis itu tersenyum tipis. “Thank you for loving me.” Ujar YeonHyo pada Kyuhyun.

Kyuhyun meraih kedua tangan YeonHyo dan menggenggamnya erat. “YeonHyo, kau tahu apa itu hidup?”

YeonHyo mengerutkan keningnya kemudian menggeleng pelan.

“Hidup ini ibarat sebuah roda. Ia akan terus berputar besama waktu sampai waktu berhenti. Dalam hidup, ada yang datang dan ada yang pergi. Ada kebahagiaan ada kesakitan. Kita berdua hidup, dan kita berdua bertemu. Namun ada kalanya kita harus berpisah untuk sementara. Hidup sedang ingin menguji kita berdua. Menguji cinta kita. Hidup ingin tahu seberapa kuat cinta kita. Seberapa kuat kita mampu bertahan dalam menghadapi semua ini. Kita tidak berpisah selama kita tidak saling melupakan. Kita hanya terpaut jarak dan waktu. Dan aku tahu kalau kau adalah wanita yang kuat yang pernah ku kenal. Yang tidak akan menyerah hanya karena keadaan.” Jelas Kyuhyun panjang lebar. “Namamu, ada didalam hatiku. Saat ini, seribu tahun kedepan dan seribu tahun berikutnya. Kau adalah alasanku untuk selalu ceria, kau adalah alasanku untuk tersenyum dan kau akan menjadi alasan utamaku untuk pulang dari Amerika ketika aku telah selesai sekolah nanti. Aku janji akan hal itu.”

YeonHyo menatap Kyuhyun dalam. Matanya kembali berkaca-kaca. Namun sekuat tenaga YeonHyo menahan agar air matanya tidak jatuh lagi. Sebisa mungkin ia tersenyum. “Take a flight to USA, Kyuhyun. I’ll wait you here. Patiently.”

Kyuhyun tersenyum lebar. Beterimakasih kepada YeonHyo karena gadis itu bisa mengerti dirinya. Karena gadis itu mau bertahan demi dirinya, demi cinta mereka. Kyuhyun yakin YeonHyo bisa. Kyuhyun yakin mereka bisa. Mereka bukan saling melepaskan, mereka hanya perlu bertahan sampai waktu yang tidak ditentukan. Hingga akhirnya mereka bisa bertemu lagi.

Malam itu, mereka berdua mengukuhkan cinta. Mempercayai kehidupan mereka yang berputar. Percaya bahwa walaupun hidup memberikan jarak setengah lingkar planet untuk mereka, tapi Tuhan akan mempertemukan mereka kembali. Entah kapan, tapi mereka akan terus bertahan. Sekuat tenaga. Mempertahankan sebuah ikatan paling manis didunia. Demi hidup. Demi kebahagiaan mereka. Sampai suatu saat titik kepedihan itu datang dan memaksa mereka berdua untuk saling melepaskan. Untuk saling merelakan. Maut.

*****

Seoul, Juli 2012

Seorang gadis berkacamata duduk di sebuah bangku panjang perkuliahan. Sebuah buku cetak tebal terbuka dihadapannya. Gadis itu menggigit pulpennya sesekali. Matanya menerawang pertanda ia sedang memutar otak untuk mencari jawaban atas pertanyaan yang tertera di buku cetaknya. Kertas penuh angka kotretan berserakan disekitar bukunya. Beginilah hidup dengan menempuh kuliah di Fakultas Ilmu Matematika. Hidup penuh dengan angka. Namun Yoo YeonHyo menikmatinya. Ia senang berhitung. Senang mengkalkulasikan angka-angka dengan hitungan yang rumit. Kalau sudah berhubungan dengan soal matematika, YeonHyo akan asyik sendiri dan tidak mengenal waktu. Walaupun kelas sudah sepi, ia akan terus duduk diam dan berkutat dengan hitungan-hitungan rumitnya itu.

Kelas sudah berakhir sejak setengah jam yang lalu. Mahasiswa yang lain sudah meninggalkan kelas dan berhamburan untuk me-refresh otak mereka yang pusing akibat kegiatan berhitung yang berkepanjangan. Tidak bagi YeonHyo, gadis itu masih duduk, merenung, memandangi buku cetaknya sambil sesekali mencorat-coret kertas kotretannya. Sesekali ia menarik napas panjang jika hasil hitungannya tidak menemukan hasil dan berkali-kali ia tersenyum sendiri karena berhasil memecahkan sebuah soal.

Tiba-tiba ponselnya bergetar dari dalam tas. YeonHyo langsung merogoh tas tangannya dan mengambil ponselnya. Ia melihat ada sebuah pesan masuk dari teman satu kelasnya, Kim Hwaran. YeonHyo membuka pesan itu dan membacanya.

Kau keterlaluan, YeonHyo-ya. Kelas sudah bubar sejak setengah jam yang lalu dan kau masih asyik sendirian dikelas. Ayolah kita pulang, aku mau menonton Juilliard Showcase malam ini. Kau bilang kekasihmu kuliah di Juilliard, bukan? Ayolah bergegas! Siapa tahu dia masuk dalam salah satu mahasiswa paling berbakat!

YeonHyo tertegun melihat isi pesan itu. Juilliard Showcase? Mahasiswa berbakat? Kyuhyun.Cho Kyuhyun. Kata-kata itu langsung muncul begitu saja didalam pikirannya. Nama itu langsung memenuhi seluruh rongga kepalanya. Dengan segera ia mentup buku cetaknya, memasukkan pensilnya ke kotak pensil, memasukkan buku-buku dan semua yang berserakan dimeja kedalam tasnya dan menyambarnya. Sambil keluar ruangan kelas, YeonHyo membalas pesan Hwaran.

Kau dimana? Ayo pulang.

*****

Jam 08:30 malam, YeonHyo duduk di sofa dengan secangkir cokelat panas buatannya sendiri. Ia meraih remote untuk menyetel TV. Sebelumnya YeonHyo telah menanyakan kepada Hwaran dimana Juilliard Showcase akan disiarkan. Ibu jarinya menekan tombol remote untuk mencari channel yang dimaksud Hwaran dengan cepat. Dan ibu jarinya terhenti ketika melihat seorang pria sedang duduk bersama si pembawa acara. Pria itu tersenyum sambil mengangguk-angguk. YeonHyo segera mengeraskan volume TVnya untuk mendengar lebih jelas apa yang dibicarakan kedua orang didalam acara itu.

Okay, Cho Kyuhyun how do you feel when being the most talented student in the Juilliard University?

I’m very proud, of course. All of the students of Juilliard University are very proud for being talented students, they are very proud can perform today.” Jawab Kyuhyun.

“Siapa yang memotivasi anda untuk menjadi seperti ini?”

“Guru-guru saya, alumni Juilliard yang menjadi seniman terkenal di dunia, orang tua saya, dan…seseorang di belahan bumi lain yang selalu mendukung saya.” Kata Kyuhyun sambil tersenyum.

Si pembawa acara langsung tersenyum penuh arti pada Kyuhyun. “Wah, tidak disangka ya ternyata kau sudah mempunya kekasih. Apa dia datang kesini?”

Kyuhyun menggeleng pelan. “Tidak, dia di Korea.”

“Tapi kau tahu, kalian terpisah dengan jarak yang kukira hampir setengah lingkar planet. You know what, distance is the most difficult problem for love. Banyak pasangan yang tidak awet karena masalah jarak. Maka ada orang yang mengatakan salah satu hal yang tidak pernah bisa dikalahkan cinta adalah jarak. So, how..? Maksudku kepercayaan kalian?”

Mendengar pertanyaan itu, Kyuhyun tersenyum simpul. “Kami tidak terpisah. Kami hanya berbeda dalam dimensi ruang dan waktu yang berbeda. Kami tidak akan terpisah selama kami tidak saling melupakan. Aku percaya padanya, dengan sepenuh hatiku dan aku yakin dia pun demikian.”

“Apakah kalian masih sering berhubungan?”

Kyuhyun menggeleng pelan. “Jarang. Selama empat tahun ini kami jarang bahkan hampir tidak pernah berhubungan. Aku menghargai kesibukannya kuliah jadi aku tidak mau mengganggu. Kami…saling menghargai.” Kata Kyuhyun kemudian tertawa, diiringi tawa renyah dari penonton.

“So, she is one of your motivation? How can?”

You know, dia adalah salah satu alasanku untuk tersenyum. Dia salah satu alasanku untuk tetap bertahan. Sometimes this is so dying. Tapi kami berdua berjuang dibelahan bumi yang berbeda untuk kebahagiaan kami kelak. Entah kapan, tapi kami yakin Tuhan akan mempertemukan kami dengan kebahagiaan. Dan dia adalah gadis pertama yang akan kutemui ketika aku pulang nanti.” Jelas Kyuhyun panjang lebar.

Si pembawa acara itu mengangguk-angguk. “So there is something that you want to say to her? Mungkin saja dia sedang menonton karena kau tahu showcase ini disiarkan di beberapa tv negara lain.”

Kyuhyun mengangguk. “Boleh aku menyanyikan sebuah lagu?”

Si pembawa acara mempersilahkan Kyuhyun untuk berdiri dan memberikan microfon. Kyuhyun mengecek microfon itu dan mulai bernyanyi. Musik mulai mengalun dan Kyuhyun menyanyikan potongan reff sebuah lagu bahasa Inggris.

“ You’re still the one I run to

The one that I belong to

You’re the only one I want for life

You’re still the one that I love

The only one I dream of

You’re still the one I kiss, goodnight.

 

Just wait and fight for me, like I always do for you. Saranghae.”

Senyum YeonHyo tak henti-hentinya mengembang sejak tadi, Hatinya sungguh berbunga-bunga bisa melihat wajah Kyuhyun yang begitu dirindukannya selama ini. Melihat senyumnya, mendengar suaranya walaupun hanya lewat televisi tapi itu membuat asupan oksigennya seakan penuh. YeonHyo bisa merasakan titik kebahagiaannya ketika melihat wajah laki-laki itu. Dan mendengarnya bernyanyi, seperti obat yang menyembuhkan luka. Seperti embusan angin disore hari yang menyejukkan. Suara merdunya benar-benar memabukkan. Mendadak YeonHyo ingat ketika pertama kali bertemu dengan Kyuhyun, berdiri dengan jarak yang begitu dekat sehingga YeonHyo bisa mencium aroma tubuhnya, wangi parfumnya, mendengar desah napasnya yang teratur. Jantung YeonHyo mendadak berdetak lebih kencang malam itu. Ia merindukan Kyuhyun. Sangat merindukannya.

Kemudian YeonHyo mengambil ponselnya dan mengetikkan sebuah email pada Kyuhyun.

Aku rindu padamu. Ini rindu kesumat, Kyuhyun. Aku ingin bercinta dengan penuh dendam bersamamu, Kyuhyun. Kapan kau pulang? Aku masih menunggumu disini. Aku menonton Juilliard Showcase dan melihat wajahmu. Wajah yang selalu ku mimpikan setiap malam. Ketika pembawa acara itu menyebutkan namamu. Nama yang selalu kusertakan dalam setiap kepingan doaku setiap malam kepada Tuhan. Berdoa supaya kita dipertemukan lagi, Kyuhyun. Melihat senyummu, itu yang menjadi semangatku untuk menjalani hari. Masih kurasakan genggaman tanganmu diantara jari-jemariku. Aku bertahan disini Kyuhyun. Demi aku, demi dirimu, demi kita.

Setelah mengetik email itu, YeonHyo menekan tombol send dan email pun terkirim. YeonHyo meneguk habis minuman cokelat yang sudah dingin itu, mematikan televisi dan naik ke tempat tidur dengan penuh senyum. Ponselnya masih tergeletak di atas sofa. Dalam beberapa saat, YeonHyo terlelap tidur. Terlelap dalam mimpinya setelah memanjatkan doa yang menyertakan nama Kyuhyun didalamnya.

Dan keesokan paginya, ketika YeonHyo mengecek ponselnya, ada sebuah email masuk. Balasan dari Kyuhyun.

Aku akan kembali ke Korea, lusa. Tunggu aku, malaikatku.

*****

            Sore yang cerah diatas kota Seoul. Di sebuah taman yang dipenuhi oleh bunga sakura itu, sepasang kekasih duduk berdampingan. Saling menggenggam  satu sama lain. Menautkan jari-jemari mereka menjadi satu. YeonHyo bersandar di bahu Kyuhyun. Menumpahkan semua rasa rindu yang tertahan sejak lama. Kyuhyun pulang ke Korea dua hari yang lalu. Mereka baru bisa bertemu hari ini karena Kyuhyun perlu istirahat. Tidak banyak yang mereka lakukan sore ini. Hanya duduk bersama di taman sakura, memandangi air mancur, mencoba merasakan sebuah kebebasan baru yang diberikan Tuhan. Kyuhyun mencium YeonHyo sekali lagi. Kali ini terkesan lebih manis dari sebelumnya karena Kyuhyun mencium bibir YeonHyo penuh dengan rasa rindu. Bibir YeonHyo masih tetap manis, sama sepeti saat pertama kali Kyuhyun merasakannya.

Kencan hari ini hanya sebentar. Sore pun berganti malam dan Kyuhyun mengantarkan YeonHyo pulangke rumah. Sebelum berpisah, mereka sudah berjanji akan bertemu lusa di café yang biasa mereka kunjungi. Setelah Kyuhyun mengecup kening YeonHyo, Kyuhyun berlalu dari apartemen YeonHyo dan bergegas pulang. Senyumnya terus terukir, tidak sabar akan datangnya hari lusa.

*****

            Sudah lewat satu jam dari perjanjian. Kyuhyun tidak juga muncul di pintu café. YeonHyo duduk di sofa pojok didekat jendela sambil sesekali menghela napas panjang. Mengharapkan Kyuhyun agar cepat datang dan menepati janjinya. Berkali-kali YeonHyo melihat jam tangannya untuk membunuh waktu, namun tidak berhasil. Kyuhyun tetap tidak muncul.

Berbagai macam pikiran mulai melintas didalam otaknya. Namun dengan cepat YeonHyo menghilangkan pikiran buruk itu dan berusaha berpikir positif. Sedang melamun begitu, ponsel YeonHyo bergetar. Ada sebuah telepon masuk dari ibunya Kyuhyun. YeonHyo segera mengangkat telepon itu dan menhawab dengan suara yang halus. Namun beberapa detik setelah itu ia terdiam. Ibu Kyuhyun menangis tersedu-sedu diujung sana. Terdengar beberapa orang lain yang juga ikut menangis sambil memanggil-manggil nama Kyuhyun. Sebuah petir terasa begitu tepat menyambar telinganya ketika ibu Kyuhyun mengatakan sesuatu pada YeonHyo. Tubuh YeonHyo terpaku, tidak bisa bergerak sama sekali. Napasnya tercekat kuat. Oksigennya mendadak habis. Dadanya sesak. Matanya menitikkan air mata satu-per-satu hingga pipi YeonHyo basah semuanya. Sebuah guncangan dahsyat menerpa jiwanya. Tubuhnya menjadi lemas dan ia terisak. Dan sekali lagi, ibu Kyuhyun berucap. “Kyuhyun…meninggal kecelakaan.”

*****

            Seoul, Januari 2013

Kyuhyun meninggal dengan cara yang tragis. Begitu mendengar Kyuhyun meninggal karena kecelakaan, YeonHyo langsung bergegas pergi ke rumah sakit dimana jenazah Kyuhyun akan diambil tindakan. Begitu sampai disana, YeonHyo melihat keluarga Kyuhyun menangis tersedu-sedu. Terduduk disebuah kursi kayu dan saling merangkul satu sama lain. YeonHyo berjalan menerobos kerumunan suster yang sedang mengurus mayat Kyuhyun. Darah berceceran dimana-mana, kepala Kyuhyun hampir retak karena terbentur aspal dengan sangat kuat. Kini tubuh Kyuhyun terkulai tidak bernyawa diatas kasur putih rumah sakit. Napasnya terhenti tanpa bisa memulai lagi. YeonHyo langsung terjerembab dilantai sambil menangis meraung-raung. Sesak rasanya melihat pria yang dicintainya harus meninggalkannya dihari kencannya setelah empat tahun terpisah. YeonHyo mengguncang-guncang tubuh Kyuhyun pelan. Menangis memeluk jasad itu dan meminta kepada Tuhan agar mengembalikan Kyuhyun kembali. Tapi nyatanya Tuhan tidak mengkehendaki. Tuhan telah mengambil Kyuhyun dan tidak akan dikembalikan lagi.

Dari mulai saat itu, YeonHyo menjadi pemurung. Kematian Kyuhyun benar-benar membuatnya terpukul. Ini tidak pernah ada di dalam benaknya. Sebulan, dua bulan, tiga bulan, YeonHyo masih sering menangis tersedu-sedu karena bayangan Kyuhyun terus saja berkelebat didalam pikirannya. Kenangan-kenangan manisnya dengan Kyuhyun seakan datang silih berganti. Mengingatkannya pada masa-masa indah.

Dan ini adalah bulan keenam setelah kematian Kyuhyun. Perlahan, YeonHyo mulai bangkit dari keterpurukan. Berusaha merelakan Kyuhyun dengan segenap jiwanya. Walaupun terasa ada yang kurang, namun YeonHyo tetap bangkit. Setiap sebulan dua kali, YeonHyo berkunjung ke makam Kyuhyun untuk sekedar melihat makam itu tetap bersih dari rumput liar. Ia selalu menaruh seikat bunga didepan nisan Kyuhyun. Dan sore ini, kembali YeonHyo menaruh bunga itu. Perlahan YeonHyo mengelus nisan yang bertuliskan nama Cho Kyuhyun itu sambil tersenyum getir. Bibirnya bergetar pelan menahan tangis.

“Aku datang lagi untukmu. Apa kabar kau disana? Aku harap kau baik-baik saja. Lihat? Kita terpisah lagi untuk yang kedua kalinya dan kau tahu kita tidak akan bertemu lagi, Kyuhyun. Tuhan telah membuat jarak diantara kita dengan sangat jauh. Jarak yang tidak terhitung. Sekarang aku merasakan apa yang dulu kau rasakan waktu kau kehilangan ayahmu. Tapi aku tetap meyakini perkataanmu tentang bukanlah sebuah perpisahan jka kita tidak saling melupakan. Aku masih selalu memimpikanmu, selalu menyertakan namamu didalam setiap panjatan doaku setiap malam. Sekarang, rindu kesumatku hanya bisa dicurahkan didepan sebuah gundukan tanah bernisan ini, Kyuhyun. Kini hanya ada bayanganmu didalam setiap malamku. Hanya dengungan suaramu yang terkadang mengusik kesepianku. Yang aku tahu, Tuhan sayang padamu. Dan Tuhan tahu aku mencintaimu. Walaupun kita terpaut dimensi waktu dan ruang yang berbeda, tapi suatu saat kita akan bertemu. Entah kapan, mungkin jika Tuhan sudah benar-benar menginginkanku untuk berada disamping-Nya. Selamat jalan malaikatku, aku selalu mencintaimu seperti kau yang selalu mencintaiku.”

YeonHyo berbicara seakan ia sedang berbincang dengan Kyuhyun. Setelah itu, air matanya menetes lagi. Dengan cepat ia hapus dengan punggung tangannya. Setelah mengusap nisan Kyuhyun sekali lagi, YeonHyo bangkit berdiri. Ia menghela napas panjang sebelum kemudian berbalik dan meninggalkan kompleks pemakaman itu. Ia meninggalkan gundukan tanah bernisan itu sendirian. Sepi. Hening. Dan damai.

Hari-hariku panjang dan meletihkan. Ketika kau tak lagi didekatku. Keyakinan penuh oleh pertanyaan. Kekuatan diganti dengan rasa takut. Kudengar suaramu terbawa angin. Seperti jemarimu yang menyisir rambutku. Kupejamkan mataku dan kuingat kecupanmu. Dan berharap kau masih disini. Hanya satu hal yang dapat kuucapkan. Selamat tinggal, malaikatku sayang. –Cho Kyuhyun, 6month ago –

-FIN-

Note : Ini Peserta FF LOMBA Musim kedua, tolong beri komentar kalo udah selesai baca ya ^^

Komentar kamu sangat penting buat peserta lomba :D

Terima kasih sebelumnya.

16 thoughts on “HKS 05 – FF Lomba “Goodbye, My Angel” [OneShoot]

  1. hiks hiks hiks sad ending…
    sejak kpn nona yoon suka mtk dan berpaling dr milkshake strowberry nya hehehh
    mianhe aku g terlalu dpt feelnya#bow brng kyu
    wow sy terharu dan bangga liat kepercayaan antar mreka,ad hal2 yg bs dipetik di ff in..
    smga dpt hsil yg terbaik author,fighting

  2. aku suka alurnya, ceritanya. Tapi pilihan katanya agak kurang gimana gitu, feelnya pun kurang dapet *mian , fighting!! Semoga thor menang..😀

  3. aduh sad ending. hhhmm~
    sebenarnya ceritanya bagus ya. cuma aku ga dapat feelnya soalnya bertolak belakang dengan karakter kyu yg biasanya evil, cool, suka nyiksa, suka main psp, cemburuan, pintar mtk, dll sedangkan hyo kan biasanya engga pinter mtk, evil juga, galak, cantik. Biasanya mereka suka kelahi dan di ff ini mereka malah romantis. Hmm… But i love the story😀

  4. nyeesseekk, nyeesseekk..

    gk terima KyuHyun meninggal kecelakaan !!
    Ini pasti gara2 Yeon Hyo yang minta janjian di cafe kan !??!! *Plaak(?) *di tendang

    FF nya keren eon,,, aku sukaa,,, apalagi pas adegan Kyuhyun ngelindungi Yeon Hyo dr si Senior Seulmi *inget gak?

    deg-degaaannn bangettt>.< terlalu co cweeett,,, padahal yah,, dikiiittt lagii mereka kisseuuuuu *yadong Kumat

    Ok, pokoknya FF eonnie daebakk laahhh.. Fightinggg ^0^

  5. Wah… akhirnya bs bc jg dr td load nya lama”” d hp sih soalnya trs jg kayanya udh dr judulnya jg sedih eh ternyata bener tp g terlalu sedih sih biasanya kalo aku baca ato liat yg ky gn lngsng nagis tp gtwnya ga, awalnya aku kira ngebosenin karna kbnykan ff gt” aja jd bosen ternyata kesana” nya ga.. trs aku kira yg meninggal tuh YeonHyo nya.. eh, gtw nya Kyuhyun..😥

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s