HKS 04 – FF Lomba “Mermelaid Boy” [OneShoot]

nickchappy

Author : Nika Silvia Febriani

Facebook : Nick Chappy Febrianz
Twitter : @nick_chappy/
@donghae_princes

Cast :

• Yarica Eryana as Yoon Yeon Hyo
• Cho Kyu Hyun as Cho Kyu Hyun
• Lee Dong Hae as Lee Dong Hae
• N I K A as Park Hyo Young.

 

Genre : AU!, Family, Sad, Hurt &nd Romance. 

Rate : Teenage

 

Recomended Song : 

• SM The Ballad — Miss You
–  Epick High Ft Lee Hayi — Its Cold
• Avril Lavigne — Wish You Were Here

 

Disclaimer :

FF ini milik saya sekaligus debut pertama saya sebagai Park Hyo Young #gebukin.
Aku persembahkan FF gaje bin abal ini buat istri sahnya Cho Kyu Hyun si Yoon Yeon Hyo. Yang jelas Dong Hae hanya milikku! *dilarang protes* xD

 

And listen to my tale…

 

FF “MERMELAID BOY”

 

Matahari bersinar dengan teriknya. Di sebuah sekolah menengah atas dikota Seoul terlihat sudah lengang dari siswa-siswinya mengingat jam sekolah telah usai. Seorang yeoja masih bergeming di tempatnya. Tak memperdulikan lingkungan sekitarnya yang sudah sepi.

 

“Yeon Hyo-ya,” sapa sebuah suara yang sontak membuat yeoja itu tersentak. Yeoja itu tengah melamun rupanya.

“Kau belum pulang?” tambah suara itu dengan lembut. Namun Yeon Hyo –nama yeoja itu– sama sekali tidak berniat untuk menjawab pertanyaan tersebut. Ia bergegas memasukan semua buku serta peralatan alat tulis yang masih tergeletak begitu saja diatas meja. Setelah selesai, ia langsung beranjak pergi meninggalkan namja yang masih berdiri ditempatnya sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah yeoja itu. Namun tak urung ia tersenyum.

 

Yoon Yeon Hyo adalah yeoja pintar dan juga cantik. Namun sikapnya selalu dingin, cuek dan juga tertutup. Tak ada seorangpun yang mau menjadi temannya semenjak pertama kali ia menginjakkan kakinya di sekolah tersebut –bahkan sampai sekarang– karena sikapnya yang seolah mengasingkan diri. Tak ada yang mengetahui apa sebabnya. Namun sepertinya hal  itu tidak berlaku untuk satu orang.

 

Sepulangnya dari sekolah, ia tidak langsung melangkahkan kakinya untuk pulang. Tetapi ia menuju suatu tempat terlebih dahulu. Tempat yang sudah ia jadikan sebagai tempat peraduan.

Udara segar langsung menyapa kulit putih susunya saat ia tiba di tempat yang ditujunya. Hari ini ia kembali memutuskan untuk membawa dirinya kehadapan Sungai Han. Padahal baru kemarin ia datang berkunjung. Akhir-akhir ini memang ia terlihat hampir setiap hari pergi ke sungai itu. Tidak seperti biasanya yang hanya ia lakukan satu atau dua kali dalam  kurun waktu satu minggu. Dulu, ia akan mendatangi sungai tersebut hanya  ketika ia dalam masalah. Apakah itu berarti kali ini ia mendapatkan masalah yang besar?

 

Yeon Hyo menghela napas panjangnya kemudian menghembuskannya dengan perlahan. Rautnya menampakkan kesedihan yang mendalam. Ia menatap pantulan wajahnya di air. Betapa menyedihkannya ia. Sekilas ia tersenyum, tersenyum menertawakan hidupnya. Hidup yang ia yakini sangat malang dan juga memilukan.

 

Yeon Hyo kembali teringat dengan peristiwa sebelas tahun yang lalu. Peristiwa yang sesungguhnya tidak ingin ia ingat sama sekali. Menyakitkan.

Ia termenung. Kejadian itu masih sangat nyata dimata Yeon Hyo. Dan sakit itu masih begitu terasa menyayat hatinya. Kejadian yang merubah sebagian besar hidupnya. Bisa dikatakan juga bahwa kehidupannya sekarang yang kelam adalah akibat peristiwa sebelas tahun silam itu. Peristiwa tepat sehari setelah ia merayakan ulang tahunnya yang kelima. Oh, Tuhan, kenapa sekarang ia kembali mengingatnya? Padahal ia sudah mencoba mati-matian untuk menghapus memori itu dari otaknya. Mengingat peristiwa itu hanya akan membuatnya kembali terpuruk. Argh….

 

Yeon Hyo mengambil tempat duduk yang tersedia. Hari mulai sore. Tetapi hatinya mengatakan ia tidak ingin pulang, jadi disinilah ia sekarang. Duduk seorang diri sambil menatap pemandangan yang terbentang dihadapannya dengan tatapan kosong dan pikiran menerawang.

“Menunggu sunset?” tanya sebuah suara yang sontak membuat Yeon Hyo menoleh. Kenapa hari ini orang-orang suka sekali mengagetkannya? Ia menatap namja yang sudah duduk disampingnya dengan raut datar.

 

“Cobalah,” namja itu berkata sambil menyodorkan satu cup puding… stroberi?

Yeon Hyo menatap tangan tersebut dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Dengan ragu ia meraih cup itu tanpa berminat menyentuh isinya.

“Sepertinya kau sedang dalam masalah,” namja itu mencoba menerka jalan pikiran Yeon Hyo. Lagi-lagi Yeon Hyo menoleh dan mendapati namja itu tengah tersenyum dengan sangat manis.

 

Masalah? Apakah wajahnya begitu menyedihkan sampai-sampai orang yang melihatnya akan dengan mudah menebaknya? Atau mungkinkah namja itu adalah dewa yang diutus Tuhan untuk menyelamatkan hidupnya? Astaga, sepertinya ia terlalu banyak menonton drama.

 

Yeon Hyo tersenyum miris. Ia sendiri tak tau kenapa selama beberapa hari terakhir dirinya selalu uring-uringan. Dan tiba-tiba saja ia merindukan keluarganya yang lengkap. Pandangannya kembali lurus kedepan tanpa benar-benar fokus melihatnya. Raganya boleh saja dipinggiran Sungai Han, tetapi hati dan pikirannya sedang melayang jauh.

 

“Kau tau, puding ini selalu berhasil mendinginkan perasaanku. Cobalah,”
Yeon Hyo mendengus samar. Apakah dengan memakan puding tersebut hidupnya akan kembali seperti dulu? Omong kosong.

 

“Lee Dong Hae,” ujar namja itu sambil mengulurkan tangan, mencoba memperkenalkan diri. Yeon Hyo bergeming. Ia tak tau apa tujuan sebenarnya si namja itu. Otaknya sudah cukup kalut ia gunakan untuk meratapi kehidupannya.

 

Namja itu hanya mengangkat kedua bahunya acuh saat tak kunjung mendapatkan respon dari Yeon Hyo. Ia bangkit dari duduknya dan melangkah pergi.

 

“Yeon Hyo. Namaku Yoon Yeon Hyo,” seru Yeon Hyo tiba-tiba. Membuat Dong Hae —namja itu– menghentikan langkahnya dan menoleh. Ia menarik kedua sudut bibirnya keatas membentuk sebuah senyuman. ‘Yeoja aneh’ pikirnya.

 

“Baiklah, aku pulang dulu.” Dong Hae kembali memutar badannya. Namun ia berhenti melangkah ketika, “Hari mulai gelap. Sepertinya kau juga harus segera pulang Nona Yoon.” serunya kemudian, sambil melambaikan tangan tanpa menoleh dan kembali melangkah.

Yeon Hyo menatap puding stroberi itu dengan tatapan terluka sesaat setelah kepergian Dong Hae. Puding itu mengingatkannya pada…seseorang.

 

*

 

“Yeon Hyo-ya, kemarilah. Ada yang ingin Eomma bicarakan padamu.” Yoon Jin Ah memanggil anaknya dengan lembut. Yeon Hyo menurut. Namun seketika langkahnya terhenti ketika ekor matanya berhasil menangkap sosok namja paruh baya duduk disamping Nyonya Yoon. Ia menatap namja itu tajam, mengabaikan ucapan Nyonya Yoon yang menyuruhnya untuk duduk. Nyonya Yoon yang menyadari hal itu buru-buru melanjutkan.

 

Chagi-ya, perkenalkan, ini Lee Sung Hwa ahjussi. Rekan bisnis Eomma sekaligus calon su—”

Yeon Hyo mundur selangkah. Ia bergegas pergi dan berlari menuju kamarnya dilantai dua. Ia tidak ingin mendengar kelanjutan kalimat itu. Kalimat yang bisa dengan mudah ia tebak. Sungguh, ia tidak ingin mendengarnya. Tidak!

Yeon Hyo membanting pintu kamarnya dengan cukup keras. Ia menghempaskan tubuhnya diatas ranjang bernuansa pink disana dan mulai menangis.

 

Kenapa?

 

Astaga…
Apakah eommanya lupa bahwa ia pernah dicampakkan lelaki? Apakah eommanya tidak merasakan sakit yang bahkan masih begitu nyata dihati Yeon Hyo?

 

Ia menjerit dengan wajah terbenam dibawah bantal. Air mata turun begitu saja tanpa bisa dicegahnya. Sakit. Sesak itu kembali memenuhi dadanya.

Ia tidak pernah menyangka eommanya tega mengambil keputusan tanpa membicarakanya terlebih dahulu dengannya. Ia merasa diabaikan.

 

Bukan. Bukan ia egois. Bukan ia tak mengharap kebahagiaan eommanya. Sama sekali bukan. Ia hanya tidak ingin eommanya kembali jatuh dalam perangkap lelaki untuk yang kedua kalinya. Bagaimana bisa eommanya tidak mengetahui bahwa ia sangat mengkhawatirkan keadaannya? Adilkah ini? Entahlah…

 

Ia duduk bersila diatas ranjang. Menatap sendu foto berukuran jumbo yang terpampang dikamarnya. Foto sebelas tahun silam. Foto dirinya bersama  Yoon Hae Min dan Yoon Jin Ah yang tak lain dan tak bukan adalah orang tua biologis Yeon Hyo. Kalau boleh jujur, ia sangat merindukan masa-masa itu.

 

“Yeon Hyo-ya,” terdengar suara Nyonya Yoon dari luar kamar Yeon Hyo.

 

“Buka pintunya Yeon Hyo-ya. Eomma ingin berbicara denganmu,” tak ada jawaban. Apa yang harus dibicarakannya? Yeon Hyo sama sekali tak ingin mendengarnya. Ia masih terlalu shock.

 

“Yeon Hyo-yaEomma mohon,” pinta Nyonya Yoon berharap. Namun tetap tak ada jawaban. Yeon Hyo sama sekali tidak ingin berbicara apapun padanya.

 

“Baiklah, Eomma hanya ingin memberi tau bahwa Eomma akan melaksanakan resepsi pernikahan bulan depan. Dan besok, besok acara pertunangannya,”

 

Bagus. Baru hari ini Yeon Hyo diperkenalkan dengan namja itu dan apa? Ternyata besok acara pertunangannya? Great! Ia merasa benar-benar sudah tak dianggap. Ingin rasanya ia berteriak sejadi-jadinya, hal yang tak mungkin ia lakukan. Akhirnya ia hanya bisa menangis, menangis dan menangis. Berharap setelah menangis bisa membuat pikirannya kembali jernih.

 

*

 

Hari ini kaki Yeon Hyo kembali membawanya ke pinggiran Sungai Han. Ya, hanya tempat inilah yang menjadi tujuannya saat ini karena ia tidak ingin pulang. Sungguh.

Ia memandang sekeliling tanpa minat. Kenapa bumi tidak menelannya hidup-hidup saja? Mungkin itu akan jauh lebih baik. Rasa-rasanya ia tak sanggup melanjutkan hidup. Kini, ia kembali menangis.

 

“Apakah setiap hari kau selalu datang ketempat ini?”

Buru-buru Yeon Hyo menyeka air matanya menggunakan punggung tangan. Ketahuan menangis ditempat umum, tidak lucu bukan? Baru setelah itu ia menoleh.

 

Daebak. Ia mendapati namja yang sama, ditempat yang sama, dan dengan puding yang sama juga.

 

“Ini,”

Namja itu memperhatikan Yeon Hyo dengan intens. Ada perasaan aneh yang mulai menjalari tubuhnya.

 

“Aku tau aku cantik. Tapi, bisakah kau tidak menatapku seperti itu, Tuan Lee?”
Dong Hae tersentak. Sedetik kemudian ia terkekeh pelan memecah keheningan. Namun tawanya segera mereda ketika ia teringat sesuatu.

 

“Omong-omong, apakah setiap hari kau selalu kesini?” Dong Hae mengulang pertanyaannya, tampak menyelidik.

 

“Apakah setiap hari juga kau datang kesini sambil membawa dua cup puding stroberi?” Yeon Hyo balik bertanya, membuat Dong Hae tersentak kaget. Sama sekali tak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu. Rautnya sedikit menegang.

 

“Itu– aku– ah, sudahlah, lupakan saja. Bagaimana kalau kau mencoba puding itu? Mungkin saja kau merasa lebih baik setelah memakannya,”

 

Yeon Hyo memandang puding itu ragu. Entah angin apa yang membuatnya mulai memasukan satu sendok puding tersebut kedalam mulutnya. Air mata itu kembali berdesak-desakan dipelupuk matanya memaksa ingin keluar. Yeon Hyo menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, mencoba menahan air matanya supaya tidak jatuh.

Dong Hae menyadari pundak yeoja itu yang bergetar.

 

“Yeon Hyo-ssi, kau baik-baik saja?” kentara sekali namja itu mengkhawatirkan keadaan Yeon Hyo dari nada bicaranya.

 

Seketika tangis Yeon Hyo pecah begitu saja. Dong Hae tak tau duduk permasalahan yang membuat yeoja itu menangis. Seperti mendapat kekuatan tersendiri, Dong Hae menarik tubuh Yeon Hyo dan merengkuhnya kedalam pelukan. Sungguh, ia tak tau harus berbuat apa. Hanya ini yang sempat terpikirkan oleh otaknya. Ia berharap dengan memeluk yeoja itu ia bisa menyalurkan segenap kekuatannya.

 

Mianhae,” lirih Yeon Hyo beberapa saat setelah tersadar dan buru-buru melepaskan diri dari pelukan hangat itu. Pelukan  yang Yeon Hyo akui sangat menenangkan jiwanya.

Gwaencahana,” Dong Hae kembali mengembangkan senyum yang mampu membuat yeoja diluar sana menjerit histeris. Dan Yeon Hyo mulai merasakan desiran aneh pada dirinya.

“Hari sudah gelap, kau harus segera pulang Yeon Hyo-ssi. Mau ku antar?” Dong Hae menawarkan diri.

 

“Tidak.” jawab Yeon Hyo cepat. Terlalu cepat bahkan.

Pulang? Bagaimana bisa ia pulang lalu menyaksikan eommanya melakukan acara pertunangannya dengan namja itu? Tentu saja tidak.

Dong Hae mengernyit. Merasa tidak enak, Yeon Hyo buru-buru menambahkan.

 

“Maksudku, aku tidak ingin pulang.”

 

Jinjja? Tapi kenapa?” tanya Dong Hae hati-hati. Benar saja raut wajah Yeon Hyo kembali muram.

 

“Baiklah, ikut aku. Kajja!” Dong Hae meraih tangan Yeon Hyo dan mengajaknya pergi ke suatu tempat. Pandangan Yeon Hyo sepenuhnya menatap tangan namja itu yang menggenggam tangannya. Kehangatan mulai menyelusup menjalari tubuhnya dan berhenti tepat dipipinya. Ia merasakan pipinya mulai memanas dan ia yakin bahwa pipinya kini merah merona.

 

“Sampai,” Dong Hae melepas seat beltnya dan segera keluar mobil, berjalan memutar kemudian membukakan pintu mobil untuk Yeon Hyo. Namja ini…

 

Yeon Hyo berjalan mengekor dibelakang Dong Hae yang sudah sampai diatas sebuah bukit. Dong Hae menarik napas kuat-kuat, menghirup udara segar yang tidak ia dapatkan dikota Seoul. Yeon Hyo memperhatikan gerak-gerik namja itu dengan seksama.

 

“Dulu, aku selalu datang kesini saat aku dalam masalah.” Dong Hae membuka suara.

 

“Ibuku sudah pergi meninggalkanku ketika aku baru berumur enam tahun. Sedangkan Ayahku terlalu sibuk dengan urusan kantornya. Aku sendiri dan aku kesepian,” Dong Hae menerawang, memutar memori masa lalunya.

 

“Kemudian suatu hari sepupuku datang berkunjung kerumahku untuk sekedar menghibur. Dia mengajakku ke tempat ini, tempat yang sampai saat ini masih menjadi tempatfavoritku. Dan kau tau, sepupuku juga yang mengenalkanku pada puding stroberi. Katanya, puding stroberi bisa mendinginkan otak dan perasaan kita saat sedang mendidih atau bahkan terpuruk,” Dong Hae tertawa kecil saat mengingat wajah sepupunya itu. Atau mungkin orang lain?

 

“Aku selalu memakan puding stroberi itu ketika aku dalam keadaan yang benar-benar terpuruk. Saat seseorang yang sangat aku sayangi pergi begitu saja dari kehidupanku tanpa ada kabar sedikitpun,” Dong Hae tersenyum miris saat otaknya kembali mengatakan betapa menyedihkan hidupnya saat ia ditinggal pergi orang yang dimaksud.

 

“Ibumu?” tanya Yeon Hyo pelan. Dong Hae menoleh.

 

“Bukan. Dia– ah, sudahlah, lupakan saja.”

 

Yeon Hyo mengernyit. Melemparkan tatapan aneh pada namja disampingnya. Pasalnya sudah dua kali namja itu selalu menyuruhnya untuk melupakan perkataan yang baru saja terlontar dari mulutnya. Siapa orang itu sebenarnya? Akhirnya Yeon Hyo memutuskan untuk diam. Tak tau harus berbicara apa lagi. Tetapi satu hal yang ia sadari, bukan hanya dia yang mempunyai masalah didunia ini.

 

Yeon Hyo memandang lurus kedepan dimana ada air terjun yang mengalir dengan bebasnya. Dan disisi lain, ia bisa memandang hamparan kota Seoul dari atas bukit ini. Gemerlap lampu kota yang terlihat dimalam hari dari ujung sini membuatnya semakin indah. Ia sungguh menyesal dan merutuki dirinya. Kenapa ia baru mengetahui ada tempat seindah ini? Oh, ya, dia melupakan kenyataan bahwa ia tenggelam dengan dunianya sendiri. Dunia yang sesungguhnya benar-benar kelam. Terlalu sibuk hanya dengan meratapi nasib hidupnya yang sangat memilukan.

Ia menghirup udara segar dalam-dalam sambil menutup mata dan merentangkan kedua tangannya. Mengikuti apa yang telah dilakukan Dong Hae. Ia membiarkan angin malam itu membelai wajah dan rambut kecoklatannya. Mencoba melenyapkan pikiran-pikiran yang menjadi beban hidupnya selama ini, sejenak.

 

Dong Hae menoleh dan menatap Yeon Hyo –dengan kedua mata terpejam dan kedua tangan terentang– tanpa kedip. Malam ini yeoja itu terlihat lebih cantik dimata Dong Hae. Ia tersenyum samar. Yeon Hyo menoleh dan untuk sepersekian detik mata mereka bertemu. Dong Hae melemparkan senyum Kearah Yeon Hyo. Senyum yang menenangkan hatinya. Yeon Hyo pun membalas senyuman tersebut dengan cara yang sama. Dan ini adalah kali pertama Yeon Hyo tersenyum. Bukan senyum formal maupun senyum yang dipaksakan, tetapi senyum yang berasal dari hatinya.

 

“Aaaaaaaaa—” teriak mereka serempak. Mereka yakin setelah berteriak hati mereka sedikit lebih lega.

 

*

 

“Mau sampai kapan kau terus-terusan membolos, huh?” tanya sebuah suara dengan lantang. Memekakkan telinga siapapun yang mendengarnya. Suara yang sebenarnya sudah cukup lama menghilang dari pendengaran Yeon Hyo. Yeon Hyo tidak menggubris. Tubuhnya terlalu lemah hanya untuk membalas makian dari namja itu.

 

“Merusak susana saja.” gumam Yeon Hyo dingin namun terdengar sangat jelas dikuping namja. Yeon Hyo bangkit dari sarangnya –tempat yang sering ia duduki dipinggiran Sungai Han–.

 

“Aish, jeongmal!” namja itu mulai mengejar Yeon Hyo yang sudah berjalan meninggalkannya.

“Ya! Yeon Hyo-ya! Mau sampai kapan kau terus melarikan diri dari masalah? Sudah sepuluh hari kau absen dan kau hanya duduk-duduk disini? Itu tidak akan merubah keadaan sedikitpun!” cecar namja itu penuh emosi.

“Masalah itu harus dihadapi,  bukannya malah terus melarikan diri!” lanjut namja itu.
Yeon Hyo berhenti melangkah.
Namja itu tidak tau betapa hancurnya hidup Yeon Hyo saat menerima kenyataan bahwa eommanya akan menikah lagi.
Tau apa namja ini tentang hidupnya? Aish…

 

“Sudah puas berceramah?” namja itu tercekat dan memandang Yeon Hyo tak percaya. Hanya itu? Biasanya Yeon Hyo akan balas meneriakinya dengan makian-makian yang justru membuat namja itu nyaman. Tapi sekarang? Aneh.

 

Namja itu berlari-lari kecil, mencoba menyamakan langkahnya dengan Yeon Hyo.

“Ya! Yeon Hyo-ya! Dengarkan, minggu depan kita ujian. Dan kau harus mempersiapkan diri sebaik mungkin bukan malah bermalas-malasan seperti sekarang!”

 

“Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu, Kyu Hyun-ah. Jadi aku mohon tinggalkan aku sendiri.”

 

“Ya! A–”

 

 

“Cho Kyu Hyun!”

 

Cho Kyu Hyun adalah teman masa kecil Yeon Hyo. Hanya masa kecil sebelum semuanya berubah, sebelum bencana itu datang. Setelahnya ia tak menganggap siapapun seorang teman karena Yeon Hyo tidak ingin berteman pada siapapun termasuk Kyu Hyun. Sesorang yang sudah berteman baik dengannya selama kurang lebih tiga tahun saat itu. Ia juga selalu menghindar ketika Kyu Hyun mencoba mendekat hanya sekedar untuk menanyakan kabar. Ia selalu mengacuhkan keberadaan namja itu. Satu hal yang Yeon Hyo tidak ketahui, Kyu Hyun masih peduli padanya. Sangat.

 

“T-ta-tapi— ya, baiklah. Jaga dirimu baik-baik.”

*

 

“Belum mau pulang?” tanya Dong Hae sambil mengulurkan satu cup puding, lagi. Yeon Hyo menerimanya. Harus Yeon Hyo akui, perasaannya sedikit lebih tenang setelah memakan puding stroberi itu. Benarkah ketenangan itu terletak pada puding? Atau karena kehadiran namja disebelah itu sendiri? Yeon Hyo menggeleng kuat, mengusir pemikiran aneh yang tiba-tiba saja menyelinap dibenaknya.

 

“Kenapa? Tidak enak?” tanya Dong Hae saat Yeon Hyo hanya menunduk menatap puding itu sambil menggeleng dengan pandangan yang susah untuk dijelaskan. Yeon Hyo tersentak.

 

Anni.” jawab Yeon Hyo sedikit tergagap. Yeon Hyo mulai merasakan rasa itu lagi. Rasa hangat dan nyaman tiap berdekatan dengan namja itu.

Oh, tidak, tidak! Tidak boleh hal itu sampai terjadi. Sudah cukup eommanya menjadi korban akibat ulah namja dan berimbas pada dirinya yang juga merasakan sakit itu. Sakit yang masih sangat terasa sampai detik ini, kejadian sebelas tahun lalu.

Kejadian dimana ayahnya memutuskan untuk pergi dan tega meninggalkan ia dan ibunya demi wanita lain.

Sakit. Sesak. Memilukan. Semua masih begitu nyata. Dan ia tak akan membiarkan seorangpun namja juga akan memasuki kehidupannya kemudian mencampakkannya. Tentu saja tidak. Ia tidak akan membiarkan hal itu sampai terjadi.

Tapi entah kenapa ada rasa yang berbeda, ia merasa sangat nyaman berada didekat namja itu. Lee Dong Hae.

 

“Kau tidak apa-apa?” tanya Dong Hae cemas karena sudah cukup lama Yeon Hyo terdiam sambil menunduk. Yeon Hyo mengangkat wajahnya dan melihat wajah tampan itu lagi tengah tersenyum kearahnya. Jantungnya melonjak dan berdegup dengan kencang. Entah apa yang membuatnya seperti ini. Astaga, dia benar-benar sudah gila.

 

 

Tanpa mereka sadari, sepasang mata telah mengawasi gerak-gerik mereka. Ia tersenyum lemah sebelum akhirnya melangkah pergi.

 

*

 

Kajja!” seru seorang namja sesaat setelah Yeon Hyo menutup pagar rumahnya. Membuat yeoja itu sedikit terkejut.

 

“Kau? Wae?”
Dong Hae tersenyum.

 

“Berangkat ke sekolah denganmu,”

 

“Aku bisa jalan sendiri.” jawab Yeon Hyo dingin, berjalan melewati Dong Hae. Namun sedetik kemudian ia berbalik. Memperhatikan penampilan Dong Hae dari atas ke bawah.

 

“Kau?”

 

Wae?”

 

“Kau satu sekolah denganku?”

 

Ne,”

 

Jinjja? Maksudku– aku belum pernah melihatmu sebelumnya,”
Yeon Hyo sangat yakin bahwa Dong Hae bukanlah murid dari sekolahnya karena ia ingat betul bahwa ia belum pernah melihat namja itu dilingkungan sekolahnya.

 

“Aku satu sekolah denganmu mulai hari ini, Yeon Hyo-ssi.” Yeon Yeon mengerjap. Tak mempercayai pemandangan didepannya. Aigo, ini semua membuatnya hampir gila!Yeon Hyo kembali melanjutkan langkahnya dengan berbagai pertanyaan memenuhi benaknya. Dong Hae mengekor.

 

“Tunggu, sebelum kau pindah ke sekolahku kau bersekolah dimana?”

 

“Mau tau?”

 

“Ish, lupakan!”

 

“Satu hal Yeon Hyo-ssi, aku berada satu tingkat diatasmu. Jadi kau harus memanggilku Oppa.”

 

Mwo? Aish,”

 

 

Lagi-lagi seseorang yang berdiri tak jauh tengah memperhatikan mereka dengan tatapan terluka. Ia kembali tersenyum miris menyaksikan pemandangan itu.

 

 

*

“Untukmu,” ujar Dong Hae sambil menyerahkan satu cup puding stroberi pada Yeon Hyo. Mereka memutuskan untuk pergi ke Sungai Han bersama-sama mengingat mereka kini satu sekolah.

 

Gomawo,”
Kehidupan Yeon Hyo kini sedikit lebih berwarna dengan hadirnya Dong Hae dalam kehidupannya. Membuat yeoja itu sedikit lebih terbuka. Satu hal yang penting, yeoja itu kini mampu tersenyum dengan benar.

 

“Yeon Hyo-ssi, nanti malam aku ingin mengajakmu pergi keluar, apa kau bisa?”

 

Ne?”

 

“Baiklah, akan jemput kau jam 7. Dan ini, tolong pakai ini untuk nanti malam.” Dong Hae menyerahkan sebuah kotak berwarna pink yang cukup besar. Berdasarkan info yang dia dapat, Yeon Hyo adalah yeoja maniak pink.

 

Mwo? Apa ini?”

 

“Kau bisa membukanya dirumah,”

 

“Aish,”

 

*

 

Jam 7 tepat. Terdengar bunyi bel rumah Yeon Hyo berbunyi nyaring. Nyonya Yoon bergegas membukakan pintu.

 

Yeon Hyo segera menutup tirai kamarnya ketika Dong Hae mendongak dan mendapati dirinya sedang memperhatikan namja itu. Dong Hae tersenyum simpul.

 

“Anyeong ahjummonim, Yeon Hyonya sudah siap?”

 

Mwo?” tanya Nyonya Yoon sedikit heran. Namun matanya berbinar, menyiratkan kebahagiaan didalamnya.

 

“Kalian sudah berjanji akan pergi, bersama? Semacam dinner?”

 

Ne,” jawab Dong Hae ringan.

 

“Masuklah dulu–”

 

“Lee Dong Hae imnida,” kenal Dong Hae sopan

 

“Ah, ne. Masuklah Lee Dong Hae-ssiAhjumma panggilkan Yeon Hyo sebentar,” Dong Hae tersenyum sambil mengangguk.

 

“Yeon Hyo-ya,” panggil Nyonya Yoon sambil mengetuk pintu. Tak lama pintupun terbuka.

 

“Ya! Kenapa kau belum siap-siap?” Nyonya Yoon melirik sekilas kotak pink yang berisi gaun pendek berwarna peach lengkap dengan heels berwarna senada.

 

“Anak Eomma sudah besar rupanya,” ledek Nyonya Yoon pada anaknya. ‘Jadi namja ini penyebabnya?‘ Nyonya Yoon mulai menyimpulkan kenapa anaknya akhir-akhir ini anaknya tampak sedikit ceria.

 

“Kenapa kau tidak segera memakainya? Dong Hae sudah menunggumu dibawah,” Yeon Hyo menggeleng. Memakai gaun? Tentu ia lebih memilih melompat dari kamarnya ketimbang harus mengenakan gaun. Dan heels? Astaga, benda terkutuk itu!

 

Eomma akan membantumu berdandan, eotte?” Sekali lagi Yeon Hyo menggeleng dan memasang wajah memelas pada eommanya. Nyonya Yoon teringat bahwa anak satu-satunya itu tidak suka memakai gaun apalagi heels. Dan Nyonya Yoon paham betul bahwa anaknya tidak bisa dipaksa. Nyonya Yoon hanya menghembuskan napasnya dengan pasrah.

 

“Dong Hae-ssi, maaf menunggu lama.” ucap Nyonya Yoon sesampainya dilantai satu dimana Dong Hae sedang duduk manis menunggu. Dong Hae cepat-cepat bangkit dan mendapati Yeon Hyo berdiri dibelakang Nyonya Yoon dengan sedikit menunduk.

Alis Dong Hae berkerut samar memandang Yeon Hyo yang hanya mengenakan t-shirt putih dan jeans biru dipadu dengan kets berwarna putih. Tas salempang berwarnasapphire blue melengkapi penampilannya malam itu. Dong Hae tersadar, ia segera menarik kedua sudut bibirnya dan tersenyum kearah mereka. Ia bukan tipe namja yang suka memaksakan kehendaknya.

 

“Ah, ya. Kalian boleh pergi sekarang. Tapi ingat, jangan pulang sampai larut!” Nyonya Yoon mulai mendorong Yeon Hyo untuk mendekati Dong Hae.

 

“Kalau begitu kami pergi dulu Ahjumonim,” ucap Dong Hae sambil membungkuk dan dibalas anggukan ringan Nyonya Yoon.

 

Anyeong,”

 

Dong Hae membukakan pintu mobil untuk Yeon Hyo kemudian ia berjalan memutar. Dong Hae selesai memasang safety beltnya dan mulai mendekatkan wajahnya pada Yeon Hyo. Sangat dekat. Sampai-sampai yeoja itu bisa merasakan napas segar Dong Hae.

 

Gomawo,” ujar Yeon Hyo sesaat setelah Dong Hae selesai memasangkan sabuk pengaman padanya. Mobilpun mulai melaju diantara keramaian kota Seoul.

 

Nyonya Yoon hanya bisa menatap mereka dengan perasaan lega bercampur takut. Ia lega karena melihat sikap anaknya yang menjadi sedikit lebih ceria, itu semua pasti pengaruh anaknya yang mulai mengenal namja itu. Ia yakin belum pernah seperti ini sebelumnya. Namun rasa khawatir itu tetap ada. Ia takut anaknya jatuh pada namja yang salah. Nyonya Yoon yakin bahwa Yeon Hyo adalah orang yang paling terpukul atas peristiwa waktu itu. Hal yang menyebabkan anaknya tak mempunyai seorangpun teman apalagi namja chingu. Pikirannya kembali kalut. Akankah namja itu mampu menjaga perasaan anaknya? Semoga. Ia rasa Lee Dong Hae adalah namja baik-baik dan juga sopan. Ia hanya bisa berharap.

 

*

 

Selama dalam perjalanan, mereka hanya diam. Tak ada diantara mereka berniat untuk membuka suara. Hening. Dong Hae sama sekali tak terlihat sedikitpun menyinggung tentang gaun pemberiannya. Hal itu justru membuat Yeon Hyo merasa bersalah.

 

“Kau tidak menanyakan kenapa aku tidak memakai gaun pemberianmu?” Yeon Hyo mencoba memecah keheningan yang tercipta cukup lama. Dong Hae tersenyum.

 

“Jangan dipermasalahkan. Kau mau pergi bersamaku saja aku sudah senang.” terang Dong Hae dan mengacak rambut Yeon Hyo pelan.

 

Hati Yeon Hyo terenyuh. Ternyata ada namja sebaik Dong Hae didunia ini. Ia sudah salah beranggapan bahwa semua namja itu jahat dan kejam. Mulai saat ini sepertinya dia harus menghapus pemikiran jelek itu.

“Aku tidak suka memakai gaun. Hanya dalam keadaan terpaksa saja aku akan memakainya. Dan benda terkutuk itu–”

 

“Terkutuk?” tanya Dong Hae tak mengerti.

 

“Maksudku high heels. Aku membencinya.”

 

Jinjja?” Dong Hae mulai tertawa.

 

“Memangnya apa yang lucu?” sungut Yeon Hyo dengan wajah sedikit cemberut. Buru-buru Dong Hae menghentikan tawanya.

 

Anni. Maksudku, biasanya yeoja-yeoja selalu menyukai kedua benda tersebut. Bahkan ada yang rela menghabiskan waktu seharian penuh hanya untuk berbelanja benda-benda itu.”

 

“Tapi tidak denganku.”

 

“Ya, kau spesial!”

 

 

Dong Hae menghentikan mobilnya. Melangkah keluar dan membukakan pintu untuk Yeon Hyo. Seketika, yeoja itu menutup mulut menggunakan kedua tangannya. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati dirinya berdiri diantara ratusan lilin yang ada disana. Bukit yang waktu itu ia datangi bersama Dong Hae kini telah disulap menjadi tempat yang berkesan sangat romantis. Beratus-ratus lilin terpampang membentuk tulisan Happy B’Day Yoon Yeon Hyo. Dan disisi lain, ditengah-tengah puluhan atau bahkan ratusan lilin-lilin yang membentuk lingkaran terdapat sebuah meja didalamnya, lengkap dengan dua buah kursi yang diletakan saling berhadap-hadapan. Ditengah meja tersebut juga terdapat sebuah lilin.

 

“Oh, My God!” seru Yeon Hyo ketika otaknya berhasil mengingat bahwa hari ini adalah ulang tahunnya yang ke-17. Sweet seventeen.

 

“Dong Hae-ssi, kau yang merencanakannya? Aku tak tau bagaimana membalasnya,” ucap Yeon Hyo dengan mata berkaca-kaca. Haru.

 

Oppa. Panggil aku Oppa.”

 

Ne?”

 

“Panggil aku Oppa dan anggap saja impas. Bagaimana?”

 

Reflek Yeon Hyo menghambur kedalam pelukan Dong Hae. Namun ia segera tersadar dan buru-buru melepas pelukan tersebut.

 

“Gomawo, jeongmal gomawoyo, Op-Oppa.” pekik Yeon Hyo dengan napas tercekat. Bahagia. Sangat bahagia. Bisa dikatakan bahwa ini adalah kado ulang tahun terbaik seumur hidupnya. Dong Hae mengusap pelan puncak kepala Yeon Hyo sambil mengembangkan senyum terbaiknya. Ia ikut merasakan kebahagiaan yang dirahasiakan Yeon Hyo.

Dong Hae menyodorkan sikunya dan langsung ditanggapi Yeon Hyo dengan senyum yang masih merekah, membuat wajahnya semakin cantik.

 

Dong Hae menarik satu bangku dan mempersilakan Yeon Hyo duduk. Ia juga ikut duduk tepat dihadapannya. Beberapa saat kemudian seorang pelayan –yang entah datang darimana– datang  sambil membawakan dua gelas besar strawberry milkshake dan dua cup strawberry ice cream lengkap dengan dua cup puding strawberry. Membuat Yeon Hyo kembali memekik bahagia. Bagaimana bisa namja didepannya mengetahui jenis minuman favoritnya? Ia tidak mau ambil pusing disaat dia sedang sangat bahagia seperti saat ini. Dirinya seperti melayang-layang di angkasa. Namja didepannya benar-benar tau cara memperlakukan yeoja dengan sangat baik.

 

“Lihatlah keatas,” Dong Hae menunjuk langit cerah malam itu, bintang-bintang ikut menyapa mereka dalam pencahayaan yang minim. Yeon Hyo sedikit memiringkan kepalanya, berpikir. Belum tau pasti maksud namja.

 

Namun sedetik kemudian gemerlap kembang api tampak menghiasi langit. Membuat malam ini semakin indah bagi Yeon Hyo. How beautiful!

 

 

 

DEG.

 

 

 

Jika dilihat dengan seksama, kembang api tersebut membentuk tulisan I Love You. Apakah itu artinya….

 

“Would you be my girlfriend?” tanya Dong Hae memperjelas maksud dari kembang api yang kini mulai memudar.

 

Yeon Hyo gugup. Ia menyedot Strawberry milkshake didepannya untuk menghilangkan kegugupan yang tiba-tiba saja menyelinap kedalam lubuk hatinya. Namun tak bisa dipungkiri bahwa ia merasa nyaman berada didekat Dong Hae. Bahagia.

 

“Maukah kau menjadi yeoja chinguku, Yeon Hyo-ssi?” tanya Dong Hae lagi.

 

Dengan ragu Yeon Hyo mengangguk, membuat Dong Hae menghembuskan napasnya yang ternyata dari tadi ia tahan. Senyum kembali merekah menghias wajah tampannya.

Dong Hae mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya. Kotak berukuran kecil yang juga berwarna pink. Membukanya dan mengeluarkan isinya. Yeon Hyo memegang dadanya dengan mulut sedikit menganga ketika cincin dengan permata pink melingkar manis di jari tangannya.

 

Gomawo,” ucap Dong Hae.

Na do,” Dong Hae memeluk Yeon Hyo erat.

 

“Dan… Oh, aku melupakan sesuatu.”

 

“Apa?”

 

“Saengil chukkae hamnida, Yeon Hyo-ya. Saranghae,

 

 

Sejak saat itu mereka resmi berpacaran. Dong Hae selalu datang menjemput Yeon Hyo dipagi hari untuk pergi ke sekolah bersama dan ia akan mengantarkan Yeon Hyo pulang di sore hari. Pergi ke Sungai Han bersama, meskipun tidak setiap hari layaknya tempo lalu, karena kini Yeon Hyo sudah pulih dari keterpurukannya. Mengerjakan tugas bersama sepulang sekolah dirumah Yeon Hyo, pergi keluar bersama setiap sabtu malam tiba, dan hampir semua kegiatan mereka lakukan bersama. Walaupun mereka duduk di bangku dan kelas yang berbeda, hal itu sama sekali tak mengurangi kekompakan mereka. Kegiatan seperti itu sudah menjadi rutinitas mereka selama berpacaran. Dan satu hal yang membuat semua orang mendukung Dong Hae berpacaran dengan Yeon Hyo, namja itu sedikit demi sedikit mampu merubah kepribadian Yeon Hyo yang semula tertutup menjadi sedikit lebih terbuka. Dan kini Yeon Hyo perlahan mulai bisa menerima Lee Sung Hwa sebagai calon bapak tirinya, membuat Nyonya Park bisa sedikit bernapas lega.

 

 

Samar-samar seorang namja ikut tersenyum menyaksikan itu semua. Ia yakin, hyungnya mampu melakukan ini semua dengan baik.

 

 

Hal itu terus berlangsung sampai pada suatu hari…

 

 

“Eomma, Dong Hae Oppa belum datang?”tanya Yeon Hyo yang baru saja turun dati lantai dua.

 

“Belum,” sahut Nyonya Yoon dari dapur. Yeon Hyo kembali melirik arloji pink bergambar Hello Kitty yang menempel manis pada pergelangan tangan kirinya.

“Kemana dia? Biasanya dia tidak pernah datang terlambat,” gumamnya sambil mondar-mandir didepan pintu.

 

Eomma, aku pergi dulu,” seru Yeon Hyo pada akhirnya.

 

“Bagaimana dengan Dong Hae?”

 

“Aku bisa terlambat jika harus menunggunya terus menerus, Eomma.” sahut Yeon Hyo setengah merajuk.

 

“Ya sudah, hati-hati dijalan!”

 

Ne, anyeong!”

Namun sesampainya disekolah Yeon Hyo juga tak menemukan batang hidung Dong Hae. Membuatnya semakin cemas. Ia sudah berkali-kali mencoba menghubungi ponselnya namun tidak aktif.

 

“Sebenarnya, kemana dia?” gumam Yeon Hyo sambil terus memelototi ponsel pink miliknya.

 

Wae? Kau mencari Dong Hae Hyung?”

 

“Dong Hae Hyung? Kau mengenalnya?” tembak Yeon Hyo yang membuat Kyu Hyun gelagapan.

 

“Tentu saja. Siapa yang tidak mengenal kalian? Pasangan yang selalu mengumbar kemesraan didepan umum.” cibir Kyu Hyun setelah berhasil menghilangkan kegugupannya.

 

Maksudku kenapa kau memanggilnya Hyung?” Kyu Hyun tak tau harus menjawab apa.

 

“Apa kau tau dimana dia?” tanya Yeon Hyo lagi, lirih, lemas. Tak memperhatikan lagi raut wajah Kyu Hyun yang mulai memucat. Kyu Hyun mengelus bagian dadanya.

 

“Pasti gara-gara Park Hyo Young itu,” gumam Kyu Hyun sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat.

 

Mwo? Siapa Park Hyo Young?”

 

‘Sial. Dia mendengarnya. Kasian dia,’ batin Kyu Hyun.

 

Anni. Memangnya apa peduliku terhadap urusan kalian?”

 

“Kau benar,” ucap Yeon Hyo menerawang.

 

‘Tidak peduli? Tentu saja aku sangat peduli padamu Yeon Hyo-ya. Aku sangat peduli! Awas saja kau Dong Hae Hyung kalau sampai membuat Yeon Hyo menangis. Akan ku bakar kau hidup-hidup!’

 

 

*

 

 

“Hyung, kau darimana saja?”

 

“Aku lelah Kyu Hyun-ah. Bisakah kita membahasnya besok?”

 

“Lelah mengurusi Park Hyo Young mu itu dan mengabaikan  Yoon Yeon Hyo, huh? Kau tau, Yeon Hyo begitu mengkhawatirkan keadaanmu! Tetapi orang yang dikhawatirkannya malah bersenang-senang dengan orang lain. Menyedihkan!”

 

“Kyu Hyun-ah, bisakah kau tidak campuri urusanku?”

 

“Selama itu masih berhubungan dengan Yeon Hyo aku akan ikut campur!” Dong Hae mendengus.

 

“Jadi kau menyukainya?”

 

“Bukan menyukainya. Tapi aku mencintainya.” sahut Kyu Hyun dengan memberikan penekanan disetiap katanya.

 

“Ambil saja kalau begitu. Aku tidak menginginkannya,”
Rahang Kyu Hyun mengeras.

 

 

 

BUGH.

 

 

Kyu Hyun melayangkan tinju tepat diwajah Dong Hae. Membuat namja itu terhuyung ke belakang.

 

“Dasar playboy!” maki Kyu Hyun penuh emosi.

 

“Asal kau tau, aku tidak playboy!”

 

“Cih! Bukan playboy? Lalu apa namanya mempermainkan perasaan dua yeoja sekaligus?”

 

“Dengar, aku tidak playboy! Dari dulu hiongga kini, cintaku hanya buat Hyo Young.” Dong Hae mengucapkan dengan penuh penekanan, tepat dikuping Kyu Hyun.

 

“Kau harus melepaskan Yeon Hyo kalau kau masih mencintai Park Hyo Young mu itu!”

 

“Baiklah jika itu maumu. Besok akan aku lakukan,”

 

“Buktikan. Jangan hanya berbicara!”

 

“Kau boleh pegang ucapanku. Dan asal kau tau, sampai kapanpun cintaku hanya untuk Hyo Young. Bukan yang lain.”

 

“Setelah dia mencampakkanmu bertahun-tahun?”

 

“Dia sudah meminta maaf,”

 

“Persetan!”

 

“Terserahlah,”

“Pengecut! Seharusnya aku tau, kau tidak boleh mengenalnya. Jika pada akhirnya kau hanya akan mencampakkannya.”

 

 

*

 

 

Pagi ini Dong Hae juga tak menampakan tanda-tanda bahwa ia akan datang menjemput Yeon Hyo. Akhirnya yeoja itu memutuskan untuk kembali berjalan kaki sampai di terminal depan dan naik bus ke sekolah. Mendapat predikat populer karena rajin terlambat sama sekali bukan keinginannya. Oleh sebab itu, disinilah ia. Kembali berdiri menunggu bus yang datang. Ia tidak mungkin terus-terusan menunggu Dong Hae datang menjemputnya, bukan? Bisa telat ia.

 

Seorang namja menghembuskan napasnya dengan kesal. Ia memasukan kedua tangannya kedalam saku celananya. Menghela napas dengan kasar dan melangkah menyusul bus yang akan segera datang untuk mengantarkannya ke sekolah. Ia mengambil tempat duduk dibelakang Yeon Hyo tanpa yeoja itu sadari.

 

Kyu Hyun mengamati wajah Yeon Hyo yang kembali muram dari kemarin. Menyedihkan.

Ditengah perjalanan Yeon Hyo melihat pemandangan yang sama sekali tak terduga sebelumnya. Dong Hae sedang berpelukan dengan seorang yeoja didepan gerbang sekolah lain. Membuat mata Yeon Hyo memanas. Pantas saja Dong Hae tak datang menjemputnya, ternyata ia sibuk menjemput yeoja lain. Dadanya terasa sesak.

Kyu Hyun melihat Yeon Hyo meneteskan air matanya tapi segera dihapus menggunakan punggung tangannya. Ia menoleh dan menyadari apa penyebab Yeon Hyo menangis. Ia mencoba mengatur napasnya yang juga ikut terasa sesak. Ia berjanji akan menghajar hyungnya itu.

 

 

*

 

“Jadi, kau kemana saja kemarin?” tanya Yeon Hyo sambil memasangkan sabuk pengaman. Dong Hae tidak langsung menjawab. Ia menyalakan mesin dan melajukan mobilnya membelah jalanan kota Seoul yang cukup padat sore itu.

Yeon Hyo menatap Dong Hae was-was. Berusaha mati-matian untuk tidak marah saat ini dengan berpura-pura tidak tau menau soal kejadian tadi pagi. Ia ingin mendengarkan penjelasan dari mulut Dong Hae sendiri.

 

“Aku– aku pergi menemui Park Hyo Young,”

 

‘Oh, jadi namanya Park Hyo Young? Bertemu dengan yeoja itu dan melupakan dirinya?’ batin Yeon Hyo berbicara.

 

“Park Hyo Young? Siapa dia?” tanya Yeon Hyo masih berpura-pura. Ia ingin mengorek informasi lebih banyak dari Dong Hae sekaligus ingin mengetahui apakah namja itu akan berkata jujur padanya.

 

“Park Hyo Youngdia… mantan kekasihku,”

 

 

JLEB.

 

 

Benarkah? Tidakkah ia salah dengar? Dong Hae berkata jujur mengenai yeoja itu didepannya? Kenapa terdengar begitu menyakitkan? Bukankah hal ini yang ia harapkan? Entahlah, hatinya seperti diserbu berpuluh-puluh pisau belati. Menyayat.

 

“Dan dia mengajakku untuk kembali,” lanjut Dong Hae tanpa raut wajah bersalah sedikitpun. Yeon Hyo menggigit bibir bawahnya.

 

“Maaf,” kata Dong Hae kemudian.

Satu tetes, dua tetes, Yeon Hyo tak bisa menghentikan air matanya yang jatuh tanpa permisi yang semakin lama semakin deras saja.

 

“Aku–”

 

“Cukup!” potong Yeon Hyo cepat.

 

“Sekarang kau pilih aku atau dia!”

 

“Maaf, aku tidak bisa–”

 

“Turunkan aku disini. Berhenti!”

 

Dong Hae menurut. Ia menepikan mobilnya dan dengan cepat Yeon Hyo melangkah keluar. Beberapa detik kemudian Dong Hae menjalankan mobilnya, meninggalkan Yeon Hyo di pinggir jalan.

 

Ya, Tuhan! Penderitaan apa lagi ini? Ia tidak pernah menyangka kalau Dong Hae benar-benar tega melakukan ini semua padanya. Ia mengira Dong Hae akan menahannya untuk pergi untuk setidaknya ia bisa mengantarkan Yeon Hyo sampai didepan rumahnya. Tapi apa? Dia tega meninggalkan Yeon Hyo sendirian dipinggir jalan lengkap dengan sakit yang ia tinggalkan. Benar-benar tak berperi kemanusiaan.

 

Dia, Lee Dong Hae. Seseorang yang mengajarkan Yeon Hyo apa itu bahagia dan berakhir dengan rasa sakit yang amat mendalam. Seolah Dong Hae adalah dewa yang diutus Tuhan untuk mengajaknya terbang tinggi di awan akan tetapi sedetik kemudian ia kembali menghempaskannya ke bumi tanpa ampun.

Rasanya baru kemarin Yeon Hyo diajak berkeliling surga, tetapi kini ia kembali dijeburkan kedalam panasnya api neraka. Benar-benar diluar dugaan. Tak pernah sedetikpun ia membayangkan hal memilukan seperti ini kembali menimpanya. Sakit. Sangat sakit!

Ia benar-benar terpuruk saat ini. Jauh lebih terpuruk dibandingkan peristiwa sebelas tahun silam. Kenapa dirinya kembali jatuh dalam perangkap namja? Tidakkah ia ditakdirkan untuk merasakan apa itu cinta? Kenapa ia begitu menderita? Adakah kata yang lebih dahsyat dari kata sakit? Jika ada, ia akan menggunakan kata tersebut untuk mendeskripsikan keadaannya saat ini.

Sepertinya Yeon Hyo akan kembali menarik perisai dirinya. Perisai yang mengatakan bahwa lelaki itu kejam, jahat dan tidak berperasaan. Ia bersumpah untuk tidak akan membiarkan kehidupannya dijajah oleh lelaki. Siapapun! Sungguh.

 

Air matanya kembali mengalir dengan deras. Ia memutuskan untuk berjalan mencari halte terdekat. Tepat pada saat itu sebuah mobil berhenti disebelahnya. Kemudian si pengemudi turun dan menghampiri Yeon Hyo.

 

“Yeon Hyo-ya, kau tidak apa-apa?” Kyu Hyun langsung menarik Yeon Hyo kedalam pelukan dan menepuk-nepuk pelan punggung Yeon Hyo.

Yeon Hyo ingin sekali meronta, tetapi kondisinya terlalu lemah dan pikirannya terlalu kacau.

 

“Kuantar kau pulang,”
Yeon Hyo hanya menurut saat Kyu Hyun mulai memapah tubuhnya dan mendudukannya di kursi penumpang disebelah Kyu Hyun. Sementara Kyu Hyun menatap iba kearah Yeon Hyo.

“Aku tidak ingin pulang, antarkan aku ke Sungai Han,” lirih Yeon Hyo disela isak tangisnya.

Kyu Hyun tak menjawab. Ia memutar setir dan membelokan mobilnya kearah Sungai Han.

Yeon Hyo mendongak saat tangan Kyu Hyun mengulurkan sesuatu kearahnya. Puding stroberi. Membuat Yeon Hyo tersentak kaget. Demi Tuhan, sakit.

 

Wae?” tanya Kyu Hyun dingin. Dengan ragu Yeon Hyo menerimanya. Lagi-lagi ia teringat pada namja itu. Namja setengah dewa yang telah mengambil sebagian jiwanya.

 

“Kau lemah,”

 

Lemah? Tentu saja. Bahkan Yeon Hyo sendiri tidak yakin apakah masih ada energi yang tersisa untuk ia gunakan berjalan. Rasanya terlalu lemah.

 

“Dan menyedihkan.”

 

“Terima kasih,” sahutnya dengan pandangan kosong.

 

“Eh?

 

“Kau tau kenapa Dong Hae tidak datang menjemputku?” Yeon Hyo tertawa sumbang. Memilukan.
“Itu karena dia sibuk menjemput yeoja lain.”

 

Kyu Hyun hanya menatapnya terluka. Ia tidak akan memeluk yeoja itu saat ini, ia membiarkan Yeon Hyo menangis terlebih dahulu. Karena Kyu Hyun yakin, seseorang sedikit lebih tenang ketika ia sudah menangis sampai puas. Tetapi bahunya selalu siap menjadi sandaran kapanpun Yeon Hyo membutuhkannya.

Dengan kesal Yeon Hyo menyendokan puding itu dan memasukan kedalam mulutnya.

 

“Ya! Makan puding saja masih seperti anak kecil. Berantakan. Sini,” Kyu Hyun memutar badan Yeon Hyo, mengeluarkan sapu tangan dari celananya kemudian ia gunakan untuk membersihkan noda disudut bibir Yeon Hyo dengan sangat perlahan. Yeoja itu menggumamkan kata terima kasih pada akhirnya.

 

“Ayo, kita pulang!” Kyu Hyun menarik –atau lebih tepatnya menyeret– tangan Yeon Hyo dengan kasar. Membuat yeoja itu memberontak.

 

“Ya, lepaskan!” Yeon Hyo berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman tangan Kyu Hyun.

 

“Ya! Hari sudah gelap, bodoh!”

 

“Ya! Bisakah kau lepaskan tanganmu? Sakit!” Kyu Hyun melepaskan tangan Yeon Hyo dengan sedikit mencibir.

 

“Ish, kau kasar!” Yeon Hyo balas mencibir sambil mengusap pergelangan tangannya yang masih terasa nyeri.

 

“Sekarang pulang. Kajja!”

 

“Eit, aku bisa jalan sendiri!” ucap Yeon Hyo sebelum namja itu kembali menyeretnya. Kyu Hyun hanya tersenyum meremehkan mendengar ocehan Yeon Hyo.

 

Namja ini! Yeon Hyo hampir melupakan tujuan sebenarnya ke Sungai Han. Bagaimana bisa ia menangis jika Kyu Hyun selalu membuka lahan perdebatan? Menyebalkan!

 

 

*

 

 

“Sedang apa kau disini?” tanya Yeon Hyo dingin ketika Kyu Hyun sudah berdiri didepan gerbang rumahnya dengan kedua tangan dimasukan kedalam saku celananya. Sepasang headphone bertengger menutupi kedua kupingnya. Kemudian Kyu Hyun menurunkan headphone tersebut dan memamerkan deretan gigi-gigi putihnya.
Kyu Hyun melihat lingkaran hitam dibawah mata Yeon Hyo tampak menghias wajahnya yang terbilang sangat cantik.

 

“Pergi ke sekolah denganmu,”

 

“Hah, kau?” Kyu Hyun mengangguk, membuat Yeon Hyo menertawakannya.

 

“Ya! Apanya yang lucu? Rumah kita satu arah, jadi tidak ada salahnya kita berangkat bersama. Memangnya tidak boleh?”

 

“Tidak.”

 

Wae?

 

“Bilang saja mau menjemputku! Gengsimu terlalu tinggi Tuan Cho. Turunkan sedikit!” sedetik kemudian Yeon Hyo tertawa lepas.

 

“Ya! Siapa yang mau menjemput yeoja menyebalkan seperti dirimu?”

 

“Ah, salah. Bukan tidak boleh tapi aku tidak mau.” sahut Yeon Hyo ketus. Pergi meninggalkan namja itu.

 

“Ish, jinjja!”

 

“Kyu Hyun-ah, wajahmu jelek sekali.”

 

Ya!”

 

“Hahaha,” Yeon Hyo berlari kecil menjauhi Kyu Hyun. Sementara Kyu Hyun tersenyum. Setidaknya ia sedikit lega melihat yeoja itu bisa tertawa seperti tadi. Usahanya tidak buruk bukan?
Ia mengedikkan kedua bahunya dan berlari mengejar Yeon Hyo.

 

 

Yeon Hyo berpapasan dengan Dong Hae sepulang sekolah setelah seminggu semenjak kejadian ‘turun mobil dipinggir jalan’ tempo hari. Ia menggigit bibir bawahnya kencang, ia tidak akan membiarkan air mata itu kembali turun tanpa permisi didepan namja setengah dewa didepannya itu. Sakit itu masih ada, masih begitu terasa. Tapi ia berusaha mati-matian membuang sakit itu.

Dong Hae menahan pergelangan Yeon Hyo tepat ketika ia maju satu langkah melewatinya. Membuat Yeon Hyo berhenti melangkah namun sama sekali tidak berniat untuk menoleh, sedikitpun.

 

“Aku ingin berbicara sebentar,”

 

“Aku sibuk,”

 

“Aku mohon. Sebentar saja,”
Yeon Hyo menurut. Duduk disebelah Dong Hae dengan pandangan lurus kedepan, tak menoleh barang sebentarpun. Sejujurnya Dong Hae tidak nyaman dengan keadaan seperti ini. Namun ia sadar ia pantas mendapatkannya. Dong Hae tersenyum samar.

 

“Pertama, aku mau minta maaf,”

 

“Lima menit,” timpal Yeon Hyo cepat. Dong Hae mengangguk pasrah.

“Waktu itu aku pernah bilang bahwa yang mengenalkanku pada bukit itu dan juga puding stroberi adalah sepupuku, bukan?” Yeon Hyo tak menjawab.

 

“Dan kau tau siapa sepupuku itu?” tanya Dong Hae yang sukses membuat Yeon Hyo menoleh.

“Dia… Cho Kyu Hyun. Orang yang tidak pernah kau anggap. Salah, maksudku teman masa kecil yang kau lupakan yang sebenarnya adalah orang yang sangat mencintaimu,”

 

“Kau tau, dia memukulku habis-habisan setelah aku meninggalkanmu dipinggir jalan tempo hari,”

 

“Dia juga yang menyuruhku melepaskanmu ketika dia mengetahui aku bertemu dengannya,”
Yeon Hyo menyipitkan matanya yang memang sudah sipit.

 

“Park Hyo Young maksudku,” Yeon Hyo mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh.

 

“Dia meninggalkanku selama dua tahun tanpa kabar. Dan sekarang dia kembali. Kau tak tau perasaan saat dia menelponku dan mengatakan ingin bertemu denganku. Aku bahagia. Sangat bahagia karena dia kembali. Dan bukan hanya itu, dia mengajakku kembali. Sungguh, tidak ada kebahagiaan yang bisa menandingi betapa  bahagianya aku saat itu,”
Entah kenapa Yeon Hyo tidak merasakan sakit itu lagi dan  air matanya seolah mongering begitu saja. Ia sudah mengikhlaskan kepergian Dong Hae dari hidupnya. Sungguh. Ia merasa hanya akan membuang-buang waktunya saja jika ia selalu bersedih mengingat kenangan-kenangan manis maupun pahit yang pernah Dong Hae berikan padanya. Move on.

 

“Tetapi Kyu Hyun melemparkan tinjunya tepat dipipi kananku,” Dong Hae menyentuh pipi kanannya dan meringis mengingat hari itu.

 

“Dulu aku memang hanya mendekatimu sebagai pelampiasan, tapi aku sadar kalau aku benar-benar menyayangimu… sebagai dongsaeng.”

Yeon Hyo menghembuskan napasnya yang tanpa terasa ia tahan.

 

“Karena sampai kapanpun cintaku hanya untuknya. Park Hyo Young,”

 

“Lima menit sudah habis,”
Yeon Hyo bangkit diikuti Dong Hae.

 

“Satu menit lagi. Aku mohon,”

 

“Kau pernah bertanya apakah aku setiap hari datang ke Sungai Han sambil membawa dua cup puding stroberi bukan? Jawabannya adalah saat itu tiba-tiba saja aku merindukan sosoknya. Dan aku teringat pada sepupuku, yang tak lain adalah Kyu Hyun, reflek aku membeli puding stroberi. Karena aku merasa tidak cukup dengan hanya membeli satu cup, aku memutuskan untuk membeli dua. Saat aku melihatmu seperti orang yang juga dalam masalah, aku memberikan satu cup tersebut untukmu. Berharap kau tidak bersedih lagi. Aku cukup tau dengan keterpurukan itu. Karena aku merasakannya.”

“Dan saat dibukit pertama kali kita kesana. Aku juga pernah mengatakan bahwa tempat itu sering aku kunjungi saat aku terpuruk. Terpuruk ditinggal pergi seseorang yang sangat aku sayangi. Dan orang itu adalah Park Hyo Young. Orang yang sampai saat ini masih memiliki tahta hatiku, sepenuhnya.”

 

“Oh, ya, apakah kau tidak pernah bertanya bagaimana bisa aku mengetahui tanggal lahirmu, warna favoritmu?” Yeon memiringkan sedikit kepalanya, mencoba mengingat. Kenapa ia sama sekali tidak mencurigai hal itu? Bodoh.

 

“Itu semua atas dasar bocoran yang Kyu Hyun berikan padaku. Dan kuakui, dia mengetahui banyak hal tentangmu.”

 

“Kau tau, pada awalnya aku hanya diminta Kyu Hyun untuk membantumu bangkit dari segala keterpurukan itu. Karena Kyu Hyun berpikiran ia tidak akan mungkin bisa melakukannya mengingat kau selalu menjauh darinya. Namun pada akhirnya aku mulai tertarik padamu dan aku… mencampakkanmu. Mianhae, jeongmal mianhaeyo.” Dong Hae melirik Guess yang melingkar manis pada pergelangan tangannya. Ia bangkit dan mengulurkan tangan kanannya.

 

“Terima kasih atas waktunya, Yeon Hyo-ssi.” Yeon Hyo tersenyum lemah sambil meraih tangan itu.

 

“Sekali lagi aku meminta maaf sebesar-besarnya. Tidak apa-apa jika kau tidak memaafkanku. Aku memang pantas untuk mendapatkan itu.”

 

“Aku sudah memaafkanmu,”

 

“Terima kasih kalau begitu. Dan satu hal, dia mencintaimu Yeon Hyo-ssi,” Dong Hae mengedikkan kepalanya kebelakang Yeon Hyo. Membuat yeoja itu menoleh dan melihat Kyu Hyun tengah berjalan kearahnya dengan sedikit tergesa.

 

“Ya, Hyung! Mau apa lagi kau bertemu Yeon Hyo?”

 

“Yeon Hyo-ya kau tidak apa-apa?” tanya Kyu Hyun sambil menarik lengan Yeon Hyo dan mulai meneliti setiap inci tubuh yeoja itu. Dong Hae tersenyum dan mendengus pelan.

 

Wae?”

 

See?” tanya Dong Hae yang ditujukan lebih kepada Yeon Hyo. Membuat yeoja itu kini memutar memori perjalanan hidupnya.

Benar juga, namja itu selalu ada ketika Yeon Hyo dalam masalah namun selalu ia tolak mentah-mentah. Namja itu juga selalu menawarkan pertolongan ketika Yeon Hyo membutuhkannya. Namun lagi-lagi ia mengacuhkannya. Ia lebih sering membalasnya dengan perdebatan-perdebatan sepele, bukan ucapan terima kasih yang seharusnya ia lontarkan. Seperti ketika ia kehujanan saat sedang menunggu bus, diam-diam Kyu Hyun akan memayunginya. Saat ia belum mengerjakan tugas matematikanya, Kyu Hyun akan meminjamkan buku catatannya. Saat ia lupa waktu berada ditoko buku untuk membaca dan mencari novel terbitan baru sampai ia harus kehabisan bus yang lewat, Kyu Hyun tiba-tiba saja menghentikan mobilnya tepat disampingnya kemudian mengantarkannya pulang. Dan masih banyak lagi yang tidak sepenuhnya ia ingat karena ia suka melupakan hal-hal yang menurutnya sepele. Atau dalam bahasa gaulnya dia sedikit pikun.

 

Ia tau bahwa ia sudah sering kali menyakiti dan mengabaikan perasaan Kyu Hyun. Tetapi namja itu masih setia mencintainya? Itu buruk.

 

Kyu Hyun menatap aneh kearah Dong Hae dan beralih pada Yeon Hyo yang terdiam untuk waktu yang cukup lama.

 

Wae? Ada apa ini sebenarnya?” tanya Kyu Hyun bingung.

 

Anni.” sahut Dong Hae penuh kemenangan dan melenggang pergi.

 

Ya, Hyung!

 

“Bye,” Dong Hae melambai tanpa menoleh.

 

“Kyu Hyun-ah, maaf sekaligus terima kasih. Kau sahabat terbaik yang pernah aku miliki.” Yeon Hyo menepuk pundak Kyu Hyun pelan. Dan meninggalkan Kyu Hyun yang masih belum sepenuhnya mencerna apa yang barusan terjadi.

 

“Ya! Tunggu aku!”

 

 

*

 

 

Yeon Hyo kesal setengah mati. Biasanya Kyu Hyun akan dengan sangat mudah di telpon untuk dimintai pertolongan. Tapi sekarang? Dari kemarin ponselnya selalu saja sibuk. Yeon Hyo  juga tak bisa menemukan namja berbentuk dewa yang sangat tampan namun sikapnya tidak jauh berbeda dengan iblis itu. Ia sudah  mencoba mendatangi rumahnya, namun kata Nyonya Cho ia sedang dalam pemotretan, kembali membuat Yeon Hyo menggeram.

.

“Kemana dia? Argh,” Yeon Hyo mengacak rambutnya frustasi.

Hari sudah malam. Sekali lagi ia mencoba menghubungi Kyu Hyun. Ia bersumpah jika Kyu Hyun tak mengangkatnya juga maka ini adalah kali terakhir ia menghubunginya. Ia tidak akan mau berbicara lagi dengannya. Ia bersumpah.

 

Satu detik.

 

 

Dua detik.

 

 

 

Tiga detik.

 

 

Empat detik.

 

 

“Yeoboseyo,” sapa sebuah suara diseberang telpon dengan sedikit ketus.

 

“Ya! Kau kemana saja? Kenapa akhir-akhir ini kau susah sekali dihubungi?”

 

“Aku sibuk,”

 

Jinjja? Apa– kau-baik-baik-saja?” tanya Yeon Hyo terputus-putus. Ia tak yakin apakah ia pantas mengkhawatirkannya. Kyu Hyun tersenyum walaupun ia yakin Yeon Hyo tak bisa melihatnya.

 

Wae? Kau mencemaskanku?”

 

Anni. Dasar menyebalkan,”
Hening untuk beberapa saat. Beberapa detik kemudian Yeon Hyo menepuk jidatnya saat ia mengingat sesuatu. Dan ternyata ia menepuknya dengan lebih keras dan sedikit kasar.

 

“Aw,” pekiknya dengan suara tertahan.

 

Wae? Kau kenapa?”

 

“Ah, anni. Kyu Hyun-ah, kau bisa.. eem.. menjemputku? Kau tau, ini sudah malam. Sudah tidak ada bus yang lewat.”

 

Mwo? Kau belum pulang? Kenapa bisa sampai selarut ini?”

 

“Aku harus menyelesaikan tugas untuk ujian besok,”

 

Jadi ini tujuan sebenarnya kau meneleponku?” Yeon Hyo meringis karena gelagatnya mulai terbaca.

Mianhae, aku tak bisa,” ucap Kyu Hyun pada akhirnya. Terdengar sangat menyesal.

 

“Ya! Percuma saja aku meneleponmu kalau ternyata jawabannya tidak.” sungut Yeon Hyo sebal.

“Ya sudah,” Yeon Hyo mematikan ponselnya secara sepihak. Ia menengok kekiri dan kekanan kemudian beralih pada arlojinya. 23.00 KST. Sepi.

 

Ia mulai melangkahkan kakinya untuk mencari taxi yang lewat. Namun tak kunjung ia dapatkan. Terpaksa, iapun berjalan kaki sambil mencari tempat yang lebih ramai. Ia kembali menengok kekiri, kekanan dan… kebelakang. Tiba-tiba saja bulu kuduknya meremang. Ia memutuskan untuk mempercepat langkahnya saat ia merasakan seperti ada seseorang yang mengikutinya. Ia menoleh tetapi tak mendapati siapapun disana, membuatnya sedikit berlari-lari kecil. Ia kembali merasakan kalau penguntit itu ikut berlari mengejarnya. Kini ia berlari sekencang yang ia bisa sambil tak hentinya memanjatkan doa.

 

Saat Yeon Hyo melewati gang kecil didekat perempatan jalan, tubuhnya ditarik oleh seseorang dengan baju serba hitam. Belum sempat ia berteriak, tangan orang berbaju hitam tersebut membungkam mulut Yeon Hyo kasar. Ia tak tau apa yang terjadi selanjutnya karena semuanya berubah menjadi gelap.

 

 

 

Yeon Hyo tersadar. Ia merasakan kepalanya berputar-putar dan sangat berat. Ia mengucek kedua matanya menggunakan tangan. Gelap. Dimana ia sekarang?

 

Ia mencoba mengingat-ingat. Kejadian yang berhasil diingatnya adalah ia sedang berlari-lari dikejar penguntit lalu seseorang berbaju serba hitam membungkam mulutnya dan kemudian semuanya hitam. Gelap.
Apakah ia diculik lalu dijadikan tawanan? Ia menoleh dan mendapati dirinya bersih dari ikatan-ikatan. Jika ia memang disandera pasti tangan dan kakinya sudah diikat dengan mulut dibungkam rapat. Setidaknya itulah yang sering ia lihat di TV.

 

Ia bangkit berdiri dengan tangan kanan memegang kepalanya yang masih berdenyut. Dan ia juga sedang tidak dikurung? Demi Tuhan, semua ini membuat kepalanya kembali berdenyut nyeri.

Ia terus malangkah dan menyadari bahwa dirinya berada di puncak sebuah apartemen –Star City Apartmen Tower C–. Yeon Hyo menatap takjub kesekeliling. Seakan sakit di kepalanya hilang begitu saja. Betapa tidak, pemandangan indah didepannya mampu menyentuh hatinya. Bunga mawar memenuhi lantai, dan tunggu! Astaga, bunga mawar itu membentuk tulisan Happy 21st B’Day Yoon Yeon Hyo dan mawar-mawar kecil lainnya yang membentuk angka-angka manis disana.140113. Yang berarti 14 Januari 2013. Kertas-kertas berwarna pink berbentuk hati berserakan menyambut kedatangannya. Yeon Hyo mulai memungut kertas-kertas itu satu persatu, membuka dan membacanya.

 

 

“Yeon Hyo bodoh,”

 

 

“Yeon Hyo ceroboh,”

 

 

“Yeon Hyo menyebalkan,”

 

 

“Kau cantik saat kau marah,”

 

 

“Yeon Hyo cerewet,”

 

 

Semua tulisan itu berakhir dengan I Love U dibawahnya. Sweet.

Yeon Hyo mengangkat wajahnya. Matanya menari-nari mencari sosok yang dirindukannya. Tak ada. Ia berjalan menuju meja. Terdapat satu mangkuk transparan yang berisi lilin berbentuk angka 21 disana. Sudut matanya menangkap sebuah kertas terselip dibawahnya.

“Haha, kau pasti mencariku? Kenapa? Merindukanku? Atau kau mau mengakui bahwa kau mulai terjatuh dalam pesonaku, eoh?” Yeon Hyo mendengus membaca tulisan tersebut.

Satu detik kemudian terdengar  ‘7 Years of Love’ milik Kyu Hyun Super Junior mengalun lewat ponselnya. Dengan tergesa ia mengeluarkan ponsel, menggeser layar dengan sentuhan jari dan menempelkannya ditelinga kanan.

 

“Bagaimana?” tanya sebuah suara sebelum ia sempat mengucapkan ‘yeoboseyo‘.

 

“Apanya?”

 

“Aish, jangan berpura-pura Yeon Hyo-ya.”

 

“Ya, Cho Kyu Hyun!” pekik Yeon Hyo begitu menyadari suara itu adalah suara Kyu Hyun. Ia tak sempat melihat nama yang terpampang di ponselnya.

 

“Saengil chukkae hamnida,
Saengil chukkae hamnida,
Saranghaneun uri Yeon Hyo,
Saengil chukkae hamnida…”

 

Kyu Hyun berjalan mendekat dengan kue tart berbentuk heels berwarna pink ditangannya. Terdapat beberapa lilin diatasnya yang jika di hitung berjumlah dua puluh satu. Sesuai umurnya.

 

Heels?” tanya Yeon Hyo membelalakkan matanya. ‘Benda terkutuk itu?

Yeon Hyo tertegun. Semua ini? Ulah Kyu Hyun? Dia sama sekali tak menyangka. Walaupun jauh dari kata romantis, ia cukup merasakan bahagia.

 

Make a wish,” seru Kyu Hyun mengingatkan. Yeon Hyo memejamkan matanyamenangkupkan kedua tangannya dan memulai mengucapkan permintaan.
Yeon Hyo menatap tart tersebut yang jika diperhatikan terdapat sebuah tulisan ‘I Love U’ diatasnya dengan lilin berwarna-warni yang diletakan memenuhi pinggiran kue tersebut. Yeon Hyo kembali tertegun.

 

“Saengil chukkae hamnida Yoon Yeon Hyo, bodoh!” Ujar Kyu Hyun sesaat setelah Yeon Hyo berhasil memadamkan lilin sejumlah 21 biji itu dengan susah payah.

 

Mwo?” Yeon Hyo mulai mengambil krim kue tersebut dan baru akan menempelkannya diwajah Kyu Hyun ketika Kyu Hyun mencegahnya.

 

“Belum saatnya Yeon Hyo-ya,” tepat setelah Kyu Hyun berucap seperti itu, kembang api kembali menghias langit malam itu. Persis dengan kejadian empat tahusilam. Hanya saja dengan orang yang berbeda. Yeon Hyo tersenyum.

 

“Dua puluh satu kembang api. Gomawo,” Kyu Hyun menempelkan jari telunjuknya pada bibir Yeon Hyo. Menyuruhnya untuk diam. Sedangkan Yeon Hyo menatapnya tak mengerti.

 

Kyu Hyun menunjuk langit. Sesaat kemudian kembang api kembali menyala. Tetapi kali ini kembang api tersebut menyisakan tulisan I Love U di langit. Membuat Yeon Hyo mengalihkan pandangannya, menatap Kyu Hyun dengan sebelah alis terangkat.

 

“Yoon Yeon Hyo, walaupun tidak ada hal yang kau percayai di dunia ini, tapi percayalah bahwa aku mencintaimu. Sepenuh hatiku.” ucap Kyu Hyun menarik tangan Yeon Hyo dan meletakan didepan dadanya. Yeon Hyo menunduk.

 

“Jika kau menerimaku sebagai namja chingumu, ambil dan pakailah ini. Tetapi jika kau menolak, kau boleh membuangnya.” jelas Kyu Hyun sambil mengulurkan kotak berisi cincin. Mengingatkan Yeon Hyo pada seseorang…

 

Yeon Hyo mengambil cincin tersebut. Sejenak ia terlihat ragu. Dan Kyu Hyun menatapnya dengan harap-harap cemas. Yeon Hyo menarik napas dalam, sedetik kemudian ia membuang cincin itu ke sembarang tempat. Seketika bahu Kyu Hyun turun. Melemas. Raut wajahnya menyiratkan kekecewaan yang mendalam. Ia hendak berbalik.

 

“Ya, Kyu Hyun-ah! Kau mau kemana?” Kyu Hyun tak menjawab dan tetap melangkah.

“Cho Kyu Hyun!” Yeon Hyo menarik tangan Kyu Hyun dan membalikkan badannya dalam sekali sentakkan.

 

Wae?” ucapnya tak bersemangat.

 

“Aku tak menyangka bahwa kau mudah sekali menyerah,”

 

“Apa maksudmu?”

 

“Kau jelek seperti itu. Dimana Cho Kyu Hyun yang suka sekali mengatakan’aku tidak menerima penolakan!’?” Yeon Hyo mencoba tersenyum. Ia bisa merasakan apa yang tengah dirasakan Kyu Hyun sekarang.

 

“Aku belum berkata apa-apa kenapa kau pergi begitu saja? Tak mau mendengarkanku, eoh?”
Kyu Hyun tak menoleh. Pandangannya lurus kedepan.

“Dengar, aku tak butuh cincin itu. Sama sekali tidak membutuhkannya. Karena yang aku terima bukan cincin itu  tetapi kau. Kau Cho Kyu Hyun! Aku mencintaimu sepenuh hatiku.” Seru Yeon Hyo dengan air mata yang menetes membasahi pipinya. Memberikan penekanan pada kalimat terakhir  Kyu Hyun mendongak. Ia tidak salah dengar kan bahwa Yeon Hyo juga mencintainya?

 

“Apa kau bilang barusan?”

 

“Aku mencintaimu,”

 

“Katakan sekali lagi!”

 

“Tidak akan.”

 

Kyu Hyun memeluk Yeon Hyo erat. Mendekatkan wajahnya dan melumat lembut bibir mungil Yeon Hyo. Mencoba menyalurkan seluruh perasaannya lewat ciuman itu. Karena ia sadar, dia bukanlah namja yang pandai merangkai kata, bukanlah namja yang pandai merayu gadisnya dengan beribu-ribu kata pujian yang manis dan memabukkan. Dia hanyalah Cho Kyu Hyun. Namja yang tampil apa adanya dengan sifat jailnya, cuek dan dingin lebih mendominasi. Tapi justru itulah yang membuat seorang Yoon Yeon Hyo mencintainya. Karena ia berbeda.

 

Suara tepuk tangan menghentikan aksi cium mereka.

 

“Huah, selamat, selamat!”

 

“Ya, Hyung! Apa yang kau lakukan disini? Mengganggu saja,” sungut Kyu Hyun kesal. Sedangkan Dong Hae hanya tersenyum dengan seorang yeoja manis berdiri disampingnya. Membuat Yeon Hyo maupun Kyu Hyun saling melemparkan pandang.

 

“Kenalkan, Park Hyo Young, yang ini Yeon Hyo dan itu Kyu Hyun.”

 

Anyeong, Park Hyo Young imnida.” yeoja yang dipanggil Hyo Young itu memperkenalkan diri. Hyo Young berjalan mendekat dan memberikan sesuatu pada Yeon Hyo.

 

Saengil chukkae,” ucap Hyo Young sedikit gugup.

 

“Gomawo,”

 

Ne.”

 

Yeon Hyo memperhatikan Kyu Hyun intens. Dan ia baru menyadari bahwa baju yang Kyu Hyun kenakan serba hitam. Mengingatkannya pada…

 

“Dan Yeon Hyo-ya, ada hal yang harus kau ketahui. Orang yang mengikutimu saat kau akan mencari taxi sepulang dari kampus, atau yang kau sebut sebagai penguntit, adalah Dong Hae Hyung. Dan orang yang membungkam dan membawamu kesini adalah aku sendiri.” aku Kyu Hyun yang membuat Yeon Hyo membelalakkan matanya bulat-bulat.

 

Mwo? Jadi semua ini rencanamu?” Yeon Hyo mengangkat tangannya untuk melemparkan kue kearah Kyu Hyun. Namun ia kembali mengurungkan niatnya saat…

 

“Aku punya satu hadiah lagi untukmu,” ucap Kyu Hyun membuat Yeon Hyo mengernyit.

 

“Tadaaaaa!” seru Kyu Hyun sambil mengangkat boneka berbentuk kodok tepat dihadapan Yeon Hyo. Membuat yeoja itu berteriak kencang.

 

“Ya! Jauhkan benda menjijikkan itu dari sini!”

 

 

 

EPILOG.

“Kau tau, kenapa aku selalu menyebutmu mermelaid boy?” tanya Yeon Hyo yang tengah telentang diatas rerumputan sambil memandang langit yang dipenuhi bintang malam itu.

 

“Kenapa?”

 

“Karena kau persis dengan mermelaid,” Yeon Hyo mengacungkan sebuah botol berisi selai. Dibagian luar botol tersebut terdapat tulisan huruf kapital besar-besar. MERMELAID.

Kyu Hyun menoleh. Merasa belum puas dengan penjelasan Yeon Hyo.

 

“Diluarnya saja kau selalu bersikap dingin, cuek, dan tak jarang kau berbicara pedas. Namun kita akan tau bahwa seorang Cho Kyu Hyun adalah orang yang baik, sangat baik bahkan, ketika kita sudah mengenalnya lebih dekat. Sama seperti saat kita melihat mermelaid ini,” Yeon Hyo kembali mengangkat botol tersebut.

 

“Kau akan beranggapan bahwa selai ini tidak enak sebelum kau mencobanya.”

 

Gomawo,”
Yeon Hyo tersenyum. Kyu Hyun menoleh dan juga melemparkan senyum yang sama.

 

“Saranghae Yoon Yeon Hyo, bodoh.”

 

 

“Na do saranghae my Mermelaid Boy.”

 

END

Note : Ini Peserta FF LOMBA Musim kedua, tolong beri komentar kalo udah selesai baca ya ^^

Komentar kamu sangat penting buat peserta lomba :D

Terima kasih sebelumnya.

26 thoughts on “HKS 04 – FF Lomba “Mermelaid Boy” [OneShoot]

  1. kya kya kya demi PSP Kyuhyun(?)
    hahaha ini romantiiiiiis
    uwooooo
    ckckck org yg slama ini gak dianggap org yg akan sllu mncintai Yeon hyo hingga akhir
    eheem mian kalau kata2ku menjijikkan
    wkwkwk
    aku pling mlas ngeluarin kata2 aneh gtu hihi
    uh Lee donghae
    ckckck
    kya kya eonni author(?)
    KyuHyun mmng bsa berubah saat mnyukai sseseorang hahaha#fact

    ihiiiiiy
    ini FF sweeeeeeeeet

    gak ada lagi eonn????

  2. huahahaha.. nika eonniii…
    ini apa??? kenapa namjamu (Re : donghae) romantis sekali….
    nyesekdi tengah-tengah terbayarlah dengan ending yang sweet ngelebihin gula.. #plak
    dan oooh… ternyata bocah selai (?)… hahaha…
    kereen eonni.. ^^

  3. K.E.R.E.N..
    Suka bnget sma cerita ini..
    Aaa.. Awlnya bngung Yeon Hyo bsa sma Donghae.. Tp akhirnya ttep sma Kyuhyun *ya iyalah..🙂

    Envy bnget sma Yeon Hyo eonni, dpt kjutan special dri 2 namja kece badai, hahaha

    Buat authornya.. FF ini Daebakk..
    D tunggu karya slnjutnya..

  4. kekekeke……
    romantis bgd kyuhyunnya..
    tpi konflik ttg p’debatan yg hyokyu biasanya kurang banyak.. #pissss…
    and gmana kbarnya psp kyuhyun ya??
    tpi, ff ni daebak eon….

  5. Baaguuus ceritanya. Unik.haha
    Yaa walaupun awal” banyak yeon hyo sama donghaenya.haha
    Tpi ini aku kasih 2 jempol..hihi
    Semoga menang🙂

  6. Hiih keren.paling suka pas kyu nya sok2 nolak jemput trus ksh kejutan..hyo nyeremin deh di awal misterius gtu..
    Coba di rinciin lg pas bagian2 kyu nya yg atas.haha *plak

  7. *colek donghae..
    Campur2😀
    ngenes, ketawa, ada deg2n sh aku rasa..
    Kekekek~
    kyuhyun memang pantang menyerah..
    Dan ini semua, tentang stroberi..
    Sukaaa..😄

  8. Ckckck a͡​kυ͡ kira bener penguntit ternyata..
    Calon appa tiri’a gmna? Uϑªªh dpet restu?

    Akhir’a cinta kyu terbalas, †̥ǻþΐ lama Y‎ªªăɑ nunggu lagi 4taon..

    Kereenn ff’a..😀

  9. aku awalnya mau protes, soalnya, di awal cerita main castnya kyk donghae n yeon hyo,. soalnya moment donghae n yeon hyo nya terlalu byk, tp ending nya kece,..🙂

  10. Aku agak bingung bacanya😐
    itu lho,,tentang ulang tahun yeon hyo yg ke 17 trus ga lama kmudian langsung ke ulang tahun nya yg ke 21 .hehe m’f ya …mungkin otak ku lgi dong-dong ,,jdi baca nya agak ribet.
    Tpi Ff nya BAGUS ko …🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s