HKS 02 – FF Lomba “Different” [OneShoot]

h

Tittle    : Different

Author : Prama a.k.a Park Ra Ra

Genre  : Romance, fantasy, little hurt

Cast     : Cho Kyu Hyun, Yoon Yeon Hyo.

Length : 5983 words

Disclaimer : Fanfiction ini hanya milik Prama a.k.a Park Ra Ra semata. Jangan mengakuinya sebagai milikmu. Cho Kyu Hyun di Fanfiction ini ataupun dimana saja hanya milik Ra Ra #maaf Icha eonni dan spakyu, saya tidak mau berbagi sekarang. Kekekekek~~#

SAY NO TO PLAGIARISM! DON’T COPY PASTE this FF except you save it for yourself or share it.

 

***

STORY BEGIN à

Pria berbadan tegap dan ramping itu tengah berjalan pelan diantara bunga-bunga musim semi yang kini mulai bermekaran. Pria itu menghirup nafas panjang. Matahari tak terlalu terik hari itu sehingga kulit pria tak terbakar teriknya matahari. Ia memalingkan wajahnya ke arah segerombolan kuda-kuda yang berlari tidak karuan ke arahnya. Ia lantas berlari menghindar karena hal itu, tanpa spengetahuannya pijakan kakinya mengeluarkan api, hingga meninggalkan bekas di rerumputan.

“Seharusnya aku tidak berlari terlalu cepat.” Gumamnya setelah menyadari bekas pijakannya hangus. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, mata bulatnya menelusuri sekelilingnya. Ia berharap ada dewi air yang berlalu di hadapannya saat itu, karena api dapat dipadamkan dengan air.

“Kyu Hyun-ah… Apa yang kau lakukan hingga rumput itu terbakar?” Suara itu terdengar jelas di telinga pria itu. Iapun segera menjawab meskipun ia tak tahu siapa pemilik suara itu.

“Aku hanya berlari. Tapi sepertinya Fervencyku terlalu banyak terbuang.” Sahutnya. Ia lantas berjalan pelan mencari sumber suara. Dari kejauhan nampak seorang gadis bergaun merah berjalan pelan ke arahnya, terlihat jelas bahwa dia bukan manusia biasa, karena itu merupakan daerah kekuasaan klan api. Klan api merupakan klan yang dihuni manusia-manusia berkemampuan luar biasa dan mengatur kehidupan di dunia ini. Pria bernama Kyu Hyun itu tersenyum lebar.

“Ra Ra-ya… Sedang apa kau disini?” Tanya Kyu Hyun lalu berjalan mendekat ke gadis berambut panjang itu. Wajah gadis itu diliputi dengan cahaya yang selalu menemaninya, ia lebih bersinar dibanding anggota klan api lainnya.

“Aku hanya berjalan-jalan tapi kuda-kuda itu sepertinya merasa silau sehingga berlari terbirit-birit.” Jawabnya. Ekspresi wajah Kyu Hyun berubah.

“Jadi kau penyebabnya?” Ucap Kyu Hyun geram.

“Mianhae. Aku tidak tahu.” Jawab   gadis itu dengan senyuman yang tak dapat diartikan.

“Jelas saja kuda-kuda itu berlari. Berada di dekatmu seperti ini serasa berada di dekat matahari yang sebenarnya, terasa panas dan menyilaukan.” Gadis itu tersenyum simpul lalu berjalan beriringan dengan Kyu Hyun, si pria api.

***

“Yeon Hyo-ya!!” Pekik seorang pria tampan itu. Gadis cantik itu semakin mempercepat langkahnya.

“Hati-hati. Jika kau mengeluarkan Fervency berlebihan, kau akan membahayakan keselamatan umat manusia.” Pekik pria itu lagi. Ia sudah menyerah mengejar gadis itu, gadis itu sudah melesat cepat dan tidak diketahui dimana dia sekarang.

Gadis cantik bernama Yeon Hyo itu menghentikan langkahnya diantara ilalang yang tinggi. Nafasnya masih belum teratur setelah berlari menghindari kakak laki-lakinya. Rambutnya sudah berantakan dan bagian bawah gaun sudah basah karena ulahnya sendiri.

Yeon Hyo memperhatikan sekelilingnya. Di benaknya kali ini adalah disini tidak seperti daerah kekuasaan klan air. Begitu menenangkan baginya. Kuncup-kuncup bunga plum terlihat samar-samar diantara ilalang yang tinggi disekitarnya.

“Donghae oppa mungkin marah besar padaku.” Ucap gadis itu pelan. Matanya berubah menjadi sendu. Ia terdiam dan menenggelamkan dirinya dalam khayalan yang sedari tadi ia rajut. Karena khayalan itu pula ia dimarahi oppanya, bagaimana tidak, sepatu yang harus dipakai oppanya saat itu tersiram air panas hingga kulitnya mengkelupas.

“Kasihan sekali, Oppa tidak bisa menjalankan tugasnya tanpa sepatu itu. Eotokkhae?” Gumamnya pelan. Ia menggeliat pelan dan berjalan meninggalkan padang ilalang itu.

Ia tak tahu bahwa ia sudah dekat dengan daerah kekuasaan klan Api. Jika ia melanggar perjanjian nenek moyangnya, tentu itu akan membuat pertikaian antara klan api dan air. Sejak dulu, klan api dan klan air sudah bermusuhan. Sebenarnya klan api dan air diciptakan sama, tetapi terdapat beberapa perbedaan yang membuat mereka harus saling berjauhan. Klan air nampak lebih lemah dibanding klan api, karena air mata mereka dapat mengurangi kadar Fervency di diri mereka. Jika itu terjadi, maka mereka akan mati sia-sia.

***

“Kyu Hyun-ah… Eomma akan menikahkanmu dengan Park Ra Ra sesegera mungkin. Jika kau menikah dengannya, keturunan keluarga Cho akan menguasai klan api. Ra Ra adalah dewi matahari sedangkan kau dewa api, maka anakmu akan menjadi sangat kuat Kyu Hyun-ah.” Jelas ibu Kyu panjang lebar. Tapi sepertinya Kyu Hyun tidak tertarik dengan ocehan ibunya itu. Ia masih berfokus pada panah yang dipegangnya.

“Eotte?” Tanya ibunya kemudian. Wanita paruh baya itu sangat mengharapkan agar putranya mau menikah dengan gadis pilihannya itu. Raut wajah sang ibu memelas, tapi itu semua tak dapat mengubah jawaban Kyu Hyun. Kyu Hyun tetap menggeleng keras.

“Pabbo!! Apa yang kau inginkan? Kau sudah cukup untuk menikah, bahkan sekarang kau sudah menjadi dewa api.” Ibu Kyu Hyun berkacak pinggang lalu berjalan meninggalkan Kyu Hyun kesal. Ia lantas membanting pintu dengan keras. Ibunya memang mengharapkan seorang cucu yang kuat, karena dirinya sendiri tidak memiliki kelebihan yang menonjol menurutnya.

Seorang dewa Api seharusnya menikah saat ia naik tahta. Tapi Kyu Hyun berbeda, ia sudah diembani tugas untuk mengurus segala urusan di dunia yang berhubungan dengan api sebelum dia menikah. Ia pria yang gagah tapi cenderung tidak peduli dengan masalah orang lain. Ia kaku jika berada di dekat perempuan, menjalin asmara dengan perempuan sama sekali belum terjadi di kehidupannya. Oleh karena itu, ada hal yang perlu dikorek dari diri Kyu Hyun dan menjadikannya menarik di mata para dewi maupun anggota klan yang tidak memiliki kedudukan.

Saat itu ia masih sibuk berkutat dengan panahnya. Entah apa yang ada dipikirannya saat itu. Bahkan ia sendiri tidak tahu tujuannya bermain-main dengan panah yang dipegangnya itu.

“Song Ahjumma ! Beri tahu pada eomma bahwa aku pergi berburu.” Pekiknya lalu meninggalkan tempatnya sebelumnya. Terdengar teriakan dari dalam rumah, tanpa mendengar teriakan dari pelayannya itu, ia segera berjalan pergi.

Pria itu merapikan jaket kulitnya yang sempat kusut. Ia menatap langit, memperhatikan burung-burung yang hinggap di pepohonan. Segerombolan burung gereja itu seakan melantunkan paduan suara acapella yang begitu merdu. Mentari semakin tinggi, pria itu cepat-cepat memicingkan matanya saat ia sudah menemukan target yang tepat. Ia menarik anak panahnya lalu melepasnya dengan gagahnya.

“Sialan.” Umpatnya kemudian saat anak panahnya meleset dari targetnya. Ia berjalan pelan ke arah selatan dan bersembunyi di antara ilalang-ilalang yang cukup tinggi. Rusa jantan yang tengah menikmati makannya menjadi sasarannya sekarang. Ia menarik anak panahnya lagi lalu melepasnya. Anak panahnya melesat dengan cepat dan menghunus perut rusa jantan itu. Ia tersenyum penuh kemenangan.

“Hei! Kenapa kau memanahnya?” Suara seorang wanita samar-samar didengarnya dari kejauhan. Ia berjalan di antara ilalang yang tinggi untuk menemukan sumber suara itu. Pria tampan itu begitu penasaran pada perempuan itu, ia bersikeras mencari yeoja itu.

“Kau, kau apakan rusa buruanku?” Tanya Kyu Hyun kasar lalu mempercepat langkahnya. Ia mendorong tubuh gadis cantik itu.

“Aku mengobatinya.” Sahut gadis itu lalu kembali mengobati luka di perut rusa jantan di hadapannya.

“Ini yang akan menjadi santapan kami.” Kyu Hyun menarik gadis itu agar menjauh. Ia membawa hasil buruannya pergi tanpa menggubris gadis yang tadinya mengobati rusa itu. Gadis itu mulai kesal karena perilaku pria di hadapannya, ia melemparkan sesuatu dari saku gaunnya.

“Ternyata kau dari klan air. Berani-beraninya kau melawanku?” Ucap Kyu Hyun setelah merasakan tetesan air di punggungnya. Ia melepaskan rusa yang semula digendongnya lalu berjalan mendekat ke arah gadis itu.

“Pabbo! Apa kau tak memiliki belas kasihan? Rusa itu sedang sekarat dan kau seenaknya membunuhnya.” Pekik gadis itu di hadapan Kyu Hyun. Kyu Hyun memperhatikan gadis itu dari ujung kaki hingga ubun-ubunnya lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.

“itu cara kami bertahan hidup. Apa klanmu tidak melakukan hal itu? Itu sudah biasa.” Kyu Hyun mencibir gadis itu.

“Klanku melakukan hal itu, tapi aku tak tega pada rusa itu.” Ucap gadis itu sambil menatap rusa yang merintih kesakitan itu.

“Siapa namamu?” Tanya Kyu Hyun sambil menarik dagu gadis itu.

“Kau tak perlu mengetahuinya jika aku tak diperbolehkan mengobati rusa itu.”

“Baiklah. Silahkan obati rusa itu, kami bisa berburu burung-burung itu.” Kyu Hyun memperhatikan burung-burung yang terbang di angkasa lalu tersenyum lebar. Ia menarik anak panahnya lalu hendak memanah salah satu dari segerombolan burung itu.

“Jangan lakukan itu didepanku.” Cegah gadis itu sambil menahan tangan Kyu Hyun. Kyu Hyun jengkel lalu meletakkan beberapa anak panahnya di atas rerumputan. Gadis itu kembali sibuk memoleskan ramuan yang baru saja dibuatnya dari dedaunan yang ditemukannya.

“Siapa namamu?” Kyu Hyun menatap gadis itu.

“Namaku Yoon Yeon Hyo.”

***

“Yeon Hyo-ya! Darimana saja kau? Apa yang kau bawa? Jangan bilang kau pergi ke padang ilalang itu lagi. Eomma mencarimu sedari tadi.” Kedatangan Yeon Hyo disambut dengan pertanyaan bertubi-tubi dari kakak laki-lakinya. Ia menghela nafas panjang lalu menghembuskannya pelan sebelum ia menjawab pertanyaan dari kakaknya.

“Oppa benar, aku baru saja dari padang ilalang. Aku mengambil beberapa daun mint dan jahe.” Yeon Hyo berjalan ke arah kamar tidur ibunya. Ia membuka tirai putih dihadapannya.

“Eomma..”

“Yeon Hyo-ya. Bukankah kau membawa jahe? Cuaca mulai dingin, kau tahu apa yang harus kau lakukan kan?” Ibu Yeon Hyo memalingkan wajahnya ke arah Yeon Hyo. Wanita paruh baya itu kembali larut dalam aktifitasnya merajut sebuah syal biru laut.

“Ne, eomma. Arraso.” Yeon Hyo meninggalkan ibunya lalu pergi ke dapur sesuai perintah ibunya.

Matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Sang rembulan perlahan menggantikan sang mentari. Desiran angin malam membuat hawa menjadi dingin. Gadis itu melingkarkan syal biru laut yang baru saja diselesaikan ibunya ke lehernya. Ia menyesap jahe panas yang telah dibuatnya lalu menyandarkan kepalanya di sebuah kursi kayu. Meskipun ia adalah dewi air, ia tetap membutuhkan kehangatan layaknya manusia biasa. Hanya saja dia memiliki sebuah tugas yang harus diembannya sehingga dia disebut Dewi air.

Ia memejamkan matanya sejenak. Pria tadi sore itu masih menghantui pikiran gadis itu. Mengapa aku memikirkan pria itu? Batin gadis itu.

“Aku akan kembali ke padang ilalang. Aku merasa ketagihan dengan senyumnya.” Gumamnya kemudian. Ia kembali menyesap jahe panasnya dan memperhatikan bintang-bintang di langit. Dua buah bintang bersinar lebih cerah dari yang lainnya. Ditemani dengan sebuah bulan yang menemani keduanya.

***

Kau seperti candu bagiku

Seolah-olah itu opium yang membuatku ketagihan

Hanya sekali aku melihatmu

Tapi kau membuatku ingin lagi, lagi, dan lagi

 

***

“Kyu Hyun-ah. Kau mau kemana lagi?” Tanya ibu Kyu Hyun. Pria itu menjawab dengan malas dan mengacak-acak rambutnya kesal. Menurutnya ibunya terlalu mengkhawatirkannya seolah-olah ia adalah anak tunggal di keluarga itu. Padahal, kakak perempuannya seperti iri padanya, oleh karena itu ayahnya lebih menyayangi kakak perempuannya itu.

“Eomma. Aku pergi dulu, mungkin aku akan pulang agak malam. Kau tak perlu mengkhawatirkan aku,” Ucap pria itu sebelum pergi. Ibunya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tak habis pikir dengan anak laki-laki satu-satunya itu, ia terlalu keras kepala dan tak mau diatur. Satu lagi, di pikirannya hanya ada kehidupan yang menenangkan tanpa gangguan orang lain tak pernah terbersit di otak pria itu untuk berbagi sedih senang kehidupannya dengan siapapun.

Kyu Hyun berlari-lari kecil diantara ilalang yang cukup tinggi itu. Ia menebas ilalang itu dengan pedangnya. Pikirannya sama dengan gadis yang kemarin ia temui. Seperti ada sebuah magnet di diri gadis itu sehingga memaksa Kyu Hyun menemuinya kembali. Firasatnya mengatakan bahwa gadis itu akan pergi ke tempat yang sama dengannya.

Benar saja, gadis itu memang pergi ke tempat kemarin mereka bertemu. Cahaya matahari sore membuat Kyu Hyun harus menyipitkan matanya saat melihat gadis itu. Ia menari-nari dikelilingi segerombolan burung yang memberikannya sebuah alunan musik sebagai pengiriang tariannya.

“Yoon Yeon Hyo!” Kyu Hyun meneriakkan namanya lalu mepercepat langkahnya. Gadis itu menghentikan aktifitasnya lalu menolehkan kepalanya ke arah sumber suara. Ia lantas tersenyum manis ke arah Kyu Hyun.

“Sedang apa kau disini?”

“Bermain.” Jawab gadis bernama Yeon Hyo itu. Segerombolan burung itu berhamburan pergi saat Kyu Hyun mendekat. Bagi Kyu Hyun, gadis itu seperti seorang cinderella. Begitu baik hati pada siapapun.

Kyu Hyun mengangguk-anggukan kepalanya. Ia meletakkan pedangnya dan duduk di atas rerumputan hijau itu. Bunga-bunga dandellion sudah ada mengering, membuat gadis itu ingin meniupkannya ke udara.

“Yeon Hyo-ya…”

“Hem?” Kyu Hyun mengerutkan keningnya. Gadis di dekatnya ini begitu dingin. Kenapa aku jadi gugup seperti ini? Batin Kyu Hyun. Ia masih fokus meperhatikan gadis yang menggunakan gaun selutut berwarna merah hati itu.

“Kau tak bertanya namaku?” Kyu Hyun menunjukkan seringaiannya dan dibalas dengan seringaian pula oleh Yeon Hyo. Yeon Hyo kembali fokus pada bunga dandellion yang dipegangnya sementara Kyu Hyun masih bingung ingin berkata apa.

“Tak perlu. Pikiranku sudah penuh dengan berbagai masalah yang aku hadapi. Untuk menyimpan memori namamu sepertinya sudah tidak muat lagi.” Yeon Hyo menatap Kyu Hyun tajam. Ia membuang bunga dandellion yang dipegangnya lalu duduk bersandar di sebuah pohon eucaliptus. Yeon Hyo melirik sekilas ke arah Kyu Hyun. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Apa yang terjadi padaku, Batinnya.

“Namaku Kyu Hyun.” Kyu Hyun menautkan alisnya dan menatap Yeon Hyo ragu. “Apa permasalahan yang kau emban terlalu banyak. Sepertinya menjadi dewi air itu tak mudah.”

“Ne, kau benar. Aku ini seperti tumbal yang direlakan oleh klanku. Menjadi dewi air tak semudah yang aku kira. Meskipun aku sama seperti manusia lainnya, aku terlanjur memiliki suatu kewajiban yang sudah diembankan padaku sejak kecil, tapi menjalankannya saat ini. Tapi, klanku tak sekejam klanmu, aku masih bisa hidup bebas tapi tak sebebas burung-burun itu berterbangan.” Papar Yeon Hyo dan menatap Kyu Hyun sinis.

“Mwo? Apa kau tidak bisa menjaga mulutmu? Gadis bodoh!”

“Kau yang bodoh.” Balas Yeon Hyo. Matanya terpejam dan merasakan desiran angin sepoi-sepoi yang berembus. Ia menghirup nafas panjang lalu membuka matanya lebar-lebar.

“Hei! Aku tak sebodoh dirimu yang mudah saja berucap.” Kyu Hyun melototi gadis itu lalu bangkit dari duduknya.

“Dewa api macam apa dirimu? Begitu saja tidak bisa mengontrol emosi.” Cibir Yeon Hyo lalu berjalan mendekat ke arah Kyu Hyun. Ia membisikkan sesuatu ke telinga Kyu Hyun.

“Kau berhasil membuatku jengkel karena wajahmu itu.” Bisik Yeon Hyo dan tertawa puas setelah membisikkan itu.

“Mwo? Kau menyebalkan.”

***

Dua orang anak manusia itu berjalan beriringan di tepi sebuah danau. Sinar matahari sore benar-benar menyilaukan saat itu. Gadis itu membenarkan topinya sedangkan pria disampingnya tetap berjalan tanpa menggubris gadis yang meneriakkan namanya itu.

“Hei Bodoh!! Chakkaman.” Teriak Yeon Hyo dengan muka kesal. Meskipun baru kenal dengan Kyu Hyun, Yeon Hyo rasanya sudah menunjukkan watak aslinya dibalik muka polosnya. Gadis itu sedari tadi sudah memanggil Kyu Hyun dengan sebutan ‘bodoh’.

“Diamlah Kutu air, kau lambat sekali.”

“Kutu air?”

“Ne, Kutu air.”

“Kenapa kau menyebutku kutu air huh?” Yeon Hyo mulai tak sabar menghadapi pria bernama Cho Kyu Hyun itu. Ia mendekat ke arahnya melototkan matanya. Ia menghela nafas berat sebelum meluapkan semuanya.

“Kau kira aku kutu air yang mengganggu orang. Hei bodoh, asal kau tahu meskipun kau menyebutku kutu air, tapi ibuku memperlakukan aku seperti seorang putri. Putri mereka ini selalu dibanggakan oleh mereka, jadi kau tak pantas menyebutku kutu air karena aku ini seorang putri…” Yeon Hyo menghela nafas sebelum ia melanjutkan perkataannya sehingga berkesan sedikit dramatis. “di keluargaku.” Lanjutnya kemudian. Kyu Hyun tertawa keras.

“Aku tahu itu, tapi jika kau disebut seorang putri. Apa yang terrjadi pada dunia ini?” Kyu Hyun melanjutkan tawanya dan sukses membuat Yeon Hyo merubah ekspresinya. Wajah Yeon Hyo merah padam, ia menghela nafas berat lalu berjalan ke arah Kyu Hyun kesal.

“Kau puas membuatku jengkel? Apa kau pikir kau bisa mempermainkan emosiku?” Tanya Yeon Hyo sambil menarik kerah baju Kyu Hyun. Matanya menatap Kyu Hyun tajam. Kyu Hyun mengerutkan keningnya sebelum menjawab pertanyaan gadis itu.

“Mungkin. Kau seperti sebuah mainan dalam kehidupanku yang membosankan ini.”

“Tadi kutu air, sekarang mainan. Cho Kyu Hyun!!!!!”

“Sudahlah nona Yoon, sebaiknya kita bermain di atas perahu, meskipun itu sedikit menakutkan karena hari mulai gelap.” Ajak Kyu Hyun sambil mencengkeram pergelangan tangan Yeon Hyo erat. Pria itu menyodorkan sebuah dayung ke arah Yeon Hyo lalu menoleh ke arah air danau, ia seolah-olah memberikan isyarat agar Yeon Hyo yang mendayung. Yeon Hyo merebut dayung itu dengan kesal.

“Jika aku sudah kehilangan rasa kemanusiaanku, aku tentunya sudah membuangmu ke danau ini hingga kau mati karena air.” Ujar Yeon Hyo kesal. Pipinya menggembung dibawah sinar remang-remang bulan. Tangannya dengan lihai menggerakkan dayung, sementara Kyu Hyun tengah bersandar di ujung perahu. Pria itu memberi sedikit celah di kelopak matanya agar tetap bisa memperhatikan gadis cantik di depannya.

“Kyubo… Aku mau pulang, jika kau tetap bermain disini dayung sendiri perahunya.” Yeon Hyo mengejutkan Kyu Hyun dengan suaranya. Kyu Hyun hampir saja terlelap di perahu itu. Yeon Hyo segera turun dari perahu dan berjalan meninggalkan Kyu Hyun. Kyu Hyun menatap punggung gadis itu yang semakin lama semakin menjauh. Hingga pada akhirnya siluet tubuhnya sudah tak tampak lagi. Pria itu menggertakkan kakinya di tanah sebelum ia pergi meninggalkan tempat itu, meninggalkan suatu jejak kaki disamping jejak kaki kecil disampingnya.

***

“Klan api melanggar perjanjian !!!” Pekik pria yang berusia kira-kira lima puluh tahun itu sekencang-kencangnya. Yeon Hyo masih membenamkan kepalanya di bantalnya lalu menutup kedua telinganya dengan selimut putihnya.

“Yeon Hyo-ya…. Ireona…” Ibu gadis itu, Yoon Jin Ah menepuk-nepuk pipi gadis itu pelan. Gadis itu menggeliat pelan di atas ranjangnya lalu membuka matanya sekilas. Ibunya tersenyum manis, tapi gadis itu justru menutup matanya kembali dan melanjutkan tidurnya yang sepertinya mengasyikkan.

“Yeon Hyo-ya… Ireona!” Kini giliran kakak laki-lakinya yang memncoba membangunkannya. Ia mencubit pipi gadis itu gemas.

“Aish, mengganggu saja,” gerutu Yeon Hyo lalu menarik selimutnya lebih tinggi hingga menutpi seluruh tubuhnya dengan benda putih itu.

“Cho Kyu Hyun memanggilmu.” Ucap Donghae dengan nada kesal. Ia lantas tersenyum nakal ke arah ibunya. Ibunya tersenyum lalu memantapkan perkataan Donghae.

“Ne, Kyu Hyun mencarimu.” Ibunya terkekeh pelan. Yeon Hyo segera bangkit dari tidurnya dan segera berjalan ke ruang tamu dengan sempoyongan.

“Dimana? Dia harus mendapat pelajaran.” Tanya Yeon Hyo heran sambil mengacak-acak rambutnya yang berantakan. Donghae tertawa puas saat melihat adik perempuannya ini menatapnya heran. Yeon Hyo membelalakkan matanya, saat menyadari sesuatu.

“Darimana kau tahu nama Cho Kyu Hyun?” Todong Yeon Hyo sambil mendelik ke arah Donghae.

“Cih…” Cibir Donghae sambil memutar kepalanya ke arah Yeon Hyo. “semalam, Kau bahkan mengigau dan menyebut nama Cho Kyu Hyun. Jangan bilang kau suka pada pria bernama Kyu Hyun itu.”

Raut wajah Yeon Hyo berubah, ia menunduk malu saat mengetahui kenyataan semalam. “Sejak semalam kau tidur sambil menyebut nama itu, sepertinya dia  memenuhi otakmu sekarang.” Ibunya menambahkan sambil terkekeh pelan.

“Aniya….” Elak Yeon Hyo lalu melemparkan selimut yang semula membuntal dirinya ke atas ranjang.

“Tapi, kenapa kau sampai menyebut namanya saat tertidur? Kau menyukainya ya?” Todong Donghae lagi sambil menunjuk muka adiknya yang mulai memerah. Yeon Hyo tak menjawab. “Sudahlah mengaku saja.” Donghae tersenyum penuh kemenangan, ini adalah kali pertama dia menang saat beradu mulut dengan adiknya itu.

“Sudah..Sudah.. Sekarang ada kekacauan. Tetua sudah menyiapkan pasukan untuk menyerang klan api. Kita menemukan jejak kaki yang hangus di dekat danau kekuasaan klan air.” Yoon Jin Ah melerai kedua anaknya itu. Yeon Hyo sedikit kaget saat mendengar kata danau yang terlontar dari mulut sang ibu. Kyu Hyun! Apa jejak kaki itu milik Kyu Hyun? Batin Yeon Hyo sebelum ia berlari ke belakang mencuci muka dan keluar lagi dengan wajah yang lebih baik dari tadi.

Yeon Hyo mempercepat larinya tanpa memperdulikan kakak dan ibunya yang terheran-heran dengan tingkahnya. Yeon Hyo berlari semakin kencang. Ia tak menggubris ilalang-ilalang yang cukup tinggi di depannya. Ia tak peduli saat ia sudah menginjakkan kakinya di daerah kekuasaan klan api. Bangunan-bangunan yang tidak dikenalnya itu seakan-akan tidak menerima kehadirannya. Tampak dingin dan kaku begitu juga dengan penghuninya. Mereka semua tersenyum angkuh ke arah Yeon Hyo, mungkin mereka merasakan aura yang berbeda di diri Yeon Hyo. Yeon Hyo sadar ia telah melakukan kesalahan besar. Ia salah memilih jalan kali ini.

“Kyu Hyun-ah!” Yeon Hyo meneriakkan nama itu berkali-kali. Gadis itu berjalan pelan sambil memperhatikan sekitarnya, matanya was-was saat melewati segala tempat yang dilaluinya.

“Kutu air!” Yeon Hyo segera menolehkan kepalanya dan membuka matanya lebar-lebar saat seorang pria berjalan pelan ke arahnya. Pria itu mengerutkan keningnya.

“Untuk apa kau kemari? Apa kau gila?” Tanya Kyu Hyun heran saat ingat gadis di depannya adalah anggota klan air yang notabenenya musuh klan api. Kyu Hyun segera menggandeng tangan Yeon Hyo dan membawanya lari. Pria paruh baya itu sudah mengetahui kenyataan bahwa Kyu Hyun berhubungan dengan gadis klan air.

Kyu Hyun mempercepat larinya dan Yeon Hyo mulai terengah-engah berlari menandingi pria di depannya.

“Kendalikan fervencymu!” Yeon Hyo mengingatkan Kyu Hyun saat ia menyadari jejak kaki Kyu Hyun menimbulkan api.

“Mianhae. Aku tidak sadar itu.” Kyu Hyun menarik nafas panjang lalu mengatur fervencynya. Fervencynya saat itu sudah hampir mencapai batas normal, jika itu terjadi Kyu Hyun bisa membakar semua di dekatnya. Yeon Hyo sudah mengatur kadar fervencynya hingga tak meninggalkan setitik airpun di jejak kakinya. Senyum gadis itu  mulai tersungging di bibirnya.

Kyu Hyun melepas pegangan tangan tangannya lalu menarik nafas panjang. Ia menatap gadis disampingnya yang tersenyum sendiri.

“Kau seperti orang idiot.” Ejek Kyu Hyun.

“Mwo? Idiot?” Yeon Hyo membelalakkan matanya. Jangan bilang gadis itu akan membalas ejekan Kyu Hyun, tapi itu adalah kenyataannya. “Kau yang idiot. Kenapa kau melarikanku kesini? Aku bahkan tidak mengenal kawasan ini.”

“Apa kau tidak sadar? Kau sudah berada di ujung tanduk kematian. Jika kau terjatuh, kau akan mati bodoh.”

“Maksudnya?” Tanya Yeon Hyo lugu, konyol sekali. Gadis itu bahkan tidak menangkap maksud dari pria itu.

“Kau bodoh sekali. Jika kau tetap disana, kau ingin mati dipenggal? Nenek moyang kita sudah membuat perjanjian, dan kau telah melanggar itu.”

“Aku tidak bodoh hanya saja kalimatmu itu terlalu tinggi bagiku.”

“Sama saja dengan bodoh.”

“Aku bilang aku tidak bodoh.” Yeon Hyo tetap tak terima disebut ‘bodoh’ oleh Kyu Hyun. Gadis itu menggembungkan pipinya dan melirik ke arah Kyu Hyun malas. Tangan Kyu Hyun mulai iseng untuk menekan pipi gadis itu yang menggembung.

“ya!! Berhenti lakukan itu.”

“Salahmu sendiri. Kenapa kau membuatku ingin bermain dengan mainanku.” Tandas Kyu Hyun. Ia cepat menghindar saat Yeon Hyo bangkit dengan selop di tangannya.

“Sudah..sudah… Aku tak mau bermain dengan mainanku sekarang.” Kyu Hyun berjalan mendekat ke arah Yeon Hyo dan mengangkat kelingkingnya. Yeon Hyo langsung mengerti maksud pria itu lalu menautkan kelingkingnya di kelingking pria itu.

“Tapi aku ingin bermain dengan kutu airku.” Ucap Kyu Hyun kemudian dengan seringaian evilnya.

“Kutu airku? Sejak kapan aku menjadi milikmu?”

“Sekarang.” Yeon Hyo menatap Kyu Hyun nanar. Ia tak menyangka Kyu Hyun akan mengatakan seperti itu. “Wae?” tanya Kyu Hyun kemudian. Ia melipat tangannya di depan dada dan tersenyum nakal ke arah Yeon Hyo.

“Shireo. Aku tak mau menjadi milikmu.” Tolak Yeon Hyo ia menggeleng keras.

“Sudahlah. Aku sudah tahu alasanmu pergi ke klan api, itu untukku kan?”

“Ani,”

“Semalam aku sengaja meninggalkan jejak di danau. Bukankah danau itu masih daerah kekuasaan klan air. Aku memang memancing hal itu, ternyata dugaanku tepat, kau pergi padaku.” Tandas Kyu Hyun. Yeon Hyo menjadi lemas. Gadis itu segera menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

“Sudahlah, tak usah malu. Kau lebih dulu menyukaiku kan?” Tanya Kyu Hyun sambil menarik telapak tangan Yeon Hyo.

“Apa kau bodoh huh? Kau tahu betapa khawatirnya aku? Kau gila.” Pekik Yeon Hyo kemudian. Gadis itu menatap Kyu Hyun tajam, Kyu Hyun tak menyangka respon gadis itu akan seperti itu.

“Aku takut terjadi sesuatu pada klanmu. Aku tak ingin terjadi peperangan. Mengapa kau dengan bodohnya meninggalkan jejak hingga menyulut api peperangan.” Ucap Yeon Hyo lagi, gadis itu yang semula cemas berubah menjadi marah karena ulah Kyu Hyun.

“Apa kau tidak dengar? Sekarang genderang perang sepertinya sudah berbunyi, itu berarti perang sudah dimulai, bodoh. Kau tahu apa yang kau perbuat telah membuat masalah sebesar itu?” Kyu Hyun melongo. Ia tak menyangka Yeon Hyo akan menceramahinya habis-habisan kali ini. Semula ia mengira Yeon Hyo adalah gadis bodoh yang tak mengerti hal seperti itu. Pikirannya tentang kekonyolan Yeon Hyo seketika Kyu Hyun hapus dari pikirannya.

“Kita harus kembali. Aku tak mau terjadi peperangan.” Yeon Hyo berlari pelan hingga segerombolan burung dihadapannya terbang ke angkasa. Ia tak mempedulikan Kyu Hyun lagi, menurutnya Kyu Hyun sudah mempermainkannya.

“Chakkaman!”

“Tunggu apa lagi?”

“Kau mau menjadi milikku kan?”  Tanya Kyu Hyun kemudian. Ia menyusul Yeon Hyo dan lantas menggenggam tangannya erat.

“Aku tidak punya waktu untuk itu.” Tolak Yeon Hyo. Ia melepaskan genggaman tangan Kyu Hyun lalu kembali berlari.

“Aku akan bertanggung jawab.” Pekik Kyu Hyun saat gadis itu semakin jauh darinya. Ia menatap langit dan lantas berlari menyusul Yeon Hyo.

***

“Sudahi peperangan ini!” Pekik Yeon Hyo tepat saat ia tiba di perbatasan. Perang sepertinya sudah berlangsung, tapi gadis itu memberanikan diri untuk menghentikan peperangan meskipun hal itu membahayakan dirinya sendiri. Ia tersenyum getir saat tak ada seorangpun menggubrisnya.

“Sudahi peperangan ini!” Kyu Hyun merangkul Yeon Hyo secara tiba-tiba hingga gadis itu merasa kaget. Yeon Hyo melepas tangan Kyu Hyun secara spontan lalu menatapnya.

“Kyu Hyun?”

“Kau bodoh sekali. Kau ingin mati sekarang? Lihat! Mereka semua menatapmu dengan wajah garang dan ditangan mereka ada racun, panah dan lain lain.” Bisik Kyu Hyun tepat di telinga gadis itu. Yeon Hyo menatap Kyu Hyun sebal.

“Untuk apa peperangan ini terjadi. Bahkan, kami dewa api dan dewi air rukun sekali. Apa kalian tidak bisa menghapus kebencian di hati kalian? Kita ini sama, tapi ada perbedaan yang membuat kita saling membenci.” Papar Kyu Hyun di tengah peperangan yang terjadi. Tapi apa? Tak ada dari mereka menganggap ocehan Kyu Hyun penting, bahkan ada yang meremehkannya.

“Yeon Hyo-ya… Kesini nak.” Panggil eomma Yeon Hyo dengan nada marah.

“Kyu Hyun-ah..” Panggil eomma Kyu Hyun. Tapi keduanya enggan untuk kembali ke klannya masing-masing.

“Kami saling mencintai dan kami sudah menjadi pasangan.” Kyu Hyun menegaskan itu semua. Yeon Hyo menatapnya sebal. Mengapa dia bodoh sekali, memberi tahukan itu semua di depan klan api dan air. Dia ingin membuatku mati atau ingin membuat dirinya sendiri mati, Batin Yeon Hyo.

“Mwo? Jadi kalian sudah menjadi pasangan. Kalian harus menyudahi hubungan kalian. Klan api dan air tidak boleh berhubungan bahkan berteman dekat.” Protes salah satu dari klan api.

“Apa yang dapat kalian lakukan jika seorang dewa api yang melakukannya.” Ucap Kyu Hyun kemudian.

“Itu tidak boleh dilakukan.” Seorang pria tua dari klan air mengatakan itu.

“Tapi, jika kalian tetap seperti ini. Aku…” Ucapan Yeon Hyo dipotong oleh Kyu Hyun.

“Kita akan melangsungkan pernikahan secepatnya.” Potong Kyu Hyun hingga Yeon Hyo membelalakkan matanya. Perlahan klan air dan api mulai berhamburan pergi hingga tersisa tetua, Ibu Kyu Hyun, Ibu Yeon Hyo dan kakaknya Donghae.

Ibu Yeon Hyo menarik pergelangan tangan anaknya dengan kasar lalu tersenyum sinis ke arah Kyu Hyun dan ibunya.

“Apa kau bodoh? Ternyata Kyu Hyun itu klan api. Ibu tak akan merestuimu.” Ibunya Yeon Hyo nampak marah pada putrinya itu. Gadis itu hanya diam, ia tahu ia telah melanggar perjanjian nenek moyangnya.

Sedangkan Kyu Hyun sudah mendapat berbagai macam teguran keras dari ibunya dan tetua. Ia hanya diam dan sesekali membantah.

“Klan air dan klan api tidak akan pernah bersatu.”

“Tapi, cinta dapat mengubah segalanya. Apa eomma tak pernah merasakan cinta?” Kyu Hyun membantah.

“Kau tahu hukuman yang harus kau dapat jika kau melanggar perjanjian itu?” Tanya tetua, Kyu Hyun mengangguk.

“Kau akan dipenggal di hadapan klan api. Begitu juga dengan gadis itu.” Lanjut tetua.

“Tapi, apa itu berlaku? Bukankah dewa api yang memutuskan hukuman mati? Jadi aku, hanya aku yang dapat memperbolehkan.”

***

Cinta itu memang membutakan

Aku tak peduli lagi pada aturan itu

Karena aku terlanjur mencintaimu.

Dan aku sadar bahwa cintamu telah membutakanku

***

“Eomma…. Apa eomma harus mengurungku disini? Mengapa eomma tega padaku?” rengek Yeon Hyo. Gadis itu sedari tadi menggedor-gedor pintu kamarnya, tapi nihil, ibu gadis itu tak membuka pintu itu.

“Eomma… biarkan Yeon Hyo keluar. Meskipun aku hanya kakak angkatnya, aku boleh membelanya kan? Dia tidak salah eomma, apa eomma ingin dia mati. Tangisannya bisa membuatnya mati eomma,” ujar Donghae.

Sedari tadi, gadis itu menangis. Ia menyesali hal telah dilakukannya. Tangannya bergerak pelan ke pipinya, menyeka air mata yang sedari tadi menyeruak dari kedua bola matanya. Gadis itu terdiam sesaat lalu membulatkan matanya, seakan-akan ia mendapat pencerahan dari tuhan.

“Eomma! Biarkan aku keluar.” Seru Yeon Hyo.

“Shireo. Jika aku membiarkanmu keluar, kau akan menemui pria klan api itu kan?”

“Ne, Eomma benar. Aku memang akan menemui pria itu.”

“Jika begitu aku takkan membiarkanmu keluar.”

“Apa eomma tidak tahu? Putrimu ini mencintai pria itu. Aku sadar aku mencintai pria itu, sorot matanya saat pertama kali bertemu dengannya berbeda. Jika kau berada di posisiku, apa kau bisa menghapus perasaanmu itu?” Tandas Yeon Hyo. Gadis itu menempelkan telinga di pintu kayu itu, tapi tak terdengar suara ibunya.

“Kau bicara pada siapa? Eomma sudah meninggalkan kursinya saat kau memulai ocehanmu itu.” Ucap donghae dari balik pintu. Ia lantas terkekeh pelan.

“Mwo? Jadi aku berbicara dengan sia-sia?” Ucap Yeon Hyo sebal.

***

Kyu Hyun sudah melewati batas klan api. Dan sekarang ia sudah memijakkan kakinya di daerah kekuasaan klan air. Ia seperti memasuki dunia yang berbeda, disini begitu sejuk. Pria itu memasang topinya lalu berjalan pelan menyusuri jalan setapak di antara rumah penduduk klan air.

“Permisi ahjumma, bolehkah saya bertanya, rumah gadis bernama Yoon Yeon Hyo dimana?” Tanya Kyu Hyun saat ia berpapasan dengan seorang bibi. Tapi, bibi itu tak menjawab dan meninggalkan Kyu Hyun.

“Sial. Kenapa mereka tak menganggap kehadiranku. Apa mereka mengenaliku karena hal yang aku lakukan kemarin?” Gumam Kyu Hyun, ia lantas bertanya kembali pada setiap orang yang ditemuinya. Sama saja, mereka tidak memberikan jawaban yang berarti bagi Kyu Hyun. Bahkan, saat ia bertanya pada ahjussi terakhir, ia hampir saja di siram air. Benar-benar keterlaluan, jika itu terjadi dan pria itu basah untuk sekian lama, akan membuatnya mati.

“Yeon Hyo-ya….!” Pekik Kyu Hyun.

Gadis yang dipanggilnya saat itu sedang bergelut dengan bantalnya. Memukul-mukul bantalnya bertubi-tubi, hingga isi bantal itu menyeruak keluar. Gadis terdiam saat mendengar sebuah suara yang menyebut namanya.

“Kyu Hyun. Aku sangat mengenali suaranya.” Ucap gadis itu lalu menyipitkan matanya di depan lobang pintu. Kakaknya masih duduk di depan kamarnya, menggantikan ibunya. “Oppa…. bisakah kau membantuku?” Tanya gadis itu sambil mendekatkan wajahnya ke pintu.

“Bantu apa?”

“Apa kau dengar suara yang menyebut namaku? Sepertinya Kyu Hyun nekat kemari,” ujar Yeon Hyo pelan.

“lalu, apa yang harus aku lakukan?”

“Buka pintu ini sebentar saja. Biarkan aku bertemu dengan Kyu Hyun.” Pinta gadis itu dengan suara lirih. Donghae mengerutkan keningnya.

“Baiklah. Tapi, jangan terlalu lama.” Donghae memasukkan kunci pintu ke dalam lobangnya lalu memutarnya ke kanan. Yeon Hyo segera menarik gagang pintu ke bawah dan lantas berlari keluar rumah. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Pria yang memakai jaket coklat tua itu seperti kebingungan mencari seseorang. Yeon Hyo berlari ke arah pria itu. Pria itu, Cho Kyu Hyun langsung berlari ke arah Yeon Hyo.

“Gwaechanayo?” tanya Yeon Hyo kemudian.

“Harusnya aku bertanya itu padamu. Aku baik-baik saja.”

“Aku juga baik-baik saja.”

“Ikutlah denganku.” Ajak Kyu Hyun, Yeon Hyo tak menjawab. Kyu Hyun meraih tangan Yeon Hyo lalu menggenggamnya erat.

“Tapi, eomma melarangku untuk bertemu denganmu.”

“Sudah kusangka. Aku akan bertemu dengan eommamu.”

“Apa kau bodoh? Kau sudah nekat kemari. Apa kau ingin mati di tangan eommaku?” Yeon Hyo menatap Kyu Hyun tajam, tapi pria itu sudah berjalan meninggalkan Yeon Hyo sendiri. Yeon Hyo menatap punggung pria itu nanar.

“Heii bodoh! Kau bahkan tidak tahu rumahku.” Yeon Hyo tertawa riang saat Kyu Hyun menyadari hal itu. Pria itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Benar juga, tunjukkan rumahmu, Kutu air.” Yeon Hyo tertawa lagi, gadis itu menyusul Kyu Hyun. Mereka berdua lantas saling bergandengan tangan. Tersenyum sekilas dan kembali fokus pada jalanan yang dilalui mereka.

“Kau mencintaiku bukan?”Tanya Kyu Hyun. Ia lantas menatap Yeon Hyo, kedua bola matanya berkata bahwa dia benar-benar tulus mengatakannya.

“Menurutmu?”

“Ya!! Aku serius.”

“Sudahlah, kita sudah sampai di rumahku.” Yeon Hyo masuk ke dalam rumahnya, Donghae menatap adiknya nanar. Ia tak menyangka adiknya akan membawa Kyu Hyun masuk ke dalam rumah mereka.

“Yeon Hyo-ya… Apa kau sudah gila?” Bisik Donghae.

“Aku tidak gila. Aku akan mengenalkannya pada eomma, dan dia akan menegaskan segalanya.” Ucap Yeon Hyo lalu tersenyum puas. Donghae tersenyum sekilas ke arah Kyu Hyun. Pria itu lantas berjalan ke belakang meninggalkan Yeon Hyo dan Kyu Hyun sendiri.

Donghae duduk dengan raut wajah lesu. Pria mengambil dua buah cangkir lalu memasukkan gula ke dalamnya. Ia menuangkan air panas ke gelas itu sambil membayangkan hal yang akan terjadi selanjutnya. Ibunya pasti marah sekali. Donghae mencelupkan teh yang sudah kering lalu mengaduknya pelan. Ia tahu, ia telah melakukan kesalahan besar memperbolehkan adiknya keluar dari kamar. Sifat Yeon Hyo menurun dari ibunya, keras kepala. Memang benar, gadis itu terkadang penuh kasih sayang, tapi semua akan berubah jika kemauannya tidak dituruti.

Donghae mengantarkan dua cangkir teh panas itu. Ia tetap berdiri di tempatnya semula. Pria itu bingung akan melakukan apa lagi. Adiknya sudah mengobrol dengan Kyu Hyun dan sama sekali tidak menganggap kehadirannya.

“Donghae-ya!” Donghae menjadi tergagap-gagap saat mendengar suara ibunya dari  depan rumah. Pria itu menatap Yeon Hyo, gadis itu hanya tersenyum. Raut wajah ibunya seketika berubah saat melihat Kyu Hyun duduk manis di hadapannya. Pria itu tersenyum sekilas lalu berdiri membungkukkan badan.

“Untuk apa kau kesini?” Tanya ibu Yeon Hyo gusar. Barang belanjaannya ia jatuhkan di depan pintu lalu berjalan mendekat ke arah Kyu Hyun.

“Yeon Hyo dan aku saling mencintai. Apa anda memperbolehkan aku menikah dengannya?” tanya Kyu Hyun.

“Ka!! Pergi sekarang juga! Aku tidak mau anakku berhubungan denganmu.” Ibu Yeon Hyo mengusir Kyu Hyun.

“Eomma….” Rengek Yeon Hyo gadis itu mulai memelas.

“Masuk ke kamarmu! Donghae-ya… Kenapa kau membiarkan adikmu keluar dari kamarnya?” Ibu Yeon Hyo menatap Donghae tajam, pria itu tetap diam tak menjawab pertanyaan ibunya.

“Eomma! Jangan usir Kyu Hyun. Lebih baik aku ikut dengannya daripada aku harus terkurung disini.” Tandas Yeon Hyo.

“Untuk apa kau ikut dengannya? Ingat ! Kau itu dewi air.”

“Dewi air dapat bekerja sama dengan Dewa api.” Protes gadis itu, gadis itu kini menggaet tangan Kyu Hyun. Tapi, Kyu Hyun sudah ditarik keluar oleh segerombolan orang berjubah putih. Yeon Hyo tak mengerti pria itu akan dibawa kemana. Ibu Yeon Hyo tersenyum penuh kemenangan.

“Tapi air dan api tidak bisa bersatu. Api dan air sangat bertentangan.” Bantah ibunya. Kyu Hyun memberontak, tapi pegangan tangan dua pria gagah yang membawanya pergi terlalu erat. Mereka membawa Kyu Hyun ke arah timur yang merupakan tempat pemenggalan. Yeon Hyo berlari mengejar Kyu Hyun, tapi ditahan oleh Donghae. Gadis itu menahan tangisnya dan hanya berteriak-teriak.

“Penggal dia sesuai dengan aturan klan air!” Perintah ibu Yeon Hyo ke dua orang pria itu. Kyu Hyun tampak pasrah dan menatap Yeon Hyo sendu.

Dari kejauhan nampak Kyu Hyun sudah dibaringkan dibawah tiang pemenggalan. Pria itu hanya menatap Yeon Hyo yang sudah tak karuan lagi.

Yeon Hyo melepaskan tangan Donghae kasar lalu berlari ke arah Kyu Hyun. Pisau besar diatas Kyu Hyun perlahan turun. Yeon Hyo berteriak sekeras-kerasnya. Gadis itu mempercepat larinya.

“Jangan lakukan itu! Jangan lakukan itu!” Pekik Yeon Hyo.

***

Mencintaimu itu

Seperti air yang mengalir

Terkadang harus berbelok ke kanan dan kiri

Berbagai penghalang menanti aliran itu

 

***

“Gwaechanayo?” Tanya Yeon Hyo. Sebagian wajahnya sudah berlumurkan darah. Darah pria itu.

“Nan gwaechana. Aku dimana? Kenapa kau lakukan itu, kutu air?” Ucap pria itu parau. Ia tersenyum jail ke arah gadis yang tengah mengobati lukanya itu.

“Kau sudah tergores pisau  itu. Aku harus mengobatinya. Kita sekarang di padang ilalang.” Gadis itu tetap fokus pada luka di punggung pria itu. “Jangan tersenyum seperti itu padaku.” Tambah gadis itu.

“Hahahahahah….. Appo…” Pria itu tertawa lalu meringis kesakitan. Gadis itu tertawa puas. Pria itu menatap sekilas gadis itu. “Saranghae.”

“Nado saranghae.”

“Eommamu bagaimana?”

“Tak usah tanyakan itu lagi padaku. Aku sudah terlanjur kesal padanya.” Jawab gadis itu cuek sambil menutup luka pria itu dengan kain putih. Kyu Hyun bangkit lalu kembali memakai jaket coklatnya. Ia lantas menatap gadis di sampingnya.

“Tapi,…” Ucapan Kyu Hyun terputus.

“Aku sudah melepaskan status dewi  milikku. Eommaku sudah membebaskan aku, dia bahkan mengusirku. Aku mau bersamamu, tapi aku memiliki sebuah syarat untukmu.” Gadis itu berjongkok, meletakkan kepalanya di atas kedua tangannya yang dilipat.

“Apa itu?”

“Jangan sakiti perasaanku.”

“Kau sudah tidak menjadi dewi lagi. Apa sifat bawaanmu itu tetap bersamamu?” Kyu Hyun menautkan alisnya lalu bertanya takut-takut pada Yeon Hyo.

“Sifat bawaanku tetap ada. Karena itu memang sifat genetik dari orangtuaku. Oh ya… Aku akan tinggal di rumah situ, di samping danau itu.” Yeon Hyo tersenyum riang.

“Jadi, aku bisa mengunjungi setiap aku mau?” Yeon Hyo mengangguk. “Tapi, jika kau masih memiliki sifat bawaanmu, aku akan kesulitan untuk mengontrol emosiku. Air dan Api berbeda.”

“Aku tahu itu. Tapi meski begitu, Api dan Air tetap bisa bersatu.” Yeon Hyo menegaskan.

“Hapus semua pikiran burukmu tentang aku. Jangan dengarkan orang-orang yang membicarakanku, jangan fikirkan perjodohanku dengan Ra Ra. Karena aku hanya mencintaimu.” Yeon Hyo tersenyum ke arah Kyu Hyun.

Kyu Hyun menuntun Yeon Hyo agar menaiki sebuah perahu. Pria itu mendayung tapi matanya hanya fokus pada seorang gadis di depannya. Gadis itu sibuk bermain air. Meskipun matahari sudah tenggelam dan hari mulai gelap, mereka tetap menikmati indahnya danau pada saat malam hari. Bulan tak kunjung muncul seakan tak mau mengganggu mereka berdua.

Mereka terdiam cukup lama.

“Will You Married with me?” Kyu Hyun menatap Yeon Hyo tulus. Tak ada sedikitpun keraguan di wajahnya. Yeon Hyo tersenyum sekilas.

“I Will Marry You.”

hh

 

Note : Ini Peserta FF LOMBA Musim kedua, tolong beri komentar kalo udah selesai baca ya ^^

Komentar kamu sangat penting buat peserta lomba :D

Terima kasih sebelumnya.

19 thoughts on “HKS 02 – FF Lomba “Different” [OneShoot]

  1. So sweett.!
    Hhehe
    ga ada yg sempurna bukan, hhehe
    ada sedikit typo, sedikit aja koq.
    Cerita ny bner2 menarik
    Semoga menang ne,
    Fighting.!

  2. W.O.W😀
    aku suka sama ceritanya. Imajinasinya keren, alurnya juga bagus🙂
    tp sayang bgt =,= endingnya gatung dan konfliknya terlalu cepet -_____-
    pdahal ngarepin yg lebih. Hehehe,, but good job !😀

    semoga menang yaa🙂

  3. .keren pisan euy.😀
    .like,like.
    .tpi bner yg di katakan di koMentar sebelumnya.
    .endingnya gantung.
    .law misalnya di ceritakan sampai dia nikah dan bhagia.
    .pasti lebiH seru.
    .tapi tetap ok kok.
    .semoga menang.😉

  4. Aaaaaa,,,
    Keren banget ffnya, aku suka ff yang bergenre fantasy seperti ini.

    Alur ceritanya juga menarik, pokoknya daebak. ^^

    Semoga menang..!!😀

  5. Ceritanya so sweet bgt. Emang si agak cepet ceritanya. Dan kayanya ini ganyung deh,konfliknya blum terselesaikan.haha apakah ada lanjutannya..

  6. ceritanya bagus, tapi agak sedikit bingung dibagian kyuhyun mau dipenggal kok tiba2 udah ganti setting, sebaiknya diceritain lebih detil lagi pas bagian itu biar gak bingung, endingnya juga kurang, menurutku konfliknya belum terselesaikan.. hehehe itu cuman komen dan saran ku sbg pembaca, over all ceritanya bagus bgt dan aku suka, moga menang ya ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s