FF LOMBA “Because I Choose You” – FREELANCE

 

“BECAUSE I CHOOSE YOU”

 

Author : bloveluhan.

Facebook : Caterine Jingga

****

 

Author’s PoV

 

Cho Corp, Kyuhyun’s room.

 

“Aku akan menandatanganinya nanti. Jadi, kau keluar sekarang!”

“Ne, Sajangnim.”

“Kau ini, perlakukan sekertarismu dengan baik, Kyu.” Ujar Donghae yang duduk di ruang tamu, di ruang kerja Kyuhyun.

“Aku memperlakukannya dengan baik, sebaik yang aku miliki,” jawab Kyuhyun santai, kemudian menjatuhkan tubuhnya di samping Donghae.

“Memangnya, baikmu itu bisa dimasukan dalam kategori baik?” ejek Eunhyuk yang juga sedang duduk dihadapan Donghae. Pria itu melepas dasinya dan meloloskan kacing teratas kemejanya. Sebenarnya tidak panas, mengingat ruang kerja Kyuhyun memiliki dua pendingin ruangan.

“Sejauh yang aku tahu, sepertinya bisa,” celetuknya sembari memasukan makanan kecil kedalam mulutnya, menghancurkannya didalam sana. Ia tidak pernah serius. Jarang mungkin. Hidupnya seperti sebuah lelucon, mengalir begitu saja dan santai. Jika ia, Cho Kyuhyun, sudah serius.. itu berarti hal yang diseriuskannya sangat penting.

“Hey, Cho Kyuhyun! Bisakah kau menggaris bawahi kata sepertinya? Itu terdengar tidak meyakinkan,” Pria itu menggeleng, sedang menikmati makanan kecil yang ada didalam mulutnya sepertinya.

“Ah, aku lupa! Bukankah lima hari lagi kau akan berulang tahun, eh?” tanya Donghae tak yakin. Sedikit memiringkan kepalanya, menatap Kyuhyun yang sedang mengunyah dan memejamkan matanya.

“Itu benar. Aku berpikir, kau akan membuat party secara besar-besaran, kan?” timpal Eunhyuk yang mulai tertarik dengan ulangtahun sepupunya itu. sedikit banyak, ia berharap sepupunya itu akan membuat pesta yang besar dan mengundang beberapa teman wanitanya, setidaknya ia bisa pulang membawa seorang wanita. Mengingat selama ini ia masih belum memiliki kakasih. Bukan karena tidak ada yang menginginkannya. Hanya saja, masih dalam proses memilih.

“Aku tidak berminat untuk merayakannya.”

“Hey, itu tidak lucu!” protes Eunhyuk yang sedikit kaget dengan jawaban yang diberikan Kyuhyun. Itu tidak  mungkin, kan? Seorang Cho Kyuhyun, pewaris tunggal keluarga Cho, tidak merayakan ulangtahunya?

“Memang tidak lucu. Jika lucu, aku sudah tertawa terbahak-bahak, Lee Hyukjae,” ucap Kyuhyun yang menegakkan tubuhnya dan melonggarkan lilitan dasi yang sedikit membuat sesak. Benar bukan, jika ia tidak pernah serius? Yeah, that’s Cho Kyuhyun’s type.

“Kau.. akan mengundang Jiyoon?” tanya donghae hati-hati. Tidak berniat menggali ingatan Kyuhyun sebenarnya. Hanya saja, ia ingin tahu, hanya itu. benar saja, pria itu mulai memandang Donghae dengan sedikit serius. Hanya sedikit, setelah itu kembali memalingkan wajahnya.

Kwon Jiyoon. Dia adalah gadis yang Kyuhyun cintai dulu, nyaris menjadi istrinya jika hubungan itu tidak berakhir saat dalam tali pertunangan. Tidak ada alasan untuk Kyuhyun tetap mempertahankan gadis itu disampingnya. Gadis itu sudah mengatakan tidak, dan bukan kata yang sama yang keluar, melainkan pria itu melepaskan gadis itu. Setidaknya, ia pernah menjalani sebuah hubungan dengan lawan jenisnya, meski berakhir dengan tragis. Tidak dipungkiri, ia masih memiliki rasa ketertarikan pada gadis itu, hanya sedikit tapi. Terlihat dari raut wajahnya saat Donghae menyebutkan nama gadis itu.

“Entahlah, aku tidak berminat untuk merayakan hal sepert itu,” jawabnya, sedikit serius.

“Sepertinya, kau masih belum bisa melupakan gadis itu, sepupu?”

*****

Bus stop, near from Yeon Hyo’s Campus.

Hujan. Gadis itu berlari kecil. Mencoba mengurangi tetesan air hujan yang akan membasahi seluruh tubuhnya. Ia melirik arloji pink yang terpasang manis dipergelangan tangannya. Pukul 17.30. pada jam seperti ini bus sudah tidak ada, mungkin akan ada saat malam hari, tapi ia tidak mugkin menunggu dihalte bus hingga malam kan? Itu konyol sepertinya. Dan ia juga membenci hujan, jadi tidak mungkin jika gadis itu akan bertahan lama-lama.

“Hhh..” hembusan nafas berat lolos begitu saja. Apa dia harus menghubungi sahabatnya? Ah, tidak. Ia sudah terlalu banyak merepotkan sahabatnya itu.

Akhir-akhir ini Seoul sering sekali turun hujan. Cuaca benar-benar buruk untuk kesehatan. Setidaknya, ia berharap tidak akan terserang penyakit saat tugas-tugas kuliahnya sedang menumpuk. Sekali lagi, ia melirik arlojinya. Sepuluh menit sudah ia berdiri halte itu dan tidak ada tanda-tanda kakinya akan beranjak dari tempat semula. Ini konyol, ia tidak mungkin akan menunggu saja, kan? Ah, sepertinya ia hanya memiliki dua pilihan. Pertama, ia terpaksa berjalan, menerjang derasnya hujan yang diiringi angin dan membuat peluang besar penyakit akan menghinggapi tubuhnya. Atau, hanya menunggu ditempat itu hingga bus datang, itupun jika keberuntungan berpihak padanya. Pasalnya, disaat hujan seperti ini bus akan jarang melewati jalanan sesepi ini. Baiklah, gadis itu harus berharap Tuhan akan memberikan keberuntungan padanya hari ini.

“Aish! Neo paboya! Ah~ jinjja!” rutuknya pada diri sendiri.

Gadis itu merogoh sakunya saat benda kotak berwarna pink metalic bergetar. Menandakan satu panggilan masuk.

“Ne, yeoboseyo?”

“Ya! Yeon Hyo~ya, neo eoddiya?”

“Ah, aku sedang ditoko buku onnie. Wae?” jawab gadis itu berbohong. Ia tidak ingin membuat sahabat sekaligus onnie nya itu khawatir.

“Kau tidak sedang berbohong, ‘kan?”

“Eh?” celetuk gadis itu kaget, “A.. aku.. ah! Mana mungkin aku berbohong. Aku sedang ditoko buku,” Jawabnya gugup. Bagaimana onnie nya itu bisa tahu?

“Sepertinya disana berisik sekali. Ah, diluar sedang hujan. Kau pulang nanti saja, aku tidak ingin melihat kau pulang dalam keadaan basah, ara?” omel suara disebrang. Gadis itu melirik bajunya. Ah, itu tidak mungkin kering dalam waktu singkat. Sepertinya ia memang harus benar-benar menunggu bus malam hingga kausnya kering.

“Ne, onnie. Arasseo.”

Entah untuk keberapa kalinya gadis itu menghembuskan nafas berat. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, matanya sedikit terbuka saat melihat mobil Ferrari merah melintas dari arah timur. Sepertinya, ide gila nya keluar. Persetan dengan anggapan pengemudi yang ada didalam mobil itu. ia tidak mungkin menunggu hingga malam, kan?

Gadis itu melambaikan tangannya, berniat memberhentikan mobil yang akan melintas. Astaga, mana ada gadis waras yang melakukan hal seperti itu? mengesampingkan harga dirinya? atau jika memang gadis itu adalah gadis penggoda, tapi ia bukan gadis penggoda. Hanya saja, saat ini keadaanya mendesak. Benar saja, mobil itu berhenti tepat dihadapannya. Alih-alih gadis itu senang akan usahnya, ia malah kalap dan tak tahu harus berbuat apa. Bagaimana jika pengemudi itu adalah pria yang… ah, tidak. Gadis itu cepat menggelengkan kepalanya, kembali memantapkan nyalinya untuk strategi salanjutnya.

Perlahan kaca mobil itu terbuka dan seorang pria sedikit menundukan kepalanya agar dapat melihat wajah gadis yang membuatnya memberhentikan mobilnya. Pria itu melihat Yeon Hyo yang menunduk juga meremas ujung kaus nya. Terlihat gugup.

“Nona, masuklah. Diluar hujan sangat deras, bus pun juga tidak ada. Apa kau akan berjalan melewati jalan itu?” ujar pria itu dengan suara bass-nya, merujuk pada jalan panjang yang lengang didepan sana. Yeon Hyo menoleh, melihat jalan yang dimaksud pria itu.

Yang benar saja! Jika aku mau, aku sudah melakukannya sejak tadi. Pikir gadis itu.

“Hei, nona. Aku menawarkamu. Tenang saja, aku bukan pria jahat yang akan membawa mu ke hotel,” gadis itu mendongak, menatap pria dihadapanya. Penampilan pria itu memang tidak seperti pria yang tadi disebutkan. Terlalu rapih untuk ukuran pria seperti itu.

“Bisa kau buka pintunya?” pinta Yeon Hyo, sedikit malu. Ini akan menjadi yang pertama dan terakhir baginya, memberhentikan mobil ditengah jalan dan menumpang. Baiklah, lupakan hal itu, yang penting, saat ini dia sudah bisa kembali kerumah, kan?

Pria itu membuka pintunya dan menyandarkan tubuhnya disandaran kursi. Yeon Hyo berlari kecil dan memasuki mobil itu dan menutupnya saat ia sudah berhasil masuk. Mobil itu melesat pelan. Pria itu bahkan tidak mengucapkan sepatah katapun saat ia sudah masuk didalam mobilnya.

“Maaf, jika aku merepotkan mu. Kau bisa menurunkanku didepan sana. Aku akan menggunakan taksi setelahnya,” ujar Yeon Hyo saat ia mulai tidak nyaman berdiam-diam an dimobil. Memangnya, apa yang harus dibicarakan pada sesorang yang baru kau kenal? Astaga, gadis ini…

“Kau pikir aku akan tega menurunkanmu? Aku akan mengantarmu pulang nona. Jadi, siapa namamu?” tanya pria itu, tetap fokus pada jalan didepannya.

“Eh? Kau… yakin?”

“Tentu saja. Memangnya kenapa? Aku tidak boleh mengantarkanmu?”

“Ani. Aku hanya tidak ingin membuatmu repot, Tuan.”

“Kris. Namaku Kris, jadi jangan panggil aku Tuan. Kau sudah sangat merepotkanku. Jadi, untuk apa kau melakukannya setengah-setengah? Ngomong-ngomong, siapa namamu?” ujar pria itu melirik Yeon Hyo.

“Ah, ne Kris-ssi. Mmm… mianhae. Yoon Yeon Hyo, itu namaku,” gadis itu tersenyum, ia membenarkan tasnya. Terlihat tidak nyaman.

“Kau tidak bersalah, jadi berhentilah meminta maaf. Namamu bagus juga,” pujinya pada gadis itu, membuat rona merah tercetak jelas dipipi Yeon Hyo.

“Kamshamnida. Kau bisa berhenti didepan sana.”

“Ah, ne.”

Pria itu menepikan mobilnya didepan gedung apartement gadis itu. mempersilahkan Yeon Hyo untuk turun.

“Ah! Yeon Hyo-ssi,” panggil pria itu saat Yeon Hyo baru saja turun dari mobilnya.

“Ne?”

“Senang bertemu denganmu.”

***

Yeon Hyo’s Apartement.

Sepertinya keberuntungan benar-benar berpihak padanya hari ini. Ia bahkan tidak perlu meminta pria itu untuk mengantarkannya pulang. Gadis itu terus tersenyum jika mengingat kenyataan bahwa ia baru saja memberhentikan mobil dan menumpang pada orang yang tidak dikenalnya. Astaga, ide laknat darimana itu?

“Kau ini seperti orang gila, Yeon Hyo~ya,” cetus gadis yang sedari tadi memperhatikan tingkah Yeon Hyo. Gadis itu memang gila, tersenyum sendiri tanpa sebab.

“Terserah kau sajalah, onnie,” dengus gadis itu kesal.

“Ah, iya, besok onnie akan datang ke brithday party, kau mau ikut?” tawar Ah-Ra pada sahabat yang sudah ia anggap adiknya itu.

“Mmm..” gumam Yeon Hyo, seperti sedang mempertimbangkan. “Baiklah, aku akan ikut.”

*****

Cho Corp, Kyuhyun’s room.

“Kau urus sajalah, ini kan keinginanmu,” ujar Kyuhyun kesal saat Eunhyuk berkali-kali menghubunginya hanya unutk menanyakan seputar persiapan brithday partynya besok. Sebenarnya ia tidak ingin merayakan hari kelahirannya itu. baginya, itu sama saja seperti merayakan batas umurnya yang mulai mengurang. Tapi, sepupunya itu berhasil menghancurkan pertahanannya, dan ia kalah sekarang.

“Yak! Kan kau yang akan ber-ulangtahun!”

“Siapa yang menginginkan party, huh?”

“Baiklah, jangan salahkan aku jika kau tidak suka dengan konsepnya,” rutuk Eunhyuk dari balik ponselnya.

“Asalkan kau tidak menambahkan hiasan seperti boneka monyet atau rumbai-rumbai berbentukstrawberry aku pikir akan baik-baik saja,” jawab Kyuhyun santai, tapi sangat kentara jika ia mengejek sepupunya itu.

“YAK!!”

Dengan cepat ia menjauhkan ponselnya dan mematikan sambungan telfonnya. Pria itu tertawa kecil saat tahu jika ia berhasil membuat sepupunya itu kesal.

Kyuhyun kembali menyibukan dirinya dengan dokumen-dokumennya. Ia menarik laci yang terletak dibawah sebelah kanan mejanya. Benda kotak berwarna merah yang terletak diujung laci itu menarik perhatiannya. Dengan tidak yakin, ia mengambil benda itu, mengurungkan niatnya mencari dokumen tentang proyek barunya. Ia membuka perlahan kotak itu, menemukan dua pasang cincin perak didalamnya. Sederhana, tapi juga mengagumkan. Ingatannya kembali pada dua tahun lalu, saat kedua cincin itu kembali dalam genggamannya.

“Mianhae Cho Kyuhyun-ssi, aku tidak mungkin membuatmu menungguku, sedangkan aku sendiri tidak tahu apakah aku akan kembali dalam waktu dekat. Ini cincinmu, aku tidak berhak memiliki benda ini, kau bisa berikan ini pada gadis yang akan menjadi istrimu kelak. Aku akan membicarakan ini dengan eomma mu besok, bersama keluargaku tentunya. Sampai bertemu kembali Cho Kyuhyun-ssi..”

Tubuh pria itu menegang. Secepat itu kah hubungannya dengan gadis bermarga Kwon itu harus berakhir? Ini seperti lelucon, tidak, lebih dari sebuah lelucon. Apakah ini balasan untuknya karena telah mengacuhkan gadis-gadis diluar sana yang mati-matian menginginkannya? Atau ada gadis yang menyumpahinya?

“Jiyoon~a,” panggil pria itu pelan, nyaris berbisik. Ia bahkan masih memanggil gadis itu ‘Jiyoon~a’ bukan ‘Jiyoon-ssi’. “Terimakasih. Kau yang terbaik,” lanjutnya, tersirat makna keputus-asaan. Gadis itu membalas senyuman Kyuhyun dan berjalan meninggalkan pria itu.

Entahlah, ingatannya tentang gadis itu seperti kaset, dapat diputar ulang, meski ia tak menginginkan. Tapi, bayang-bayang gadis itu mulai memudar seiiring berjalannya waktu. Ah, ia butuh refreshing. Sepertinya kali ini ia berterimakasih pada Eunhyuk yang sudah mau menyiapkan brithday partyuntuknya. Yah, walau pada awalnya ia sendiri tidak menginginkan hal itu.

***

Eunhyuk’s Apartement.

“Apa?” tanya Kyuhyun sesaat sebelum ia menjatuhkan tubuhnya disofa milik Eunhyuk. Memijat-mijat tengkuknya dengan jari-jarinya. Sebenarnya ia sudah lelah sekarang. Tapi, hyungnya itu menghubunginya untuk datang ke apartement dan menggagalkan  niatnya untuk segera pulang dan beristirahat.

“Ini daftar nama undangan yang akan datang ke partymu,” ujar Eunhyuk menyerahkan buku yang tidak terlalu tebal kearah Kyuhyun. “Semua undangan sudah disebar.”

“Hyung, kau menyuruhku datang kemari hanya untuk ini?”

“Itu salah satunya,” ucap Eunhyuk tersenyum nakal pada sepupunya itu. Kyuhyun menaikan satu alisnya, mendadak jadi penasaran. “Kau bisa lihat. Ada nama siapa disana.”

Dengan cepat Kyuhyun membuka buku itu, memperhatikan setiap nama yang tertulis disana. Benar saja, matanya terbelalak lebar saat menemukan apa yang dimaksud Eunhyuk.

“Kau bilang… jika undangan itu sudah disebar, kan? Lalu, yang ini kau sebar kemana?” tanya Kyuhyun, sangat kentara dari nada suranya jika ia sangat penasaran akan jawaban hyungnya itu.

“Menurutmu? Aku bisa saja melakukan hal itu, itu terlalu mudah bagiku.”

“Memangmya kau yakin jika dia akan datang?” tanya pria itu ragu.

“Aku berani bertaruh dengan mu jika ia pasti datang,” jawab Eunhyuk mantap.

“Apa?”

“Kau harus membayari liburanku untuk keliling Eropa, bagaimana? Tertarik?”

“Itu mudah. Jika gadis itu tidak datang, keuntungan dari investasi-mu terhadap proyek itu untukku. Semuanya, deal?”

“Hei! Itu tidak adil bodoh! Aku tidak setuju jika begitu,” dengus Eunhyuk kesal.

“Apa yang tidak adil? Ini adil. Aku menaruh harapan cukup banyak dikedatangan gadis itu. Jadi, jika gadis itu tidak datang kau harus mengganti harapanku, itu tidak dapat dibayar dengan uang sebenarnya.”

“Baiklah, aku terima,” putus Eunhyuk akhirnya, ia menjabat tangan sepupunya itu.

*****

Yeon Hyo’s Apartement.

“Kau cantik,” puji seorang gadis, menatap dari atas hingga bawah penampilan Yeon Hyo.

“Onnie, apa ini tidak berlebihan?” tanya gadis itu seraya menaikan alisnya.

“Tidak. Kau cantik Yeon Hyo~ya.”

Gadis itu tersenyum. Ia bahkan tidak dapat menyembunyikan semburat merah yang tercetak di pipinya. Ia memang tampil cantik malam ini. Tidak ada yang special  sebenarnya pada malam ini. Hanya saja, kali ini ia akan datang ke acara brithday party pewaris tunggal keluarga Cho yang terkenal itu. Yeon Hyo sendiri belum pernah melihat bagaimana tampang pria itu yang membuat gadis bertekuk lutut mengharapkan cintanya. Sebegitu tampannya kah dia? Astaga, apa gadis-gadis yang menggilainya itu terkena semacam pelet?.

Yeon Hyo kembali melihat penampilannya dipantulan cermin. Cantik, ia benar-benar cantik. Tuhan benar-benar menciptakan sosok sempurna tanpa cacat sepertinya. Hanya dengan pink soft dressyang bagian pinggannya diberi pita dan rambutnya yang dijalin longgar semakin menunjang kesempurnaannya.

“Pakai ini!” perintah Ah-Ra, memberikan sepasang high heels berwarna soft cream.

“Mwoya ige? Kau menyuruhku memakai ini, onnie?” tanya Yeon Hyo tak percaya. High heels termasuk benda yang dibencinya. Jadi, sudah pasti ia akan menolak jika disuruh untuk memakai sepatu itu.

“Menurutmu?”

“Ya! Onnie~ya, neo michyeoseo? Bisakah aku hanya menggunakan flat shoes? Atau sepatu ketssaja?” tawar Yeon Hyo, tetap pada pendiriannya untuk tidak menggunakan high heels.

“Boleh saja,” ujar Ah-Ra, membuat gadis dihadapannya tersenyum kegirangan. “Tapi jika kau kuliah. Cepat pakai!” lanjutnya yang membuat Yeon Hyo mngerucutkan bibirnya dan mendengus kesal.

“Apa-apaan ini! Aku disuruh untuk menggunakan high heels sialan ini? Apa dia benar-benar gila, eh? Sial!” umpat gadis itu pelan, tidak ingin membuat onnie nya itu berbicara lebih banyak hanya karena sepasang high heels.

Mau tidak mau, gadis itu akhirnya berhasil mempercantik kaki jenjangnya dengan high heels sialan itu. Setidaknya itu membuat penampilannya semakin…. Entahlah, sulit untuk mendiskripsikannya. Yeon Hyo berharap, ia tidak akan membuat onnie nya itu malu didepan tamu-tamu nanti, dan semoga saja ia dapat bertahan hingga acara selesai.

 

“Aku tidak yakin namamu akan tetap terjaga dengan baik setelah high heels sialan ini terpasang dikaki ku, onnie.”

Ah-Ra berbalik, menatap mata gadis itu dengan penuh amarah, hanya untuk memperingatkan saja sebenarnya.

“Itu tidak akan terjadi jika kau mengenakan high heels itu secara sukarela, Yeon Hyo~ya.”

“Bagaimana aku bisa sukarela? Ini menyiksaku!”

“Kau sudah siap?” tanya Ah-Ra, tidak memperdulikan luncuran-luncuran protes Yeon Hyo.

 

“Jika kau pikir aku akan baik-baik saja, aku siap,” jawab Yeon Hyo sekenannya.

“Baiklah, kita akan berangkat.”

*****

At the Building, Kyuhyun’s Brithday Party.

Entah untuk keberapa kalinya Kyuhyun melirik arloji ditangannya dan menatap pintu masuk, berharap gadis itu secepatnya muncul dari sana.

“Ya! Lee Hyukjae! Mana janjimu?” tanya Kyuhyun.

“Masih ada waktu hingga acara selesai, kan?” goda Eunhyuk melihat sepupunya itu tidak sabaran.

“Baiklah, jika dia tidak datang, kau..”

“Arasseo.. arasseo.. kau ambilah keuntungan dari investasiku,” tukas Eunhyuk, memasukan kedua tangannya kedalam saku celana dan meninggalkan Kyuhyun sendiri.

Ini terlihat lucu memang. Seorang Cho Kyuhyun yang terkesan terlihat dingin dan cuek kini berubah menjadi pria yang tidak sabaran. Dan, Eunhyuk, kali ini ia yang menaruh harapan besar pada kedatangan gadis itu. Karena jika dia tak datang, matilah riwayatnya.

“Kyu, sepertinya kau harus memulai acara ini, para tamu sudah menunggu,” ujar Donghae yang menepuk bahu Kyuhyun. Pria itu kembali melihat pintu masuk.

“Sekarang? Ah, baiklah hyung.”

Kyuhyun berjalan kearah mini panggung yang sudah dirancang untuknya menyampaikan harapan apa yang ia inginkan.

“Test.. test..” ucap Kyuhyun, mengetes apakah mic itu menyala. “Ah, untuk yang pertama, aku berterimakasih pada kalian semua yang sudah datang. Sebaiknya kailan tidak usah menyanyikan lagu ulangtahun untukku, itu terlalu kekanak-kanakan.”

“Selanjutnya, aku tidak akan memberitahu apa harapan ku pada kalian semua, itu privasiku, jadi kalian tidak berhak untuk tahu.”

“Jadi dia atasanmu yang diidam-idam kan oleh para wanita itu?” tanya Yeon Hyo pada Ah-Ra.

“Hmm…” gumam Ah-Ra sebagai jawaban dari pertanyaan Yeon Hyo.

“Bagaimana bisa gadis-gadis itu jatuh hati pada pria seperti dia? Menggelikan.”

“Bukan hanya merayakan pertambahan umurku, aku juga ingin memberitahukan kalian jika..” ucapan pria itu terputus saat matanya menangkap sosok gadis yang datang dari arah pintu masuk bersama seorang pria.

“Kyu..” bisik Eunhyuk, saat sepupunya itu tiba-tiba saja menghentikan kalimatnya. Kyuhyun mengerjap-erjap kan matanya, mencoba mendapatkan kembali fokusnya.

“Jika aku akan melakukan pertunangan dengan gadis itu,” lanjut Kyuhyun, menunjuk seorang gadis yang berdiri tak jauh darinya.

“Aku?” tanya gadis itu, menunjuk dirinya sendiri.

“Ne, kau, nona.”

Bukan hanya gadis itu yang terkejut saat Kyuhyun mengatakan akan bertunangan dengannya. Eunhyuk, Donghae dan para tamu disanapun ikut terkejut. Entah tampang seperti apa yang diperlihatkan gadis itu. Ini benar-benar konyol!.

Kyuhyun berjalan menuruni tangga dan menghampiri gadis itu. Menggenggam pergelangan tangan gadis itu. Ada apa dengan pria itu? tiba-tiba saja mengumumkan pertunangan secara mendadak seperti ini? Memangnya dia pikir gadis yang diajaknya naik ke atas panggung itu akan menerimanya? Gila! Tidak, lebih dari gila.

“Nona Yoon Yeon Hyo. Dengan ini, aku, Cho Kyuhyun, menginginkanmu untuk menjadi tunanganku, menjadi calon istriku, calon ibu dari anak-anak ku. Kau menerima?” ujar Kyuhyun dihadapan para tamu. Ide gila apa yang ada diotaknya, huh? Jika gadis itu menolaknya… tamatlah riwayat seorang Cho Kyuhyun.

“Ne?”

Ruangan itu dipenuhi suara tepuk tangan dari para tamu. Ah-Ra, gadis itu tidak percaya jika atasannya itu mengenal Yeon Hyo dan… Yeon Hyo bahkan tidak pernah bercerita padanya. Kyuhyun menyematkan cincin dijari gadis itu, membuat suasana semakin ramai. Satu persatu para tamu itu berjabat tangan dengan Kyuhyun dan Yeon Hyo juga mengucapkan selamat.

“Aku perlu bicara denganmu, Kyu,” bisik Eunhyuk saat berjabat tangan dengan pria itu.

Eunhyuk tidak mengerti bagaimana cara berpikir sepupunya itu. Entah memang Kyuhyun yang menyembunyikan gadis itu darinya, atau dugaannya jika Kyuhyun tak pernah menjalin hubungan dengan gadis lain setelah ‘itu’ adalah salah. Ini membuatnya bingung, pria itu bahkan tidak berkata apa-apa padanya soal gadis yang kini berdiri sejajar dengan Kyuhyun.

“Kau tidak mengatakan apa-apa tentang ini.”

“Aku bisa menjelaskannya padamu onnie. Aku akan menemuimu setelah ini,” ujar Yeon Hyo pada Ah-Ra.

Ah-Ra berjalan menuruni panggung dan bergabung dengan tamu lainnya.

“Selamat, Cho Kyuhyun-ssi,” ucap Jiyoon, tersenyum pada Kyuhyun. Pria itu hanya bisa membalas senyuman gadis itu, tanpa berkata apapun.

“Ah! Kris-ssi?” seru Yeon Hyo saat pria yang datang bersama Jiyoon itu juga memberikan ucapan selamat padanya.

“Oh! Yeon Hyo-ssi? Ah, senang bisa bertemu denganmu lagi.”

“Kalian saling mengenal?” tanya Kyuhyun dan Jiyoon bersamaan, membuat pria itu menatap Jiyoon, hanya sebentar tapi.

“Tentu saja! Dia pernah menolongku waktu itu,” tutur Yeon Hyo.

“Selamat atas pertunanganmu, Yeon Hyo-ssi,” ujar Kris sembari tersenyum.

Dengan cepat ekspresi wajah gadis itu berubah, dari yang semula ceria kini kembali menrengut saat ia mengingat jika ia telah bertunangan denga pria yang tidak ia kenal. Kyuhyun menatap punggung Jiyoon yang semakin jauh darinya, saraf-saraf nya seperti menegang saat melihat tangan gadis itu bergandengan dengan pria bernama Kris.

“Setelah acara ini selesai, aku ingin bicara denganmu, nona Yoon. Aku ada urusan sebentar, ladeni para tamu itu,” ujar Kyuhyun, terdengar seperti memerintah. Pria itu meninggalkan Yeon Hyo dan mencari Eunhyuk.

“Cih! Kau pikir aku ini siapa? Itu tamu mu bukan tamu ku,” sungut gadis itu pada Kyuhyun yang sudah pergi meninggalkannya, semacam berbicara pada dirinya saja.

***

Outside hall.

“Ada apa?” tanya Kyuhyun, saat ia dan Eunhyuk berhasil menjauh dari kerumunan.

“Maksudmu apa dengan semua ini? Kau tidak sedang bercanda, kan?”

“Tentu saja tidak. Memangnya kenapa?”

“Aku tidak tahu jika kau memiliki hubungan dengan gadis itu. kau juga tidak pernah mengatakan apa-apa sebelumnya. Ini terlihat aneh, kau tahu? Pengumuman pertunangan yang mendadak diacara ulangtahunmu.”

“Ada atau tidak adanya hubunganku dengan gadis itu sama sekali bukan urusanmu, hyung. Memangnya apa yang harus ku katakan? Kau seperti tidak mengerti aku saja, aku senang membuat kejutan,” balas Kyuhyun santai, menatap Eunhyuk yang berdiri disampingnya.

“Kau serius? Kau tidak akan membuat gadis itu menangis, kan?”

“Apa aku pernah membuat seorang wanita menangis?”

“Tidak. Baguslah jika begitu,” ucap Eunhyuk yang kemudian meninggalkan Kyuhyun, merasa cukup dengan penjelasan pria itu.

“Ah! Aku akan merencanakan kegiatan keliling Eropa secepatnya. Siapkan dirimu, Kyu,” ujar Eunhyuk yang kembali mendekati Kyuhyun dengan cengiran lebar diwajahnya. Kyuhyun tau apa maksud pria itu sbenarnya. Gadis itu, Kwon Jiyoon benar-benar datang di brithday partynya, karena sepengetahuannya gadis itu berada di Kanada, melanjutkan sekolahnya disana. Yah, walupun gadis itu datang bersama pria lain, tapi itu cukup membuat ia puas, hanya dengan melihat wajah gadis itu lagi.

“Gomaweo, hyung,” desis Kyuhyun, yang sebenarnya ingin ia katakan pada Eunhyuk langsung, bukan berbicara pada dirinya sendiri.

 

-At The Same Time-

“Yeon Hyo~ya, aku tidak tahu bagaimana kau bisa menjadi tunangan Cho Kyuhyun. Kau tidak pernah bercerita padaku tentang ini.”

“Onnie~ya, kau pikir aku mengira hal ini akan terjadi? Aku bahkan tidak mengenalnya, hanya mengetahuinya dari media karena ia adalah seorang pengusaha muda terkenal. Melihat tampangnya saja baru hari ini.”

“Lalu, bagaimana dia bisa tahu namamu, huh?” tanya Ah-Ra, memiringkan kepalnya agar dapat menatap wajah Yeon Hyo yang memandang lurus kedepan.

“Mana aku tahu,” jawab gadis itu sembari mengangkat bahunya.

“Dan kenapa kau menerima lamaran itu?”

“Siapa yang menerima? Kau bisa dengan tidak nada yang keluar dari mulutku? Nada itu terdengar seperti ‘hah?’ buka iya. Argh! Pria itu tuli atu memang sengaja! Ini konyol,” gerutu gadis itu kesal.

“Memangnya kau tidak suka?”

“Apa maksudmu, onnie? Tidak suka dengan keadaan ini atau tidak suka dengan pria itu?”

“Dua-duanya.”

“Tentu saja tidak! Bertunangan dengan pria yang kau tidak kenal secara mendadak seperti ini. Dan aku juga tidak menyukai pria itu,” tukas Yeon Hyo tajam, benar-benar memperlihatkan jika ia memang tidak menyukainya, keadaan sekarang dan pria itu.

“Sepertinya, dia menunggumu,” bisik Ah-Ra yang mengendikan dagunya kearah pintu, tempat Kyuhyun yang berdiri menyandar dengan kedua tangan yang dilipat didepan dada.

“Kau bisa pulang duluan jika kau mau,” ujar Yeon Hyo yang langsung menghampiri Kyuhyun.

***

At the room.

Hening. Seperti itulah keadaan ruangan ini sejak satu jam yang lalu. Dua manusia itupun sibuk dengan dirinya sendiri. Kyuhyun yang sibuk denga PSPnya. Yah, walau sebenarnya ia tidak bisa memfokuskan semuanya ke PSP itu. Karena pada kenyataannya berdua disatu ruangan dengan seorang gadis itu risih, apalagi jika hanya diam seperti ini. Dan sialnya, sejak satu jam yang lalu, saat ia mengajak gadis itu untuk berbicara, Yeon Hyo tetap tidak mengeluarkan suara. Ah, dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana sekarang.

Yeon Hyo. Gadis itupun juga merasa risih dan canggung. Ia terus memainkan kukunya, tanpa berniat meminta pernjelesan pada pria sampinya yang sedang berkutat dengan PSP milik pria itu. Argh! Dia sudah kesal sekarang.

“Yak! Kau mengajakku kesini untuk apa? Baiklah, begini saja. Aku meminta penjelasanmu tetang pertunangan mendadak ini,” ujar Yeon Hyo akhirnya, setelah sekian lama berkutat dengan emosinya yang hampir meluap.

“Hhh..” Kyuhyun menghela napasnya, menghentikan kegiatanya bermain PSP dan menaruh benda itu disofa. “Kau ini bodoh atau apa, huh? Aku melamarmu, dan kau mengatakan iya, lalu apalagi?”

“MWOYA? Hei, Tuan Cho yang Terhormat, aku tidak mengenalmu sama sekali dan kau tiba-tiba menjadikanku tunanganmu? Apa kau sudah tidak waras? Aku tahu kau adalah pengusaha muda terkenal yang sangat kaya, atau bahkan kekayaanmu itu tidak akan habis hingga tujuh turunan, tapi, kau tidak bisa seenaknya seperti ini!”

“Persetan dengan kau mengenalku atau tidak. Aku menginginkanmu. Ini sudah terlanjur terjadi, dan kau sudah tahu jika aku adalah seorang pengusaha terkenal, yang kehidupanya pun hampir sama dengan seorang artis, selalu dikelilingi oleh media. Berita ini akan menyebar luas besok,” ucap Kyuhyun dalam satu tarikan napas, ia berkacak pinggang, memandang Yeon Hyo yang mulai kesal.

“Begini saja, kau tidak ingin dicap buruk oleh media dan orang-orang diluar sana, kan?” tanya Kyuhyun yang dijawab anggukan oleh Yeon Hyo. “Kita menikah saja, hanya untuk sementara, satu bulan. Setelah itu aku akan menceraikanmu baik-baik. Eo?”

“MWO? MENIKAH DENGAN MU???” seru Yeon Hyo dengan mata terbelalak. “Apa kau sudah gila? Menikah dengan orang yang tidak aku kenal? Aku tidak mau!”

“Aku akan membayarmu jika begitu. Ini demi nama baik ku juga nama baikmu, bodoh!”

Yeon Hyo mendengus. Ia memalingkan wajahnya dari tatapan Kyuhyun. Seperti memikirkan sesuatu. Gadis itu kembali menatap Kyuhyun, menghela napas sebentar.

“Baiklah. Tapi ingat, aku melakukan ini karena nama baikku, buka uangmu! Jadi kau tidak perlu membayarku dan berhenti mengataiku bodoh! Kau pikir kau pintar?”

“Tentu saja! Aku pengusaha muda terkenal, kau tahu itu kan, nona Yoon Yeon Hyo?”

*****

Yeon Hyo’s Apartement.

Ini gila! Benar-benar gila! Ini sudah tiga hari semenjak kejadian mendadak itu, tapi ia masih dibuat stress oleh tingkah gila seorang Cho Kyuhyun. Belum lagi berita tentang hal itu masih dibahas oleh media. Kehidupanya tidak tenang sekarang, didepan gedung apartementnya selalu ada wartawan yang terus mengintainya, ia bahkan selalu diikuti hingga kampus. Teman-teman kampusnya pun tak ada hentinya membahas tentang dirinya, apa mereka tidak bosan? Ia yang mendengarkannya saja sudah ingin muntah. Dan sekarang ia juga sering mendapatkan tatapan sinis dari para gadis dikampusnya. Haah~ gadis-gadis itu pasti iri dan cemburu padanya. Kini, seorang Yoon Yeon Hyo, yang tadinya biasa-biasa saja, menjadi terkenal dikampusnya.

Yeon Hyo mengambil ponselnya yang bergetar diatas nakas kecil. Cho Kyuhyun itu menelponya lagi. Entahlah, ia tidak menghitung untuk keberapa kalinya pria itu menghubunginya sehari ini.

“Wae?” tanya gadis itu malas.

“Temui aku sekarang.”

“Kau gila? Diluar banyak wartawan. Mereka akan mengikutiku jika bertemu denganmu!”

“Hhhh…” terdengar helaan napas berat milik pria itu. “Ya sudah, tidak usah,” Kyuhyun menutup sambungan telponya.

Lima hari lagi.. ia akan melangsungkan pernikahan palsu. Cih! Apa yang mau dibanggakan olehnya soal pernikahan itu? lagipula, pada akhirnya ia akan diceraikan juga, kan? Mungkin dimata media ia benar-benar terlihat seperti istri sungguhan dari Cho Kyuhyun. Yah, itu karena mereka tidak tahu yang sebenarnya. Untung, orangtua nya tidak disini.

Yoon Yeon Hyo adalah anak dari pengusaha terkenal di Jepang. Gadis itu memutuskan untuk bersekolah di Korea dengan biaya sendiri. Banyak yang tidak tahu memang, itu karena identitasnya sengaja disembunyikan oleh orangtua Yeon Hyo. Karena gadis itu tidak ingin mengikuti jejak ayahnya sebagai pengusaha, ia ingin menjadi dokter sebenarnya. Di Korea, ia melakukan kerja paruh waktu dicoffee shop sebagai barista.

Gadis itu bertemu dengan Ah-Ra karena mereka sama-sama pekerja paruh waktu di coffee shop. Tapi semenjak dua minggu yang lalu Ah-Ra berhenti kerja disana karena ia diterima sebagai sekertaris diperusahaan Kyuhyun. Tahun lalu Ah-Ra bekerja diperusahaan milik Lee Hyukjae. Tidak bertahan lama, hanya tiga bulan. Ia berhenti karena sebuah alasan ia ingin fokus dengan kuliahnya.

“Ya! Yoon Yeon Hyo! Buka pintunya!” teriak seseorang dari balik pintu apartement milik Yeon Hyo.

“Tunggu sebentar.”

Gadis itu membuka pintunya. Dengan cepat Kyuhyun masuk dan melepas alat penyamaran yang digunakannya, seperti jaket, masker, dan kacamata hitam yang bertengger dihidungnya dan langsung menjatuhkan tubuhnya diatas sofa sembari mengatur napasnya. Yeon Hyo sedikit kaget saat ia tahu pria itu yang datang ke apartementnya.

“Bagaimana…”

“Sangat sulit,” sahut Kyuhyun cepat sebelum gadis itu menyelesaikan pertanyaannya dengan jelas. “Apa para wartawan itu setiap hari disana?”

“Sepertinya begitu. Mereka sudah disana sejak kejadian mendadak itu dan makin tidak ingin beranjak dari sana saat kau mengatakan kita akan menikah. Aku hampir kehabisan stok makananku sekarang. Ini menyebalkan, kau tahu?” omel gadis itu pada Kyuhyun.

Kyuhyun melirik gadis yang sedangkan menuangkan air mineral digelas. Sebegitu parahnya kah keadaan gadis itu karenanya? Ini tidak boleh dibiarkan begini saja. Yah, ia tidak akan diam saja, kan?

“Aku akan mengatasinya.”

“Eh?” Yeon Hyo menoleh saat pria itu mengatakan hal tadi. Ia tidak mendengar apa yang Kyuhyun katakan, pria itu seperti bergumam pada diri sendiri.

“Ini semua terjadi karena aku, dan aku harus bertanggung jawab.” Ujar Kyuhyun pada Yeon Hyo saat gadis itu mengulurkan segelas air mineral padanya.

“Bagus. Kau sadar diri juga.”

*****

At the café.

“Hai,” sapa Kyuhyun saat seorang gadis sudah duduk dihadapanya, ia meletakan iPad nya diatas meja saat gadis itu sudah datang.

“Hai,” balas gadis itu. “Kau bagaimana?”

“Seperti yang kau ketahui, nona Kwon,” jawab pria itu singkat.

“Apa perlumu denganku?”

“Hanya ingin memberikan ini.” Kyuhyun memberikan undangan pernikahannya pada gadis itu. Jiyoon membalik-balikan undangan itu, kemudian membukanya. Ia hanya membaca nama yang tertera disana, lalu menatap Kyuhyun dengan tatapan ‘apa maksudmu?’.

“Tidak bermaksud apa-apa. Kau adalah gadis yang pernah dekat denganku. Satu-satunya selain ibuku dan gadis itu. Jadi, aku rasa jika aku mengantarkannya melalui orang lain, aku akan terlihat buruk diamatamu. Benar, kan?”

“Selalu seperti itu, kau tidak berubah, ya? Ini sudah dua tahun, terasa begitu cepat.”

“Terlalu lama hanya untuk melihat wajahmu. Kau banyak berubah sepertinya,” komentar Kyuhyun melihat penampilan gadis itu. memang berbeda dengan dua tahun lalu, terlihat lebih dewasa.

“Tidak juga.”

“Kau tidak mengucapkan selamat padaku?” tanya Kyuhyun tanpa malu-malu.

“Apa harus sekarang?”

“Hanya menawarkan,” jawab Kyuhyun menaikan satu alisnya.

“Baiklah. Selamat Cho Kyuhyun-ssi, jagalah gadis itu, baik-baiklah dengannya.”

“Gomaweo. Kau yang pertama, Jiyoon-ssi.”

“Ku rasa aku harus pergi sekarang. Aku ada janji dengan Kris untuk membawanya berkeliling seoul. Annyeong,” ujar gadis itu berpamitan dan menaruh undangan yang diberikan Kyuhyun kedalam tasnya.

“Tunggu,” sergah Kyuhyun, membuat langkah kaki gadis itu terhenti dan membalikan badanya, menatap Kyuhyun. “Dia.. kekasihmu?”

Jiyoon hanya tersenyum, dan mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan pertanyaan Kyuhyun.

“Aku akan datang ke wedding partymu.”

*****

Seperti sebuah mimpi, ia akan melangsungkan pernikahan dengan pria itu. Pria yang belum pernah ia kenal sebelumnya. Tapi anehnya, ia merasakan gugup, seperti akan melangsungkan pernikahan yang  nyata, bukan sekenario semata. Ia terus memandangi pantulan dirinya dicermin, meremas jari-jarinya sendiri. Ia benar-benar gugup sekarang. Ia butuh sesorang disampinya untuk menguatkanya.

Ia baru saja selesai dirias, dan penata rias itu menginggalkannya sendiri. Membiarkan ia memuji dirinya sendri, karena baru menyadari jika Tuhan memberikan wajah secantik dirinya, sesempurnanya tanpa cacat.

“Apa kau sudah selesai?” ujar Kyuhyun dari balik pintu kamar rias, menanyakan keadaan Yeon Hyo. Ia memang tidak diperbolehkan masuk dan menghampiri gadis itu. seperti sebuah pingitan.

“Sudah,” kata Yeon Hyo singkat. “Kyu… aku… aku gugup,” tutur gadis itu yang berbicara tepat dibelakang pintu, menempelkan telinganya disana.

“Tenangkan dirimu, Yeon Hyo~ya.”

“Ini aneh, kau tahu? Ini hanya sebuah sandiwara dan aku merasakannya seperti sebuah kenyataan. Aku tidak tau bagaimana perasaan orangtua ku saat…”

“Ssst..” sela Kyuhyun sebelum gadis itu melanjutkan kalimatnya. “Tenang saja.”

***

Yoido Full Gospel Church, Seoul.

Kyuhyun berdiri didepan altar dengan gagahnya mengenakan tuxedo. Pria itu terlihat sangat tampan, ia jarang menggunakan setelan jas ke kantor, seringnya memakai kemeja dan dasi saja. Dan melihat Kyuhyun yang sekarang. Ia benar-benar berbeda. Ia juga gugup sekarang, ia takut jika gadis itu tidak akan muncul dari balik pintu besar didepanya hanya karena tidak ingin mengecewakan orangtuanya.

Pintu itu terbuka, bersamaan dengan datangnya Yoon Yeon Hyo yang didampingi ayahnya. Kyuhyun sama sekali tidak menyembunyikan ekspresinya akan penampilan gadis itu. gadis itu jauh puluhan kali lipat lebih cantik dengan balutan gaun putih sederhana dan ditambah kalung yang menjuntai indah dileher jenjang gadis itu. ia tidak salah memilih, kan?

Detak jantung Kyuhyun semakin cepat sering langkah Yeon Hyo yang semakin mendekat kearahnya. Sangat terlihat jelas gadis itu sangat gugup. Itu artinya, ia harus menenangkan gadis itu dalam keadaan ia juga gugup. Ini memang sulit, tapi gadis itu membutuhkannya sekarang. Bukankan gadis itu juga yang membuatnya bisa melakukan ini?

Kyuhyun meraih tangan Yeon Hyo yang telah diulurkan oleh pria paruh baya yang sebenarnya adalah ayah Yeon Hyo. Ini berarti jika ayah gadis itu sudah menyerahkan anak gadis satu-satunya itu kepada Kyuhyun, berharap pria itu akan menjaga putrinya dengan baik, lebih baik dari yang dirinya bisa.

Kedua pengantin itu berbalik menatap pendeta. Kemudian mereka berdiri saling berhadapan, menatap satu sama lain. Yeon Hyo menatap Kyuhyun yang seolah pria itu mengatakan ‘tidak apa-apa, percayalah padaku’. Gadis itu menggengam erat tangan Kyuhyun. Pria itupun meremas ringan tangan Yeon Hyo, bermaksud menenangkan gadis itu.

“Tuan Cho, ikuti aku,” ujar pria tua yang menaruh kedua tangannya diatas kepala Yeon Hyo dan Kyuhyun.

“Aku, Cho Kyuhyun, menerimamu Yoon Yeon Hyo, untuk saling memiliki, mencintai satu sama lain, menjadikanmu kekasih, istri, ibu dari anak-anak ku, setia padamu, dalam susah maupun senang, sakit maupun sehat, sedih maupun bahagia, selama aku hidup, selamanya” ucap Kyuhyun mengikuti janji suci yang dibacakan pendeta, menatap Yeon Hyo tepat dimanik mata gadis itu.

“Aku bersedia,” jawab gadis itu pelan, sangat kentara jika ia gugup.

“Aku, Yoon Yeon Hyo, menjadikanmu Cho Kyuhyun, sebagai suami, pria yang akan ku hormati, pasangan hidupku satu-satunya, setia dalam susah maupun senang, sakit maupun sehat, sedih maupun bahagis, melewati rintangan bersama, mencintaimu untuk selamanya,” ucap Yeon Hyo yang semakin mengeratkan genggamannya ditangan pria itu.

“Aku bersedia,” jawab Kyuhyun mantap.

Kyuhyun memasangkan cincin yang dipilihnya tiga hari yang lalu ke jari manis tangan kiri Yeon Hyo, gadis itu, dengan tangan yang bergetar dan perasaan yang bercampur aduk, dengan hati-hati memasangkan cincin yang sama ke jari pria itu.

“Kau bisa mencium pengantinmu.”

Kyuhyun dan Yeon Hyo menoleh kaget kearah pendeta lalu saling berhadapan dengan mata yang saling memandang. “Kau tidak akan melakukannya, kan?” tanya Yeon Hyo dengan mulut terkatup, berusaha meredam suaranya agar tidak terdengar orang. Pria itu hanya tersenyum nakal, membuat Yeon Hyo ingin memundurkan langkahnya, menjauh dari pria itu. Ini palsu, untuk apa adegan berciuman itu dilakukan segala? Oh, gadis itu menjadi kalap sekarang. Ia tidak mungkin merelakan ciuman pertamanya direnggut pria itu dengan sandiwaranya , kan? Apa dia berpura-pura jatuh pingsan saja? Tidak! Itu konyol Yoon Yeon Hyo.

“Cium! Cium! Cium!” teriak para tamu serempak.

Kyuhyun semakin terbelalak saat mereka malah berteriak seperti itu. Senyumnya yang tadi itu hanya bercanda. Ia juga tidak ingin membuat gadis itu menjadi canggung dalam keadaan seperti ini. Kyuhyun memajukan kakinya, meletakan tangan kirinya ditengkuk gadis itu. ia menarik pelan wajah gadis itu, membuat jarak antara mereka sangat dekat, hidungnya nyaris bersentuhan. Pria itu menggumamkan sesuatu, tepat diatas bibir gadis itu dalam jarak kurang dari sati sentimeter. Tidak menempelkan bibirnya di bibir gadis itu tepatnya.

“Kau.. bersedia?” tanya Kyuhyun tertahan, seolah mengatur keluar masuknya oksigen yang tiba-tiba dirasanya hilang. Bagaimana tidak? Berdiri dengan jarak sedekat itu dengan lawan jenismu, kau pikir pria mana yang tahan?

Yeon Hyo hanya mengedipkan matanya, kemudian menutup mata itu saat bibir Kyuhyun berhasil mendarat dibibirnya. Pria itu melumat bibir tipis milik Yeon Hyo, menikmati setiap inci bibir gadis itu. ia memiringkan kepalanya dan menarik napas sebentar, kemudian kembali memperdalam ciumannya, menarik tengkuk gadis itu mendekat. Lalu ia melepaskan bibir mereka yang berpagut, memberi bonus kecupan ringan dibibir gadis itu.

Seperti tersengat listrik saat Kyuhyun melepaskan bibirnya dari bibir Yeon Hyo. Gadis itu bahkan tidak menyangka jika akan melakukan ciuman dengan pria yang sama sekali bukan siapa-siapanya itu. Ini ciuman pertamanya, dan itu dilakukan dalam sekenario yang dibuat Kyuhyun. Betapa sialnya ia. Yah, sangat sial.

“Mianhae,” desis Kyuhyun menangkup kedua pipi gadis itu.

*****

Kyuhyun’s room.

“Hei, apa maksdumu? Aku harus tidur bersamamu, begitu?” seru Yeon Hyo saat Kyuhyun membawakan kopernya kedalam kamar pria itu.

“Tentu saja! Memangnya apa lagi?”

“Ingat! Ini hanya sebuah sandiwara, Tuan Cho.”

“Kau mau kita ketahuan tidur diranjang yang berbeda saat Appa dan Eomma datang?” Tanya Kyuhyun menaikan satu alisnya.

“Baiklah. Tapi kau tidak boleh dekat-dekat denganku, ara? Dan jangan memandangiku saat tidur!”

“Seperti tubuhmu bagus saja untuk dipandangi!”

“YAK!!”

***

Entah untuk ke berapa kalinya Yeon Hyo berbalik menghadap kanan dan kiri. Tidak nyaman sepertinya. Ia kembali melirik Kyuhyun yang tertidur membelakanginya dengan pulas. Jadi posisinya sekarang, mereka berdua tidur dipinggir ranjang, saling membelakangi. Gadis itu mencoba memejamkan matanya. Namun hasilnya, nihil, ia tidak bisa tidur dalam keadaan gelap. Yah, meskipun disampingnya ada lampu tidur berwarna oranye.

“Kyu…” desis gadis itu sembari menggigit kukunnya, takut jika pria itu akan marah karena ia membangunkannya.

“Mmm..” gumam Kyuhyun, menandakan ia mendengar panggilan gadis itu.

“Boleh aku menyalakan lampunya? Aku tidak bisa tidur.”

“Nyalakan saja,” ujar pria itu serak.

Yeon Hyo bangkit dari tidurnya, berjalan menyalakan saklar yang terletak didekat pintu. Gadis itu kembali ke tempat tidurnya, menarik selimut hingga menutup seluruh tubuhnya, hanya menyisakan wajahnya saja. Kyuhyun membalikan tubuhnya, menatap Yeon Hyo yang masih membuka matanya, menatap langit-langit kamar.

“Kau masih belum bisa tidur?” tanya Kyuhyun yang dijawab anggukan oleh gadis itu. “Temani aku.”

“Mwo?”

“Bangun! Duduk lah.”

“Kau mau apa?” keluh Yeon Hyo saat tangannya ditarik dan membuat posisinya menjadi duduk.

“Temani aku saja,” ujar Kyuhyun menundukan wajahnya. “Ceritakan padaku bagaimana kau bisa mengenal… Kris?”

“Apa itu penting?”

“Ceritakan saja!”

“Baiklah,” ujar Yeon Hyo pelan. “Aku bertemunya saat hujan. Kau tahu kan, jika hujan bus akan jarang melewati halte. Dan saat itu Kris datang, aku memberhentikan mobilnya sebenarnya. Saat itu, aku benar-benar tidak peduli dengan harga diriku. Aku benci hujan, jadi tidak mungkin aku akan menunggu hingga bus datang. Itu pasti malam sekali!”

Kyuhyun memperhatikan bagaimana gadis itu menceritakan kronologis kejadiannya. Itu lucu. Gadis itu terluhat seperti anak kecil yang sedang menceritakan pengalamanya didepan orang banyak. Yeon Hyo mengeluarkan banyak mimik yang membuat Kyuhyun gemas.

“Lalu aku memintanya untuk mengantarkanku. Dia baik.”

“Hanya seperti itu?” tanya Kyuhyun membulatkan matanya, sebenarnya bukan karena cerita itu menarik. Tapi si pencerita yang menarik perhatiannya.

“Memangnya kau pikir seperti apa?” dengus Yeon Hyo mengerucutkan bibirnya.

“Aku mengantuk! Cepat tidur.”

“Kau ini aneh, ya?” komentar Yeon Hyo saat pria itu tiba-tiba saja menjadi aneh.

“Tidur bodoh!”

“Kau yang bodoh!”

“Kau! Yoon Yeon Hyo!”

“Kau! Cho Kyuhyun!”

“Terserahmu! Aku mengantuk! Jangan ganggu aku!” tukas Kyuhyun membalikan tubuhnya lagi dan menarik selimut, menutupi tubuhnya.

“Siapa yang mengganggu siapa! Cih! Kau menyebalkan!”

“Kau yang menyebalkan, gadis bodoh!”

“Kau, pria bodoh!”

Hening. Kyuhyun mengalah untuk tidak membalas kata-kata gadis itu lagi. Jika ia terus membalasnya, mungkin tidak akan berhenti berdebat hanya karena hal spele dengan Yeon Hyo hingga esok pagi.

***

 

Cho Corp, Kyuhyun’s room.

“Baigamana malam pertamamu?” tanya Eunhyuk dengan mata berbinar-binar.

“Aku tertidur.”

“Kau tidak…”

“Yak! Kau pikir aku sama sepertimu? Otak mesum!” sela Kyuhyun cepat sebelum sepupunya itu menyinggung hal yang lebih jauh.

“Kau tidak sedang mempermainkan gadis itu, kan?” tanya Eunhyuk yang membuat Kyuhyun tersentak.

“Kau pikir sejak kapan aku mempermainkan wanita? Memangnya kau, hyung!” kilah Kyuhyun yang berjalan kearah meja kerjanya. Seperti menghindar dari Eunhyuk.

“Lalu, bagaimana dengan Jiyoon-mu itu?”

Kyuhyun menghetikan gerak tangannya yang sedang menandatangani berkas-berkas dihadapannya. Menatap kertas-kertas itu seperti sedang mengingat sesuatu.

“Selamat, Cho Kyuhyun. Kau berhasil mendapatkan gadis yang akan menemanimu hingga kau tua nanti. Gadis yang akan selalu kau cintai dan mencintaimu. Jaga dia dia baik-baik, ara?” ucap Jiyoon menepuk bahu Kyuhyun, tersenyum pada pria itu.

Ucapan gadis itu kembali terngiang di otaknya. Kini, ia sudah memiliki gadis lain yang harus ia jaga perasaanya dan Jiyoon.. Ah, gadis itu sudah memiliki pria lain yang dapat membuatnya tersenyum, lebih dari yang Cho Kyuhyun lakukan.

“Apa maksudmu, hyung? Gadis itu sudah memiliki pria lain, lagipula… aku sudah memiliki istri.”

“Jadi, kau sudah bisa melepaskan gadis itu?”

“Bisa dikatakan seperti itu,” jawab Kyuhyun memperlihatkan senyumnya.

*****

At the park, Kyunghee University.

“Hei,” sapa Ah-Ra saat ia berhasil menemukan Yeon Hyo setelah lima belas menit yang lalu mencari gadis itu. Yeon Hyo mengalihkan pandangannya dari buku yang ada dipangkuannya, menatap Ah-Ra aneh.

“Bagaimana kabarmu, nyonya Cho?”

“Jangan panggil aku seperti itu! Menurutmu bagaiamana? Jika hidup selalu dikelilingi oleh media itu enak, berarti akau baik-baik saja.”

“Jika aku menjadi dirimu, aku akan memamerkan status baruku pada gadis-gadis disana,” ujar Ah-Ra mengendikan dagunya kearah segrombolan gadis yang sedang mencibir.

“Aku tidak berminat melakukan hal itu. Untung saja, kampus tidak mengizinkan media untuk masuk.”

“Baru satu minggu kau tinggal dengan pria itu dan kau jadi pendiam,” komentar Ah-Ra, menyandarkan tubuhnya disamping tubuh Yeon Hyo.

Yeon Hyo merogoh sakunya, mengambil ponselnya yang berdering. Gadis itu menatap malas kearah layar ponsel yang menampilkan nama suaminya. Suami? Haruskah ia mengatakan jika pria bernama Cho Kyuhyun itu suaminya? Itu.. terdengar sangat aneh.

“Wae?”

“Kau masih dikampus?”

“Memangnya kau pikir pada jam-jam seperti ini aku dimana?” jawab gadis itu ketus.

“Bisa kau pulang sekarang?” Yeon Hyo mengernyit. Tidak biasanya pria itu menyuruhnya pulang. Ia selalu pulang sendiri jika sudah waktunya.

“Aku sudah menunggumu diluar.”

Apa katanya? Dia sudah berada diluar? Menunggunya? Apa pria itu tidak memikirkan keselamatannya? Aish!.

“Aku akan segera kesana.”

***

BRUK!!!

Yeon Hyo buru-buru mengambil buku-bukunya yang terjatuh akibat menabrak sesuatu yang cukup kokoh. Ia bangkit dan menatap siapa orang yang baru saja ditabraknya.

“Jhweseonghamnida song…” Gadis itu menghentikan kalimatnya saat ia tahu siapa yang barusan yang ia tabrak. Ia bahkan tidak percaya jika pria dihadapannya ini adalah Cho Kyuhyun. Penampilan pria itu benar-benar memabukan, setelan jas hitam, rambut yang sedikit berantakan dan bersinar dibawah terpaan sinar matahari. Dia tidak sedang membuat para gadis mati karena sesak napas, kan? Atau kematian dini karena serangan jantung.

“Kalau jalan hati-hati, bodoh!” ucap Kyuhyun dengan nada ketus. ia bahkan tidak berniat membantu gadis itu mengambil buku-bukunya.

“Kau.. sedang apa disini?”

“Menjemputmu. Apalagi? Ayo,” ajak Kyuhyun menggandeng pergelangan tangan gadis itu. Astaga, apa pria itu sengaja melakukannya? Ini tempat umum, dan dia tidak sedang membuat tatapan iri gadis-gadis itu membunuhnya, kan?

Dengan otomatis, segerombolan gadis yang memblokir jalan itu perlahan menyingkir, memberi jalan pada sepasang suami-istri yang berjalan melewati mereka. Secara tidak sengaja, ia bahkan sedang memberikan pemandangan menarik kepada para mahasiswi di kampus tersebut. Dan ini juga pertama kalinya seorang Cho Kyuhyun mendatangi kampus mereka.

Kyuhyun menarik Yeon Hyo kedepan gedung kampus dan memesukan gadis itu kedalam mobilnya. Kilatan cahaya kamera memancar begitu saja tanpa jeda. Puas-puaslah mereka mngambil gambar Cho Kyuhyun dengn Yoon Yeon Hyo. Hal seperti ini tidak sering terjadi, kan?

“Aku ingin tahu, apa setiap hari kau selalu seperti ini?” tanya Kyuhyun saat ia berhasil masuk dan duduk disamping Yeon Hyo.

“Apa maksudmu?”

“Teman-temanmu itu selalu menatapmu seperti itu, ya? Dan para wartawan itu sepertinya tidak pernah bosan menunggumu.”

“Ini semua karena kau, bodoh! Jika saja aku tidak menjadi istrimu, mungkin hidupku tenang-tenang saja sekarang,” protes gadis itu dengan nada ketus.

“Jadi, kau menyesal menjadi istriku?”

Yeon Hyo menengok ke arah Kyuhyun, menatap pria itu nanar. Apa maksud pria itu? pertanyaannya tadi terdengar mengganggu ditelinganya. Lagipula, menyesali hal yang sudah terjadi itu tidak ada gunannya, kan?

“Perhatikan saja jalanmu.”

*****

Cho Corp, Kyuhyun’s room.

PENGUSAHA MUDA CHO KYUHYUN, MENJEMPUT ISTRINYA DIKAMPUSHeadline berita yang menarik,” ujar Eunhyuk membaca headline berita dikoran paginya. Pria itu menatap Kyuhyun yang sedang menatap layar komputernya dengan kacamata bertengger dihidungnya.

“Kau tidak pernah habis dibahas oleh media, ya?” tanya Eunhyuk yang terdengar tidak membutuhkan jawaban Kyuhyun. “Aku jadi penasaran. Apa istrimu tidak terganggu dengan semua ini?” cecar Eunhyuk.

Kyuhyun terpaksa mendongak, menatap Eunhyuk dengan melepaskan kacamatanya, melipat kedua tangannya dan meletakannya diatas meja.

“Untuk apa kau penasaran dengan kehidupan istriku, hmm?”

“Ehm.” Eunhyuk berdeham. “Sepertinya rasa penasaranku sudah hilang,” lanjutnya dengan susah payah menelan ludah. Kyuhyun terlihat lebih menakutkan jika sudah menggunakan nada yang dilembut-lembutkan begitu.

“Bagus. Ah, aku lupa! Aku akan ambil cuti minggu depan, jadi kau harus menggantikanku untuk sementara, hyung.”

“Mwo? Kau mau kemana?” tanya Eunhyuk, pria itu melangkah mendekat ke meja Kyuhyun.

“Aku tertarik dengan fotografi,” jawab Kyuhyun memamerkan deretan giginya yang putih.

“Kau mengerikan,” ucap Eunhyuk bergidik. “Sejak kapan kau menyukai fotografi?” tanya pria itu penasaran.

“Itu rahasia.”

*****

Kyuhyun’s room.

2 minggu. Tidak terasa, bukan? Pria itu bahkan sudah melewatkan setengah dari perjajnjian pernikahan dengan gadis itu. Waktu terasa sangat cepat berlalu. Ia bahkan tidak pernah memiliki waktu dengan gadis itu. Saat pagi, ia bangun lebih awal dan saat malam, ia pulang larut. Jika saja ini adalah pernikahan sungguhan, mungkin kini istrinya itu mulai bosan hidup dengannya. Sepertinya, keputusannya untuk cuti dapat membuatnya baik dimata gadis itu.

“Hyo~ya, bangun,” ujar Kyuhyun ditelinga gadis itu.

“Aku tidur pukul tiga pagi tadi. Jadi, aku masih mengantuk. Jangan ganggu aku,” oceh gadis itu dengan mata yang masih terpejam dan menarik selimut pinknya kembali.

Kyuhyun mengernyit. Gadis itu baru tidur pukul tiga pagi? Seingatnya, saat ia pulang dari kantor dia tidak menemukan gadis itu. Ah, ia pulang lebih awal semalam, mungkin gadis itu belum pulang.

“Aku… merindukamu.”

***

Yeon Hyo menggeliat dibalik selimutnya, mencoba membuka matanya dan membiasakan matanya terkena sinar matahari. Ia tidak ada kuliah hari ini. Jadi dia tidak perlu tergesa-gesa untuk mandi dan berangkat kuliah. Ah, hari libur seperti surga untuknya. Ia tidak perlu bertemu wartawan-wartawan itu hari ini. Tapi berita tentang kejadian satu minggu yang lalu, saat Kyuhyun menjemputnya dikampus, masih saja dibahas oleh media, apa mereka tidak bosan? Atau para penikmat acara gossip itu tidak merasa jenuh? Sepertinya tidak. Bahkan, acara yang menayangkan berita tentang hal ‘itu’ ratingnya selalu naik. Ia sendiri bahkan heran, bagaimana setiap orang tidak merasaa bosan karena berita yang ditayangkan selalu sama.

Gadis itu mengusap tengkuknya. Sepertinya, tadi ia mendengar Kyuhyun mengatakan sesuatu. Ah, entahlah, ia terlalu lelah untuk menyadari, apa itu mimpi atau memang Kyuhyun benar-benar mengatakan hal itu. Gadis itu bangkit dari kasur dan berjalan ke kamar mandi.

Yeon Hyo berjalan menuruni tangga, dengan tangan yang mengeringkan rambut basahnya dengan handuk kecil.

“Kau tidak ke kantor?” tanya Yeon Hyo pada Kyuhyun yang sedang sibuk dengan PSPnya.

“Aku ini direkturnya. Terserah aku mau masuk atau tidak,” jawab Kyuhyun enteng.

“Cih! Apa-apan itu! Kau ini memang suka se-enaknya saja, ya,” cibir gadis itu dengan bibir mengerucut.

“Hei, aku ini sedang berusah menjadi suami yang baik untukmu, bodoh!” Kyuhyun menghentikan kegiatannya dengan PSP itu dan beralih mentap Yeon Hyo yang sedang mengunyah sandwich.

“Aku tidak perlu kau menjadi suami yang baik untuk ku,” cetus Yeon Hyo dengan mulut yang penuh dengan sandwich. Tidak terlalu jelas terdengar ditelinga Kyuhyun sebenanrnya.

“Berat badanmu sepertinya bertambah semenjak kau tinggal bersamaku.”

“Bagaimana tidak? Jung ahjumma selalu membuat makanan untukku, dia bilang ‘Aku senang melihatmu memakan masakanku, jadi makan yang banyak’” tutur Yeon Hyo mengikuti cara bicara Jung ahjumma itu. Jung ahjumma adalah orang yang selalu datang kerumah Kyuhyun untuk memasak. Wanita paruh baya itu sudah seperti sosok ibu untuk Kyuhyun.

“Cih, tapi kau memang menyukainya, kan?” cibir Kyuhyun yang dibalas cengiran lebar tanpa dosa dari Yeon Hyo.

“Dua minggu, terasa terlalu cepat,” gumam pria itu pelan, tidak berniat mengatakannya pada Yeon Hyo.

“Mwo?” tanya gadis itu saat mendengar Kyuhyun menggumamkan sesuatu, tidak jelas ditelinganya.

“Aniya, opseo (tidak, tidak ada)”

*****

“Aish!” dengus Yeon Hyo entah untuk yang keberapa kalinya. Gadis itu sekarang sedang bingung dengan pakaian apa yang akan dikenakannya untuk ajakan Kyuhyun tadi siang.

“Hyo~ya,” panggil Kyuhyun lirih, yang sontak membuat Yeon Hyo menghentikan langkanya dan membalikan tubuhnya, menaikan satu alisnya saat Kyuhyun tidak beranjak mengeluarkan suara. “Aku menunggumu. Nanti malam diruang makan. Kita… eumm.. kita akan melakukan dinner.”

Yeon Hyo kembali mengingat apa yang tadi siang Kyuhyun katakan. Pria itu… mengajaknya makan malam? Biasanya, ia dan Kyuhyun makan sendiri-sendiri. Jika gadis itu sudah selesai makan, Kyuhyun baru akan makan. Itu sudah terjadi selama lima hari, sejak Kyuhyun memulai cutinya.

“Baiklah, Yeon Hyo~ya, dia hanya mengajakmu makan malam, oke? Kenapa kau jadi frustasi seperti ini, hah? Aish!” rutuk Yeon Hyo pada diri sendiri. Ia menatap baju putih dan celana pink pendek yang berhamburan diatas ranjang. Matanya berbinar-binar, seolah-olah ia telah menemukan harta karun. Gadis itu dengan cepat meraih baju putih dan celana pink pendeknya dan berlari ke kamar mandi.

“Eo? Ini tidak buruk, kan?” ujarnya pada diri sendiri saat melihat penampilannya dicermin.

 

Gadis itu menuruni satu per satu anak tangga didepannya. Menatap Kyuhyun yang sudah menunggunya dimeja makan. Pria itu bahkan hanya mengenakan kemeja kotak-kotak dan celana jins. Bukan tuxedo yang diperkirakan Yeon Hyo.

***

“Yak! Ige mwoyaaaa? Aku tidak suka sayuran, ara? Jadi jangan taruh sayur-sayur itu dipiringku!” seru Yeon Hyo, saat Kyuhyun menaruh sayuran yang ada dipiringnya ke piring gadis itu.

“Hei, gadis bodoh! Sayuran itu baik untuk kesahatan. Pantas saja kau bodoh, kau bahkan tidak menyukai sayuran,” komentar Kyuhyun yang tak mau kalah dengan Yeon Hyo.

“Yak! Berhenti mengataiku bodoh! Aku tdak bodoh! Lalu, apa maksudmu menaruh sayuran itu dipiringku, hah?”

“Aku benci sayuran,” kata Kyuhyun singkat.

“Kau bilang sayuran itu baik untuk kesehatan. Kau sendiri bahkan tidak menyukainya. Dasar Cho Kyuhyun bodoh!”

“Aku memang tidak menyukai sayuran, tapi aku tidak bodoh sepertimu.”

“Kau ini tidak ada romantis-romantisnya, ya? Pantas saja tidak ada gadis yang mau denganmu.”

“Jadi… kau mau aku bersikap romantis padamu, begitu?” tanya Kyuhyun yang mendapat tatapan kaget dari Yeon Hyo. Gadis itu mengutuk mulutnya yang terkendali diluar batas. “Mimpi saja kau.”

Yeon Hyo mendengus. Ia kembali melanjutkan makannya.

Acara makan malam itu bahkan baru berjalan lima belas menit, tapi sudah dimulai dengan pertengkaran. Bisa dibilang, kehidupan mereka itu selalu diisi dengan pertengkaran. Bahkan hanya karena hal kecil mereka bisa bertengkar. Yah, hanya pertengkaran biasa. Kyuhyun bahkan lebih memilih gadis itu berteriak ditelinganya dibanding gadis itu hanya diam saja.

“Maafkan aku.”

*****

“Kau mau kemana?” tanya Yeon Hyo saat melihat Kyuhyun sedang memasukan baju-bajunya kedalam koper.

“Aku akan ke Amerika untuk bertemu dengan relasi bisnis appa.”

“Berapa hari?”

“Tiga hari mungkin,” jawab Kyuhyun tak yakin.

“Eumm.. aku.. aku ingin tau apa rencanamu untuk perceraian kita.” Yeon Hyo mengusap-usap tengkuknya. Tangan pria itu terhenti diudara saat gadis itu menanyakan hal tersebut. ia menatap Yeon Hyo tajam.

“Memangnya berapa hari lagi?”

“Satu minggu.”

“Kau mau aku menceraikanmu atau kau yang menceraikan ku, hm?” tanya Kyuhyun lirih, tidak berniat membahas hal itu sebenarnya.

“Terserah kau saja,” jawab gadis itu singkat.

“Apa harus bercerai?”

Yeon Hyo mendongak, menatap Kyuhyun dengan mata membulat. Ia tidak tahu, apakah pria itu sedang bermain-main dengan pertanyaannya atau memang ia lupa. Tapi, wajah pria itu terlihat serius. Sangat serius.

“Perjanjanjiannya kan seperti itu,” sahut Yeon Hyo membalikan tubuhnya, berjalan ke arah sofa dan menjatuhkan tubuhnya disana.

“Masih ada lima hari setelah aku kembali dari Amerika. Aku akn memikirkannya nanti,” tandas Kyuhyun enteng. Ia kembali membereskan pakaiannya.

“Kau mau mengantarkanku ke airport, tidak?”

*****

Yeon Hyo menatap enggan sarapanya. Entah, ia tidak tahu. Sudah satu hari ia tidak mendengar teriakan pria itu. Ia merasa… tidak memiliki semangat untuk melakukan kegiatan apapun. Ia mengutuk dirinya sendiri saat ia menolak mengantarkan pria itu ke bandara. Setidaknya, jika ia bisa mengantarkan pria itu, ia tidak akan menyesal seperti sekarang. Gadis itu terus mengacak-acak nasi gorengnya tanpa berniat memasukan sesendok pun kedalam mulutnya.

Gadis itu memutar bola matanya, melirik jam didinding yang menunjukan pukul 8.30. Ia bahkan lupa jika ia ada kuliah jam sembilan. Yeon Hyo bangkit dari duduknya, berjalan dengan malasnya ke kamar yang terletak dilantai dua. Ia berjalan dengan menyeret kakinya, menaiki tangga.

“Ahjumma, aku berangkat,” pamit gadis itu dengan nada lirih.

“Ada apa dengan anak itu?”

*****

Kyuhyun’s Apartement, New York, America.

Kyuhyun menyandarkan tubuhnya dikursi kerjanya, memijit-mijit pelan tengkuknya. Ia meraih benda kotak hitam yang tergeletak di mejanya. Menekan beberapa angka yang sudah dihafalnya diluar kepala. Pria itu mengehentikan gerakan tangannya saat keberaniannya untuk menghubungi gadis itu tiba-tiba hilang. Ia tidak mengerti, saat klien-nya itu sedang membicarakan tentang proyek baru yang akan dirancang, fokusnya hilang. Ia malah memikirkan gadis itu.

Kehadiran gadis itu seperti narkoba baginya, membuatnya candu dan ingin terus gadis itu selalu disampingnya. Ia tidak tahu apa yang gadis itu gunakan sehingga membuatnya menjadi seperti ini. Ia bahkan tidak tahu sedang apa gadis itu sekarang? Bagaimana gadis itu sekarang? Seringkali ia berpikir jika kehadirannya dikehidupan gadis itu seperti musibah yang amat sangat besar menerjang gadis itu. Soal perceraian yang disinggung gadis itu kemarin pagi, membuatnya semakin gila sekarang.

Selama gadis itu tidak dalam jarak pandangnya, ia tidak akan baik-baik saja. Kyuhyun meraih melirik ponselnya yang bergetar. Menatap layar posel tersebut dengan dahi berkerut.

“Ne, ahjumma. Wae?”

“………”

“Geurae. Arasseo.”

Pria itu menutup panggilannya dengan wajah yang berubah menjadi panik. Ia meraih jas yang tersampir dikursi kerjanya dan mencari nama kontak diposelnya.

“Ah, Lee Soon Hye? Batalkan semua jadwal meeting ku besok,” ujarnya sembari berjalan melewati lorong apartement dengan langkah cepat.

“Ne? Tapi Tuan.. Han sajangnim akan membatalkan proyek tentang produk baru yang…”

“Aku tidak peduli. Kau batalkan atau aku memecatmu.”

***

On the plane, back to Korea from America.

Kyuhyun memutuskan untuk pulang lebih cepat dari yang direncanakan. Pria itu mengambil penerbangan ke Korea secepat yang ia bisa, meskipun harus membayar tiket kepada orang dengan harga tiga kali lipat lebih mahal. Ia mendapat kabar dari Jung ahjumma jika gadis itu tidak makan seharian. Sekarang bagaimana bisa ia tetap di Amerika sedangkan gadis itu tidak baik-baik saja di Korea. Berkali-kali ia melirik arloji ditangannya. Waktu seperti berjalan sangat lambat, ia seperti melihat jam yang sama setiap kalinya.

Mungkin ia memang benar-benar jatuh diperangkap gadis itu. Ah, tidak, gadis itu tidak memasang perangkap apapun padanya. Hanya saja, ia dengan bodohnya telah jatuh cinta pada gadis itu. tapi saat ia menyadari jika dirinya telah jatuh cinta pada gadis itu, ia tidak pernah menyesalinya, menyesali takdir yang memang membuatnya untuk memilih gadis itu, menjadikan gadis itu pilihan satu-satunyayang ia miliki.

Pria itu mendongakan kepalanya, memejamkan matanya, mencoba untuk istirahat, mengingat dari kemarin ia belum tidur. Jadwalnya terlalu padat. Kyuhyun kembali membuka matanya, rasanya sulit untuk istirahat sebentar saja dalam keadaan khawatir seperti ini. Separah itu kah gadis itu mempengaruhi hidupnya?

Ia bergerak gelisah dalam duduknya. Seperti cacing yang kepanasan. Sesekali miring kekanan lalu kekiri, dan seperti itu selanjutnya. Lain kali, ia tidak akan membuat keadaan gadis itu memburuk dan membuatnya khawatir dan nyaris gila seperti sekarang.

***

Kyuhyun’s Home, Yeoju, Gyonggi-do, Seoul.

Kyuhyun menekan beberapa nomor pin rumahnya dan membuka pintu. Sepi. Ia tidak menemukan gadis itu didalam. Baiklah, ini sudah biasa ia alami jika pulang larut malam seperti ini. Seharusnya ia sudah sampai dirumahnya dua jam yang lalu. Tapi karena ada kecelakaan dan pengevakusian yang terbilang lambat, ia terjebak didalam mobilnya selama dua jam. Astaga, ia bahkan hampir keluar dari mobilnya dan berlari kerumahnya, tapi mengingat jarak rumahnya yang jauh dari lokasi tersebut, ia mengurungkan niatnya.

“Hyo~ya” pangilnya, kekhawatirannya semakin meningkat saat ia tidak melihat gadis itu dikamarnya. Ia mulai berlari keluar dan membuka pintu setiap ruangan. Peruntungannya ada pada ruang kerjanya, gadis itu disana. Kyuhyun berjalan mendekat ke arah meja kerjanya, mendapati gadis itu tengah tertidur pulas dengan beberapa buku diatasnya. Beginikah cara gadis itu mengabaikan rasa rindu pada Kyuhyun? Mencoba menyibukan dirinya sendiri?

Kyuhyun menyingkirkan anak rambut yang mentupi wajah Yeon Hyo, menyelipkannya ditelinga gadis itu. Ia tidak tahu, apakah ia harus membangunkan gadis itu dan menyuruhnya pindah ke kamar atau ia yang membawa gadis itu ke kamarnya. Sepertinya Kyuhyun tidak tega mengambil pilihan pertama saat ia melihat gadis itu tertidur dengan pulas.

Ia menyelipkan jari-jarinya di bawah paha Yeon Hyo dan menaruh leher gadis itu  dilengannya, membawa tubuh gadis itu dengan bridal style. Ia menutup pintu kamar menggunakan tumitnya, menaruh dengan hati-hati gadis itu diatas ranjang. Kyuhyun menyibakkan anak rambut yang menutupi wajah Yeon Hyo, mengagumi sesaat ciptaan Tuhan yang dirasanya sangat sempurna, tidak ada cacat sedikitpun diwajah gadis itu, mungkin juga tidak manusiawi. Terlalu cantik untuk ukuran manusia. Membuat Kyuhyun merasa beruntung memiliki gadis itu.

“Ini terdengar konyol memang. Tapi kau harus tahu Yeon Hyo~ya, aku sudah terlalu jauh menaruh rasa padamu, menjadikanmu kelemahanku. Terlalu mudah untuk mencintaimu, bahkan jika aku tidak menginginkannya sekalipun, aku tetap akan jatuh dihatimu. Tapi kau juga harus tau,” Kyuhyun menghentikan ucapannya, mengelus pelan wajah gadis itu. “Melapasmu… itu hal tersulit dalam hidupku.”

“Selamat malam, Hyo~ya.”

***

Dining room, Kyuhyun’s home, Yeoju, Gyeonggi-do, Seoul.

“Kenapa kau pulang?” tanya Yeon Hyo seraya memotong apel. Pagi ini ia sarapan bersama dengan Kyuhyun, untuk pertama kalinya sejak ia menikah dengn pria itu. Ia bahkan terkejut saat mendapati Kyuhyun sudah duduk diruang tamu dengan PSP ditangannya. Seingatnya, pria itu mengatakan akan tiga hari di Amerika, dia yang salah dengar atau memang pria itu pulang cepat?

“Kerjaan ku sudah selesai. Memangnya mau apa lagi?” jawab Kyuhyun santai, memangku dagunya dengan kedua tangannya diatas meja, memperhatikah tangan gadis itu memotong apel.

“Kau tidak berbohong, kan?”

“Tidak,” tandas Kyuhyun singkat dengan wajah tak berdosa.

“Aku..”

“Aku akan memikirkannya nanti. Saat ini aku masih lelah,” ujar Kyuhyun menyela ucapan gadis itu.

“Dengarkan aku dulu! Kau ini tidak punya sopan santun, ya?” tukas gadis itu mengerucutkan bibirnya. “Aku berencana pulang ke apartement, eo?”

“Tidak. Aku tidak mengizinkanmu, ara?” jawab Kyuhyun mendadak serius.

“Kau ini sedang menjadi suami yang protektif, ya?”

“Kalau iya, kenapa?”

Yeon Hyo mendadak diam. Pria itu… barusan.. bercada, kan? Tidak, wajahnya bahkan tidak terlihat bercanda, Yoon Yeon Hyo. Dia serius. Astaga, mengapa keadaannya sekarang menjadi canggung seperti ini?

“Tidak. Aku tidak jadi pulang, puas?”

***

“YAK! CHO KYUHYUUUUUN!” teriak Yeon Hyo saat pria itu berhasil merebut PSP dari tangannya. Kyuhyun malah berguling-gulingan diatas kasur, menghindari kejaran gadis itu.

“Yak! Kembalikan! Ppali!”

“Shireo!”

“Yak!”

Kyuhyun menghentikan kegiatannya menjahili gadis itu saat mersakan ponselnya bergetar. Pria itu bangkit dari ranjang dan berjalan ke arah kaca besar yang menampakan pemandangan taman dibelakang rumahnya. Menempelkan ponselnya ditelinga dan membiarkan Yeon Hyo yang mematung diatas kasur, menatap Kyuhyun yang masih memegang PSP nya.

“Ne, hyung. Waeyo?”

“Bisa kau datang ketempatku?”

“Baiklah, aku akan segera kesana.”

Kyuhyun memasukan ponselnya kedalam saku dan berbalik, melempar PSP milik gadis itu ke atas kasur. Ia meraih kunci mobilnya yang tergeletak diatas nakas kecil disamping ranjangnya. Yeon Hyo, gadis itu menatap Kyuhyun aneh.

Sial, dia mengacuhkannya lagi.

*****

Eunhyuk’s Apartement.

“Hyung, kau disini?” tanya Kyuhyun sesaat setelah Eunhyuk membuka pintu apartementnya.

“Ah, ne,” jawab Donghae singkat.

“Untuk apa kau menyuruhku kesini, hah?”

“Ehm,” Eunhyuk berdeham sebentar, mengatupkan mulutnya, mencoba untuk menahan tawanya yang hampir meledak. “Aku ada ide, maksudku, aku dan Donghae.”

“Aku jadi curiga. Jangan-jangan ide mu itu…”

“Ini untuk kepentinganmu dan… Yeon Hyo,” tandas Donghae.

“Apa?” tanya Kyuhyun yang mendadak menjadi serius.

“Ini ada amplop,” ujar Eunhyuk menyerahkan amplop ke tangan Kyuhyun yang terulur. “Dan itu adavideo recorder, kau jawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan alat itu, ara?”

“Ma.. maksudmu.. merekamnya?”

“Kau pintar, Cho Kyuhyun. Lakukan. Aku akan menungggumu.”

*****

After watch Kyuhyun’s recording-

“Yeon Hyo~ya,” panggil Kyuhyun lirih. “Dengarkan aku, mungkin aku adalah pria bodoh yang dengan sadarnya telah mencintaimu selama satu tahu lebih, mengagumimu hanya dari kejauhan. Bukan karena aku tidak memiliki nyali untuk mengatakan padamu saat itu juga, tapi karena aku tidak ingin kau terluka.”

“Aku tidak sepintar Donghae hyung yang bisa merangkai kata-kata untuk membuat gadis menjadi terlena. Itu sama sekali bukan gayaku. Tapi, ngomong-ngomong, aku berterimakasih pada monyet dan ikan itu. Setidaknya, karena ide gila mereka aku bisa mengatakan yang sebenarnya tanpa harus terbata-bata didepanmu. Itu akan memalukan,” ujar Kyuhyun sembari menangkup kedua pipi gadis itu, menatap tepat dimanik matanya.

“Kau, gadis yang berhasil membuatku berlutut untuk memohon cintamu. Gadis yang aku inginkan kehadirannya dihariku, sekarang, esok, dan selamanya. Gadis yang akan aku lihat setiap paginya, saat kau baru bangun tidur. Gadis yang akan menjadi ibu dari anak-anak ku. Gadis yang menjadi alasan dibalik kesuksesanku. Gadis yang aku cintai.”

“Kau tahu, aku merasa menjadi pria paling beruntung didunia ini karena bisa memilikimu. Satu-satunya orang yang akan melihat wajahmu untuk pertama kalinya saat kau bangun tidur. Menjadi orang yang akan mencicipi masakanmu setiap hariny, ani, kau kan tidak bisa memasak,” ralat Kyuhyun cepat sembari menahan tawanya saat gadis itu membulatkan matanya.

“Kau menyebalkan,” dengus Yeon Hyo melepaskan tangkupan pria itu di pipnya dan memalingkan wajahnya sembari melipat kedua tangannya didepan dada.

“Baiklah, maafkan aku,” tandas Kyuhyun, meraih bahu gadis itu dan memutarnya, membuat Yeon Hyo kembali menatap pria itu.

“Aku membencimu.”

“Aku mencintaimu.” Dengan cepat Kyuhyun meraih dagu Yeon Hyo dan menempelkan bibirnya diatas bibir gadis itu. Menekan dan melumatnya dengan lembut. Ia sedikit memiringkan kepalanya, berniat memperdalam ciumannya dengan gadis itu. Tangan kirinya beralih ke tengkuk Yeon Hyo, sedangkan tangan kanannya tetap bertahan dipipi gadis itu.

Kyuhyun melepas tautan bibirnya dengan Yeon Hyo. Menatap lekat-lekat mata gadis itu.

“Aku lupa sesuatu.”

“Apa?”

“Saranghae… Yeon Hyo~ya.”

“Nado… nado saranghae, Kyu.”

 

===============================================================

You don’t have to be a beautiful, because not beauty that

makes me love you and drop my choice in you

-Cho Kyuhyun-

                                                                                                                     (Because I Choose You)

===============================================================

 

 

*Kyuhyun’s recording result*

[warning! Disini Kyuhyun semua yang ngomong]

“Ehm. Aku tidak tahu, apakah ini tidak gila? Tapi… baiklah.” Kyuhyun menghela napasnya dan membuka lembaran dari dalam amplop itu.

“Ada tiga pertanyaan disini. Baiklah, yang pertama, ‘Menurutmu.. Yoon Yeon Hyo itu seseorang yang seperti apa?’. Hei, apa aku harus mengatakan yang sejujurnya? Bagaimana cara mendiskripsikan gadis ini? Dia.. dia seperti pagi. Selalu menjadi alasanku untuk bangun dari malam yang melelahkan dan melihat wajah gadis itu lagi. Tapi, bagaimana bisa aku menyamakannya dengan pagi, eh? Dia sendiri bahkan selalu bangun siang. Bolehkan aku bertanya? Apa Tuhan tidak marah jika aku berbohong?”

“Kau pasti kesal, kan? Hahaha.. baiklah, aku akan serius. Yoon Yeon Hyo. Gadis itu… tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata, terlalu sulit. Dia adalah orang yang membuatku mengerti bagaimana rasanya jatuh cinta pada pandangan pertama. Aneh memang jika kau jatuh cinta pada gadis yang baru kau lihat. Kau pikir mana orang yang dengan mudahnya jatuh cinta? Bahkan pada pandangan pertama. Tapi gadis itu, membuatku merasakannya. Dia unik. Dia adalah… sosok yang membuat orang akan senang melihatnya. Yah, walau sebenarnya dia seperti setan.”

(Yeon Hyo memalingkan wajahnya dan menatap Kyuhyun sinis. Dan dengan lagaknya, Kyuhyun tetap bersikap biasa saja, mengacuhkan gadis itu.)

“Dan pertanyaan kedua. ‘Apa yang kau tidak suka dari gadis itu?’. Ini sangat mudah, aku tidak suka sikap cerewetnya. Hei, Yoon Yeon Hyo, bisakah kau berhenti berteriak-teriak seperti itu? aku bisa tuli jika ka terus berteriak-teriak. Dan, berhenti membuatku khawatir padamu, ara? Kau tahu, saat aku pergi ke Amerika? Jung ahjumma menghubungiku jika kau tidak makan seharian dan bersikap seolah-olah kau adalah mayat hidup. Kau tahu betapa paniknya aku saat mendapat kabar seperti itu, hah? Aku langsung pulang dan membatalkan semua meeting ku dengan relasi bisnis appa. Dan aku menyesal telah memutuskan untuk pulang terlebih dahulu saat paginya kau bersikap kau baik-baik saja. Kau mengerjaiku, eh?”

(Yeon Hyo menutup mulutnya dengan satu telapak tangan, menahan tawanya aga tidak menyembur keluar.)

“Dan kau… berhati-hatilah jika berjalan dan melakukan seusatu, kau itu ceroboh sekali. Aku tidak mau melihatmu pulang dalam keadaan tergores sedikitpun karena kecerobohanmu itu, ara? Hei, kau ini masih muda gadis bodoh, jadi hilangkan sifat pelupa mu itu! Hhh.. bagaimana bisa aku memiliki istri yang pelupa sepertimu? Bisa-bisa kau lupa jika aku ini suamimu. Ah, tidak. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi.”

“Hyo~ya, aku akan jujur padamu. Kau ingat tanggal 4 April tahun lalu? Saat kau datang ke pesta ulangtahun Eunhyuk hyung bersama Ah-Ra? Saat itulah, aku melihatmu untuk yang pertama kalinya, dan jatuh cinta pada pandangan pertama. Sejak saat itu, aku mulai mencari tahu tentangmu, semuanya. Dan saat aku menjatuhkan pilihan untuk bertunangan dengamu, aku tidak main-main. Jika kau diminta secara sukarela untuk bertunangan dan menikah denganku, kau tidak akan mau, kan? Tentu saja, aku sudah tahu jawabanmu Hyo~ya. Jadi itu adalah pilihanku agar aku bisa memilikimu, bukan lagi mengagumimu dari jauh. Aku sudah memikirkannya matang-matang.”

“Dan saat pernikahan kita? Aku sudah mengatakan pada orangtua mu sehari setelah kita bertunangan. Aku sudah meminta izin ayahmu untuk meminang putrinya menjadi istriku. Dan aku mengatakan dengan jujur pada orangtua mu. Jika aku berpura-pura menikah denganmu yang kenyataanya itu adalah pernikahan nyata kita. Cincin dan janji suci itu bukan sebuah sandiwara, itu nyata. Aku ini suamimu dan kau istriku. Dan surat perjanjian ini,” Kyuhyun memperlihatkan surat perjanjian menikah selama sebulan yang ditanda tangani Yeon Hyo. Ia merobek surat itu dan menjatuhkannya ke lantai.

“Kita sudah tidak terikat janji apapun, hanya janji sehidup semati sebagai sepasang suami-istri. Jadi, tidak akan ada perceraian, ara? Aku sudah pernah mengatakannya padamu, mungkin kau tidak mendengarnya karena saat itu kau tertidur. Melepasmu, itu hal tersulit dalam hidupku. Aku memang jatuh cinta dengan mudahnya padamu, tapi jika aku harus melepasmu? Tidak semudah aku jatuh cinta padamu Yeon Hyo~ya. Jadi mulai saat ini, kau adalah istriku. Aku tidak peduli kau mau atau tidak. Kumohon, jalani semua ini dulu. Jika kau memang benar-benar tertekan dengan pernikahan ini… aku akan melepaskanmu.”

“Hei, lihat, ini fotomu saat kau baru bangun tidur dua hari yang lalu, kau cantik Yeon Hyo~ya.”Kyuhyun memperlihatkan hasil foto yang ia ambil saat gadis itu baru saja bangun tidur.

 

 

“Dan ini satu hari yang lalu saat aku berniat mengambil gambarmu tapi kau malah berteriak-teriak tidak jelas dan menutupi wajahmu.”

 

 

“Dan ini, ekspresia apa ini?”

“Ah, baiklah, maafkan aku. Oke, kita kembali ke pertanyaan.”

“Dan pertanyaan terakhir. ‘Apa kau mencintai Yeon Hyo?’. Pertanyaan macam apa ini? aku tidak akan mejawabnya melalui benda ini, aku akan mengatakannya langsung padamu.”

‘PIP!!’

Tiba-tiba layar tv itu hitam. Rekamannya habis. Kyuhyun memiringkan badannya.

“Yeon Hyo~ya,” panggil Kyuhyun lirih.

 

-END-

 

 

Fiuh… *lap keringet* ini FF Oneshoot kedua terpanjang yang aku bikin. Ah ngomong-ngomong disini karakter Yeon Hyo ngga sangar, ya? *digampar Icha onnie* atau karakternya kurang dapet feel? Ah, mianhae..  dan aku emang sengaja bikin FF ini sweet ._. wkwk. Eo? Alurnya terlalu cepet ya? Aduuuh, ini aja udah 40 halaman, kalo mau dijabarin sejelas mungkin, mau berapa halaman? o_O  sebenernya aku mau ikut lomba FF yang diadain Icha onn, tapi karena waktu itu aku sibuk mau uts, itu FF ngga bisa aku kirim. Sebenernya juga ini bukan FF yang mau aku ikutin lomba, kalo yang mau aku ikutin lomba cuma 15 halaman-__- jadi aku mutusin buat bikin yang baru. Dan… jreng jreng~ inilah hasilnya.. wkwk. Disini aku nambahin cast Kris exo, mian kalo ada yang ngga suka. Kalo ada yang mau kenal author boleh.. add fb Caterine Jingga aja, atau follow @amlifyexo *promosi* tapi kalo add fb mungkin confrimnya lama, soalnya aku jarang buka *curcol*

Yaudah, sekarang comment. Mau sequel? Tergantung deh seberapa banyak yang komen dan minta sequel. Dan kalo banyak yang mau sequel, nanti aku bikinin, khusus honeymoon + liburan Eunhyuk wkwk. Okay, Annyeong~ salam hangat dari Purwokerto *tebar cinta* *ngilang*

 

 

59 thoughts on “FF LOMBA “Because I Choose You” – FREELANCE

  1. UWOOOOO……
    daebak daebak daebak 100x dah *lebay
    sequel nya dong🙂
    pokoknya ini FF keren abis dah, nggak bisa berkata-kata lagi sangking bagusnya.
    KEREN ABIS DAH !!!😀

  2. Wow bacanya 2 jam, aiigo…
    Hmm ff nya daebak!
    Tdnya aku mo nanya “kapan kyuhyun mengetahui nama gadis itu yeon hyo?” eh udah dijawab noh (gk jd nanya)
    typonya ada tp dikit
    ff nya bagus chingu
    gumawo
    semoga menang

  3. Ping-balik: Pengumuman Pemenang FF Lomba Fanfiction [Hyo-Kyu] STORY | [Hyo-Kyu] STORY…

  4. Oh? Jadi si Kyuhyun itu udah tau banyak tentang Yeon Hyo sejak setaon sebelum ketemu langsung tepatnya di ultahnya sendiri? Uum..
    Aku kira mereka ketemu untuk kali pertamanya. Kekeke
    Tadinya ampe bingung, cengok dan gak mudeng kenapa tiba-tiba Kyuhyun bisa menyebutkan nama Yeon Hyo dengan begitu fasih. Taunya….
    #uwooo

    Cerita-nya bagus, feelnya dapat, kata-katanya nyess, alurnya Okeh, penyampaiannya mendetail, typo ada tapi dikit. Hehe…
    Suka ama ini FF. Panjang pakek banget! Ampe ngebayangin rasanya jadi Yeon Hyo. Berdiri di samping ah— hidup berdampingan dengan orang yang benar-benar mencintainya meskipun Yeon Hyo tidak menyadari akan hal itu. Karakter Kyuhyun-nya suka banget! Miapah.. Jadi sering ngelamunin abang epil satu itu ujung-ujungnya >w<
    Suka sikap Kyuhyun dalam mengambil keputusan. Dia bahkan udah ngomong, atau lebih tepatnya bersekongkol ama ortunya Yeon Hyo untuk kelangsungan pernikahannya. So Sweet maximal ;;AAAAA;;

    Sun dulu ahh buat authornya..
    /moah/

  5. Suempeh deh nie epep”…
    Kelen abiez…
    Q suka,q suka*gaya upin ipin*
    epep” terpanjang yg q baca…
    Awlnya q gk bgtu mengrty knpa kyuhyun memilih bertunangan dgn yeon hyo?ku kira yeon hyo itu dibwt pelarian sajo ma kyu?trz ku kira jga yeon hyo ma kriss itu entr pda jatuh cinta ?krna pertemuan yg di halte itu,eh trnya Tidak.
    Terus, q kira juga kyuhyun jdi cerai.in yeon hyo??

    Yakk,CHO KYUHYUN setelah sehari pertunangan.mu itu kmu menemuin keluarga YOON setlah diam”,dan merencankan pernikahan.mu??
    CHo kyuhyun ternya kmu sudah mengenal yeon hyo 1thn yg lalu???kukira kmu asal pilih sajo?

    AuThor…
    INI BUTUH SEQUEL,..
    WAJIB DI SEQUEL,..
    PERLU DI SEQUEL.,.
    MEZTY DI SEQUEL.,.
    PKOKNYA SEQUEL SEQUEL SEQUEL*maksa*
    KALO TDK DISEQUEL ….*lemparin granat*

    udah ah,k0ment.nya sgtU aje gw nya,..
    Males ngetiknya,..ekekeke😄 *peluk umin*

  6. Wah.. Keren sekali thor!
    Like it so much!
    Jalan critanya gampang dipahami and feel ny dpet.
    Hhi. Keep writing for the author!😉
    Hwaiting!

  7. Whhhoooaaaaa ~ >< aku terkagum* euy! *-* wkwkwss😄.. Ah ya, aku sbner nyaa HKS cman aku hiatus nyaa lmaaa bngett bru smpet komen skarang, hoho *curcol*😀

    Daebaak* deh buat author nya, emng pntes juaraa kok😉 , sukses trus yaaw thor.. Ah yaa, yg pas honey moon nyaa itu HARUS DIJELASKAN yaa thor ~ hoho *evil smile*😀 .. Jngan ada yg di skip yee ~😀 , okeh😉 .. Go Sequel, go sequel !!😀😀

  8. Ahhh, bagus…..
    Beneran bagus……

    Pas tengah-tengah ngrasa fellnya kurang + kurang detail soalnya disitu ngga jelas bgt kenapa si kyu tau nama yeon hyo , dan juga gimana reaksi parents.y yeon hyo
    tp pas ending terjawab sudah…

    Lanjutin author

    nama author caterine jingga..?
    Aduh kok kaya temen SMA ku yah..??
    Author bukan caterine yg aku kenal kan…?
    Yg sekolah di smansa bumiayu kan..?? #kepo
    *ok nama sama itu wajar, tp klo sama persis kan jarang -jarang*
    klo iya…
    Caterine FFmu bagus……

    -candra-

  9. Uwaaahhh,, ga nyangka bakalan gitu jln critany,,
    Ckckckc..
    Ternyata kyu stalkerny Yeon Hyo ya,,
    Dasar setan evil,, bisa2 ny dy pake acara sandiwara kyk gitu,, kkk
    But ,, jinjja daebakiya,,
    Suka sama critany,, walo alur agak kecepetan ,, but I like it

  10. ff nya keren nih.. Aku kasih jempol duua deh…….. b^^d
    Dan juga cerita oneshoot ini panjang banget tp entah kenapa jadi seneng aja. Ini merupakan bonusnya ceritanya panjang tapi Tidak membosankan malah aku enjoy banget deh..

    b^^d

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s