FF “Complicated” (PART 7) / Difficult Choice

Tittle                                     : Complicated Part 7 – Difficult Choice

 

Author                                  : raeHEEchul

 

Twitter                                 :  @nagita0412

 

Blog                                       : http://naddictator.wordpress.com

 

Genre                                   : AU! , Action, Brothership, Familyship

 

Rating                                   : T-17

 

Lenght                                  : Multi-chaptered

 

Cast                                       : Yoon Yeon Hyo, Cho Kyu Hyun, Choi Rae Hee, Kim Hee Chul, Lee Dong Hae, Lee Si Won

 

Support Cast                      : Yesung, Jungmo, Yunho, Ryeowook, Zhou Mi, Hangeng, Eunhyuk, Eunmi, Taemin, Kibum, Henry

 

Disclaimer                          : FF ke-19 ini punya saya. Kyuhyun milik Yeon Hyo. Heechul  milik Rae Hee. Other cast ? for you guys ^^

 

Credit Picture                    : nAdDictator

 

Note                                      : Sequel of His Twin. Authorfic, Copyright

 

Warning                              : Characters Death.

 

Dedicated To                     : HyoKyu Shipper dan HEE Shipper

 

Thanks To                            : Iddabbong eonnie with A Short Journey yang memberikan saya inspirasi dan keberanian menulis genre seperti ini, dengan pinjaman satu scene dari FF nya.

 

Summary                             :
“Atau kau tahu apa yang disebut dengan ‘Sa Yak’ ?”

 

Siwon melihat Donghae membulatkan matanya tak percaya. Tatapan Donghae menyiratkan permohonan.

 

“Kau sayang padaku, Hae?”

 

Tanpa ragu Donghae menjawab, “Selalu hyung. Aku selalu sangat menyayangimu.”

 

“Kalau begitu, lakukanlah. Aku tidak ingin menodai tanganku untuk membunuhmu. Tapi aku ingin kau melakukannya sendiri. Anggap saja sebagai syarat agar aku dan ibuku memaafkanmu dan ibumu. Juga sebagai bukti untuk perkataanmu.. kalau kau menyayangiku..”

 

Happy Reading ^^

 

================================

 

Markas rahasia SHADOW, Busan

 

Yeon Hyo menikmati samgyetang buatan Ryeowook. Agak kepedasan karena ginseng dan lada hitam yang dibubuhi Ryeowook sepertinya terlalu banyak. Tapi secara keseluruhan, makanan tersebut enak.

 

Ryeowook tersenyum puas ketika melihat mangkuk Yeon Hyo telah kosong tak bersisa. Pria berperwakan mungil itu langsung mengangkat mangkuk kosong tersebut dan membawanya ke wastafel untuk dicuci. Tak lama, Ryeowook mengeringkan tangannya lantas duduk di depan Yeon Hyo yang tersenyum..

 

Gamsahamnida, Ryeowook-ssi.”
Cheonma, Yeon Hyo-ssi. Kau bisa memanggilku Wookie dan jangan bicara terlalu formal padaku. Rileks saja,” ucap Ryeowook dengan senyum.

 

Yeon Hyo yang awalnya merasa canggung, sekarang sudah merasa bahwa perasaan canggungnya terkikis dengan sikap ramah anak buah ‘ayahnya’ yang ia dapatkan sejak tadi. Ryeowook contohnya, ia dengan rela membuatkan makanan kesukaan Yeon Hyo yang diketahui dari Yesung. Rae Hee, gadis yang baru dikenalnya, sudah membuat Yeon Hyo merasa nyaman dengan gadis itu. Semuanya, bahkan Kyuhyun juga sudah lebih rileks dibandingkan saat mereka bertemu di dalam lingkungan keluarga Lee.

 

Hanya satu yang masih mengganggu pikirannya, dan seolah Tuhan menjawab kegeisahan Yeon Hyo, gadis itu melihat Zhou Mi memasuki dapur dan duduk di samping Ryeowook. Ryeowook yang ‘mengerti’, bangkit dan meninggalkan dua orang yang hanya diam tersebut.

 

Mianhae..”

Yeon Hyo buru-buru menyergahnya, “Jangan minta maaf, Zhou Mi-ssi. Kau tidak salah.”

 

Anniyo, Hyo-ssi. Aku sangat menyesal karena hampir membuatmu menyusul adikku.” Zhou Mi diam sejenak, seolah memilih kata yang tepat, “waktu aku tahu kau adalah polisi yang menemukan mayat adikku dan semua orang mengatakan kalau Victoria adalah seorang bandar dan mencoba menembak seorang polisi namun ternyata malah membuatnya tewas, aku sangat marah dan  berusaha mencari segala informasi tentang polisi itu..”

 

Yeon Hyo merasa tidak enak dengan percakapan ini. Semua yang dikatakan Zhou Mi adalah yang mencuat kepermukaan, sementara dirinya –selaku polisi yang terlibat dalam penyergapan- tidak tahu apapun. Saat itu Yeon Hyo masih baru dan pertama kalinya ‘terjun’ kedalam penyergapan. Ia sendiri sangsi, apakah benar ia sempat menekan pelatuk dan mendaratkan peluru di dada Victoria? Ataukah kenyataannya seperti yang dikatakan sang Ayah, kalau Siwon-lah yang telah menyarangkan peluru di dada gadis yang merupakan adik pria dihadapannya ini? Seingat Yeon Hyo, waktu itu dia sangat shock hingga tak sadarkan diri. Namun, jika sampai muncul berita kalau seorang polisi pingsan saat penyergapan, akan menjadi hal konyol di dalam lingkungan pembicaraan. Maka, pihak departemen pun mengarang sebuah cerita yang persis dikatakan Zhou Mi barusan, tanpa Yeon Hyo tahu, kejadian yang sebenarnya.

 

“…Dan ketika aku bertemu denganmu, aku terbayang wajah ceria Victoria yang tiba-tiba lenyap. Aku marah dan tak bisa mengendalikan emosiku. Aku minta ma—“

 

Gwaenchana, Zhou Mi-ssi. Aku sungguh tak apa. Aku mengerti perasaanmu.” Yeon Hyo buru-buru memotong ucapan Zhou Mi sebelum pria itu mengatakan ‘maaf’ yang seharusnya tidak pantas ia terima.

 

Zhou Mi tersenyum dan mengangguk. Pria itu berdiri dan menghampiri kulkas bersamaan dengan Kyuhyun yang masuk dapur. Kyuhyun melirik Yeon Hyo sekilas, membuat gadis itu tersedak dan air dalam gelas yang digenggamnya tumpah membasahi pakaiannya.

 

“Segitu mempesonanyakah aku, Nona Yoon?” ucap Kyuhyun sambil lalu.

 

Yeon Hyo mencibir dan mengibaskan pakaiannya yang basah.

 

“Kau bisa meminjam pakaian Rae Hee, kurasa ukuran tubuhmu pas dengan wanita itu. Ya… mungkin agak kebesaran karena wanita itu lebih ‘berisi’.” Kyuhyun tersenyum simpul dan membawa mangkuk berisi samgyetang ke meja makan, duduk menghadap Yeon Hyo. Sementara Zhou Mi sudah keluar dari dapur.

 

“Sepertinya tak baik membicarakan bentuk tubuh istri orang, Kyuhyun-ah.”

 

Yeon Hyo dan Kyuhyun sontak menoleh dan mendapati pria berwajah cantik bernama Kim Heechul bersender di daun pintu.

 

“Aku tidak nafsu dengan  istrimu, hyung, tenang saja,” ucap Kyuhyun enteng sambil menyesap makanannya dengan perlahan.

 

Heechul mendengus sementara Yeon Hyo mengernyit melihat gerakkan Kyuhyun yang agak ‘pelan’. Sebelum bertanya lebih lanjut, Heechul sudah menyuruh Yeon Hyo untuk meminta pakaian ganti ketika melihat pakaian yang dikenakan Yeon Hyo, basah. Yeon Hyo mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Heechul menunjuk satu ruangan yang merupakan kamar mereka, tempat Rae Hee sedang mendekam.

 

Yeon Hyo keluar dapur ketika ia melihat seorang pria yang ia kenal, berjalan mendekat dengan tergesa..

 

“Oh.. Cho Han Kyung datang berkunjung,” seru Heechul riang.

 

Yeon Hyo berhenti. Ia tidak jadi melangkah keluar, malah berbalik melihat Hangeng yang menghampiri Kyuhyun. Kyuhyun diam ketika Hangeng membuka kemejanya dan meneliti luka di bahunya.

 

Gwaenchana?” kentara sekali ada nada cemas yang dilontarkan Hangeng.
Gwaenchana, hyung. Tak perlu sampe ngambil resiko kabur dari Siwon hanya untuk melihatku.” Kyuhyun mendengus lantas buru-buru mengancingkan lagi kemeja yang dikenakannya.

 

Terdengar hembusan Napas lega yang keluar dari mulut Hangeng. Seakan sadar diperhatikan, Hangeng berbalik dan menatap Yeon Hyo.

 

Gomawo, Hyo-ssi. Kau menyelamatkan adikku,” ucap Hangeng tulus.

 

Yeon Hyo tidak bisa berkata apapun, ini terlalu mengejutkan untuknya. Hangeng? Hyung dari Kyuhyun? Bagaimana bisa?

 

Yeon Hyo mengerjapkan matanya, mencoba mengingat lagi apa yang ia ketahui tentang Hangeng. Saat gadis itu dan atasannya datang ke kediaman keluarga Lee untuk memberi tahu kalau Choi Minho tewas, Hangeng menurut dengan patuh dan taat perintah Siwon.

 

Saat Donghae ‘diculik’, Siwon menghajar Kyuhyun habis-habisan, sementara Hangeng menyaksikan dalam diam, tak berekspresi, seolah tak peduli. Jika memang Kyuhyun adalah adiknya, setidaknya, ia menunjukan suatu emosi bukan?

 

Bahkan, saat Yeon Hyo berada di gudang di Mokpo dan menyaksikan Kyuhyun yang berdiri kaku, Hangeng tetap menodongkan pistolnya pada adiknya. Memang mungkin dia sedang dalam penyamaran, tapi apakah dia akan tetap sanggup ‘membunuh’ adik yang Yeon Hyo tahu, sangat pria itu sayangi? Tunggu! Ada yang terlewat!!

 

Yeon Hyo mengingat lagi kejadian yang terakhir itu, Hangeng meliriknya! Itulah alasannya kenapa.. “Tanganmu bergetar…” Yeon Hyo bergumam.

 

“Karena aku berharap kau melakukan sesuatu. Dan ternyata, kau melakukannya,” jawab Hangeng lirih, seolah mengerti apa yang menjadi pikiran gadis itu.

 

“Penyamaran, pengkhianatan. Tak adakah yang ‘bersih’ disini?” Entah kenapa Yeon Hyo menjadi emosi. Ini sungguh diluar akalnya.

 

Yeon Hyo melihat Hangeng sedang melirik Kyuhyun, sedangkan adiknya tersebut hanya mengangkat bahu, saat itu Heechul-lah yang menjawab, “Dia belum diberi tahu semuanya. BOS akan memanggilnya nanti,”

 

“Heechul-ssi, bisa kau katakan, dimana ayahku berada?” tanya Yeon Hyo, lebih menyerupai perintah dengan nada mengancam.

 

Heechul menunjuk satu arah dan menyebutkan letaknya. Saat Yeon Hyo meninggalkan dapur, samar-samar ia mendengar Kyuhyun berkata, “Yoon Yeon Hyo itu.. anak BOS.”

 

****

 

Yeon Hyo menatap lurus sang ayah. Baru saja setiap rinci kata menyelip masuk ke telinganya, meminta diproses oleh otaknya yang jernih. Perasaan yang semula baik-baik saja, mendadak tidak nyaman. Yeon Hyo mengulang setiap inci suara sang ayah yang terus berdengung di telinganya.

 

Donghae adalah anak Yesung dari Reika. Sedangkan dirinya, adalah anak Yesung dari eommanya yang  bernama Yoon Ha Ra. Kenapa Yeon Hyo yang lebih tua? Apakah sang ayah selingkuh dari ibunya? Namun ketika mulut Yeon Hyo tergerak bertanya, Yesung hanya tersenyum simpul. Ia mengatakan kalau Ha Ra menghilang darinya, dan saat Ha Ra hilang, Yesung pergi ke Jepang dan bertemu Reika. Saat Reika ‘diculik’, Yesung memutuskan mencari ke Korea dan bertemu Ha Ra lagi. Saat itu Yesung terkejut karena Yeon Hyo telah lahir.

 

Tentu saja, cerita ‘buatan’ Yesung ini diterima dengan baik oleh Yeon Hyo. Walaupun memang ia memiliki keraguan dengan ‘cerita’ sang ayah, namun Yeon Hyo mempercayai ayahnya yang bertindak seperti ini, untuk menyelamatkan adiknya.

 

“Choi Minho….” sebelum menyempurnakan kalimatnya, Yesung memotong.
“Saudara sepupu Choi Rae Hee. Kumasukkan sebagai pengawal Siwon dibawah Hangeng. Saat itu ia akan memberitahukan padaku kapan Siwon akan melakukan ‘drama’-nya. Tapi sayangnya, Siwon tahu kalau Minho seorang mata-mata dan menyuruh Hangeng membunuhnya. Tak ada pilihan untuk Hangeng saat ia tahu kalau Siwon melihatnya dari mobil di luar restaurant. Ia sangat menyesal, Rae Hee murka.”

 

Yeon Hyo diam. Tampak berpikir. Sementara, senyum samar tersungging di bibir Yesung, ia menantang.. ”Ada lagi yang ingin kau tanyakan? Aku akan menjawab semuanya. Aku tidak ingin  merahasiakan apapun dari putriku,” ucap Yesung, menakankan kata ‘putriku’.

 

Yeon Hyo tergelak, rasa ragu yang sepintas hinggap dihatinya kini luruh sempurna. Sekarang, ia bisa bebas mengajukan pertanyaan-pertanyaan dari segala hal yang sama sekali tidak dia duga sebelumnya.

 

“Siapa lagi?”

 

“Lee Euhyun, sekretaris Siwon. Sayangnya, ia tewas. Merupakan tunangan Hangeng. Hangeng mengatakan, Euhyun ditemukan tewas setelah mendapat ‘kenikmatan’ dari Siwon di rumahnya. Dicekik dalam kondisi telanjang bulat.” Yesung menjawab dengan enteng

 

Yeon Hyo bergidik. Lalu ia menatap sang Ayah dengan tegas, “Dan orang-orang appa, siapa lagi?”

 

“Hanya Minho, Hangeng, Kyuhyun, dan Euhyun. Tinggal Hangeng yang bertahan di samping Siwon.”

 

“Lee Nam Gil ?”

 

“Itu masalah pribadi. Terlalu menyakitkan melihat seorang yang kau cintai direbut paksa oleh orang lain. Dan menyaksikannya tewas dihadapanmu sendiri,” rahang Yesung mengeras. Kentara sekali menjaga suaranya tetap tenang. Yeon Hyo sadar kalau pertanyaannya yang baru saja ia lontarkan, telah membuat memori buruk sang Ayah kembali ke layar pikiran untuk dilihat.

 

Jeda cukup lama diantara mereka. Yesung akhirnya menyimpulkan kalau Yeon Hyo sudah kehabisan pertanyaan, lalu ia memutuskan untuk balik bertanya..

 

“Boleh Appa tahu, kenapa kau berada digudang itu? Kyuhyun mengatakan kalau kau menyelamatkan nyawanya.”

 

“Aku…” Yeon Hyo menunduk, apakah ia akan menceritakan hal ini? Bagaimana jika sang Ayah tahu tentang Hyun Jin dan memberikannya berita terburuk? Setelah melihat, ada siapa dan apa yang terjadi gudang itu?

 

Ne?”

“Aku mencari Jung Hyun Jin. Seseorang bernama Kibum meneleponnya dan meminta ia datang ke Mokpo. Hyun Jin bilang kalau adik Kibum, sakit. Tapi aku sama sekali tidak bisa menghubungi ponselnya, ia juga tidak ada di rumah sakit. Lalu aku memutuskan untuk mencarinya.”

 

“Ah… jadi ternyata, gadis itu Jung Hyun Jin…”

 

Yeon Hyo awas, dan dengan hati-hati ia bertanya, “Maksud.. appa?”

 

“Kyuhyun berkata kalau ia menemukan seorang mayat gadis yang terbujur kaku di pojok ruangan tempat Donghae disekap. Seorang gadis yang..” Yesung memejamkan matanya, berusaha mengingat lagi apa yang dikatakan Kyuhyun sebelumnya, “..mengenakan kemeja biru muda dan celana denim hitam? Rambut sebahu dan kulit putih pucat?”

 

Yeon Hyo tergelak. Dengan kaku ia mengangguk lalu kemudian menyesal ketika mengolah lagi kata yang diucapkan Yesung.

 

“Mayat gadis…” ucapnya lirih. Dan tak dapat ditahan, tangannya terkepal dan air matanya jatuh setets demi setetes, membuat jalan air di matanya, merembes ke leher dan semakin deras. Yeon Hyo terisak tertahan.

 

Yesung yang melihat gadis itu begitu terpukul, merasa ini adalah sebuah kesempatan baik untuknya..

Appa ingin bertanya, dan kau harus memutuskan.”

 

Yeon Hyo bergeming. Tetap menunduk dan tidak merespon kalimat Yesung. Namun Yesung harus menanyakan ini sekarang.

 

“Kau akan bergabung dengan Appa untuk menyelamatkan adikmu dengan kemungkinan bahwa Donghae selamat. Atau memberi informasi pada kepolisian dan membiarkan mereka bergerak, tapi resikonya, Donghae akan ditemukan tewas.”

 

Yeon Hyo refleks mendongak. Matanya merah dan basah, menatap sayu sang Ayah yang balas menatapnya tajam. Yesung menekan speed dial nomor empat dan memerintahkan seseorang untuk masuk kedalam ruangannya.

 

Tak lama, Yesung mengisyaratkan agar Rae Hee membawa Yeon Hyo keluar ruangan. Meminta gadis itu untuk memberikan baju bersih pada Yeon Hyo dan membiarkan gadis itu memilih.

 

==========================================

 

Suatu tempat di Mokpo

 

Hangeng meletakkan sebuah kotak dihadapan majikannya yang sedang menerima telepon. Menunggu beberapa saat sampai akhirnya Siwon memberikan perhatian padanya –atau lebih tepatnya- pada barang yang dibawa Hangeng.

 

Siwon membuka kotak itu dan menemukan cawan minum kecil yang terbuat dari tanah liat berwarna sindur. Sambil membuka sebuah botol yang hampir mirip dengan botol soju, Siwon berkata, “Leeteuk-ssi sudah sadar dan baru saja diberi tahu tentang penculikan Donghae. Tubuhnya masih lemah, namun ia berkata akan menunjukan sesuatu padaku. Pemberian appa.”

 

Hangeng menunggu, tahu kalau Tuan Muda-nya itu belum selesai berbicara.

 

“Menurutmu, aku harus menunggu kematian Donghae dulu, baru setelah itu menjenguknya. Ataukah aku harus sekarang juga ke rumah sakit dan mendengarkan Leeteuk mengatakan apa yang diucapkan appa?”

 

“Saya rasa, Anda lebih bijak dalam memilih, Tuan Muda.”

 

“Ah.. ya, seharusnya aku tahu kalau kau tidak akan menjawab pertanyaanku dengan benar.” Siwon mencium mulut botol yang dipegangnya, lalu mengernyit, “Eunmi bilang kalau tadi Kyuhyun sempat berdekatan dengan Donghae. Mungkin saat itulah ia memberikan ‘sesuatu’ untuk Donghae, sehingga anak itu tak sadarkan diri sekarang. Tak bisa kau bangunkan? Taemin, Eunhyuk, dan Kibum sudah melakukan segala cara.”

 

“Jika seperti itu, kemungkinannya cuma satu. Obat bius. Tidak ada yang bisa dilakukan kecuali menunggu Tuan Muda Donghae ter-“

 

“DIA BUKAN TUAN MUDA! DIA BUKAN ANAK APPAKU! DAN JANGAN PANGGIL DIA DENGAN SEBUTAN ‘TUAN MUDA’ LAGI!”

 

Mianhamnida, Tuan Muda.” Hangeng menundukkan wajahnya, badannya sedikit membungkuk.

 

Siwon yang tadi sempat berdiri karena emosi, kini duduk kembali dikursinya. Memasang kembali tutup botol dan menaruhnya di dalam kotak, “Ne, tak ada yang bisa kita lakukan kecuali menunggu Donghae terbangun.” Siwon menoleh dan mendorong kotak itu perlahan, “siapkan.”

 

Hangeng mengambil kotak itu, membungkuk hormat dan berjalan keluar. Setelah memastikan kalau Hangeng telah menutup pintunya rapat, Siwon mengambil pistol dari laci meja, membuka dan mengeluarkan pelurunya, hanya menyisakan satu peluru untuk satu orang.

 

“Dua orang akan tewas malam ini. Lalu semuanya, selesai.”

 

=======================================

 

Markas Rahasia SHADOW, Busan

 

Yeon Hyo merenung. Rae Hee menunjukan tempat ini agar ia bisa leluasa untuk menjernihkan pikiran dan memutuskan seuatu yang ‘seharusnya’ tepat untuk dia lakukan.

 

Berkali-kali ia melirik ponsel dan menekan sejumlah tombol yang membentuk nomor seseorang. Namun, berkali-kali juga ia memencet tombol merah saat ada tulisan ‘mencoba menghubungi’ yang bergerak di layar ponselnya.

 

Choi Min Ho.

 

Lee Euhyun.

 

Lee Nam Gil.

 

Jung Hyun Jin.

 

Lee Dong Hae.

 

Cho Kyu Hyun.

 

Enam nama itu terus berputar di otaknya. Gambar Minho yang ditemukan tewas beberapa waktu lalu, muncul di permukaan. Lalu Lee Nam Gil, pengusaha sukses yang menurut Yeon Hyo sangat menyayangi kedua anaknya. Bagaimana seandainya kalau pengusaha itu tahu, Siwon telah membuat sebuah ‘drama’ untuk memusnahkan adiknya? Apakah Lee Nam Gil akan terluka? Murka?

 

Jung Hyun Jin.  Sahabat dan seorang gadis yang sudah dianggapnya sebagai eonnie-nya sendiri. Tewas di tangan orang-orang Siwon setelah membantu mereka. Ia marah? Tentu saja! Ia sangat marah.. namun apa yang bisa ia lakukan? Balas dendam?

 

“Balas dendam itu hanya akan menimbulkan dendam baru, dan tidak akan pernah berakhir sampai ada yang mengalah,” gumam Yeon Hyo sambil menutup mukanya dengan kedua tangan. Muncullah bayangan Cho Kyuhyun.

 

Yeon Hyo ingin sekali selalu berada di dekat pria itu. Bersama dengannya, membuat hati Yeon Hyo tenang. Saat melihat Kyuhyun yang tidak bisa berbuat apapun saat Hangeng menodongkan pistol ke arah pria itu, Yeon Hyo ingin sekali melindungi Kyuhyun, tak ingin sesuatu yang buruk terjadi di depan matanya.

 

Lalu Lee Donghae. Anak muda yang manja dan cengeng itu adalah adiknya. Adik se-ayah. Terbesit bayangan Donghae yang tersenyum jahil saat anak muda itu sukses mencium pipi Yeon Hyo ditaman tiga hari lalu. Ia merasa kalau dirinya mulai menyayangi Donghae.

 

Yeon Hyo melihat lencana kepolisian miliknya. Ia adalah seorang polisi, tugasnya adalah mengungkapkan kebenaran dan melindungi. Ia tidak yakin kalau ia bisa ‘bersembunyi’ dari kepolisian dan bertindak egois untuk ‘menyelamatkan’ Donghae bersama kelompok yang dipimpin ayahnya. Ia akan melanggar aturan dan terkena hukuman.

 

Lalu, apa yang harus dia lakukan? Menelepon Kangin kwanjangnim dan mengatakan kalau ia ada urusan mendadak dan muncul tiba-tiba saat Donghae terselamatkan, ataukah menelepon atasannya itu untuk memberikan sebuah informasi berharga untuk menyelamatkan Donghae dan menangkap ‘pembunuh’ yang merupakan orang-orang dari ayahnya?

 

Yeon Hyo memejamkan matanya, ia menjadi lebih cengeng sekarang. Air matanya keluar lagi tanpa permisi, dan ia bergumam.. “Oh.. aku melakukan dosa yang sangat besar. Maafkan aku.”

 

Lalu ia menekan beberapa digit angka, menempelkan ponsel mungil itu ketelinga dan menunggu seseorang mengangkatnya..

 

“Yeoboseyo?” suara Kangin kwanjangnim terdengar tegas diseberang sana, Yeon Hyo menarik Napas dalam

 

Kwanjangnim.. aku ingin berbicara serius…”

 

============================================

 

Suatu tempat di Mokpo

 

Hangeng membuka pintu kamar tempat Donghae berada, sedangkan mata anak itu mengawasi siapa yang akan masuk, meski ia sudah bisa menduganya karena kehadiran Hangeng di hadapannya.

 

Donghae tidak tahu harus bagaimana saat ia melihat hyung-nya berjalan masuk dengan tenang. Setelan kaus lengan panjang dengan sweater wool cukup tebal membuat penampilan hyung-nya terlihat seperti seorang model.

 

Donghae menghambur ke arah Siwon dan memeluk sang kakak dengan perasaan lega, ia senang dan merasa aman sekarang. Setelah ketakutan karena melihat…

 

Mata Donghae terbelalak saat melihat Eunmi, Kibum, Taemin, dan Eunhyuk berjalan masuk ruangan dibelakang Siwon. Seketika itu juga Donghae sadar apa yang terjadi. Ia buru-buru melepaskan pelukannya pada sang kakak yang memang tidak direspon sejak awal, perlahan mundur hingga terjatuh lagi di matrass tempat ia berbaring selama dua jam.

 

Mata Donghae memerah, ia mendongakkan kepalanya, menahan air mata yang sudah mengumpul di matanya agar tidak jatuh.

 

Setelah yakin kalau Donghae bisa mengontrol air matanya, ia menatap sang kakak yang sudah duduk diam dihadapannya.

 

Hyung…”

 

Siwon tersenyum sinis, “Apa kabar, adikku?” ia memberi penekanan pada kalimat terakhir.

 

“Apa yang terjadi? Aku tidak mengerti,” tanya Donghae polos. Sebenarnya Donghae sudah bisa menyimpulkan, tapi ia tetap bertanya dan berharap kalau apa yang ada dipikirannya tidaklah benar.

 

“Apa yang kau pikirkan?” tanya Siwon datar.

 

Donghae menatap Siwon tak berkedip. Sekilas terlihat pancaran ketakutan dan kekecewaan yang muncul di manik matanya. Donghae beralih menatap lima orang yang berdiri santai dibelakang sang kakak. Lalu anak muda itu menunduk.

 

“Kau tidak salah, Hae. Memang aku yang merencanakan semua ini.”

 

Donghae tetap menunduk. Ia tidak berani menatap kakaknya, sebelum akhirnya Siwon mengucap dengan nada tegas mengancam, menyuruh Donghae mendongakkan kepalanya.

 

“Tak inginkah kau mengetahui kenapa?”

 

Donghae mengangguk ragu, membuat Siwon tersenyum..

 

“Karena aku membencimu..”

 

Hyung..—“

 

“Dan aku juga bukan ‘hyung’-mu.”

 

Sebelum Donghae sempat membantah, Siwon melanjutkan.. ”Aku tidak menginginkan kau bicara disini. Kecuali kalau aku memintanya. Aku akan mengatakan semua yang menjadi alasanku melakukan hal ini padamu.”

 

Siwon menopangkan tubuhnya pada dua siku diatas pahanya, memandang Donghae lekat, “Kau datang membawa kehancuran keluarga kecil ibuku. Kau mengira bahwa Kim Tae Hee adalah ibumu? Tidak Hae, Kim Tae Hee adalah ibuKU. Dia merupakan wanita cantik yang selalu kukagumi sampai sekarang. Kehidupannya selalu terdapat senyuman sampai seorang pelacur –yang merupakan ibumu- datang kerumah kami.. ah.. biar kuralat. Maksudku, di bawa Appa kerumah kami,”

 

Siwon berdiri, menyingkap korden sedikit dan melihat kegelapan yang pekat diluar sana, “Appa pergi ke Jepang, dan pulang membawa gadis bernama Reika yang langsung membuat hidup eomma menderita dan keletihan karena terus menangis. Apalagi setelah kelahiranmu. Untungnya, Reika ditemukan tewas dijalanan ketika kau berumur tiga bulan.”

 

Donghae tak sanggup lagi menahan air matanya. Ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan Siwon barusan. Mereka bukanlah ‘saudara’? Apa benar?

 

Namun ingatan Donghae melayang ke beberapa tahun sebelumnya, saat wanita bernama Kim Tae Hee ‘merawat’ dan ‘membesarkan’ Donghae dengan amarah, teriakan bahkan sesekali dengan pukulan, mau tidak mau Donghae menangis semakin menjadi.

 

Sekelebat bayangan Siwon yang terus menerus membela Donghae saat Tae Hee menyakitinyapun ikut meminta dilihat dalam otaknya.

 

“Tapi hyung selalu membelaku…” ucapnya pelan.

 

“Ya… karena aku menyayangimu, Hae. Sampai Ibuku meninggal karena sakit.” Siwon kembali duduk lagi di hadapan Donghae.

 

“Ibuku keletihan karena terus menerus merasa sakit di hati dan sering menangis. Mengganggu pola tidur dan makannya. Satu rahasia yang membuatku berubah menjadi membencimu adalah…” Siwon menarik napas dan menatap Donghae lekat, “..Ibu mengatakan kalau kau bukan anak ayahku, yang biasa kau panggil dengan sebutan Appa.”

 

Hyung…” Donghae membelalakan matanya.

 

“JANGAN PANGGIL AKU ‘hyung’, HAE! AKU TIDAK SUDI!”

 

 

Donghae menggigit bibir bawahnya. Kentara sekali menahan emosi yang campur aduk ia rasakan.

 

“Kau terkejut? Ya. Begitu juga denganku.. Ibu memberikan hasil tes darah dan DNA yang diambil dari darahmu dan ayahku secara diam-diam. Hasilnya, tidak cocok. Kau tahu? Saat ibu menghembuskan Napas terakhirnya, aku marah, aku mulai membencimu yang telah mengacaukan kehidupan rumah tangga ibu yang awalnya berjalan damai. Kau dan ibumu  telah menjadi penyebab ibuku meninggal. Aku ingin sekali membunuhmu. Termasuk saat kau tersangkut tali di laut sewaktu kita berlibur bersama dulu. Aku-lah yang memasangnya agar kau tewas, Hae. Sayangnya, Kyuhyun menyadari hal itu dan langsung menyelamatkanmu.”

 

Siwon berdiri dan menghampiri sebuah meja kecil. Di atas meja terdapat nampan berisi cawan kecil dan sebuah botol yang diletakkan Kibum tadi. Siwon mengambil nampan tersebut dan membawanya ke hadapan Donghae..

 

“.. Aku bersabar dan membuat sebuah rencana untuk melenyapkanmu, Hae. Dan sebenarnya, aku pernah berniat untuk melupakan semua itu sampai aku tahu kalau ayahku mewarisi seluruh hartanya padamu, tidak sedikitpun untukku. Padahal, AKU-lah anak kandungnya, bukan kau. Dan asal kau tahu, Euhyun, Minho, dan Kyuhyun selalu melindungimu, entah siapa yang menyuruh mereka. Tapi saat ini, mereka semua sudah tidak ada didekatmu lagi. Aku tidak tahu siapa yang menyuruh mereka dan aku tidak peduli lagi sekarang. Karena saat beberapa menit lagi terdengar kabar kalau kau telah ‘tewas’, orang-orang yang berusaha menyelamatkanmu hanya akan menangis menyesal. Jadi aku ingin segera mengakhiri ini… Kau tahu ini apa?” tanya Siwon sambil menunjuk nampan diantara dirinya dan Donghae. Donghae menggeleng dengan polos, air mata masih membanjiri kedua pipinya

 

“Atau kau tahu apa yang disebut dengan ‘Sa Yak’* ?”

 

Siwon melihat Donghae membulatkan matanya tak percaya. Tatapan Donghae menyiratkan permohonan.

 

“Kau sayang padaku, Hae?”

 

Tanpa ragu Donghae menjawab, “Selalu hyung. Aku selalu sangat menyayangimu,”

 

“Kalau begitu, lakukanlah. Aku tidak ingin menodai tanganku untuk membunuhmu. Tapi aku ingin kau melakukannya sendiri. Anggap saja sebagai syarat agar aku dan ibuku memaafkanmu dan ibumu. Juga sebagai bukti untuk perkataanmu.. kalau kau menyayangiku..”

 

Siwon tersenyum. Sangat manis jika tidak mengartikannya dalam kondisi saat ini. Donghae masih meneteskan air matanya, masih diam menatap Siwon. Ia sangat menyayangi hyungnya itu. Sangat tidak ingin terjadi sesuatu pada hyungnya. Dan betapa sakitnya Donghae saat mengetahui semua yang diceritakan Siwon, kalau Donghae bukanlah apa-apa di dalam keluarga Lee. Siwon benar, seharusnya Donghae-lah yang mendapat hukumannya karena telah merenggut kebahagiaan seseorang, sebuah keluarga.

 

Siwon membuka tutup botol dan menuangkan cairan berwarna hijau pekat ke dalam cawan, mengisinya sebagian, lalu menyodorkan cawan tersebut pada Donghae.

 

Donghae mengambil tangan itu dengan gemetar. Ia ikhlas, sungguh ia merasa ikhlas sekarang.Dan ia juga merasa ‘menyesal’ karena telah menerima ‘sesuatu’ dari Hangeng. Harusnya, Donghae tidak menerimanya jika keadaannya seperti ini.

 

Donghae mendekatkan cawan itu kebibirnya dan berkata lirih, “Hyung.. aku menyayangimu. Maafkan aku.” lalu menegak habis cairan itu.

 

Dalam sepuluh detik, Donghae terkulai tak sadarkan diri. Eunmi yang sedari tadi berdiri diam di belakang Siwon bersama dengan Eunhyuk, Kibum, Taemin dan Hangeng, maju menghampiri Donghae dan memeriksa denyut nadinya.

 

“Semakin melemah,” lapor Eunmi pada Siwon. Eunmi kembali berdiri dan Siwon berbalik menghadap ‘anak buah’nya.

 

“Kau dengar? Orang-orangmu  terlambat, Han.”

 

~DOOOOOR!!!!!

 

Satu peluru yang tersisa di dalam pistol Siwon kini berganti sarang tepat di jantung Hangeng yang langsung ambruk, tanpa membuka matanya lagi.

 

Anak buah Siwon yang lain terperangah..

 

“BOS…”

 

“Orang brengsek itu, sama dengan Kyuhyun, Minho dan Euhyun. Henry melaporkannya padaku tadi. Ia mengikuti Hangeng dan mendapati pria itu ‘mengunjungi’ teman-temannya. Orang-orang yang kita lihat tadi  sore.”

 

“MEREKA DATANG. KITA HARUS PERGI DARI SINI SEKARANG!!” Henry masuk dengan wajah panik dan cemas.

 

Eunmi, Eunhyuk, Taemin dan Kibum langsung menyiagakan pistol mereka, sementara Henry membantu Siwon untuk loncat lewat jendela.

 

Sebelum loncat, Siwon melempar pistol yang kosong peluru kepojok ruangan dan melihat ke arah adiknya untuk yang terakhir kali, “Selamat tinggal adikku sayang. Terima kasih akan pengorbananmu. Cuih.”

 

~DOOR!!

 

~PRAAANG!!

 

Kaca jendela disamping Siwon, bolong karena tembakan yang meleset dari Yeon Hyo.

 

 

 

TO BE CONTINUED

 

 

 

*Sa Yak : Sa Yak adalah hukuman bunuh diri dengan meminum racun (biasanya racun arsenik berwarna hitam) pada zaman kerajaan Korea. Dalam kasus ini, Siwon memberi Donghae sebuah cairan yang terbuat dari Ban Ha. Zaman dahulu, Ban Ha adalah obat yang biasa digunakan dalam kerajaan. Namun, karena toksinitas yang tinggi (yang malah bisa membunuh), Ban Ha tidak pernah lagi digunakan.

7 thoughts on “FF “Complicated” (PART 7) / Difficult Choice

  1. daebakkkk banget!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!…ya Allah aku baru baca cerita yg bagus banget,,,belum pernah aku baca cerita action yg bagus banget!!…jidaiin novel kek oen..pasti laku! XD…aku mau baca yg part 7 ahhh..kok jadi sepi yah oen😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s