[FREELANCE] FF “Lying My Way From You” -OneShoot-

 

Tittle                                      : Lying My Way From You

 

Author                                   : YuanitHEE (raeHEEchul)

 

Blog                                        : http://www.naddictator.wordpress.com

 

Genre                                     : Friendship; Romance; Hurt

 

Rating                                    : T-15

 

Lenght                                   : Oneshoot

 

Words                                    : 4,063

 

Cast                                        : Cho Kyu Hyun; Yoon Yeon Hyo

 

Support Cast                                    : Kim Hee Chul; Choi Rae Hee; Jung Hyun Jin

 

Disclaimer                            : FF ke-60 ini punya Author. Choi Rae Hee milik Kim Hee Chul. Other cast ? for you guys ^^  

 

Note                                       : Authorfic, Copyright*

 

 

 

Happy Reading ^^

 

==================================

 

Mencintai seseorang dengan diam-diam. Kau akan menyesalinya saat orang itu tak lagi dalam gapaimu. Bukan salahnya karena ia tertarik dan mencintai orang lain. Itu semua karenamu yang menyerah dan membiarkan ketakutan menguasaimu. – HEE

 

****

 

Seorang pria sedang sibuk memijit-mijit kasar tombol di yang tertempel pada stick play station-nya. Nampak bersemangat melawan gadis berambut hitam yang duduk tak kalah heboh di sampingnya.

 

Gadis itu menjerit kesal saat akhirnya, player yang ia mainkan terjerembap terkena tendakan maut dari player yang dimainkan oleh sang pria.

 

Pria itu menoleh dan tersenyum lebar, sangat senang karena usahanya selama 1,5 jam terakhir untuk mengalahkan sang gadis, selesai sudah.

 

“YAK! Kau curang!!!” sungut sang gadis sambil berdiri dari duduknya, berjalan menuju dapur.

 

Pria itu tidak terima dituduh telah bermain ‘curang’, ia mengikuti sang gadis dan langsung merebut gelas yang nyaris bersentuhan dengan bibir gadis itu.

 

“CHO KYU HYUN!!!”

 

Pria bernama Kyu Hyun itu menenggak habis air mineral dingin dari gelasnya, lantas setelah kosong, ia menyodorkannya kembali pada gadis yang melengos menghampiri lemari es lagi.

 

“YA! Yeon Hyo-ya!!” Gadis bernama Yeon Hyo itu hanya mendelik sebal, langsung minum air dari dalam botol.

 

“Siapa yang bilang aku curang heh?”

 

“Aku tadi. Kau tuli?” sahut Yeon Hyo cuek dan membuat Kyu Hyun menyipitkan matanya.

 

“Ayo tanding ulang!!”

 

Yeon Hyo menahan senyumnya saat melihat pria itu kembali ke ruang tengah. Ini adalah pertandingan ulang yang ketiga hari ini. Yeon Hyo tahu kalau Kyu Hyun sangat tidak ingin dibilang curang, dan strategi Yeon Hyo untuk membuat pria itu tetap bertahan di rumahnya, berhasil.

 

Yeon Hyo duduk di samping Kyu Hyun yang nampak baru saja meletakkan ponselnya dengan sebal.

 

“Ada apa?” tanya Yeon Hyo, agak heran melihat raut muka Kyu Hyun  yang benar-benar kelam.

 

“Tidak ada,” sahut Kyu Hyun dan pria itu mulai mensetting playernya.

 

Yeon Hyo yang tahu kalau ada yang berbeda dari mood Kyu Hyun dengan yang sebelumnya, langsung mematikan Play Station 3 dan membuat Kyu Hyun menoleh ke arahnya.

 

“Aku sahabatmu selama 10 tahun Kyu Hyun-ah. Dan aku bisa merasakan ada yang menjadi beban pikiranmu. Ada apa?” raut Yeon Hyo serius kini.

 

Kyu Hyun menghela napasnya pasrah dan mulai membuat dirinya berhadapan dengan Yeon Hyo.

 

Appa baru saja meneleponku. Beliau mengatakan kalau malam ini kami sekeluarga akan bertemu dengan keluarga Choi. Aku dijodohkan dengan anaknya,” ucap Kyu Hyun kesal. “kau tahu kan kalau aku paling tidak suka dengan hal-hal semacam ini? Diatur? Apalagi mengenai pernikahan!! Bagaimana kalau putri keluarga Choi tidak menarik dimataku?”

 

Yeon Hyo tersenyum dan menjitak kepala Kyu Hyun pelan. “Bodoh!! Temui dulu baru berkomentar. Kalau nanti kau langsung tertarik padanya, kau harus menraktirku makan es krim di EunBum Creamy dengan dua ukuran jumbo. Bagaimana?” tantang Yeon Hyo yang membuat Kyu Hyun nampak berbinar.

 

“Kalau aku tidak tertarik, kau yang harus membelikan aku kaset game keluaran terbaru, bagaimana?”

 

“DEAL!!”

 

“Ayo kita tanding sekali lagi. Habis itu aku akan pulang untuk bersiap!!” Yeon Hyo tersenyum saat Kyu Hyun mengacak rambutnya dan menyalakan kembali Play Station 3 dihadapannya, mulai mensetting playernya lagi.

 

Senyum Yeon Hyo perlahan memudar. Berusaha sekuat tenaga untuk tidak menitikkan air matanya. Tapi… Berapa lama ia akan bertahan?

 

****

 

Yeon Hyo menutup pintu kayu itu dengan pelan setelah mengantar Kyu Hyun pulang. Ia berbalik, bersender pada pintu. Tubuhnya ia biarkan merosot hingga ia terduduk di lantai, menekuk kakinya untuk menyembunyikan wajahnya. Perlahan, suara isakannya terdengar.

 

Seberapa kuat ia akan bertahan kalau pria itu benar-benar tertarik akan ‘calon’nya? Seberapa bisa ia menahan rasa cintanya yang begitu besar tapi tidak punya kesempatan untuk terakui? Seberapa banyak air mata yang harus ia tumpahkan untuk seorang pria bernama… Cho Kyu Hyun?

 

Sahabatnya sejak mereka sama-sama berusia 14 tahun. Sejak Kyu Hyun pindah ke Seoul dari Jepang dan satu bangku dengannya, ia dan pria itu dekat secara alami dan menjadi sahabat tanpa mereka sendiri sadari.

 

Termasuk cinta yang ternyata tumbuh di hati seorang Yeon Hyo yang sama sekali tidak diketahui oleh Kyu Hyun.

 

“Tuhan… Biarkan aku membelikan kaset game terbaru untuk Kyu Hyun. Kumohon…” ucapnya teredam.

 

=======================

 

Yeon Hyo mendengus saat suara ketukan pintu itu terdengar lebih keras. Sepertinya tamu yang datang kerumahnya pagi itu sangatlah tidak sabaran. Siapa sih?

 

Ia buru-buru menuruni tangga sambil mengenakan kaus putih yang melapisi tanktop hitamnya, berjalan ke arah pintu sambil berteriak “Sebentar.”

 

Ia membuka pintu dan langsung disambut oleh wajah tampan milik sahabatnya. Wajah yang selalu membuatnya terpesona. Wajah dengan eskpresi menyebalkan yang lebih penting untuk dilihatnya setiap hari daripada melihat senyuman matahari yang memberikan kehidupan bagi banyak makhluk hidup di bumi ini.

 

Cho Kyu Hyun.

 

Dengan senyum yang semakin membuat pria itu tampan setengah mati.

 

Wae?” tanya Yeon Hyo, berusaha bersikap ‘normal’ sebisanya setelah ia menghabiskan waktu semalaman untuk memikirkan ‘perjodohan’ Kyu Hyun. Bahkan lingkaran hitam di bawah mata Yeon Hyo terlihat sangat jelas. Buktinya, Kyu Hyun sedang memperhatikan titik itu sekarang.

 

“Kau sakit?” tanyanya. Senyum lebarnya yang terkembang tadi langsung hilang entah kemana.

 

Yeon Hyo mendengus samar, lantas melangkah masuk tanpa menutup pintu, menghempaskan dirinya di sofa. Kyu Hyun mengikuti, ikut duduk di sampingnya.

 

“Hanya kurang tidur. Semalam habis membaca novel,” ucapnya berbohong. Tapi Kyu Hyun hanya mengangguk saja, seolah percaya dengan apa yang dikatakannya.

 

“Mau apa kau kesini?” tanya Yeon Hyo dan membuat senyuman lebar Kyu Hyun kembali menghiasi wajahnya.

 

“Sibuk tidak?” tanya Kyu Hyun. Yeon Hyo mengernyit, agak bingung sebenarnya. Tumben sekali Kyu Hyun menanyakan tentang ‘kesibukkan’nya.

 

“Kenapa memang?”

 

“Kita pergi ke EunBum Creamy. Aku traktir kau dua es krim ukuran jumbo.”

 

Sedetik kemudian, Yeon Hyo menyesali dirinya yang bertanya.

 

Ia tidak salah dengar kan? Kyu Hyun? Mentraktirnya es krim? Kenapa? Kenapa bukan dia yang harus membelikan pria itu kaset gameterbaru? Kenapa harus dirinya yang menang taruhan?

 

“Jadi….” ucap Yeon Hyo pelan. Tak sadar kalau ia meremas bajunya sendiri dengan cukup kencang.

 

Kyu Hyun mengangguk semangat. “Gadis itu menarik. Astaga Yeon Hyo-ya!! Seharusnya kau tahu bagaimana manisnya dia!!” Pria itu menyenderkan punggungnya dan mendongakkan kepalanya, masih tersenyum. Sementara Yeon Hyo merasakan, hatinya menangis perih.

 

=====================

 

Yeon Hyo melipat tangannya di atas meja, menumpuk tangan kanan di atas tangan kirinya, lantas menggunakan tangan itu untuk menjadi bantalan kepalanya.

 

Ia sangat malas masuk kantor di saat moodnya benar-benar buruk. Bagaimana bisa ia meluangkan waktunya terhadap benda mati tipis berwarna putih yang tertumpuk tinggi di atas meja kerjanya sementara dirinya tidak punya waktu untuk mengobati luka dihatinya yang semakin terasa perih meski satu minggu telah berlalu?

 

Ia tahu kalau ia bodoh karena mencintai pria itu diam-diam. Tapi mau bagaimana lagi? Mengatakan kalau dirinya mencintai Kyu Hyun setengah mati sejak 7 tahun terakhir ini sama saja dengan mendeklarasikan diri sebagai ‘mantan sahabat’ dari pria itu.

 

Ia tak mau… Sama sekali tidak mau merusak persahabatan manis dengan Kyu Hyun yang sudah terjalin sekian lama hanya karena kata cinta yang ia sendiri sadari hanya dirasakan oleh… Dirinya seorang.

 

“YA!!!”

 

Yeon Hyo terlonjak kaget saat seseorang berteriak padanya. Perlahan ia mengangkat wajah dan tersenyum garing kepada atasannya yang sedang melotot galak. Pria tampan yang ‘dingin’nya minta ampun itu sedang memperhatikannya tajam.

 

“Annyeong Haseyo, Direktur….” Yeon Hyo buru-buru berdiri dan membungkuk kepada pria yang merupakan atasan sekaligus pemilik perusahaan Petals Coorporation ini. Ia dapat melihat dari sudut matanya kalau Hyun Jin sedang menahan tawanya.

 

“Nona Yoon, kau tidak digaji hanya untuk duduk dan menopangkan kepalamu di atas meja saja. Apa tugasmu sudah selesai?” tanya pria itu dan melihat ke arah tumpukan kertas di atas meja Yeon Hyo. Gadis itu ikut melihat ke arah yang sama dan meringis saat mendapati tatapan tajam sang Bos kembali terarah padanya. “tidak selesai hari ini, kupotong gajimu.”

 

Yeon Hyo melotot dan hanya terbengong melihat punggung sang bos yang menghilang  di balik pintu ruangan bertuliskan Kim Hee Chul itu.

 

Hyun Jin menghampiri Yeon Hyo dan tertawa padanya. “Kau juga sih… Salahmu kalau kau tidak mendengarkan panggilanku tadi….”

 

Yeon Hyo menoleh pada Hyun Jin. “Tadi memangnya kau memanggilku?”

 

Hyun Jin mengangguk. “Ya. Bahkan saat aku masih bisa melihat Direktur di lift!!” seru Hyun Jin heboh dan Yeon Hyo hanya menghela napas frustasi, tak ada minat untuk menanggapi gurauan Hyun Jin.

 

Yeon Hyo duduk kembali di kursinya, mulai menyalakan komputer dan mengerjakan tugasnya.

 

“Bos nampak mengerikan….” ucap Hyun Jin yang masih berada di meja kerja Yeon Hyo.

 

“Dia memang selalu mengerikan,” sahut Yeon Hyo seadanya.

 

“Tidak. Hari ini auranya lebih gelap. Seperti ingin membunuh seseorang….”

 

“Dan saya akan membunuh Anda jika Anda tidak segera kembali ke meja kerja Anda, Hyun Jin-ssi.”

 

Tidak hanya Hyun Jin yang terlonjak kaget, Yeon Hyo pun ikut mendongak dan mendapati Direkturnya sudah berdiri lagi di belakang Hyun Jin yang memucat. Hyun Jin buru-buru membungkuk dan kembali ke meja kerjanya, sementara… Fokus Yeon Hyo langsung teralih pada ponselnya yang bergetar tanpa henti.

 

Cho Kyu Hyun menghubungi dan ia sama sekali tidak berniat untuk menggubrisnya.

 

=========================

 

Yeon Hyo melangkah keluar kantor sambil sesekali memijiti pundaknya yang terasa pegal. Ia berbelok ke arah trotoir dan langkahnya terhenti saat sosok Kyu Hyun menghalangi jalannya.

 

“Kenapa kau tidak mengangkat teleponku, hah? Kau cari mati ya?” ucap Kyu Hyun dingin.

 

Selain dikuasai oleh rasa lelah, hatinya yang belum tertata dengan benar membuatnya hanya menghela napas dan menjawab ucapan sadis Kyu Hyun dengan lemah. “Meeting seharian. Bosku hari ini terlihat sadis sekali, bahkan Hyun Jin bilang auranya lebih gelap daripada biasanya. Tak sempat melihat ponsel dan aku baru saja menyelesaikan tugas kantor yang membuat tulangku terasa hampir putus.”

 

Well. Alasan meeting tentu saja hanya rekayasa, tapi selebihnya tidak. Jadi… Dirinya tidak sepenuhnya berbohong kan?

 

Kyu Hyun menghela napasnya berat. Merasa harus mengalah karena sepertinya Yeon Hyo memang sangat lelah. Terbukti dari cara gadis itu merespon dengan tidak balas berkata dingin padanya. Tidak berseru seperti biasa.

 

Kyu Hyun refleks menarik tangan Yeon Hyo dan membukakan pintu untuk gadis itu. Setelah memastikan Yeon Hyo duduk dengan aman, Kyu Hyun berjalan memutar dan mulai duduk di belakang kemudi, melarikan mobil itu menuju rumah Yeon Hyo.

 

****

 

Yeon Hyo berbalik menghadap Kyu Hyun saat mereka sudah berada di depan pintu kayu rumahnya.

 

Gomawo sudah menjemput dan mengantarku pulang hari ini,” ucap gadis itu, ada sedikit rasa senang di atas hatinya yang terluka saat tahu Kyu Hyun datang menjemputnya ke kantor karena mencemaskan keadaan dirinya yang tidak yang sama sekali tidak berkabar.

 

Kyu Hyun mengangguk, lantas mengacak pelan rambut Yeon Hyo yang sudah menjadi kebiasaannya jika ia mengkhawatirkan keadaan sang sahabat. “Istirahatlah. Besok aku akan menjemputmu jam sebelas.”

 

Yeon Hyo mengernyit. Bukankah besok hari Sabtu? Dan kenapa?

 

“Temani aku mencari hadiah untuk ulang tahunnya,” ucap Kyu Hyun lagi bahkan sebelum dirinya sempat bertanya dan membuat dirinya kembali ‘tersadar’ pada kenyataan.

 

-Nya.

 

Itu hanya berarti satu hal. Gadis itu… Gadis bernama Choi Rae Hee yang dijodohkan dengan Kyu Hyun. Dan dirinya? Besok akan menemani Kyu Hyun untuk mencari hadiah ulang tahun untuk gadis itu.

 

Oh… Mimpi buruk apa lagi ini? Tak cukupkah dengan hanya mendengar kalau Kyu Hyun tertarik dengan gadis itu? Sekarang kenapa dirinya juga harus terlibat dalam pemilihan hadiah untuk gadis itu?

 

“Ya.”

 

Jawaban bodoh yang bertolak belakang dengan apa yang hatinya rasakan. Tapi sungguh, ia tidak bisa menolak permintaan Kyu Hyun, apalagi pria itu sekarang sedang menatapnya dengan sorot berbinar saat dirinya menyetujui permintaan sial yang menghampirinya.

 

Sial.

 

========================

 

“Kau benar-benar payah, Yeon Hyo-ya… Kukira dengan mengajakmu maka aku bisa menghemat waktu untuk memilih hadiahnya,” keluh Kyu Hyun sambil menyeruput kopi dingin yang tadi ia beli di Starbucks Cafe sambil lewat.

 

Yeon Hyo yang sibuk memijiti kakinya yang pegal hanya merengut sebal. Gadis itu merebut gelas kopi yang dipegang Kyu Hyun, menghisap kopinya sampai habis.

 

“Ayo cari lagi!! Beli saja satu gaun untuknya.” Yeon Hyo berjalan meninggalkan Kyu Hyun yang menatap punggungnya dengan senyum lirih. Dia dan Yeon Hyo sama, sangat sulit dalam mencari dan menentukan hadiah yang tepat untuk orang lain. Dan jujur saja, ia sendiri sudah mulai letih.

 

Kyu Hyun berjalan menyusul Yeon Hyo yang nampak memasuki sebuah toko gaun. Ia merutuki dirinya sendiri karena tidak menanyakan apa yang Rae Hee suka sebelumnya. Ia tidak mengira kalau akan sesulit ini karena gadis itu begitu berbeda jika dibandingkan dengan gadis manis yang sekarang sedang sibuk meminta sebuah gaun untuk diturunkan dari patung yang menjadi modelnya.

 

“Ini bagaimana?”

 

Kyu Hyun mengangguk. Pasrah saja karena ia sendiri juga sudah sangat lelah. Yeon Hyo hanya menghela napasnya panjang, lantas meminta pegawai toko untuk membungkuskan gaun panjang menjuntai hingga menyapu lantai dengan model kerah Sabrina yang dipakai sebatas bahu berwarna soft blue itu.

 

“Yeon Hyo-ya… Kita makan dulu ne?”

 

Jajjangmyeon?”

 

“Tentu. Memangnya makanan apa lagi yang lebih enak selain itu?” sahut Kyu Hyun sambil menyeringai, mengambil kotak berisi gaun untuk Rae Hee dari tangan Yeon Hyo.

 

“Tidak ada,” sahut Yeon Hyo ringan dan mereka berdua bergegas meninggalkan mall menyebalkan yang membuat kaki mereka nyaris putus.

 

========================

 

“Kyu Hyun-ah….” panggil Yeon Hyo untuk yang kesekian kalinya pada Kyu Hyun, tapi pria itu tetap tidak menggubrisnya, malah semakin erat menggenggam tangan Yeon Hyo untuk menghampiri sosok tinggi menjulang yang nampak anggun di tengah ruangan.

 

Kyu Hyun memaksanya untuk datang ke acara ulang tahun Rae Hee karena ingin memperkenalkan ‘sahabat’  pada ‘calon istri’nya tersebut. Yeon Hyo sendiri hanya mengenakan dress berwarna peach selutut dan sandal gladiator berwarna putih dengan penampilan make-up  seadanya. Rambutnya diikat longgar dan di kedepankan lewat sisi kanan tubuhnya. Nampak manis walau memang tidak seistimewa gadis itu. Gadis yang sedang berpelukan dengan Kyu Hyun-nya.

 

“Selamat ulang tahun, Rae Hee-ya….” ucap Kyu Hyun manis. Yeon Hyo bahkan tidak pernah melihat Kyu Hyun bersikap manis seperti itu, terutama kepada dirinya. Rasanya… Apa ada rasa yang lebih menyedihkan dari sekedar kata ‘sakit’ ? Jika ada, itulah yang saat ini dirasakannya.

 

Gomawo, Kyu Hyun-ssi….”

 

Gadis itu tersenyum lembut. Astaga!! Bahkan caranya berbicara sangat halus seperti seorang puteri, sangat berbeda dengan dirinya yang lebih sering berteriak dan saling berseru dengan Kyu Hyun. Pantas saja pria itu ‘bertutur’ dengan sangat manis. Yang akan ehm… dinikahinya adalah seorang ‘gadis’, benar-benar seorang gadis. Tidak sepertinya.

 

Yeon Hyo menunduk dan semakin merasa jauh dari Kyu Hyun. Mereka nampak cocok dan kenyataan itu menyakitkan. Sungguh!! Ia rela angkat kaki bersama orang asing yang membawanya pergi dari tempat terkutuk ini daripada harus menyaksikan Kyu Hyun yang berdiri dekat dengan Rae Hee.

 

“Ini Yeon Hyo.”

 

Yeon Hyo mendongak saat Kyu Hyun menyentuh pundaknya. Ia tersenyum pada Rae Hee dan membungkuk singkat. Gadis itu membalas dengan senyuman yang err… Bahkan senyumnya saja sangat berbeda!!!

 

“Sahabat dari calon suamiku?” tanya Rae Hee halus.

 

Kenapa? Kenapa harus menyebutkan ‘calon suami’ ?? Tidak bisakah hanya menyebutkan nama ‘Kyu Hyun’ saja?

 

Yeon Hyo masih menunjukkan senyum terbaiknya, senyum yang ia harap terlihat menarik meski tidak bisa lebih baik disaat hatinya berserakan di dalam tubuhnya. “Iye. Senang bertemu denganmu, Rae Hee-ssi.”

 

“Senang mengenalmu juga, Yeon Hyo-ssi.”

 

****

 

Yeon Hyo memutuskan untuk berkeliling saja. Berlama-lama di dekat Kyu Hyun dan Rae Hee bisa membuat jantungnya berhenti berdetak karena tidak kuat melihat kebersamaan mereka yang membuatnya merasakan sakit.

 

Ia mengambil minum dari nampan seorang pelayan yang kebetulan lewat di depannya dan berbalik, hendak berjalan ke balkon saat matanya menangkap sosok yang familiar. Direkturnya.

 

Yeon Hyo langsung berbalik menjauhi Hee Chul, sebisa mungkin menghindari kontak dengan pria itu. Kenapa harus bertemu dengan atasan yang menyebalkan disaat seperti ini sih??

 

Akhirnya Yeon Hyo memutuskan untuk berdiri di dekat pintu keluar, di depan sebuah lukisan dewi berjudul Aprhodite. Ia hanya bisa menatap lirih Kyu Hyun yang sedang berdansa dengan Rae Hee. Benar-benar terlihat serasi.

 

Matanya mau tak mau kembali melihat ke arah atasannya tadi berdiri. Dan pria itu sedang melakukan hal yang sama dengannya, menatap pasangan yang sedang berdansa itu dengan sorot… Terluka?

 

****

“Kau memaksanya untuk datang, Kyu Hyun-ssi?” tanya Rae Hee pada Kyu Hyun, masih melingkarkan tangannya di tengkuk pria yang menjadi calon suaminya itu.

 

Kyu Hyun tertawa renyah. “Ya. Aku memang memaksanya. Tak ada yang lebih menyenangkan selain membuat dia melakukan sesuatu dengan terpaksa.”

 

“Dia gadis yang cantik. Berapa lama kau berteman dengannya?”

 

“Cantik? Masa? Kok aku tidak menyadarinya ya? Apa karena kami bertemu setiap hari jadi melihat wajahnya pun sudah biasa saja untukku?” ucap Kyu Hyun yang membuat Rae Hee terkekeh pelan. “sepuluh tahun. Kami berteman sudah sepuluh tahun.”

 

“Dan tanpa sadar kau mencintainya.” Ucapan Rae Hee membuat langkah dansa mereka terhenti. Kyu Hyun menatap Rae Hee bingung.

 

“Apa?”

 

“Kau mendengarnya, Kyu Hyun-ssi….” ucap Rae Hee tersenyum, tubuhnya masih menempel dengan Kyu Hyun. Gadis itu menatap wajah pria dihadapannya dengan lekat.

 

“Aku mencintainya? Tidak mungkin. Dia kan sahabatku.”

 

“Bagaimana jika statusnya, dia bukan sahabatmu? Apa kau masih mau mengelak?”

 

Rae Hee melepaskan tautan tangannya dari tengkuk Kyu Hyun, mundur selangkah dari pria itu.

 

“Bahkan… Kau sendiri tidak menyadarinya kan?”

 

“Bagaimana kau bisa yakin kalau aku mencintainya?”

 

“Hanya orang bodoh yang tidak berperasaan yang tidak menyadarinya, Kyu Hyun-ssi. Dari caramu menatapnya, caramu memperlakukannya dengan kenyamananmu. Caramu bercerita padaku tentangnya dengan tawa dan kehebohan seolah-seolah gadis itu memang sangat menyenangkan. Aku melihat kau yang menjadi dirimu sendiri saat berada di dekatnya, tidak seperti saat kau berada di dekatku.”

 

“Aku tahu kau mengubah gaya berbicaramu padaku karena mengetahui aku yang seperti ini dan ketidaknyamanan saat kau menjadi ‘bukan dirimu’ itu sangat terlihat olehku. Apakah kau menyadari kalau setiap bertemu denganku hal apa yang kau ceritakan?” tanya Rae Hee dan Kyu Hyun masih diam mendengarkan.

 

“Gadis itu,” lanjut Rae Hee sambil tersenyum.

 

Kyu Hyun hanya menatap gadis diam. Mendadak ia merasakan kekecewaan. Kenapa? Apa karena gadis dihadapannya ini secara halus mengatakan ‘menolak’ dirinya? Atau karena apa yang gadis itu katakan adalah kebenarannya?

 

Rae Hee menyentuh pipi Kyu Hyun dengan lembut, mendekatkan wajahnya ke arah pria itu, dan tersenyum saat melihat Yeon Hyo berlari keluar ruangan. Dugaannya juga tepat, kalau Yeon Hyo juga mencintai Kyu Hyun.

 

Wajah Kyu Hyun hanya beberapa senti dari wajahnya, dan ia berbisik. “Mau mencoba saranku?”

 

=======================

 

Astaga!! Sungguh!! Ia benar-benar menyesal karena menuruti kehendak Kyu Hyun untuk datang malam ini. Gadis itu… Gadis itu berani mencium Kyu Hyun-nya tanpa ragu!! Bahkan Kyu Hyun pun tidak menolak.

 

Yeon Hyo terduduk di kursi taman tak jauh dari hotel tempat pesta itu di selenggarakan. Ia butuh udara yang jauh dari kata segar sekarang. Dadanya sesak, napasnya tercekik, dan air matanya… Mengalir lagi dengan deras.

 

Ia memegang dadanya yang benar-benar terasa nyeri. Sakit. Sakit sekali. Ia sendiri juga tidak tahu kenapa rasanya bisa sesakit ini saat mengetahui kalau Kyu Hyun… Sudah semakin jauh dalam jangkauannya.

 

Sekarang… Ia harus bagaimana? Tetap berada di dekat Kyu Hyun sama saja membunuh dirinya sendiri secara perlahan. Tapi… Jika ia menjauh dari pria itu… Bisakah dirinya bertahan lebih lama dari pilihan untuk tetap bersama dengan Kyu Hyun? Tak ada jaminan bukan? Jadi dia harus bagaimana?

 

****

Sepertinya Kyu Hyun benar-benar melupakannya. Dua hari sejak pesta ulang tahun itu, Kyu Hyun tak pernah menghubunginya bahkan untuk sekedar mengirimi sms bodoh berisi umpatannya karena ia kalah main game.

 

Dan Yeon Hyo… Ia tidak punya pilihan lain. Pilihan yang ia punya hanya dua; tetap diam dan menghancurkan dirinya sendiri secara perlahan, atau melangkah dan membuat hatinya terasa kosong sampai batas waktu yang ia sendiri tidak bisa memperkirakannya.

 

Ia memejamkan mata, menghela napasnya panjang. Ini adalah pilihan yang akan ia ambil. Jika ia pergi sekarang, tentu hatinya akan mati karena ia harus menghilangkan cinta dari dalam hatinya dan meninggalkannya di Seoul, pada pria itu. Mungkin saja, suatu saat nanti, ia bisa menghidupkan kembali hatinya… Meski kemungkinannya sangatlah kecil. Setidaknya, ia berusaha. Bukan hanya untuk dirinya, tapi untuk kebahagiaan Kyu Hyun bersama Rae Hee.

 

Ia mulai mengetikkan surat pengunduran diri yang akan langsung ia serahkan kepada atasannya hari ini juga.

 

****

 

Kim Hee Chul membaca surat pengunduran diri Yeon Hyo dengan seksama, lantas melemparnya begitu saja ke atas meja.

 

“Kau ingin pergi ke China dan membantu perusahaan ayahmu disana, Nona Yoon?” tanya Hee Chul datar.

 

“Seperti yang tertulis, Direktur.” Yeon Hyo menundukkan wajahnya, berharap kalau Hee Chul akan langsung mengabulkan permohonannya.

 

“Sebenarnya kinerjamu bagus, Yeon Hyo-ssi, sayang sekali kalau aku melepasmu. Tapi… Sepertinya kau memang sangat ingin mengundurkan diri?”

 

“Jika yang Anda maksud tentang perusahaan ini, sama sekali tidak, Direktur Kim. Ini keputusan saya pribadi, tidak ada faktor eksternal lain terlebih lagi menyangkut perusahaan Anda.” Yeon Hyo mendongak dan menatap atasannya dengan raut tegas. Ia hanya butuh kata ‘ya’ dan ia bisa segera pergi dari negara ini. Iya kan?

 

Hee Chul menyenderkan tubuhnya ke kursi dan memainkan pulpen berwarna emasnya. “Silahkan. Kau mendapatkan persetujuanku. Kau bisa minta pada sekretarisku untuk memberikanmu gaji terakhir dan kau bisa mencairkannya. Hati-hati di jalan dan semoga perasaanmu lebih baik, Yeon Hyo-ssi.”

 

Yeon Hyo sudah hampir membungkuk terima kasih saat ia menyadari ada kejanggalan pada kata-kata terakhir Hee Chul. Ia mendongak kembali dan menatap atasannya itu dengan sorot tidak mengerti. “Maaf?”

 

Hee Chul tersenyum. Bahkan kalau Yeon Hyo tidak ingat betapa menyebalkan dan ‘unik’nya sang Direktur, dia akan mengatakan kalau senyuman itu membuat Hee Chul terlihat lebih tampan.

 

“Lari dari masalah, membohongi perasaanmu sendiri. Apakah aku salah?”

 

Hee Chul berdiri dari kursinya, berjalan memutar, dan berhenti di hadapan Yeon Hyo, bersandar pada meja besarnya. Kedua tangannya ia lipat di depan dada. Menunggu.

 

Yeon Hyo tersenyum tipis. “Tidakkah Anda sedang menasihati diri Anda sendiri, Direktur?” tukasnya berani saat menyadari ke arah mana maksud dari perkataan Hee Chul.

 

Hee Chul tertawa renyah. “Setidaknya aku tidak mencoba menghindar. Aku bahkan tetap berada di sampingnya, mendukungnya sesuai apa yang selalu kujanjikan padanya.” Hee Chul menurunkan kedua tangannya, memasukkannya ke dalam saku celana. “posisi kita berdua sama, Nona Yoon. Mencintai orang yang tidak menyadarinya. Dan aku berpikir, sebenarnya itu adalah kesalahan dari diri kita sendiri.”

 

“Ketakutan akan ‘dia’ yang meninggalkan kita. Itulah masalahnya hingga kita yang merasakan hal seperti ini.”

 

“Sudah terlambat untuk mengatakannya, Direktur.”

 

“Aku tidak. Aku mendapatkannya.”

 

“Siapa?”

 

“Rae Hee,” ucap Hee Chul enteng. Sebelum Yeon Hyo bertanya ‘bagaimana’, Hee Chul sudah mengedikkan dagunya. Yeon Hyo menoleh ke belakang dengan perlahan dan melihat Kyu Hyun berdiri disana dengan pesonanya yang semakin membuatnya terlihat tampan. Seperti biasa.

 

“Yeon Hyo-ya….”

 

“Kyu Hyun-ah… Sedang apa kau disini?”

 

“Mengikuti hatiku,” jawab Kyu Hyun dengan senyuman mengejek. Ia berjalan mendekati Yeon Hyo yang hanya terpaku di tempatnya berdiri. “tak kusangka bahkan Rae Hee mengatakan hal yang benar.” Kyu Hyun tertawa, lebih kepada menertawakan dirinya sendiri.

 

“Dia mengatakan apa?”

 

“Bahwa aku mencintaimu, tanpa aku sadari.”

 

“Kyu Hyun-ah….” panggil Yeon Hyo lirih dan Kyu Hyun tersenyum lembut.

 

Saranghae….”

 

Tanpa sadar Yeon Hyo meneteskan air matanya, tersenyum bahagia. “Na do saranghae, Kyu Hyun-ah.”

 

Sebelum Kyu Hyun memeluk Yeon Hyo, Hee Chul sudah berdeham dengan keras, membuat kedua orang tersebut menoleh.

 

“Aku merobek ini, kau tahu artinya kan, Nona Yoon?” Hee Chul merobek surat pengunduran diri Yeon Hyo hingga menjadi potongan-potongan kecil.

 

Yeon Hyo mengangguk antusias. “Itu artinya kalau saya harus menunda pengambilan gaji terakhir saya, bukan begitu Direktur?”

 

“Ya. dan kalian bisa melanjutkan adegan peluk… dan cium kalau perlu. TAPI TIDAK DI RUANGAN KU!! Pintu keluarnya ada disana.” Hee Chul menunjuk pintu keluar yang membuat Yeon Hyo serta Kyu Hyun tertawa geli. Keduanya membungkuk lantas meninggalkan ruangan itu dengan bergandengan tangan.

 

Sementara Hee Chul, menahan senyum gelinya. Mengingat kejadian dua hari yang lalu.

 

Wajah Kyu Hyun hanya beberapa senti dari wajah Rae Hee, dan ia berbisik. “Mau mencoba saranku?”

 

“Apa?”

 

“Hindari dia untuk sementara. Kau harus mencari tahu kebenaran dalam hatimu sendiri. Apakah hatimu setuju dengan apa yang kukatakan? Atau justru, hatimu berkata sebaliknya?”

 

Rae Hee meninggalkan Kyu Hyun yang hanya berdiri diam, keluar ruangan. Buliran bening keluar dari mata indahnya dan ia menangis… Di ayunan pinggir kolam renang yang ada di hotel itu.

 

“Rae Hee-ya….” Tanpa menoleh siapa yang datang pun Rae Hee tahu siapa pemilik suara itu.

 

“Mengatakan kata-kata pada Kyu Hyun seolah aku mengatakannya di depan cermin. Ya kan? Aku bodoh ya?” ucap Rae Hee sambil menunduk, menatap rerumputan yang ada di bawah kakinya.

 

“Tidak, sama sekali tidak.” Hee Chul duduk di samping Rae Hee dan mengangkat wajah gadis itu dengan tangan yang ia letakkan di dagunya.

 

“Mencintaimu…. Maaf karena aku baru menyadarinya,” ucap Rae Hee dan sesaat kemudian, Hee Chul memeluk gadis itu hangat.

 

“Aku juga minta maaf karena tidak mengatakannya padamu.” Rae Hee mengangguk dan Hee Chul mengecup puncak kepalanya lembut. “Rae Hee-yaSaranghae.”

 

EPILOG

 

“Yeon Hyo-ya….”

 

“Ehm….”

 

“Jangan pernah sekalipun kau berpikir untuk menghindariku lagi.”

 

“Kenapa memangnya?”

 

“Kau tidak bisa melakukannya.” Yeon Hyo mendengus dan menoleh pada Kyu Hyun yang sedang menyeringai menatapnya. Tapi sedetik kemudian, rautnya berubah serius. “karena kau adalah tahanan hatiku untuk selamanya.”

 

Dengan cepat Kyu Hyun meletakkan kedua tangannya di pipi Yeon Hyo, dan mendaratkan bibirnya di atas bibir Yeon Hyo bahkan sebelum gadis itu sempat menyadari apa yang terjadi.

 

Kyu Hyun menghentikan ciumannya sesaat untuk mengatakan “Saranghae….” pada Yeon Hyo dan kembali melumat bibir gadis itu lembut, tak memberikan kesempatan bagi gadis itu untuk membalas perkataannya. Karena Kyu Hyun tahu, tak perlu di ucapkan dengan kata-kata… Hati Yeon Hyo akan selalu mencintainya.

 

 

THE END

 

*) Copyright adalah Hak hukum (dalam hal ini) seorang penulis untuk memperbanyak, menerbitkan, mengedarkan hasil tulisannya. Ia memiliki hak atas tokoh-tokoh ciptaannya, berikut jalinan ceritanya. Penulis FF tidak mempunyai hak hukum atas tokoh-tokoh canon, ia hanya bisa meng-klaim OC-nya dan ide cerita.

65 thoughts on “[FREELANCE] FF “Lying My Way From You” -OneShoot-

  1. wuah…author daebak, ceritanya keren banget yah
    jiah heechul oppa jadi direktur? widih serem amat punya direktur kyk gitu *ditabok
    pasangan Hyo-kyu ama Raehee pada kompak yah…sama-sama ngga nyadar ama perasaannya sendiri ckckckck *di tabok
    semangat ya thor bikin ffnya, ciptakan karya-karya keren lagi ^_^

  2. Yeeeiiii… Keren ceritanya,,
    Aq kira larahatinya yeon hyo bakal di obati heecul..
    Syukurlah bukan! Kwkwwk~
    tapi kependekan thor~
    Sequel dunk~~ Ÿªaãª..Ÿªaãª..Ÿªaãª..^__^

  3. ceilah masa’ bru di sadar;in ama rae hee sadar dong kyu sadar sadar#abaikan
    eon DDAAEEBAAKK aja dah cuman blang …
    hehehee .. ^^v

  4. nyesek ditengah2 sampe nangis. .:'(
    untung aja happy ending. .
    dua kopel(?) favoritku hee couple sama hyokyu. .
    kkk~
    keren eonni. .^^

  5. Jiahahaha😀 , heechuL oppa ! Trnyata ada ”Ada udang d’baLik heechuL” .. Eeh’ sLah , ”ada udang d’baLik batu” ..🙂
    Nama prusahaan’a keren ! Nti aku mau buat ”PT.EverLasting Friends” !😀 *lho

    Keren aLur crita’a , ku pkir bkaLan jdi nikah ,, skaLi’a gak🙂😀

    ~ HyoKyu Shipper ~🙂😀

  6. Wahhh…. jalan ceritanya dan isinya sangat keren..😀 Bahasanya juga sangat nyaman di baca…Keren deh pokoknya !!!

    Keep writing ya thor??!! Fighting!!!😀

  7. Sedih saeng…
    Kok aku bs ketinggalan yah baca ff ini
    ff mana lg yah yg blom kubaca kekkee~
    ini buatan choi rae hae kan?
    Buatan dia emang sm bagusnya sm buatan mu
    feelnya dpt bgt
    sakit hatinya berasa bgt
    sip..sip…..oke ff nya
    gumawo

  8. Huaaa keren eon>,<
    mpe lupa mau komen apa wkwk:D
    hhhe prshabtan yg lama memang sering timbul cinta y,…bahkan yg tdk lama pun bsa timbul hahaha
    #sok tahu ini saya eon
    maafkanlah hahaha:p

  9. Kalo udh bca ff hyokyu couple emang bikn BETE tuh langsung ilang
    ff nya romantis abiss,,slain bikin kita “mesem2 sndiri” juga sllu bikin kita nangis krna sking menghayati nya#ngelap ingus hehe
    oya Kak Icha ..kpn Reminiscence part 11nya mo d publish??
    Gomawo🙂

  10. Keren beneran deh .
    Kebanyakan yang sakit hati hyo dripada kyu.
    Bener-bener tidak baik menyembunyikan rasa suka sama seseorang malah jadi sakit hati.

  11. Waaaahhh,,,

    Daebak Thorrrr,,,

    Sosweet Bnget,,,
    Pas Bru Buka Udh Trtarik Ama Judulnya Pas D Lnjutin Ternyta Nyentuh Bnget,,,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s