FF “L.O.V.E” (PART 4)

Lee Dong Hae’s Scene present by Euricha Fany 

Kim Hee Chul’s Scene present by Nagita Yuanita Wadi

Lee Sung Min’s Scene present by Niken Refanthira 

Kim Jong Woon’s Scene present by Noffa Debiliastini

 

 

Disatukan oleh Nagita Yuanita Wadi

 

 

Happy Reading ^^

 

============================================ 

9 FEBRUARI 2012

*Lee Dong Hae’s Scene*

 

Juliet?? Siapa yang memanggilnya begitu??’ batin Donghae

 

“Oppa aku harus segera berperan lagi”,kata Euhyun hendak mengakhiri pembicaraan.

“Euhyun~ah,nuguya? Orang yang memanggillmu juliet?”,tanya Donghae hati-hati.

 

“Eh?? Juliet?? Kekekeke~,,dia namja di kampus ini oppa,annyeong”,kata Euhyun lalu

 

TUUUTT..TTUUT..

 

“MWOOO?”,teriak Donghae tanpa sadar.

“Waeyo hyung??”, tanya salah seorang muridnya.

“Aniya”, jawab Donghae ketus.

 

Rasanya ada rasa tak senang dalam hatinya yang bergemuruh merubah semua mood baik Donghae hari ini menjadi mendung dengan petir yang menyambar-nyambar.

 

“Oppa wae geurraeyo?”, tanya murid-murid yeoja di studio ketika Donghae melewati mereka untuk menyetel tape.

 

Setelah musik berdentang dengan alunan music hip hop Donghae menari sepuas hatinya hingga semua mata tertuju padanya dan Donghae tak perduli, rasanya ia ingin meluapkan semua hal yang sedang bergemuruh dalam hatinya tanpa ingin perduli pada apapun, karna pada akhirnya Donghaepun tak akan mampu mengajar saat ini.

 

Satu jam..dua jam.. Donghae mulai lelah terus bergerak dan bergerak tanpa henti hingga keringat mengguyur tubuhnya. Perlahan Donghae mulai kehilangan keseimbangan dan ia mengakhiri dance nya dengan posisi duduk dan menunduk.

 

“Hyung waeyo?”,tanya salah seorang murid Donghae. Satu persatu muridnya duduk memutarinya dan memandang Donghae menuntut jawaban. Donghae menghela nafas sebentar dan mulai bercerita.

 

“Aku sedang cemburu”,

 

kriikk..kriiikk..

 

“Buahahahahahaha”,ledakan tawa murid-murid Donghae terdengar nyaring dalam studio.

 

“YA!!”

 

“Haha mianhae hyung,bagaimana kalau kami membantumu saja?”,jawab salah satu murid Donghae. “Neo busunshuriyea [apa maksudmu]?”,tanyanya kemudian.

 

“Hyung sebentar lagi kan valentine. Lebih tepatnya hari Selasa besok,tepat ketika perlombaan berlangsung. Bukankah yeojachingumu mahasiswi perguruan tinggi seni jurusan balet yang menjadi tuan rumah perlombaan itu???”,kata salah seorang murid Donghae yang lainnya.

 

“Eung,wae?”,tanya Donghae.

 

“Nyatakan cintamu disana hyung,aku ingin lihat apakah masih bisa yeojachingumu selingkuh?? Buat dia terpesona denganmu hyung,dan permalukan selingkuhannya”,sahut salah seorang yang lain.

 

“Memangnya namja selingkuhannya itu seperguruan tinggi dengannya?”,tanya salah seorang murid yeoja di depan Donghae.

 

“Mollayo,aku hanya menebak saja”,jawab si pemberi saran.

 

“Eung sepertinya dia lawan main Euhyun dalam pementasan besok”,kata Donghae. Sepertinya apa yang mereka katakan benar juga.

 

Euhyun~ah aku takkan membiarkanmu lepas dari tanganku. Sekali aku menyayangi seseorang maka seterusnya aku akan terus menyayangimu,maka selamanya hanya akan dirimu di hatiku.’ Ucap Donghae dalam hati

 

****

 

“Kim Bum~ah”,panggil Euhyun pada Kim Bum yang sedang merapikan tas latihannya. “Eung”,jawabnya seperti biasa yang di iringi dengan tersenyum.

 

“Kim Bum ~ah bantu aku nde?”,tanya Euhyun.

“Bantu mwo?”,tanya Kim Bum.

 

“Bantu aku membuat kejutan untuk namjachinguku valentine nanti”,jawab Euhyun semangat. Saat ini Euhyun hanya sedang berdua dengan Kim Bum di ruang latihan. Kim Bum tampak berpikir dan bertampang jahil hingga membuat Euhyun menunggu untuk mendapatkan jawabannya.

 

“Kim Bum~ah,kau adalah chinguku yang paling baik dan dekat denganku,jeball,bantu aku Kim Bum ~ah. Kau kan terkenal sangat romantis dan pakarnya para yeoja”,bujuk Euhyun.

 

“Arraseo”,jawab Kim Bum sambil mencubit hidung Euhyun dan tersenyum lebar membuat yeoja itu terlonjak kegirangan.

 

Euhyun reflek memeluk Kim Bum dan tertawa-tawa.

 

‘JEPREEET’,bunyi kamera mengagetkan Euhyun dan Kim Bum.

 

Sontak mereka terdiam dan menoleh pada asal suara.

 

“YA!!”,teriak Euhyun.

 

“Hahaha peran utama pria dan wanitaa terkena skandal cinta lokasi”,kata pelatih mereka.

“Ya!! Ya!! Pelatih jangan begitu”,kata Euhyun.

 

Ketika Euhyun hendak menghampiri pelatihnya, Kim Bum malah memegang tangan Euhyun dan langsung memeluk pinggangnya.

 

“Tolong sekali lagi pelatih”,kata Kim Bum dengan entengnya.

“MWO??”,Euhyun sangat terkejut dengan permintaan namja itu

 

Kim Bum mendekatkan wajahnya di depan wajah Euhyun sedangkan pelatih terus saja dengan senang hati menjepret disana sini.

 

“Kim Bum~ah hentikan hey”,kata Euhyun.

 

Tapi Kim Bum malah berpose dengan satu tangan di pinggang Euhyun dan satu lagi menggemgam tangannya sambil tersenyum lalu menciumnya. Dengan senang hati pelatih memotret mereka dari berbagai sudut.

 

“Selesai”,kata Kim Bum.

 

Euhyun masih tercengang dan tak percaya dengan tindakan Kim Bum. “Apa yang kau lakukan huh?”,tanya yeoja itu.

 

“Aku sedang membantumu,serahkan saja semuanya padaku”,kata Kim Bum sambil mengedipkan sebelah matanya

 

======================================

*Kim Hee Chul’s Scene*

 

Kediaman Keluarga Kim. Wonju, Kangwondo.

 

Ruangan berbentuk kotak dengan lebar 30×30 meter dan bercat putih, menampakkan dua orang yang masih tertidur pulas diatas ranjang. Selimut tebal masih membungkus sepasang suami-istri tersebut yang sebenarnya masih enggan untuk bangun.

 

Seorang wanita yang sudah berganti marga dari Choi menjadi Kim –marga suaminya- menyadari tugasnya. Ia membuka matanya perlahan dan melihat jam digital di meja kecil samping bed sudah membentuk angka 6.01. Kim Rae Hee –nama wanita itu- menoleh kebalik punggungnya dan menatap suaminya yang masih terpejam. Sebuah senyuman terukir di bibir Raehee.

 

Wanita itu bangun dengan perlahan, tak ingin menggangu suaminya -yang ia yakini pulang larut- yang sedang tertidur pulas. Raehee melangkah kekamar mandi dan mulai membersihkan dirinya, bersiap-siap untuk melakukan aktivitasnya hari ini.

 

Suami Raehee masih tidur saat ia meninggalkan kamar, menuju sebuah kamar lain dilantai dua rumah dengan model minimalis itu. Membuka pintunya perlahan dan melihat seorang malaikat cantik masih tertidur sambil memeluk boneka beruang besar favoritnya.

 

Raehee duduk di sisi bed putrinya dan tersenyum. Menyampirkan rambut hitam lurus Kim Hee Rae –nama sang putri- dan mengecup keningnya lembut. Bibir Raehee beralih ke telinga putrinya dan membisikan sesuatu..

 

“Chagiya.. bangun nak. Kau harus sekolah bukan?”

 

Raehee memperhatikan Heerae yang mengerjap-ngerjap dan matanya yang sudah terbuka sempurna. Memperlihatkan manik mata hitam dan sayu dari pemiliknya. Gadis itu tersenyum sambil menggeliat.

 

“Selamat pagi, eomma..,” sapa gadis itu pada Raehee

“Selamat pagi… ayo bangun. Kita mandi,” ajak Raehee pada putrinya yang berumur 5 tahun.

 

“Eomma.. aku bisa mandi sendiri. Eomma tunggu disini saja yaa…?”

 

Raehee tersenyum dan mengangguk. Kemudian, Heerae masuk ke dalam mandi, sementara Raehee berjalan ke almari pakaian, menyiapkan seragam putrinya.

 

15 menit waktu yang dibutuhkan Heerae untuk mandi dan mengenakan seragamnya. Raehee menyisiri rambut panjang putrinya dan menjepit poninya dengan sepasang jepitan bergambar kupu-kupu berwarna merah muda pucat. Lalu menuntun Heerae untuk keluar kamar, membangungkan ayah Heerae.

 

Raehee masih melihat suaminya bergelung dibalik selimut. Yakin sekali kalau suaminya tersebut sangat lelah. Raehee bersender di daun pintu dan melihat putrinya yang melompat ke atas bed dan membangunkan ayahnya dengan menciumi seluruh wajah pria itu.

 

Kim Hee Chul merasakan ada yang tidak beres terjadi di wajahnya. Ia memutuskan untuk membuka mata dan melihat wajah polos bidadari kecilnya di depan mata.

 

“Appa bau…”

 

Heechul terkekeh dan mengecup kening Heerae yang sudah melompat turun dari bed dan berlari menghampiri Raehee.

 

“Ireona.. Kami menunggu dibawah,” ucap Raehee pada Heechul yang menganggguk. Wanita itu turun kelantai bawah bersama putrinya dan bersiap untuk sarapan.

 

Raehee melihat Siu Lin, pelayan di rumah mereka sedang menyiapkan sarapan di meja makan. Meletakkan susu untuk Heerae, kopi untuk Heechul dan teh hijau untuk Raehee. Lalu membawa sepiring penuh roti beserta selainya ke atas meja.

 

Raehee menarik sebuah kursi dan mendudukkan Heerae disana. Kemudian mengambil dua lembar roti, mengolesinya dengan selai strawberry kesukaan Heerae , lalu meletakkannya di atas piring.

 

“Makanlah..”

“Ne, eomma..”

 

“Siu Lin..,” panggil Raehee, Siu Lin menghampiri, “Ye, Nyonya..?”

 

“Hari ini kau antar Heerae kesekolah ya? Aku ada janji sebentar lagi,” ucap Raehee yang mendapat anggukan dari Siu Lin dan wajah yang ditekuk milik Heerae.

 

“Chagi.. jangan seperti itu OK? Eomma kan harus bekerja.. Lagi pula hari ini saja kok. Gwaenchana?”, Raehee masih melihat putrinya cemberut, “Bagaimana kalau nanti eomma belikan eskrim? Ketika eomma pulang?” bujuk wanita itu

 

“Jinjja? Eomma tidak bohong?,” Raehee mengulum senyum saat putrinya ‘terpancing’ oleh ‘sogokkan’nya. Raehee mengangguk, “Memangnya eomma pernah berbohong padamu?”

 

“Anni..Baiklah.. hari ini aku pergi dengan Siu Lin. Eomma.. hanya hari ini yaa..,” Heerae mengacungkan kelingkingnya, meminta ditautkan dengan kelingking milik Raehee, dan wanita itu menyambutnya.

 

“Good morning~~” Heechul menyapa putri dan istrinya dari tangga dan berjalan ke arah mereka. Menyembulkan kepalanya ditengah-tengah dan meminta sesuatu dari putri kecilnya.

 

~CHU

 

Satu kecupan selamat pagi dibibir Heechul yang biasa diterimanya dari Heerae membuat pria itu menepuk pelan kepala putrinya. Kepala Heechul berputar ke arah lain dan mencium bibir istrinya sekilas, lalu berjalan menuju kursinya.

 

Raehee mengambil dua lembar roti lagi dan mengolesinya dengan selai kacang, kemudian menaruhnya dipiring untuk disodorkan pada Heechul.

 

“Pulang jam berapa kau semalam?,” tanya Raehee membuka obrolan hangat pagi itu.

“Jam 2 pagi. Maaf..,” ucap Heechul dengan nada menyesal sambil menatap istrinya.

 

“Gwaenchana, aku mengerti,” Raehee meremas tangan Heechul lembut dan tersenyum.

“Baiklah.. aku berangkat duluan ya?,” Raehee meneguk teh nya sekali lagi dan bangkit dari kursinya.

 

“Eodiga?,” Heechul mengernyit, namun tak juga menghentikan kecupan singkat di bibir sang istri

 

“Harus belanja bahan. Heerae akan diantar Siu Lin,” jawab Raehee lalu berputar menghampiri putri mereka, “Eomma pergi sayang.. baik-baik disekolah ya..?,” Raehee mengecup bibir putrinya itu dengan lembut, sementara Heerae mengangguk.

 

“Hati-hati eomma..”

“Hati-hati, chagi”

 

Heerae dan Heechul berucap bergantian yang hanya disambut oleh senyuman dan lambaian tangan Raehee. Tak berapa lama kemudian, Camry hitam Raehee sudah melesat meninggalkan rumah.

 

****

 

Sunflower Playgroup. Wonju, Kangwondo.

 

 

“Seonsaengnim.. bagaimana cara membuat ini? Aku ingin membuat bunga tulip untuk ibuku”

 

“Ah.. begini, perhatikan baik-baik,” Seo Ri Rin –nama sang guru- mengambil kertas  dari tangan Heerae dan mulai membentuk bunga sesuai dengan permintaan muridnya tersebut. Sementara Heerae memperhatikannya dengan seksama.

 

“Apa kau mengerti?,” tanya Ri Rin dan Heerae mengangguk. “Aku akan mencobanya. Gamsahamnida seonsaengnim,” Ri Rin tersenyum dan kembali kemejanya.

 

Heerae mengambil sebuah kertas berwarna merah dan duduk disudut ruangan. Mulai mencoba apa yang diajarkan ibu gurunya tadi. Dahinya mengerut mencoba mengingat langkah apa lagi yang harus ia lakukan. Setelah cukup lama hingga membuat beberapa butir peluh mengalir dari keningnya, Heerae tersenyum senang saat akhirnya ia bisa menyelesaikan bunga tersebut untuk diberikan kepada eomma-nya nanti.

 

****

 

Petals Hospital. Wonju, Kangwondo.

 

Kim Heechul berjalan dilorong rumah. Pindah dari satu ruangan ke ruangan lain sambil membawa papan berisi data pasien yang harus di check-nya. Rekan sekerjanya, Song Hye Neul, sedang mendapatkan panggilan ke Busan, jadi alhasil, pasien-pasien Hyeneul harus ditangani Heechul sendirian.

 

Setelah 23 kamar inap ia masuki, Heechul kembali ke meja kerjanya dan melihat ke arah kalender meja.

 

“Valentine.. lima hari lagi..,” Heechul tampak berpikir dan seperti mendapatkan sebuah ide yang cemerlang, akhirnya ia memutuskan sesuatu.

 

****

 

HeeHee Boutique, Apgujeong, Seoul.

 

Raehee masih mengukur kain yang baru saja dibelinya bersama Shin Hee Rin –pegawainya- atas permintaan pelanggan mereka. HeeHee Boutique memang sudah terkenal akan rancangan dan kualitas pakaian yang di perdagangkan. Selain karena Raehee memang seorang fashion designer yang hebat, ia juga seorang yang mudah mendapatkan kenalan serta pelanggan. Dimulai dari warga biasa, artis, sampai istri-istri pejabat, mempercayakan tatanan busana mereka pada Raehee.

 

Dan kali ini, Raehee harus membuat sebuah gaun pengantin dengan model terbaru untuk calon menantu pemilik perusahaan entertainment terbesar di Korea Selatan yang juga merupakan guru dari putrinya.

 

Pernikahan itu akan dilaksanakan saat hari Valentine tiba dan sialnya itu berarti lima hari lagi. Sebetulnya ia sudah hampir saja menolak permintaan aneh yang mendadak itu, sampai ia tahu siapa yang akan mengenakan gaun tersebut. Guru favorit dan baik hati –menurut putrinya. Ia tidak enak bukan jika harus menolak?

 

Raehee meletakkan gunting bahannya dan mulai mengukur lagi. Mencoret-coret kertas berisi angka-angka yang harus sesuai dengan gambar gaun yang ia buat sebelumnya. Wanita itu menghela napas, menggeleng pelan dan mulai membentuk kain-kain itu lagi.

 

“Nyonya..,” panggil Heerin

 

“Heem??” Raehee hanya menyahut dengan dehaman. Masih menaruh konsentrasi penuh pada calon karyanya.

 

“Sudah malam, Nyonya…” ucap Heerin pelan. Raehee berbalik, “Kau bisa pulang, Heerin-ah. Aku akan disini sebentar lagi,” ucap Raehee sambil tersenyum.

 

“Baik, Nyonya. Saya pamit,” Heerin permisi dan Raehee kembali kepada pekerjaannya.

 

Wanita itu berhasil membentuk kain utama, hanya tinggal memotong kain tambahan berwarna merah muda yang nanti akan disatukan dengan gaunnya saat ia menyadari….

 

“GOOD! Aku lupa membeli kain warna pink ! payetnya juga! Aishhh..” keluh Raehee saat menyadari kesalahannya itu. Wanita itu melihat jam tangan dan menemukan jarum menunjuk angka sembilan. Raehee menepuk jidatnya, “Astagaa.. ini sudah malam”

 

Raehee buru-buru membereskan peralatannya. Jarum pentul, gunting, meteran bahan dan kain yang sudah berhasil dibentuk. Sampah-sampah yang tersisa sudah ia buang ke keranjang sampah. Raehee mematikan seluruh lampu butik dan berjalan ke mobil saat ponselnya berdering nyaring.

 

“Yeoboseyo?” sahut Raehee sambil masuk kedalam mobil, menstraternya.

“Kau dimana?” suara Heechul terdengar kesal diseberang sana

 

“Baru saja naik mobil. Maafkan aku, aku tak melihat jam. Kau sudah pulang?” tanya Raehee dengan nada menyesal.

 

“Dari sejam yang lalu. Kau tahu betapa kesalnya aku mengetahui kau tak dirumah?”

 

Raehee menghembuskan napasnya, “Aku minta maaf, dear.. bisa kita bicara dirumah saja? Aku akan menyetir sekarang”

 

“Oke. Hati-hati. Kutunggu dirumah”

 

PIP.

 

Setelah sambungan telepon tersebut terputus, Raehee meletakkan ponselnya di dalam tas dan mulai menjalankan mobilnya, pulang kerumah.

 

****

 

Kediaman Keluarga Kim. Wonju, Kangwondo.

 

Heechul menutup flip ponselnya dan berjalan ke kamar Heerae. Pria itu membuka pintunya perlahan, tak ingin membangunkan putrinya yang pasti sudah tidur. Mata Heechul sedikit terkejut saat melihat putrinya masih duduk didekat jendela, menghadap ke jalanan luar rumah.

 

Heechul berjalan dan duduk disamping Heerae, “Kau belum tidur, chagi?” tanya Heechul sambil membelai rambut panjang putrinya lembut. Heerae menoleh dan tersenyum, “Aku menunggu eomma.. eomma belum pulang ya appa?”

 

Heechul balas tersenyum, “Tapi ini kan sudah malam, chagi. Kau biasa tidur jam delapan kan? Tidurlah sekarang”

 

Heerae menggeleng pasti, “Anniya, aku ingin tidur bersama eomma. Aku tadi membuatkan ini untuk eomma,” ucap Heerae sambil menunjukkan origami bungan tulip yang ia buat disekolah tadi, “aku membuatnya sendiri”

 

“Baiklah. Appa akan menemanimu menunggu eomma, oke?” tawar Heechul dan mendapatkan anggukan antusias dari Heerae.

 

Sejam kemudian, Heerae dan Heechul melihat mobil Raehee masuk rumah dan terparkir di garasi. Heechul melihat istrinya turun dari mobil dan melambai ke arah mereka yang dibalas oleh lambaian Heerae. Heechul berdiri dan keluar kamar, menyambut istrinya di tangga dengan raut sebal.

 

“Kau tahu ini jam berapa?” tukasnya dingin

 

“Oh ayolahh, aku baru saja pulang, oke? Biarkan aku bertemu Heerae dulu” Raehee mengecup lembut pipi Heechul dan berlalu ke kamar Heerae.

 

Heechul menghembuskan napas dan mengikuti Raehee ke kamar putrinya. Heechul menyandarkan punggungnya di daun pintu saat melihat Raehee menuntun Heerae naik ke bed dan membacakan cerita untuk gadis itu. Heechul memberi aba-aba kalau ia akan menunggu di kamar saja. Setelah melihat Raehee mengangguk, Heechul menutup pintu kamar Heerae dengan pelan dan masuk ke kamarnya.

 

Heechul mengganti pakaiannya dengan piyama dan duduk bersandar sambil membaca buku-buku kedokteran yang sangat tebal. Tidak mengacuhkan Raehee yang masuk kamar dan membuka almari untuk mengambil piyama. Heechul masih fokus pada bukunya saat istrinya tersebut masuk kekamar mandi.

 

10 menit kemudian Raehee keluar dan duduk didepan meja riasnya. Mengeringkan rambut denganhairdryer dan memakai krim malamnya. Raehee melihat dari cermin kalau Heechul masih membaca, seolah tidak memperdulikannya. Raehee tahu kalau suaminya itu marah karena ia pulang larut. Harusnya, butik Raehee itu sudah ditutup saat jam menunjuk angka 4.30. tapi karena memang ia hari ini sangatlah sibuk, ia sendiri bahkan tidak menyadari kalau hari sudah larut.

 

Heechul masih diam saat Raehee mulai naik ke ranjang dan mendekatkan tubuhnya pada diri pria itu. Heechul merasakan kepala Raehee yang bersender di pundaknya.

 

“Yeobo…” panggil Raehee pelan

“Hem..”

 

“Yeobo..”

 

“Oke, kau mendapat perhatianku Nyonya Kim,” Heechul menutup bukunya dan meletakkan kacamata bacanya diatas buku yang ia letakkan di atas meja kecil di samping bed, kemudian pria itu memandang istrinya yang sudah duduk tegak.

 

“Kau marah?”

 

“Menurutmu?” pancing Heechul dan melihat Raehee menghembuskan napasnya. Campuran rasa lelah dan penyesalan.

 

“Maafkan aku.. aku memang salah pulang larut. Tadi pagi aku pergi pagi-pagi sekali karena harus berbelanja bahan untuk gaun pengantin Seo Ri Rin, calon menantu keluarga Kim sekaligus guru Heerae, kau tahu kan?”

 

“Lalu?” Heechul masih berusaha mendengarkan alasan istrinya pulang larut.

 

“Sangat membuatku pusing karena harus selesai sebelum valentine tiba. Malah tadi ada bahan yang lupa kubeli. Aku tidak melihat jam sama sekali dan ketika sadar, sudah jam sembilan”

 

“Kau tahu? Aku tidak suka ketika aku pulang kau belum dirumah. Lagipula aku sudah mengatakan padamu kalau kau tidak usah bekerja, biar aku yang bekerja dan kau mengurus Heerae saja. Kau tahu? Tidak baik untuk anak sepertinya tidur larut seperti ini. Dia menunggumu”

 

“Ya aku tahu. Masalah pekerjaan, bukankah kita sudah sepakat kalau kau akan mengizinkan aku bekerja? Aku tidak meragukanmu dalam menafkahi keluarga ini, aku hanya ingin apa yang menjadi ilmuku tidak terbuang begitu saja. Kau sudah menyetujui semua hal itu sebelum kita menikah”

 

“Oke, baiklah. Kau masih kuijinkan bekerja. Tapi aku ingin kau tahu kalau aku sangat tidak suka kau pulang seperti ini lagi. Arra?” ucap Heechul dengan nada yang lebih lunak dan membuat Raehee tersenyum

 

“Arra.. gomawo,”  Raehee mengecup bibir Heechul singkat dan menarik selimut, hendak tidur.

 

“Tunggu..”

“Apa lagi?”

 

“Kau lelah?” tanya Heechul dengan nada cemas namun sorot mata yang memancarkan hal lain, Raehee tersenyum.

 

“Tidak untukmu..”

 

Dan Heechul melumat lembut bibir Raehee.

 

========================================

 

10 Februari 2012

 

*Lee Sung Min’s Scene*

 

 

Cake MinkyShop, Seoul. Afternoon, 12.00 KST

 

H-4 before Valentine~

 

“Waktumu tinggal 4 hari lagi Cho Sue Yeon” Sungmin merapikan rambutnya tanpa menatap Sue Yeon yang sibuk merapikan beberapa piringan cake.

 

Sue Yeon hanya mendengus kesal membuat Min Ho terkekeh kecil. “Sue Yeonnie, bagaimana kalau kau berpacaran dengan ku saja?” tawar Min Ho sambil merapikan kerah baju seragamnya. Sue Yeon tersenyum

 

“Jika itu bisa membuatku menang, aku mau saja”

 

“Andwae!” dilarang berpacaran dengan teman kerja. Aku tidak pernah mengizinkannya” Ketus Sungmin serius, Min Ho memperbesar kekehannya, “Kalau begitu, aku akan mencarikannya namja”

 

“YA!! Kau tak perlu ikut campur urusan kami”

 

“Hyeong? Aku tak tahan lagi!!” ujar Min Ho kesal setelah mengambil nafas berat.

 

Sungmin langsung menarik Min Ho menjauhi Sue Yeon, sedangkan Sue Yeon menatap heran kedua namja yang sibuk dengan perbincangan mereka.

 

“Jangan membuatku malu di depannya!!” Bisik Sungmin geram.

 

Min Ho tersenyum licik. “Kalau begitu jawab pertanyaanku. Hyeong, menyukainya kan?”

 

Sungmin terdiam sesaat, ia sibuk dengan pikirannya lalu beberapa saat kemudian ia mengangguk

 

“Yeaah!!” Teriak Min Ho senang.

 

“Kalau begitu nyatakan sekarang juga” Tembak Min Ho, Sungmin menjitak keras kepala namja yang sibuk berteriak.

 

“Apa kau gila?!” Bisik Sungmin masih dengan nada geram

“Hyeong, apa kau seorang pengecut?”

 

“Aniyeo, hanya belum waktunya. Jangan katakan pada siapapun!!” Ancam Sungmin yang berlalu pergi dari hadapan Min Ho.

 

Min Ho kembali terkekeh pelan melihat sikap hyeong nya yang sebenarnya mendekati sifat pengecut.

 

======================================

 

*Kim Jong Woon’s Scene*

 

Kona Beans. 11.30 KST 

 

Berkali-kali Yesung menatap undangan itu lalu mengalihkan tatapannya kepada sepasang gaun dan setelan namja yang dibawa oleh Hyun Jin.

 

“Kau serius Hyun Jin-ah? Kau ingin ke Jeju terlebih dahulu, baru datang ke parade busana itu?” tanya Yesung meyakinkan lagi yeoja yang sedang menyesap Cappuchino Latte-nya. Yeoja itu mengangguk.

 

“Ne Oppa. Dan kau berjanji akan menolongku, ya kan?” tanya Hyun Jin sejurus kemudian.

 

Ya… Yesung memang sudah berjanji akan selalu menemaninya, karena Yesung sangat menyayangi Hyun Jin. Yesung tak ingin senyum manis yeoja itu terhapus lagi oleh air mata dari wajah yang sangat menyedihkan itu.

 

“Ne Hyunnie…tapi bisakah kita mengejar satu jam dari Jeju ke Star City nanti? Aku tak ingin kau terlambat mengikuti kompetisi itu,” ujar Yesung lagi. Sejenak wajahnya tampak murung. Ahh~ Yesung menghilangkan senyumannya!

 

“Eottohke Oppa…aku sama sekali tak memikirkan itu,” ujarnya memelas.

 

Yesung tersenyum. Namja itu memegang tangan Hyun Jin untuk menenangkan. Dan benar saja, seketika detak jantung Yesung mulai berpacu lebih cepat. Perasaan ini… perasaan ini takkan sanggup ia bendung lagi. Sepersekian banyak waktu yang ia lewati bersama-sama dengan satu-satunya dongsaeng sahabatnya ini, telah menumbuhkan sejuta perasaan yang tak mampu ia wakilkan hanya dengan memendamnya. Ruang di dadanya terasa semakin sesak jika ia tak segera mengungkapkannya.

 

Yeoja ini memang tidak secantik artis-artis Korea yang Yesung kagumi. Namun Hyun Jin memiliki sesuatu yang menarik seluruh panca indera-nya agar selalu ingin bersama yeoja itu.

 

“Oppa…Ya! Kenapa kau melamun?” yeoja di depan Yesung itu menggoyang-goyangkan tangan Yesung yang menggenggam tangannya. Seketika menyadarkan namja itu dari kekagumannya pada Hyun Jin.

 

“Aaa~ mian Hyunnie…aku sedang memilirkan caranya. Ahhh…bukankah kita bisa meminta bantuan sahabatmu, Park Shin Hye?” ujar Yesung sejurus kemudian. Hyun Jin menelengkan kepalanya, tanda tak mengerti.

 

“AAhhh~ Baiklah…jadi rencananya begini…”

 

========================================

 

*Kim Hee Chul’s Scene*

 

Kediaman Keluarga Kim. Wonju, Kangwondo.

 

Heerae menuruni tangga dan melihat appanya sudah duduk di kursi meja makan sambil membaca koran. Saat menyadari ada pergerakan disekitarnya, Heechul mengalihkan mata dari koran menuju putrinya.

 

“Good morning, my little angel..” sapa Heechul lembut

“Good morning, my handsome father” sahut Heerae yang membuat Heechul terkekeh

 

“Selai strawberry?” tanya Heechul dan Heerae mengangguk. Mata almond Heerae menjelajah kesekiling dan bertanya saat tidak menemukan yang ia cari, “Appa.. dimana eomma?”

 

“Eomma sudah berangkat tadi pagi, chagi.. ini,” jawab Heechul sambil menyodorkan roti kehadapan putrinya yang langsung cemberut. “aku harus berangkat bersama Siu Lin lagi? Aku ingin sama eomma” ucap gadis itu lirih

 

Heechul tidak tega melihat putrinya hampir menangis, “Bagaimana jika appa yang antar?”

 

“Jinjja? Apa tidak sibuk?” mata Heerae berbinar-binar. “Anni. Lekas habiskan sarapanmu dan appa akan mengantarmu”

 

****

 

Didalam perjalanan, Heerae bersenandung kecil. Ia memang kecewa karena tidak bertemu ibunya pagi ini, apalagi ibunya tidak mengantarnya seperti biasa. Tapi rasa kecewa itu tergantikan saat appanya mau mengantarnya kesekolah dulu. Jarang-jarang Heechul bisa mengantar putri kecilnya tersebut.

 

“Chagi.. nanti kita liburan ya??” ucap Heechul sambil tersenyum ke arah putrinya yang memandang penasaran

 

“Eodigani (kemana) appa?”

“Jeju? Kau suka? Nanti saat Valentine, oke? Kita bertiga sama eomma juga”

 

“Jinjja? Aku mau!!!” seru Heerae bersemangat, membuat Heechul terkekeh.

“Sekarang, belajar dengan pintar oke?” ucap Heechul dan Heerae mengangguk.

 

Heechul menghentikan mobilnya dan turun duluan, lantas membukakan pintu untuk putri kecilnya. Mengecup kening putrinya tersebut dan melihatnya berlari memasuki gedung sekolah. Heechul tersenyum.

 

****

 

Sunflower Playgroup. Wonju, Kangwondo.

 

Raehee melirik jam tangannya. Jam 12.30 ia sudah berdiri di taman kanak-kanak putrinya. Heechul meneleponya pagi tadi dan menceritakan raut kekecewaan dari wajah sang putri saat tahu Raehee sudah berangkat dan tidak bisa mengantarnya.

 

Merasa bersalah, Raehee memutuskan untuk pulang, membawa semua pekerjaannya untuk diselesaikan dirumah, menjemput sang putri dan menepati janjinya yang belum tertunaikan kemarin.

 

Raehee tersenyum dan melambai saat Heerae berlari kecil ke arahnya, Raehee berjongkok dan membiarkan putrinya tersebut memeluk tubuhnya. “Eomma menjemputku?” tanya Heerae riang.

 

“Tentu”

 

“Selamat siang, Nyonya Kim”

“Selamat siang, Nona Seo,” Raehee membalas salam Seo Ri Rin

 

“Anda terlihat letih. Apakah gaun saya merepotkan Anda?” Ri Rin menampakkan wajah cemas. Ya. sejujurnya Raehee lelah, tapi ini kan sudah pekerjaannya.

 

“Sama sekali tidak merepotkan Nona Seo. Saya senang lagipula ini juga pekerjaan saya” jawab Raehee dengan senyum tulus

 

“Baiklah. Terima kasih banyak atas bantuannya, Nyonya Kim”

 

“Terima kasih juga telah menjaga putri saya, Nona Seo. Kami pamit” Raehee membungkuk dan berjalan menuju mobilnya. Heerae melambai ke arah ibu gurunya juga. Camry hitam Raehee melaju meninggalkan taman kanak-kanak tersebut.

 

“Eomma tadi pagi kemana?”

 

“Mianhae, chagiya, eomma sibuk” ucap Raehee dengan nada menyesal, “tapi sekarang eomma kan menjemputmu dan kemarin eomma berjanji membelikan eskrim kan? Jadi kita akan beli sekarang. Mau?”

 

“MAUUUUUUUU~~!!” seru Heerae senang. Raehee tersenyum dan mengelus kepala putrinya dengan lembut.

 

“Eomma..”

“Hemm??”

 

“Besok ada pertemuan orangtua. Aku mau eomma dan appa datang yaa??” ucap Heerae dengan sorot mata yang berbinar. Raehee tercekat, dia harus membuat gaun itu kan? Lalu bagaimana bisa ia bolak-balik untuk menghadiri pertemuan itu? Tak ingin membuat putrinya kecewa, Raehee mengangguk lemah.

 

****

 

February, 11th 2012.

 

Sunflower Playgroup. Wonju, Kangwondo.

 

Heerae bernyanyi dan menari dengan gembira. Sorot matanya sibuk mencari-cari orangtuanya yang diwajibkan datang dia acara apresiasi sederhana kelasnya hari ini. Heerae memutar tubuhnya dan melenggak-lenggokkan pinggul sambil bernyanyi. Tak lupa senyuman lebar menghiasi wajah cantiknya.

 

Walau saat ini ia belum bisa menemukan orangtuanya, Heerae tahu kalau eomma dan appanya sedang menyaksikan penampilannya dari suatu tempat, dan Heerae ingin tampil semaksimal mungkin.

 

Heerae membungkuk kecil saat lagu selesai ia nyanyikan. Mendapat riuh tepuk tangan akan kemahirannya dalam bernyanyi dan juga menari.

 

“Heerae-ya..”

 

Heerae menoleh dan berlari menghampiri appanya. Heechul membungkuk sedikit untuk menggendong Heerae dan menciumi pipi gadis kecil itu. Heerae balas menciumi wajah Heechul dengan senang, lalu sadar satu hal, gadis kecil itu menatap tanya kepada sang ayah.

 

“Eomma-mu sedang sibuk sekarang. Dia minta maaf karena tidak bisa datang. Kau tidak marah kan?” tanya Heechul saat putri kecilnya menampakkan wajah kesal.

 

Begitupun selama perjalanan pulang. Di mobil, Heerae hanya cemberut dan tidak terlalu menggubris pertanyaan Heechul. Dan pria itu tahu, bahwa putri kecilnya memang sedang marah. Gadis itu tidak suka jika orang tuanya tidak memperhatikan dia. Hal yang dilakukan Raehee saat ini sudah sangat keterlaluan dimata Heerae. Gadis kecil itu memang sangat manja.

 

Heechul menghembuskan nafasnya berat saat melihat Heerae langsung turun dari mobil dan berlari kedalam rumah. Gadis kecil itu pasti menangis.

 

To : Lovely

 

Kau harus meminta maaf padanya. Ia marah padamu.

 

Heechul mengirim pesan singkat itu pada Raehee. Tak lama kemudian, Raehee membalas pesannya.

 

From : Lovely

 

Oh GOD~~!! Oke, aku pulang sekarang.😦

 

 

Heechul membalas kalau ia akan kembali lagi kerumah sakit. Setelah mendapat persetujuan dari Raehee, Heechul menjalankan mobilnya lagi meninggalkan rumah.

 

****

 

Kediaman Keluarga Kim. Wonju, Kangwondo.

 

Raehee memarkirkan mobilnya dengan rapih. Terpaksa ia harus pulang dan menunda penyelesaian gaun tersebut sampai beberapa jam kedepan. Raehee memutuskan membawa pulang (lagi) pekerjaannya.

 

Wanita itu melangah masuk dan disambut Siu Lin yang langsung membawa barang-barang bawaan Raehee keruang pribadinya. Wanita itu bertanya dimana Heerae dan langsung menuju kekamar putrinya tersebut.

 

Tok.Tok.

 

“Chagiya.. ini eomma.. bolehkah eomma masuk ??” tanya Raehee. Tak ada jawaban dan Raehee memutuskan untuk masuk.

 

Raehee tersenyum samar saat melihat putrinya tertidur dengan memeluk boneka beruang besar favoritnya. Wanita itu membenarkan letak selimut yang dikenakan sang putri dan mengecup lembut kening Heerae. Wanita itu keluar kamar dan langsung menuju ruang kerjanya. Memulai lagi pekerjaannya yang sempat tertunda.

 

****

 

Heechul menutup pintu depan, melangkah masuk dengan perlahan dan bertemu dengan Siu Lin yang kebetulan sedang lewat.

 

“Nyonya sudah pulang? Ada diatas?”

 

“Sudah, Tuan. Ada diruang kerjanya sejak tadi siang. Dan belum makan sepertinya. Tadi Nyonya bilang  tidak ingin diganggu”

 

“Oh.. oke”

“Permisi, Tuan”

 

Heechul mengangguk dan Siu Lin pamit pergi. Pria itu melangkah menuju ruang kerja Raehee yang tidak dikunci. Tersenyum sedih saat melihat istrinya tertidur di meja, kepalanya diletakkan diatas kedua tangannya yang dilipat di meja. Pasti kelelahan.

 

Heechul menaruh tasnya di sofa dan mengangkat Raehee perlahan. Tak ingin membuat istrinya terbangun. Heechul menaiki anak tangga dengan hati-hati dan membaringkan Raehee di bed saat sudah sampai dikamar mereka.

 

Heechul melepas sepatu Raehee dan menyelimuti istrinya tersebut. Kemudian ia mengecup lembut kening Raehee, membuat pergerakan kecil dari Raehee namun tidak membuat wanita itu terbangun. Dan Heechul berganti baju, bersiap untuk tidur juga.

 

TO BE CONTINUED_______________________________

 

Apa yang direncanakan Kim Bum untuk membantu Euhyun? 

 

Akankah rencana yang dicetuskan murid-murid Donghae berhasil?

 

Bagaimana cara Raehee untuk membagi waktu antara keluarga dan pekerjaannya?

 

Kapan Sungmin akan menyatakan cintanya pada Sue Yon? Apakah akan terlambat?

 

Apakah rencana Yesung? Mungkinkah rencana itu bisa berhasil?

 

SEE THE PARTS ^^

 

 

7 thoughts on “FF “L.O.V.E” (PART 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s