FF “L.O.V.E” (PART 1)

 

 

ini adalah FF ‘project’ edisi valentine days !

FF ini adalah HASIL KARYA dari sembilan AUTHOR’s berbeda termasuk saya sendiri😄 *plaakk

dalam FF “L.O.V.E” ini, saya menulis bagian CHO KYUHYUN’s scene…

Bagian CHO KYUHYUN itu sebenarnya isinya sama saja dengan FF “Winter’s Memories”

tapi karna ini FF ‘project’ bertemakan CINTA dengan gaya penulisan dan alur cerita yang berbeda… jadi tidak salah kan mencoba buat baca HASIL KARYA sembilan author gaje ini ?? #digorok

kekkekekeke~~

Berikut ini nama-nama author beserta bagian(?) penulisan atau biasnya ::

 

Choi Si Won’s Scene present by Ririn Lestari

Kim Ryeo Wook’s Scene present by Husnul Khatimah

Henry Lau’s Scene present by Hilda Tamuu

Lee Sung Min’s Scene present by Niken Refanthira 

Lee Dong Hae’s Scene present by Euricha Fany

Park Jung Soo’s Scene present by Ernitha Sinaga

Cho Kyu Hyun’s Scene present by Yarica Eryana (saya sendiri *plaakk)

Kim Jong Woon’s Scene present by Noffa Debiliastini

Kim Hee Chul’s Scene present by Nagita Yuanita Wadi

 

 

 

 

FF “L.O.V.E” (PART 1)

 

 

 

 

Kim Jong Woon’s Scene present by Noffa Debiliastini

Kim Ryeo Wook’s Scene present by Husnul Khatimah

 

Disatukan oleh Nagita Yuanita Wadi a.k.a Admin raeHEEchul

 

 

Happy Reading ^^

 

============================================

 

-JANUARY-

 

*Kim Jong Woon’s Scene*

 

 

1 Januari 2012Jung’s House, Gangnam-Korea Selatan08.45 KST

 

-BRAAAAKKKKK-

 

“ANDWEEEE!!!” seorang yeoja berambut panjang seketika berteriak ketika seorang laki-laki paruh baya melemparkan sebuah file sketsa dan peralatan gambar ke lantai. Kertas-kertas dalam file itu sontak berhamburan memperlihatkan goresan-goresan pensil dalam bentuk sketsa-sketsa gaun yang indah.

 

“Sudah sepuluh kali Appa melarangmu untuk mengikuti jejak Omma-mu yang keparat itu! Jangan pernah berpikir untuk menjadi DESIGNER! Kau hanya akan menghancurkan hidup laki-laki yang kau nikahi jika kelak kau melakukan pekerjaan itu! Dan asal kau tahu, rata-rata semua keturunan Jung itu adalah musisi! Dan kau hanya akan mempermalukan Appa-mu ini jika kau menjadi designer, seperti perempuan keparat itu!” ujar laki-laki paruh baya itu dengan tegas dan penuh wibawa, walaupun ia sebenarnya sangat menahan amarahnya.

 

“APPA! Jangan menjelek-jelekkan Omma seperti itu! Ini semua tidak ada hubungannya dengan Omma! Aku hanya menjalankan hobiku!” balas yeoja itu sambil memunguti sketsanya. Wajahnya memerah menahan marah meskipun air mata tak mampu bertahan lebih lama, yang pada akhirnya tertumpah menembus batas kesabaran yeoja itu.

 

“Appa tak mau tahu! Hentikan ini, lalu ikutilah jejak Oppa-mu, Yong Hwa. Dan aku tak ingin kau menjadi pembangkang Hyunnie, jebalyo… mengertilah perasaan Appa-mu ini,” ujar laki-laki paruh baya itu dengan sedikit melembutkan nada bicaranya, lalu meninggalkan yeoja yang masih sibuk menatapi sketsa yang dipungutnya satu-satu.

 

Tak lama kemudian, seorang namja yang wajahnya hampir mirip dengan yeoja itu masuk dengan perlahan.

 

“Hyunnie, gwenchanna?” tanya namja itu sambil membantu memunguti kertas-kertas sketsa itu.

 

“Angwenchanna! (Aku tidak baik-baik saja!)” yeoja itu menjawab dengan ketus, tanpa melirik sedikitpun pada namja itu. Tapi namja itu nyengir kuda, lalu menepuk puncak kepala yeoja itu dengan lembut.

 

“Sekali-sekali, kau harus menuruti kata Appa. Aku bosan melihatmu seperti ini, Hyunnie, kau menyedihkan sekali. Kau harus belajar musik, aku akan membantumu,” ujar namja itu sambil tersenyum.

 

“Shirreo! Aku tak mau belajar pada Oppa, carikan saja aku guru vokal!” ujar yeoja itu ketus sambil bangkit dan memeluk sketsa-sketsa kesayangannya, lalu memasukkannya ke laci.

 

“Arraseo…arraseo! Akan ku kenalkan kau pada seorang guru yang ahli soal musik!” ujar namja itu sambil berjalan keluar kamar. Yeoja itu masih mengerucutkan bibirnya, namun tak lama ia akhirnya mengambil kunci mobil, ponsel dan kacamata hitamnya, lalu beranjak tergesa keluar rumah. Tak dipedulikannya teriakan sang ayah yang memanggilnya.

 

****

 

3 Januari 2012Han River, Seoul14.30 KST 

 

Kim Jong Woon atau yang biasa disapa Yesung, melirik benda merah yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Sudah setengah jam lebih dari waktu yang ditentukan. Yeoja itu terlambat rupanya. Yesung mengambil gitar akustik dari dalam wadahnya. Lalu perlahan, jemarinya memetik senar, mengalunkan nada-nada yang indah.

 

neoege haji motan malduri nun

Gameumyeon jakku tteoolla

Gieogeul dameunchaero meomchwodun

Naui sarang, neoreul saengghakhae…

 

gyeotte dugo banghwanghaetdeon

Naldeureul huhoehago isseo

Naui jinsimideulliji anni

 

( Yesung SJ-Waiting For You)

 

-PLOKKK PLOOKKK PLOOOKK-

 

Seketika Yesung menghentikan keasyikannya saat mendengar tepuk tangan yang datang dari arah belakang. Yesung menoleh dan mendapati sahabatnya, Jung Yong Hwa dengan seorang yeoja berambut hitam dan panjang. Dia pastilah Jung Hyun Jin, yeodongsaeng Yong Hwa, yang harus Yesung ajarkan tentang musik.

 

“Nice song,” ujar yeoja itu sambil tersenyum. Yesung mengangguk sedikit lalu berkata, “Gomapta. Apakah kau…?”

 

“Ne Jong Woon-ah. Dia yeodongsaengku, namanya Jung Hyun Jin,” ujar Yong Hwa sambil menepuk pundak yeoja itu pelan.

 

“Annyeonghaseyo, Nona Jung. Jeoneun Kim Jong Woon imnida. Kau boleh memanggilku Yesung. Bangapseumnida,” ujar Yesung memperkenalkan diri dengan hormat. Yeoja bernama Jung Hyun Jin itu membungkuk sedikit, lalu balas memperkenalkan dirinya.

 

“Annyeonghaseyo, Yesung-ssi. Hyun Jin imnida, terserah kau ingin memanggilku apa,” ujar yeoja itu. Menurut Yesung, yeoja itu terihat sedikit angkuh. Sedikit berbasa-basi, akhirnya Yong Hwa mengajak Yesung kerumah mereka.

 

****

 

Jung’s House

 

Ini sudah yang kelima belas kalinya Hyun Jin mengacaukan nada yang sudah diajarkan Yesung. Membuat namja itu cukup kesal. Yeoja itu benar-benar buta nada!

 

“Ya! Ya! Cukup ! Kau benar-benar kacau, Hyun Jin-ssi,” ujar Yesung sambil duduk di sebelah Hyun Jin. Dan tampaknya Hyun Jin juga kesal. Dengan serampangan, yeoja itu menarikan jemarinya di atas tuts-tuts piano, membuat suaranya sangat-sangat kacau.

 

“Akkuuuuuu boosssaaaaaaannn…aaakkkuuuu bennncciiiii!!!!!” yeoja itu melantunkan suaranya, yang asli MerDu alias Merusak Dunia! Yesung memelototinya, yang dibalas dengan pelototan juga.

 

Jam berdentang delapan kali. Sudah malam rupanya. Sementara di rumah Hyun Jin, Yesung hanya berdua dengan yeoja itu. Yong Hwa sedang manggung di kafe bersama band-nya, sedangkan Tuan Jung sudah dua hari ke China untuk mengurus bisnisnya.

 

“Aku lapar, Yesung-ssi…kau tak lapar?” tanya yeoj aitu kemudian. Tentu saja Yesung lapar. Sejak tadi sore, ia hanya memakan salad buah yang dihidangkan pembantu di rumah keluarga Jung.

 

“Baiklah Nona Jung. Sepertinya mood-mu sedang tak baik. Aku akan mengajakmu makan di luar. Tapi karena kau juga sudah merusak mood-ku dengan nada-nadamu yang kacau itu, maka kau harus mentraktirku. Eotte?” tanya Yesung sambil memasang wajah polos. Yesung melihat yeoja itu menghela nafas sambil mengedikkan bahunya.

 

“Geure Kim Seongsangnim… aku akan mentraktirmu kali ini sebagai bayaran. Kita akan makan dimana?” tanya yeoja itu sambil menutup pianonya kemudian berdiri. Yesung mengedipkan sebelah matanya.

 

****

 

Kona Bean’s20.30 KST 

 

“Huwaaaa…kenyang!!!” seru Hyun Jin setelah menghabiskan dua piring pasta americano yang super pedas dan segelas strawberry punch. Namja di depannya menatap Hyun Jin dengan pandangan heran. Namun dia tak berkomentar, hanya tertawa geli.

 

“Wae? Kau menertawakanku?” cerca Hyun Jin sambil melotot. Namun tak menduga, sebelah tangan Yesung langsung mengacak-acak rambut yeoja itu.

 

“Aigoo… adik kecil kau manis sekali kalau bertingkah begitu. Membuatmu mirip dengan Yong Hwa,” ujar Yesung sambil tersenyum. Dan … seketika Hyun Jin merasakan aliran darahnya mulai merayap menuju ubun-ubun kepala dan sempat berhenti di wajahnya yang terasa panas. Hyun Jin sangat yakin wajahnya pasti sudah semerah kepiting rebus!!! Dan jantungnya! Kenapa dia malah jadi berdebar-debar ketika tangan halus itu mengacak kepalanya? Pabbo-ya!

 

“Ya?! Kenapa wajahmu merah? Kau tak suka kubilang mirip Yonghwa?” ujar Yesung sambil menarik lagi tangannya.

 

-Deg…Deg…Deg-

 

Tuhaannn…kenapa malah jadi seperti ini?

 

“A..Anniya, Yesung-ssi…aku hanya…aku…aku tidak suka kau mengacak rambutku!” aahhhhh pabbo-ya! Kenapa Hyun Jin berkata begitu? Yeoja itu melihat Yesung sedikit tertegun. Ahhhh…marahkan dia?

 

“Aaa~ mianhae Hyun Jin-ssi. Aku tak tahu kalau kau tak suka…”

 

“Gwenchanna! Gwenchanna Yesung-ssi. Aku akan membuat pengecualian untukmu…” seketika Hyun Jin membekap mulutnya setelah kalimat itu meluncur bebas. Pabbo! Jeongmal pabbo-ya!

 

“Jinjja? Ahahaha…baiklah Nona Jung. Hari sudah semakin larut. Sebaiknya kita pulang. Aku tak mau Yong Hwa memarahimu nanti,” ujarnya lembut. Mereka segera beranjak menuju kasir.

 

“Aku yang membayarnya,” ujar Yesung mengeluarkan dompetnya ketika Hyun Jin sudah hendak membayarnya.

 

“Keundae…aku sudah berjanji tadi…” ujar Hyun Jin setengah heran. Tapi namja itu tersenyum manis. Manis sekali…waktu di sekitar Hyun Jin seolah berhenti.

 

“Kau bisa mentraktirku lain kali,” balasnya. Lain kali? Lain kali? Itu berarti…itu berarti dia mengajaknya makan malam lagi nanti? Hiyaaaa!!!!!!!!!!

 

“Nona Jung?”

 

“Eh? Sudahkah? Kajja…” ujar Hyun Jin gelagapan. Malunya!

 

****

 

10 Januari 2012Hyun Jin’s Room18.00 KST

 

Hyun Jin menatap satu sketsa gaun yang baru saja aku selesaikan. Sebuah sketsa gaun berpotongan rendah di dadanya dengan seutas tali spagghetti yang bisa diikat ke belakang leher. Gaun polos yang hanya sebatas lutut. Ahhh~ seksi sekali!

 

-Tok…tok..tok-

 

“Ne?!! Nuguseyo?” teriak Hyun Jin begitu mendengar pintu diketuk, namun ia tak beranjak.

 

“Na ya!” terdengar sebuah suara yang sangat akrab ditelinganya.

 

“Masuklah!”

 

Seorang yeoja cantik berambut pendek melongok dari celah pintu, dia sahabat Hyun Jin, Park Shin Hye. Untuk apa dia tiba-tiba kesini tanpa janji?

 

“Ya! Hyun Jin! Kau belum bersiap?” teriaknya sambil merebut sketsa yang sedang Hyun Jin berikan ‘finishing’ itu.

 

“Ya! Apa-apaan kau? Bersiap kemana? Apakah aku punya janji denganmu?” teriaknya sambil berusaha merebut sketsa itu. Hyun Jin melihat yeoja itu memasang wajah BeTenya.

 

“Neol jeongmal pabbo-ya! Hari ini kita akan menghadiri konser Oppa-mu! Kau lupa?! Ini konser tunggal perdananya, dan kau lupa?! Dongsaeng macam apa kau?!” makinya sambil menyeret Hyun Jin ke kamar mandi.

 

Hyun Jin benar-benar lupa! Pantas saja tadi Yong Hwa buru-buru pergi! Hyun Jin segera bersiap-siap, sebelum nanti ia di sembur oleh Oppanya, dan tentu saja wajah bete sahabatnya ini lebih menyeramkan!

 

****

 

Handel Gretel14 Januari 201219.35 KST

 

Di sebuah meja yang agak jauh di belakang, sudah ada lima orang yang mengisinya. Mereka makan dan minum sepuasnya.

 

“Kau benar-benar anakku, Yong Hwa! Aku bangga padamu,” ujar Jung Il Soo, seorang pria paruh baya sambil menepuk pundak namja yang cuma nyengir manis di sebelahnya. Sementara itu, seorang yeoja di hadapannya memasang wajah sangat kesal, namun ia tak berkomentar.

 

“Gomapta Aboeji. Ini semua berkat dukunganmu,” ujar namja itu sambil tersenyum pada ayahnya, Jung Il Soo.

 

“Ya! Hyun Jin! Kau harus bisa seperti Oppa-mu ini. Jangan hanya membuang-buang waktumu untuk menggambar sketsa-sketsa tak bermutu seperti itu!” ujar Tuan Jung dengan tegas kepada yeoja dihadapannya itu. Seketika yeoja itu meletakkan cangkir yang dibawanya dengan kasar.

 

“Tak bermutu? Appa! Kenapa kau begitu membenci kesukaanku?! Kau selalu meremehkanku!” balas yeoja itu dengan tegas. Seketika semua yang hadir disana terhenyak.

 

“Sudahlah…jangan memulai lagi, Hyunnie,” bisik Park Shin Hye yang duduk di sebelah Hyun Jin, mencoba menenangkan sahabatnya itu. Sementara namja lain yang duduk di sebelah Yong Hwa tampak sedikit shock melihat betapa beraninya Hyun Jin melawan kata-kata Appa-nya.

 

“Neol?! Ya! Hyun Jin! Kau jangan mengacaukan makan malam ini, dan aku tak pernah meremehkanmu! Aku hanya akan lebih senang jika kau bisa menjadi musisi seperti Oppa-mu, Arra?” Tuan Jung kembali berbicara lantang pada Hyun Jin. Tapi Hyun Jin yang terlanjur kesal, dia mengambil tasnya dan langsung meninggalkan tempat itu.

 

“Hyun Jin!” Tuan Jung berteriak, membuat beberapa pengunjung yang ada disana, menoleh menatap mereka. Shin Hye sudah hendak mengejar sahabatnya itu, namun namja yang duduk di sebelah Yong Hwa itu melarangnya, “Aku saja. Tuan Jung, aku akan menyusul putrimu.”

 

****

 

Han River21.45 KST

 

Yesung berhasil mengejar Hyun Jin. Di parkiran H&G tadi Yesung sempat mencekal tangannya. Namun dia bersikukuh hendak pergi. Dan hatinya terasa sakit ketika melihat kedua mata Hyun Jin basah oleh air mata. Maka Yesung mengajaknya kemari. Ke tepi sungai Han.

 

“Nona Jung, gwenchannayo?” tanya Yesung pelan sambil duduk di sebelah yeoja itu. Wajahnya masih muram namun Hyun Jin sudah tidak menangis lagi.

 

“Apakah salah jika aku lebih suka menggambar daripada menyanyi? Kenapa orang tua itu selalu meremehkanku?! Kenapa?!” teriak Hyun Jin sambil menatap Yesung dengan menyedihkan.

 

Ya… Hyun Jin begitu menyedihkan. Terkadang Yesung heran, kenapa Tuan Jung begitu memaksa kedua anaknya untuk menjadi musisi?

 

Tangis yeoja itu kembali pecah. Entah kenapa perasaan Yesung jadi tak karuan begini. Namja itu merasa terenyuh melihat Hyun Jin menangis. Dia ingin memberikan Hyun Jin kenyamanan. Refleks… tangannya menggapai pundak Hyun Jin. Menarik tubuh yeoja itu ke dalam pelukannya.

 

“Uljimma Hyun Jin-ah. Tenanglah…aku dan Oppa-mu tak pernah memaksamu agar bisa menjadi musisi…tenanglah,” ujar Yesung sambil membelai rambut Hyun Jin. Yeoja itu sesegukkan.

 

“Ajari aku…Ajari aku menghafal dan memainkan semua not-not yang tak kupahami itu, Yesung-ssi…aku…aku bosan jika terus diremehkan seperti ini,” ujar Hyun Jin di sela-sela isak tangisnya.

 

Yesung mengangguk pelan. Dalam hati, Yesung benar-benar berjanji akan mengajarkan segala kemampuannya pada yeoja itu. Agar ia  bisa melihat lagi senyum Hyun Jin yang ia sukai.

 

================================

 

*Kim Ryeo Wook’s Scene*

 

 

@Bbang Goom Teo Cafe, Daejon-Seoul, 5-Jan-2012, 05. 23 pm KST

 

 

Park Shin Yee meremas dengan kuat tissue yang telah hancur ditangannya. Walaupun sudah hancur tak berbentuk, tapi Shin Yee tak berniat sedikitpun untuk melepaskan tissue tak berdosa itu dari genggamannya. Mata dan kedua tangannya melakukan dua aktivitas yang berbeda namun tujuan yang sama.

 

Marah.

 

Yah, itulah satu kata yang dapat menggambarkan bahasa tubuh yang kini ditunjukkan oleh kedua anggota tubuhnya.

 

Tatapan matanya menunjukkan kemarahan yang amat sangat. Giginya saling bergesekan menimbulkan bunyi gemertak kecil namun cukup dapat diketahui maknanya. Jika dapat dilihat, maka sesungguhnya nyala api telah berkobar diseluruh tubuhnya.

 

“Aiisshhh.. awas kau yeoja genit!!!”Lirih Shin Yee hampir tak terdengar

 

“Aigoooo… panas sekali suhu di cafe ini apa AC-nya rusak ya?”

 

Kim Seon Woo, kawan sekaligus anak dari sahabat Eommanya mengibas-ngibaskan kedua tangan yang mengisyaratkan bahwa ia kepanasan.

 

Panas???Sudah pasti tidak. Itu hanyalah sebuah sindiran halus yang sengaja ia ucapkan untuk membuat Shin Yee semakin membara menyaksikan tontonan gratis yang ada dihadapannya.

 

Shin Yee menoleh dan menatap tajam Seon Woo seraya memberitahunya kalau ‘Jangan ganggu aku, bodoh’..yah, itulah yang ada dalam hati Shin Yee saat namja dengan julukan ‘HandSome Drummer’ itu melempar senyum kecut kearahnya.

 

Seon Woo adalah seorang anak band lebih tepatnya seorang drummer dalam band nya yang bernama SAPPHIRE BLUE BAND, sekaligus pemilik cafe dimana Shin Yee dan namja -yang telah membuat kemarahannya akan meledak jika terus menerus dipancing seperti itu lagi- telah bekerja part timeselama kurang lebih 6 bulan terakhir.

 

Bekerja Part Time? Tentu, eh seharusnya Shin Yee tidak perlu melakukan hal itu jika dilihat dari keadaan orang tuanya yang hidup serba berkecukupan.

Ayahnya seorang pemilik show room mobil ternama di Korea dan ibunya adalah seorang dokter spesialis bedah yang telah melanglangbuana di hampir seluruh negeri di dunia. Shin Yee hanya perlu duduk dan meminta apapun yang ia mau lalu ia akan mendapatkan segalanya bak putri raja di negeri-negeri dongeng. Tapi, ia tak melakukan itu semua hanya untuk seorang namja. Seorang namja yang telah sejak lama menjadi sahabatnya dan juga diam-diam ia cintai.

 

Kim Ryeowook.

 

Namja yang entah mengapa membuat hari-hari Shin Yee menjadi lebih indah. Meskipun terkadang ia merasa seperti seorang kakak yang harus melindungi dongsaengnya. Shin Yee lebih tua setahun dari Ryeowook dan Ryeowook adalah namja yang sangat polos dan baik hati. Saking baik dan polosnya, ia malah sering ditindas oleh kaum yang lebih kuat..ah, sebut saja mereka yeoja-yeoja dengan sebuah kelainan kepribadian.

 

Bisa-bisanya mereka menindas seorang namja sebaik Ryeowook yang akan melakukan apapun yang kau perintahkan. Ituah mengapa terkadang orang-orang yang berhati jahat memanfaatkan kebaikan dan kepolosannya. Dan Shin Yee, selalu datang untuk membela bahkan membuat perhitungan yang panjang jika melihat sahabat terbaiknya dan juga… namja yang dicintainya ditindas seperti itu.

 

Kapan Shin Yee menyukai Ryeowook? Ia sendiri tidak tahu dengan pasti. Yang pasti dan diketahui sangat jelas oleh Shin Yee adalah namja itu tidak tahu dan tidak akan pernah tahu perasaannya.

 

“Jangan melihat mereka dengan tatapan seperti itu, aku tidak mau memungut dua bola mata yang jatuh di lantai cafeku….” Seon Woo kini telah tertawa.

 

Menertawakan sikap Shin Yee yang sangat kekanak-kanakan. Bukannya ingin ikut campur, tapi Seon Woo sudah tahu bagaimana perasaan Shin Yee yang sebenarnya pada Ryeowook. Dan semua orang pasti akan tahu, jika melihat sikap Shin Yee sekarang.

 

“Jangan ganggu aku, sana!!!” Perintah Shin Yee tanpa melihat sedikitpun pada Seon Woo

 

Seon Woo tidak mau kalah malah ia dengan jahilnya berbisik tepat ditelinga Shin Yee “Kau cemburu pada yeoja-yeoja itu?”

 

“Yaa~ Kim Seon Woo!!!” Teriak Shin Yee dan berhasil membuat Seon Woo menutup telinga dengan kedua tangannya

 

“Ne..ne…Jangan berteriak seperti itu, aku bisa tuli dengan teriakanmu..”

 

“Kalau begitu, cepatlah enyah dari hadapanku..atau kau akan bernasib sama dengan tissue yang ada ditanganku ini..” Shin Yee membuka genggaman tangannya yang telah dipenuhi dengan serpihan-serpihan halus tissue

 

“Jangan sampai memecahkan barang di cafe ini, aku bisa rugi jika kau melakukannya”

 

Seon Woo hanya menggeleng dan berjalan menjauhi Shin Yee. Mendengar itu, Shin Yee hanya mendelik sebal. Dan kembali memperhatikan Ryeowook yang sedang asyik bernyanyi bersama Han Ga Eun dan Lee Ha Neul, Vokalist dan Dancer yang sering manggung di cafe itu.

 

Aaarrrggghhhh…. Shin Yee benar-benar sudah tidak tahan melihat yeoja-yeoja genit itu!!! Apa mereka mencoba menggoda Wookie-nya?

 

“Oppa… ayo… nyanyikan lagu itu sekali lagi… Pleeaasseee…” Rengek Ha Neul manja

 

Yaiikkkk… membuat Shin Yee ingin muntah saja.

 

“EEEEEHHHMMMM…” Sela Shin Yee diantara percakapan mereka

 

Mereka bertiga balik menoleh kepada yeoja itu yang berpura-pura tidak melakukan apapun dan fokus membersihkan gelas-gelas kaca yang ada dihadapannya.

 

Ga Eun dan Ha Neul hanya mengangkat bahu mereka bersamaan saat melihat sikap tak bersalah Shin Yee. Sementara Wookie, seperti biasanya… selalu perhatian pada semua orang.

 

“Shin Yee~ah… kau kenapa?Apa tenggorokanmu sakit?”

 

‘PLETAK’

 

Polosnya namja ini. Shin Yee hanya memperlihatkan senyum yang tak bergairah sedikitpun pada Ryeowook.

 

“Chakkammanyo…”Ucap Ryeowook pada Ga Eun dan Ha Neul kemudian setengah berlari datang menghampiri Shin Yee

 

“Shin Yee~ah… apakah kau ingin ikut bersama kami? Ga Eun, Ha Neul, dan Seon Woo… kami semua akan pergi ke studio Ga Eun sepulang kerja… ia akan mengajariku dance keren yang sering ia lakukan saat perform..”

 

Ia terlihat sangat senang sekali. Aiisshhh… mengapa Ga Eun ingin mengajarinya menari?

 

“Dance? Kau ingin belajar dance? Sejak kapan kau menyukainya?” Tanya Shin Yee tak percaya

 

“Aku hanya ingin mencoba bagaimana rasanya menjadi seorang dancer… bukankah kau juga suka dance?”

 

“Yah, aku suka dance tapi…” Jawab yeoja itu lemas

 

“Baiklah…. karena kau suka… maka kita akan melakukannya..” Ryeowook tersenyum dan kembali bergabung bersama dua yeoja menjengkelkan itu.

 

Rasanya benar-benar ingin gila, sungguh gila dengan perasaan ini.

 

“Minum…. air akan meredakan amarahmu itu…” Seon Woo tiba-tiba berdiri disamping Shin Yee dan menyodorkan segelas air putih padanya. Tanpa berfikir panjang, yeoja itu meraih gelas yang disodorkan Seon Woo dan menengguk habis air yang ada didalamnya.

 

****

 

@Bbang Goom Teo Cafe, Daejon-Seoul. 09.30 pm KST

 

 

Ya Ampuun, mengapa perutnya sakit disaat seperti ini? Setengah jam lagi Shin Yee, Ryeowook, Seon Woo, Ga Eun dan Ha Neul akan pergi ke studio Sooyoung dan perutku tiba-tiba mulas, sakitnya tak tertahankan lagi.

“Wookie~ah… Mianhe, sepertinya aku tidak bisa ikut denganmu…” sesekali erangan kesakitan keluar dari mulut Shin Yee yang ia tahan sebisa mungkin.

 

“Wae, Shin Yee~ah? Kau sakit?” Wajah Ryeowook mulai khawatir

 

“A…aaa… ani…yooo” Jawab Shin Yee menahan sakit yang mulai menjalar keseluruh ruang dalam perutnya

“Sepertinya kau sakit…”

 

“Tidak, aku tidak apa-apa…. semoga hari kalian menyenangkan… annyeong…”

 

“Shin Yee~ah…”Teriak Ryeowook namun tidak yeoja itu pedulikan lagi.

 

Buru-buru Shin Yee membuka celemek yang ia pakai dan berlari kebelakang mengambil tas selempang berwarna pink miliknya dan keluar dari cafe tanpa memerdulikan Seon Woo dan pengunjung lainnya yang mungkin terganggu oleh suara gaduh dari kaki yeoja itu yang berlari dengan terburu-buru. Segera ia hentikan taksi yang melintas dan naik.

“Man-Wol street Ahjushi~ Pallii!!!” Teriaknya

 

Taksi yang Shin Yee tumpangi melaju dengan cepat seperti perintahnya dan tidak lebih dari 15 menit yeoja itu telah sampai didepan rumahnya dan segera berlari mencari tempat yang sedari tadi ia butuhkan untuk melegakan perutnya yang mulas ini.

 

Entah sudah berapa kali Shin Yee keluar masuk toilet dan ia tak sanggup lagi berjalan walaupun perutnya meminta untuk mengeluarkan sesuatu. Tapi, Shin Yee rasa semuanya sudah habis tak bersisa.

 

Yeoja itu merebahkan badannya diatas kasur masih dengan menahan rasa sakit yang menggerogoti. Menahannya dalam diam sambil sesekali mencengkram ujung bantal agar sakitnya teralihkan hingga ia benar-benar sudah tertidur tanpa sadar.

 

****

 

@University Inha Drama And Cinema Faculty. 6-Jan-2012, 10.08 am KST

 

 

Kaki Ryeowook terus saja bergerak tak henti dan mondar-mandir kesana kemari persis seperti setrika yang sedang melicinkan pakaian. Hari ini, namja itu tak melihat Shin Yee sejak semalam ketika yeoja itu dengan terburu-buru pulang dan tidak ikut bersamanya untuk belajar dance seperti kesepakatan mereka sore harinya.

 

Ada apa dengannya? Bahkan telepon darinya pun tidak diangkat. Benarkah Shin Yee sedang sakit? Ah, mudah-mudahan saja itu tidak terjadi. Bagaimana mungkin yeoja kuat sepertinya jatuh sakit?

 

Haha, yah… itu pasti tidak mungkin.

 

Sekali lagi, Ryeowook merogoh saku celananya dan meraba ponsel dan memencet beberapa nomor yang telah ia hafal dengan baik.

 

‘Tuuuttt…. Tttuuutt… Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan.. Please Try Again In A Few Minute…’

 

 

Baru kali ini Shin Yee mereject telepon dari Ryeowook… Apa Shin Yee tidak ingin bicara pada namja itu lagi? Tapi apa salahnya? Dengan langkah gontai Ryeowook berjalan menyusuri korodor fakultas Sastra dimana Shin Yee kuliah.

 

Shin Yee dan Ryeowook memang berada dalam Universitas yang sama namun Fakultas yang berbeda. Namja itu melihat Cha Dae Wong, sunbae yang juga teman sekelas Shin Yee keluar dari kelasnya. Dae Wong tidak langsung pergi melainkan berhenti dan kembali menoleh kedalam lalu mengulurkan tangan kanannya.

“Sunba….e…” Baru saja Ryeowook akan memanggil Dae Wong dan menanyakan kabar Shin Yee, mungkin saja namja itu tahu sesuatu? Tapi lidah Ryeowook tiba-tiba saja kaku saat melihat pemandangan yang baru saja ia lihat.

Saat Cha Dae Wong sunbae mengulurkan tangannya, Ryeowook melihat Shin Yee menyambut tangan namja itu dan Dae Wong tersenyum puas, lalu mereka berdua pergi sambil bergandengan tangan. Apa Ryeowook tidak salah lihat???

 

****

Kepala Shin Yee pusing sekali. Sejak tadi pagi, kesehatannya belum pulih sepenuhnya walaupun ia telah meminum obat dari dokter Lee, dokter khusus keluarga Park. Ternyata, yang menyebabkannya merasakan sakit perut yang tak tertahankan adalah karena Shin Yee telah meminum obat pencahar.

 

Obat pencahar? Kebodohan macam apa yang ia lakukan dengan meminum obat terkutuk seperti itu? Jika tidak terpaksa, Shin Yee tidak akan mungkin meminumnya. Dan Shin Yee tahu persis siapa dalang dari ini semua.

‘Kim Seon Woo!!!! Tunggu pembalasanku!!!!!’

‘Diirrttt…. Dirrttt’ ponsel Shin Yee yang di silent bergetar hebat, segera ia raih tasnya dan mencariIpod kesayangannya itu, tapi setelah berhasil memegangnya tiba-tiba saja Shin Yee terjatuh dan tak sengaja memencet tombol merah dilayar Ipodnya.

“Omo!!!” Teriak seseorang yang suaranya sangat Shin Yee kenal ketika ia berhasil jatuh menahan sakit dikepalanya akibat dehidrasi tingkat tinggi.

“Gwenchana?” Tanya Cha Dae Wong, chingunya yang terang-terangan telah mengatakan suka padanya.

 

Dia… namja yang tampan, sangat tampan malah. Banyak yeoja dikelas ataupun difakultas lain yang sangat ingin menjadi yeojachingunya tapi ia malah memilih Shin Yee yang telah memberikan seluruh hatinya pada Kim Ryeowook.

 

‘Cinta tidak bisa dipaksakan’ Itulah kata yang Shin Yee ucapkan saat mencoba untuk menolak Dae Wong tapi tak tahulah… namja itu malah semakin gencar mendekatinya.

Shin Yee menggeleng pasrah, sekarang bukan saatnya untuk tidak meminta bantuan seseorang walaupun hanya sekedar menuntunnya keluar kelas. Dae Wong tersenyum dan mengulurkan tangan kanannya dan mengangguk pasti. Shin Yee tahu maksudnya, dan ia meraih telapak tangan Dae Wong dan berjalan bergandengan menuju parkiran. Setidaknya Shin Yee bisa selamat sampai Minho ahjushi menjemputnya.

“Apa kau ingin aku ikut denganmu? Sepertinya kau perlu ditemani oleh seseorang…” Tawar Dae Wong

 

“Gwenchana… Minho ahjusshi ada disini…” Ucap Shin Yee masih memegangi kepalanya yang serasa berputar.

 

“Ne…. cepat sembuh Shin Yee~ah…”

 

Dae Woong lalu menutup pintu mobil dan melambai kepada Shin Yee saat mobil telah berjalan pelan meninggalkan parkiran kampus. Tanpa sengaja Shin Yee menangkap sosok namja yang sangat ia kenal bahkan sangat ia rindukan meski hanya 10 jam tidak bertemu dengannya.

 

 

TO BE CONTINUED_______________________________

 

Akankah Yesung bisa mengajari Hyun Jin semua nada-nada yang dengan terpaksa dipelajari gadis itu demi membuktikan pada ayahnya?

 

Bisakah Yesung mengembalikan senyuman Hyun Jin ?

 

Bagaimana perasaan pria yang melihat Shin Yee dengan pria lain ?

 

Bisakah Shin Yee mengatakan pada pria itu kalau ia merindukannya?

 

SEE THE PARTS ^^

 

 

12 thoughts on “FF “L.O.V.E” (PART 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s